LONLIN: Kembar 13

LONLIN: Kembar 13
Ulang Tahun


__ADS_3

"Dillon! Dua minggu lagi kita ulangtahun, loh."


"Terus?"


"Aku minta kado hi heels, ya."


"Mimpi aja."


"Terus, kamu mau ngasih kado apa?"


"Nggak ngasih."


"Dillon!"


Sang saudara kembar nyengir saja. Senang rasanya selalu dapat menggoda Devlin yang kepalang mudah untuk digoda. "Kamu sendiri mau ngasih aku kado apa?" balas Dillon.


"Kaos kaki bola, gimana?"


Dillon mengernyit, kemudian mendecih pelan. "Kalau gitu, aku benar-benar nggak akan ngasih kamu kado."


"Eh! Iya ... Iya.Memang kamu maunya apa?"


"Ehm." Dillon melirikkan matanya ke arah Devlin seolah berpikir. "Nggak usah deh," lanjutnya, sembari melanjutkan aksinya bermain PSP.


"Aish! Bilang aja. Nanti aku usahain, kok," desak Devlin.


Dillon kembali ber-hhm ria, namun kali ini lebih panjang.


"Kamu tau aku paling malas nyetrika, kan?" lanjut Dillon akhirnya. Matanya sendiri masih fokus pada layar PSP di tanggannya.


Devlin mengangguk ringan. Meski masih tak paham dengan ucapan sang kakak.


"Jadi, kamu mau aku belikan setrika?" terka Devlin ragu.


"Bukan," jawab Dillon enteng. Perhatiannya masih saja fokus pada benda elektronik di tangannya.


"Terus apa, dong?" desak Devlin penasaran.


Dillon terkekeh kecil. "Makanya tadi aku bilang nggak usah. Otakmu memang nggak nyampe buat nerka maksudku, kan?" ledek Dillon.


Devlin mengerucutkan bibirnya kesal, namun tak lama, karena ia kembali mencoba menerka. "Kamu mau aku belikan baju yang nggak gampang kusut?"

__ADS_1


"PUAHAHAAAA." Dillon terbahak. Ia benar-benar meledakkan tawanya.


"Aku cuma mau minta supaya kamu nyetrikain baju aku. Gitu aja kamu nggak bisa nebak," terang Dillon di sela tawa hebohnya.


"Terserah! Kamu nggak usah ngasih aku kado, soalnya aku juga nggak akan ngasih kamu," murka Devlin. Ia bangkit dari sofa dengan kasar, lantas berlalu menuju kamar. Padahal dia sedang serius dan Dillon malah terus saja meledek, membuatnya mau menangis saja.


"Adikku tersayang itu benar-benar polos," gumam Dillon, geli.


***


"Devlin! pintunya terkunci, nih. Aku mau masuk."


"Nggak usah masuk!"


Hening sejenak.


"Devlin! Mackenzie mau masuk, katanya."


"Nggak usah bawa-bawa Mackenzie!"


Hening lagi.


"Aku bercanda tadi. Maaf, ya."


"Aku bercanda, kok," ucap Dillon lagi. Dia sendiri memilih duduk di pinggiran ranjang menghadap sang adik yang enggan bertatap muka dengannya.


"Oke. Ulang tahun besok aku belikan sepatu sport," lanjut Dillon.


Kali ini Devlin menoleh, hendak protes. Namun urung dilakukannya, karena Dillon keburu menyela. "Nggak! Nggak ada Heel-Heelan. Ba-ha-ya."


Devlin masih cemberut. Ia kembali menghadap ke jendela, menatap dedaunan pohon yang bergoyang ringan akibat hembusan angin sore.


"Habis itu, baru aku ajarin kamu main basket," lanjut Dillon pelan. Pelan sekali, karena ia sengaja ingin melihat reaksi Devlin.


Dan benar saja, Devlin kembali menoleh dengan wajah sumringah, kemudian mencoba bernegosiasi, "Warna pink, ya?"


Dillon menggangguk pelan, lalu ia pura-pura mengambil boneka beruang besar di atas ranjang sebagai kamuflase.


Devlin bangkit, lantas menghambur memeluk erat Dillon. "Serius? Serius? Serius?" tanya Devlin bertubi-tubi.


