Loololand: My Little Children

Loololand: My Little Children
Mendekati anak-anak


__ADS_3

Miranda menguap, ia mendapati anak-anak masih mengenakan piyama dan membawa guling ke ruang makan yang kembali seperti sedia kala. Dengan meja panjang dan banyak kursi di ruangannya.


"Selamat pagi Bibi, Key sudah gosok gigi tapi masih mengantuk ... Hoammm."


Miranda tersenyum, ia mengangkat Key untuk ia baringkan kembali ke kasur, anak asuhnya selalu menggemaskan di situasi apapun.


Sehingga, ia tanpa segan menghadiahi kecupan kecil yang membuat Key geli hingga tidak sengaja menendang Miranda berguling dari kasur.


Si kembar yang baru tiba lantas tertawa.


"Bibi bodoh banget," kata Revan.


Devinda mengangguk dalam tawanya.


Miranda cemberut, dia kembali naik ke ranjang tanpa menggubris kicauan si kembar di pagi hari.


Ini masih musim liburan dan si kembar berasa di rumah sepanjang waktu sehingga ia mau tidak mau meladeni anak-anak 24 jam penuh. Apalagi si kembar yang masih agak semena-mena kepadanya.


"Bibi hei!"


"Ada apa?"


"Bibi tidak mau mengajak kami jalan-jalan? Kami bosan di rumah saja."


.


.


Siska tersenyum kecil, ia memperhatikan bosnya dari sekat kaca antara ruang Gerald dan dapur. Rekan tempat kerjanya ikut mengamati, mereka menghela napas bersamaan saat Siska tiba-tiba berbicara.


"Gimana ya narik perhatian pak Gerald? Berbagai cara udah aku lakukan tapi nihil, lelaki mapan memang suka jual mahal banget!" keluh Siska.


Rekan lain tertawa.


Amanda memukul pundak Siska, "Jangan mimpi deh, Sis. Pak Gerald aja nggak lirik kamu."


Dia sebagai senior akan tertawa. Masalahnya Amanda juga pernah mendekati atasannya itu tetapi hasilnya nihil, jabatannya malah diturunkan dari yang sekertaris ke staf biasa. Syukur-syukur tidak dipecat, ia sudah kapok.


Jadi sebagai senior yang baik, dia tidak mau Siska masuk ke angan-angan semu.


"Tau apa sih? Pake Gerald cuma jual mahal."


Siska yakin, Gerald sebenarnya tertarik padanya bukan pada perempuan tua yang jadi pengasuh anak-anak itu.


Ah, dipikir-pikir mungkin saja Gerald baik ke Miranda karena perempuan itu juga baik ke anak-anak.


Ia jadi memikirkan sesuatu.


"Sadar Sis," kata Amanda, dia tertawa nyaring. "Pak Gerald nggak tertarik sama anak bau kencur, seleranya paling high class."


"Siapa bilang?"


Siska jengkel, dia nyaris menjatuhkan cangkir yang ia ambil.


"Mendiang istrinya saja lebih muda!"


Walaupun sudah menjadi rahasia umum bagaimana cara mendiang istri Gerald mendapatkan laki-laki itu sebagai suami di usia yang masih sangat belia, setidaknya membuktikan jika Gerald suka yang lebih muda.

__ADS_1


Memang apa ada laki-laki yang menolak pesona perempuan muda?


Tidak mungkin ada!


"Bermimpi sajalah kamu!" pungkas Amanda.


Sementara senior Siska yang lain mencoba menenangkan.


"Siska, bagaimana jika kamu dekati saja anak-anak pak Gerald? bukannya beliau sayang anak-anaknya?"


Ide bagus, kebetulan ia ingat jika beberapa hari dari sekarang ada acara yang penting buat anak-anaknya Gerald.


.


Siska turun dari mobil, ia mengikuti Gerald yang segera masuk ke kediaman keluarga Horizon. Banyak mata yang melihat kehadirannya, ia percaya diri mengangkat dagu disaksikan banyak orang.


Tangannya bahkan beberapa detik mampu menggandeng Gerald, walaupun setelahnya ditepis.


Gerald lebih memilih menghampiri asistennya, Juandi untuk membahas sesuatu. Walaupun begitu, Siska masih tetap mendengar walaupun agak samar-samar apa yang mereka bicarakan.


"Geng yang sama?"


"Iya tuan, mereka mengacau lagi di wilayah kita. Apa perlu kami bereskan agar tidak mengganggu?"


"Berapa risiko geng itu akan mengincar anak-anak?"


