
"BISA-BISA AKU MATI!"
Miranda, perempuan 28 tahun masih sibuk mengumpat. Dipandanginya koran dua hari lalu. Ia sudah mengajukan lamaran pekerjaan di sana, tetapi kebanyakan mengomentari jika mereka butuh 'orang yang berpengalaman'.
Demi Tuhan, Miranda tersinggung.
Ia wanita karir yang pernah menjadi jajaran 100 pengusaha wanita terkaya seantero negeri ditolak dengan alasan seperti itu? Demi Tuan, dia tersinggung luar biasa.
"Mama ada orang gila."
Miranda merenggut, anak kecil random menunjuknya. Namun, ketercintaannya kepada anak-anak membuat dia tidak bisa marah.
Ia mencoba tersenyum, seingatnya ia punya permen di kantung celananya.
"Mau permen nak?"
"MAMA, ORANG GILANYA TERNYATA PENCULIK."
Puluhan pasang mata kini menatap tepat padanya, Miranda mengerutkan kening. Dia menghela napas panjang, menahan kesal, dia bersikap percaya diri dengan mengibaskan rambut pendek ikal kebanggaannya.
Dia berlalu pergi setelah memastikan orang tua anak tadi datang.
"Masa orang secantik aku dibilang orang gila?" keluh Miranda, ia menghela napas panjang menyusuri jalanan yang lenggang.
Ini kamis sore, hanya anak ABG dan para pengangguran yang akan mengelilingi taman tanpa tujuan. Menyebalkannya, Miranda memang pengangguran dan tidak punya siapa-siapa untuk dimintai tolong. Ia saja tidak punya nomor kontak satu-satunya keluarga yang tersisa, apalagi teman, baginya di dunia bisnis tidak ada teman yang sesungguhnya.
Sekarang, nyatanya benar kan?
Saat dia bangkrut, kebanyakan memilih untuk membuang muka.
"Bibi."
Dia menunduk, anak kecil lucu berpipi chubby menarik celana olahraga kusut miliknya, Miranda berjongkok untuk mensejajarkan tinggi badannya dengan si anak.
"Ada apa nak?"
Si anak menyerahkan buku gambar, banyak lukisan pemandangan yang luar biasa bagus untuk anak kecil itu.
Miranda takjub, seingatnya sewaktu seumuran anak itu ia hanya bisa menggambar gunung kembar legendaris anak-anak TK.
"Bibi suka gambal Key? halganya hanya 5 libu satu lembal."
"Boleh." Miranda segera merogoh kantong bajunya, "Loh, tidak ada. Maaf ya nak, bibi tidak punya uang, cuma ada permen, mau?"
Si anak kecil mengangguk. "Sepakat!"
Ia memasukkan permen ke mulut, senyumnya lebar menambah kesan imut.
Miranda sendiri memilih-milih gambar, lalu mengambil satu bergambar air terjun.
"Ngomong-ngomong ini air terjun mana?"
"Key tidak tau, Papa bilang namanya hanya air teljun."
"Namamu Key ya?"
"Iya Bi, Keyna. Tapi kakak-kakak Key lebih suka panggil Key kalena singkat, meleka memang pemalas sih."
Miranda tersenyum gemas, ia mencubit pipi cubby si anak. Ia jadi teringat tentang adiknya dulu sewaktu kecil, seberisi dan seimut anak ini.
__ADS_1
"Sudah ya Bi, Key mau menjual yang lain."
Si anak mengambil balik buku gambarnya, langkahnya riang gembira mencari pembeli lain. Miranda tersenyum, dia berdiri dan melipat lukisan itu dan memasukkan ke dalam saku.
Dia menghela napas, seharusnya ia juga sudah punya anak seumuran itu. Hanya saja, memilih menjadi wanita karir cukup menguras tenaga dan emosinya. Ia tidak bisa berfikir hal lain selain kerja, menjalin hubunganpun tidak pernah.
Memang benar, dia tidak laku.
"Loh?"
Dia merogoh sakunya, ada uang sepuluh ribu yang masih tersisa.
Kalau begini, ia harus mencari anak tadi untuk membayar.
Miranda membalikkan badan, matanya mencari-cari sekiranya ke arah mana anak itu pergi. Namun, ada 3 jalan bercabang yang cukup membingungkan. Miranda harus cepat mencari sebelum anak itu pergi.
Dia tidak suka menerima hal yang tidak sebanding.
.
.