Dillon tergelak. Ia ingat, Devlin memang sudah berulang kali merengek minta diajari bermain basket, namun selalu ia tolak.

__ADS_1


"Iyaaaa, Devlin sayang," jawab Dillon, sembari membalas pelukan Devlin.


***


Beberapa hari ini Devlin sibuk sekali belajar memasak dengan ibu. Setiap jam makan malam dia langsung berlari ke dapur dan membantu apa pun yang ibu minta. Memotong lobak, mencuci ikan, menggoreng tahu, dan sebagainya. Ya, meskipun pada akhirnya sang Ibu juga yang harus turun tangan untuk menyelesaikan pekerjaan Devlin yang terkadang jauh dari kata memuaskan, tapi sang ibu cukup senang karena putrinya memiliki niat untuk belajar memasak diusianya yang sekarang.


Dillon yang justru uring-uringan sekarang, karena dia jarang memiliki waktu untuk membully Devlin yang kini mendadak super sibuk di rumah.


"Devlin." Dillon menyenderkan tubuhnya di pinggiran meja pantry, lalu memainkan asal kran pencuci piring di dekatnya.


Tanpa menoleh, Devlin bergumam dan itu membuat Dillon jengkel.


"Devlin...," Dillon kembali memanggil. Kali ini seperti rengekan.


Devlin mendecak. Ia juga kesal karena konsentrasinya mengupas bawang diganggu oleh si -mendadak- cerewet Dillon.


Ibu yang sibuk memblender bumbu di ujung meja pantry sekilas melirik mereka, lalu tersenyum simpul.


"Mackenzie lapar, katanya," ucap Dillon akhirnya.


"Yaudah, cepat kasih makan," jawab Devlin. Sesekali dia mengusap matanya yang mulai perih.


"Nggak mau! Dia kan anakmu," sungut Dillon.


Devlin mendelik sebal, lalu bergeser ke wastafel dan mendorong Dillon dengan lengannya agar si kakak minggir. Kemudian, dia mencuci tangannya di sana dan mengeringkannya dengan handuk kering. Tanpa bicara lagi, dia beranjak dan melangkah menuju ke tempat penyimpanan makanan Mackenzie. Sembari berjinjit untuk menggapai kotak makanan, Devlin berujar, "Bu, aku ngasih makan Mackenzie sebentar, ya. Nanti bawangnya biar aku yang selesaikan."


Devlin langsung beranjak pergi, ketika sang ibu tersenyum dan mengangguk ringan. Diikuti Dillon yang spontan mengekori Devlin.


Devlin mengernyit, ketika mendapati mangkuk makanan Mackenzie masih terdapat hampir separuh makanan khusus kucing di dalamnya. Dia menolehkan kepalanya pada Dillon yang tepat berada dibelakangnya, dan mendapati si kakak tengah cengengesan.


"Apa-apaan sih, Dillon?" dengus Devlin sebal.


"Tadi dia bilang lapar, kok. Berarti Mackenzie bohong sama aku," kilah Dillon asal.


Devlin mendecih, lalu melangkah hendak kembali ke dapur.


"Ih, kamu kok jadi sok sibuk gini, sih? Malam-malam masak. Trus... ngerjain PR. Trus... langsung tidur gitu aja," protes Dillon panjang lebar.


Devlin menyipitkan matanya, memandang curiga pada Dillon.


"Kamu...," Devlin mengarahkan telunjuknya pada Dillon dengan mata yang masih disipitkan. Kemudian melanjutkan, "Kangen sama aku, ya?" goda Devlin.

__ADS_1


Dillon gelagapan. Mencoba secepat mungkin mencari alasan untuk berkilah. Tapi, mendadak otak jeniusnya menghianatinya. Dia tidak menemukan satu alasan pun untuk berkilah.


"Iya. Makanya jangan sibuk terus," jawab Dillon akhirnya, sembari menunduk. Dia mengutuki dirinya sendiri, ketika mendengar Devlin terkekeh geli. Namun kemudian, sebuah pelukan ia dapatkan. Devlin memeluknya, dan masih dengan sedikit terkikik, dia berkata, "Aku juga kangen Dillon, kok."


__ADS_2