"Saya tidak yakin, tetapi mungkin saja akan mengancam jika terus dibiarkan."


"Usut tuntas petinggi dan pemimpin geng itu."


Siska segera mengangguk, ia kemudian naik ke lantai atas untuk berkeliling. Namun, kemudian ia bertemu si kembar dan Miranda yang sepertinya sedang berdebat di depan pintu.


Melihat kesempatan, perempuan muda itu segera mendekati ketiganya.


"Bibi jelek! pokoknya jelek jelek jelek!" seru Revan.


"Kenapa? Nggak suka? sini Bibi jewer."


"Hmp!"


Revan mengembungkan pipi, dia menendang kaki Miranda main-main karena kesal.


"Ehem."


Siska berdehem sehingga seluruh perhatian tertuju padanya. Si kembar jelas tidak suka kehadiran Siska yang tidak disangka-sangka, kemudian tetap bersikap sopan karena dipelototi Miranda.


"Wah kalian makin besar ya~ Tante lama nggak lihat~"


Padahal, seminggu kemarin mereka baru bertemu.


Siska mengusap-usap rambut pendek Revan, kemudian mencubit pipi Devinda sok akrab. Yang diperlakukan seperti itu mundur, menjauhkan jangkauan Siska dari mereka.


"Oh Kak Miranda juga," sapa Siska.


Miranda mengangguk saja.


"Anak-anak kenapa?" tanya Siska.

__ADS_1


"Merajuk minta diajak jalan-jalan, katanya mereka bosan dan mau melakukan ini itu."


"Sini jalan-jalan sama Tante."


"Nggak!" tolak Devinda tegas.


Siska mengutuk dalam hati, anak-anak terlalu ketus untuk didekati dan selalu menolak ia. Itu membuat rencananya tidak berjalan mulus, menyebalkan.


Walaupun begitu ia tetap tersenyum manis.


"Ah, pasti karena malu berjalan denganku. Ngomong-ngomong Tante baru ingat jika beberapa hari lagi kalian akan berulang tahun kan?"


Entah mengapa si kembar tidak menjawab, bukannya anak-anak malah senang saat ada pesta ulangtahun? Yah, walaupun si kembar sudah kelas satu SMP, tapi ya sama saja.


"Nanti Tante bakal buatkan pesta yang meriah deh," kata Siska lagi.


Revan segera beranjak dari sana, sementara Devinda tersenyum sopan. "Kami tidak mau pesta ulang tahun, anggap saja Tante salah tanggal."


Kemudian pergi.


Siska segera menatap Miranda yang bersedekap dada, kening perempuan itu mengerut juga karena bingung menatap kepergian anak-anak. Kemudian Miranda mengacak rambutnya dan memijit pelipisnya.


"Anak-anak kok tidak mau dirayakan?" tanya Siska basa-basi.


Miranda melihat perempuan itu dengan pandangan biasa saja.


"Ya terserah mereka, mungkin karena tidak mau merepotkan."


"Tapi ya tetap saja! Ulang tahunku saja selalu dirayakan saya aku masih sekolah dulu, Pak Gerald juga bukan tipe yang pelit pada anak. Aneh! Pokoknya aku akan membuat pesta ulangtahun yang meriah!"


Miranda tersenyum kecut.


"Terserah, kalau aku kasih alasan untuk nggak ngelakuin itu kamu juga nggak akan dengerin."


.


Key membuka matanya, dia melihat kedua kakaknya diam saja di samping ranjang. Ia yang masih mengantuk samar-samar mendengar keduanya yang sedikit terisak.


"Kak Revan kak Dev sakit hati kalena dimalahi Bibi? Nanti bial Key jewel Bibi kalau masih nakal."


"Tidak apa-apa kok Key," jawab Devinda, dia tersenyum.


Namun, jelas Key tidak percaya sama sekali.


"Teringat Mama?"


Ditanyai begitu keduanya segera menghapus bekas air matanya. Kemudian bertingkah tidak terjadi apa-apa dan naik ke kasur, memeluk Key seperti guling sehingga si bungsu menggigit tangan keduanya secara bergantian.


"KEY BUKAN GULING!"


Revan yang pertama kali tertawa, dia makin mempererat pelukan pada Key.


"BIBI KAK LEVAN JAHAT!"


"HAHAHAHHA."


Ketiga anak itu pada akhirnya tertidur ketika Miranda sampai, kemudian perempuan itu menyelimuti ketiga anak asuhnya.

__ADS_1


__ADS_2