"Key sudah kaya, belikan hasil jualan dan buku gambal Key ke Laka dan teman-teman ya?" 5 anak laki-laki mengerubungi satu anak perempuan yang memeluk buku gambarnya.
"Laka kan juga kaya." Key menatap bengis anak laki-laki yang paling tinggi.
"Laka!" Si anak kecil menyentak, kemungkinan namanya Raka tetapi karena cadel terbaca 'L'.
Key mengangguk, "Pokoknya tidak boleh culang!"
"Tidak culang ih! Kasih saja ke Laka dan teman-teman!"
"PELGI! KEY TIDAK MAU!"
Key menjerit, dia menendang kaki para anak laki-laki.
Raka segera menerjang Key hingga keduanya jatuh, kemudian berguling-guling hingga baju sekolah mereka kotor. Anak laki-laki lain meneriaki, berusaha menyemangati si ketua geng.
"SEMANGAT LAKA!"
"KALAHKAN KEY!"
"LAKA GO LAKA!"
Key menarik telinga Raka sementara si anak laki-laki menarik rambut Key kuat-kuat, hampir menangis, tetapi Raka masih bisa untuk berbicara.
"Key harus tunduk pada Laka karena Laka laki-laki!"
"Tidak mau! Laka jelek!"
"Key lebih jelek!"
"Laka yang jelek!"
Key masih menarik telinga Raka, makin kuat, anak laki-laki itu makin lama makin tidak kuat menahan tangis.
"HEI SEDANG APA?!"
Miranda tiba, di menahan tangan salah satu anak yang sedang memegang batu, nyaris dilemparkan ke Key yang tidak fokus.
__ADS_1
Anak laki-laki lain panik, mereka membubarkan diri begitu melihat wajah marah Miranda. Menakutkan, mereka akan menjadikan Miranda mimpi buruk tiap kali tidur.
Raka menangis sejadi-jadinya.
"Laka cuma belcanda!"
Key ikut terisak, dia menunjuk Raka. "Key cuma membela dili, Laka yang yang mulai duluan."
Miranda panik, dia memungut buku gambar key yang sudah jatuh dan kotor. Dia membantu Raka berdiri, kedua anak itu terisak, terlebih Key yang melihat buku gambarnya kotor.
Otak Miranda mendadak buntu.
"Anak-anak tenang!"
"HUAAAAA LAKA TIDAK SALAH!"
Key menarik rambut Raka, keduanya mulai bertengkar lagi, saling menjambak dan saling tendang menyakiti satu sama lain.
"LAKA BUAT BUKU GAMBAL KEY LUSAK!"
Miranda memisahkan keduanya, dia menarik napas. Anak-anak seusia Key dan Raka memang kadang bikin pusing, terlebih untuk orang yang tidak terlatih. Beruntung Miranda bukan orang seperti itu.
"Bagaimana kalau kita beli Es krim?"
"Es Krim?" tanya dua anak serempak.
Miranda mengangguk, dia menahan gemas.
.
"Yah, mulah." Laka cemberut, tetapi masih menjilat es krim dua ribuan yang Miranda beri.
Sementara Key masih cemberut, es krimnya tidak tidak sentuh sama sekali. Ia lebih suka memeluk buku gambarnya yang sudah rusak, menggerutu sendiri kemudian menatap tajam ke arah Raka.
Raka pura-pura tidak tau.
Miranda tersenyum.
"Kalian dari sekolah yang sama ya?" tanyanya, Miranda baru menyadari seragam yang mereka gunakan sama. Ia mengusap noda es krim di bibir Raka, kemudian mengelus rambut Key yang masih cemberut.
Kedua anak itu kemudian mengangguk.
"Sekelas."
Miranda tipis, dipandanginya Key yang mulai menjilat es krim.
Drr drr
"Bibi angkat telepon dulu ya?"
Miranda segera berdiri, sambungan telepon segera terhubung.
'Mau membayar kos sekarang atau saya usir kamu?'
Itu ibu kosnya, Miranda kembali pening, ternyata sudah habis tempo lagi bulan ini.
"Gini bu-"
'Halah nggak usah alasan, saya tau kamu nggak punya uang dan mau nunggak lagi. Nggak bisa, saya nggak bakal kena tipu mulut manismu lagi! Cepat pulang dan ambil barang-barangmu!'
__ADS_1
Sambungan segera ditutup, Miranda menghembuskan napas lelah. Dia harus membawa dua anak ini ke pos satpam terdekat sebelum pulang.