Loololand: My Little Children

Loololand: My Little Children
Kesempatan?


__ADS_3

Miranda lupa, berapa tahun lalu kejadian ini pernah ia alami. Yang pasti saat ia masih SMP dan sahabat terbaiknya masih ada di sisinya. Selalu bersamanya tanpa ada rasa enggan sama sekali.


"Kenapa?" tanya Sarah.


Miranda tertawa, dia memamerkan lembar uang ke muka gadis manis berambut cokelat. "Habis malak anak orang kaya."


"Kebiasaan," balas Sarah. Dia mengulurkan tangannya, "Sini bagi uang tutup mulut."


Sarah yang ia kenal selalu tidak masalah dengan perlakuannya yang semena-mena kepada seseorang. Jangankan melarang, malah mendukung asal tidak ketahuan.


"Kau sama aja!"


Keduanya tertawa. Miranda duduk di samping, memasukkan uangnya dan mengerutkan kening setelah Sarah diam lama.


"Kamu kenapa?"


"Cuma rindu seseorang."


"Pacarmu sebenarnya siapa sih?"


Sarah tersenyum lebar, "Penasaran ya?"


Miranda spontan mengangguk.


Sarah agak menggantungkan kalimatnya, ia tersenyum lembut dan menatap langit sore hari yang cerah.


"Rahasia dong!"


Sahabatnya itu punya hubungan diam-diam dengan seseorang. Amat rahasia sampai-sampai Miranda saja tidak tahu itu siapa, yang pasti Sarah bahagia serta ia pun merasa tenang.


Namun, salah besar. Semuanya sudah terlambat saat ia tahu.


___


Revan tersenyum kecut, dia melihat ayahnya yang mondar mandir seperti mobil-mobilan rusak. Rinaldi juga merasakan hal yang sama, dia lelah sendiri melihat kelakuanku laki-laki dewasa yang sangat berbeda dari biasanya.


"Miranda suka warna apa?"


Revan memutar bola mata, begitupun Rinaldi.


"Nggak tau, Papa jangan gugup seperti itu!"


Rinaldi menambahi, "Kalau Bibi tau dia bisa ilfeel, Om kenapa sih malah lebih rewel ketimbang cewek? Toh makan malamnya di rumah 'kan?"


Seusai tawaran Gerald, Miranda menyetujui dengan syarat di rumah saja.


Masalahnya perempuan itu terlalu lelah hari ini untuk sekedar pergi malam ini, jadi daripada membuat mood sedikit makin buruk lebih baik dia menyiapkan makanan malam saja, katanya.


Sementara Gerald yang malah rewel dengan penampilan.


Kedua anak itu tidak habis pikir.


"Papa jangan gugup! Bibi tidak suka orang yang gampang gugup!" kata Revan.


"Benarkah?" tanya Gerald.


"Bohong lah!"


Revan tertawa terpingkal sendiri, Gerald menghela napas lega. Dia kembali memilih setelan baju yang akan ia gunakan nantinya.


Saat sedang memilih-milih pintu dibuka, Devinda masuk dengan menggendong Key yang tertidur di gendongannya. Remaja itu segera membaringkan Key di ranjang Gerald, kemudian ikut merebahkan diri di sana.


"Papa mending bantuin Bibi masak daripada ribut cari baju," katanya.


Rinaldi menyahut, "Ide bagus tuh Om, pasti bibi kesusahan karena mencoba menyiapkan makanan spesial."


"Salah," sangkal Devinda. Dia tertawa kecil, kemudian menunjuk ayahnya dengan mata berapi-api. "Aku bersumpah Papa akan pingsan jika makan makanan Bibi!"

__ADS_1


"Kenapa?"


"Bibi tidak bisa memasak."


Gerald sudah menduga itu.


.


.


"Maaf ya bos, merepotkan. Padahal aku yang meminta makan malam di rumah."


Gerald hanya mengangguk.


Ruang makan terasa sepi setelah ia mempersilakan para staf dapur untuk keluar meninggalkan mereka. Meja makan yang panjang disulap menjadi meja kecil hanya dengan dua kursi.


Miranda berdehem sebentar, gugup jikalau berbuat kesalahan hingga dipecat.


"Tidak, kamu bekerja dengan sangat baik. Bahkan kamu satu-satunya yang bertahan lebih lama dari pengasuh lain. Kamu memang bisa diandalkan Miranda."


Miranda tersenyum.


Jelas dia bisa diandalkan dan pekerja keras yang tidak mungkin membuat orang kecewa.


"Terimakasih."


"Bagaimana rasanya mengurus anak-anak?" tanya Gerald.


Miranda meletakkan sendok, matanya agak berbinar menyangkut topik ini.


"Luar biasa, mereka selalu menggemaskan. Walaupun kadang nakal, maksudku anak-anak bapak hanya terlalu aktif sampai aku kadang lelah saat mengikuti mereka. Sisanya aku selalu suka mengurus anak-anak daripada pekerjaan lamaku."


Gerald tersenyum.


Ia ingin mengabadikan bagaimana Miranda masih tersenyum seperti terakhir kali.


Gerald melihat respon Miranda yang kini tertawa, kemudian agak kasar memukul meja entah karena reflek atau apa.


"Aku akan mengadopsi setelah aku mengumpulkan banyak uang."


"Maksudku, darah dagingmu sendiri."


"Oh."


Ada jeda panjang.


Miranda menerawang langit-langit. Di bawah pandangan masyarakat yang memandang perempuan kurang layak melakukan ini itu. Usia 28 tahun sudah dicap perawan tua dan kurang bisa diterima.


Ia tahu jelas itu.


"Tidaklah bos, mana ada yang mau dengan aku."


"Jika semisal ada?"


Jika orang itu jelas di depan wajahnya, jelas menunggu untuk sedikit diperhatikan.


Apa yang mungkin Miranda katakan jika mantan suami sahabatnya menyukainya.


"Mungkin dia buta."


"Mulutmu agak tajam," kata Gerald.


Miranda meminum cairan kental dari gelas, kemudian tersenyum lebar sembari menggoyang-goyangkan gelas.


Miranda terkekeh geli.


"Aku hanya berbicara fakta, para pria menyukai wanita muda-"

__ADS_1


"Tidak semuanya."


"Kebanyakan pria menyukai wanita muda, yang masih belia untuk dibodohi."


Matanya memincing, jelas menatap Gerald.


Rupanya Miranda masih mengingat Gerald sebagai orang keji yang merenggut masa depan Sarah. Ironis, ia tidak tahan dengan ini tetapi memaksakan untuk tidak ambil pusing.


Ia tahu tempramen Miranda, cara paling tepat adalah dengan pura-pura tidak tahu atau mengganti topik.


"Mungkin. Lalu bagaimana dengan dirimu? yakin tidak mau menikah?"


"Tidak ah, mengurus diri sendiri saja tidak becus bagaimana mengurus orang lain."


Miranda menggerutu, di mata Gerald itu terlihat lucu.


"Tapi kamu pandai mengurus anak-anak."


"Itu berbeda bos! Aku bisa karena aku menyukai anak-anak. Mereka seperti malaikat yang diturunkan tuhan untuk bisa aku jaga."


Gerald terkekeh, Miranda terlalu berapi-api saat mengatakannya hingga tidak sadar makanannya berceceran.


Ia kemudian mengulurkan tisu, ingin lebih tetapi saat ini Miranda tidak suka disentuh.


"Terimakasih bos."


"Tidak masalah."


Keduanya larut dalam makan malam, hingga selesai, Miranda meletakkan alat makan terlebih dahulu.


"Terimakasih."


"Untuk apa lagi?" Tanya Gerald bingung.


"Terimakasih atas kebaikan bos selama aku bekerja."


Miranda tersenyum, sedikit menunduk hingga tidak bisa melihat bagaimana Gerald menutup mukanya. Ia baru mengangkat kepalanya saat Gerald berdehem kecil.


"Itu sudah kewajibanku."


.


.


Rinaldi mengangkat telepon, nama ibunya tertera di sana membuat ia mendesah lelah. Kesal, panik, bersalah dan emosi negatif lain menjadi satu.


"Ada apa Ma?"


'Kamu pasti ada di rumah Gerald 'kan? Pulang!'


Rinaldi menghela napas.


Ia mengusap rambut Revan dan Devina yang sudah tertidur di kanan kiri Key. Kemudian, menyelimuti anak-anak itu tanpa banyak berkomentar.


'Rinal!'


"Iya Ma, ini Rinaldi mau pulang kok. Secepatnya, ini lagi mau ambil kunci."


'Kamu ini nggak bisa dibilangin, sudah mama bilang jangan ke tempat Gerald buat ketemu para anak haram itu.'


"Nggak ada yang namanya anak haram, Ma. Revan sama Devinda itu nggak tau apa-apa," kata Rinaldi lirih.


Ia segera berjalan ke pintu dan menutupnya, ia tidak mau perdebatannya membangunkan anak-anak.


Rinaldi tidak sadar, jika sebenarnya Devinda dan Revan tidak benar-benar tidur. Si kembar itu terbangun, saling melirik satu sama lain kemudian menghela napas.


"Mamanya kak Rinaldi seram," kata Revan. "Kasihan Kak Rinaldi di suruh pulang malam-malam."

__ADS_1


"Tidak salah sih."


__ADS_2