
Rinaldi memutar kemudi, Revan dan Devinda tidak saling berbicara sejak Rinaldi menjemput mereka sampai selesai bermain di Time Zone dan kini di perjalanan pulang. Remaja itu menghela napas, ia tahu mood si kembar sedang tidak baik.
Namun, biasanya daripada terus diam si kembar akan berbuat kekacauan.
"Kalian punya masalah apa?" tanya Rinaldi pada akhirnya.
Dia mengintip dari kaca tidak ada pergerakan dari si kembar, keduanya diam seperti terlarut dalam pikiran masing-masing. Hal ini membuat Rinaldi agak tidak tenang.
"Cerita saja, taku tidak akan tertawa," katanya.
Dia melambatkan laju mobil hingga pada akhirnya berhenti sepenuhnya di pinggir jalan agak sepi. Rinaldi kemudian berbalik dan mendapati si kembar yang kini memelototinya.
"Apa?" tanya Rinaldi jengah.
Revan tidak mau berbicara dan masih memelototi, sementara Devinda memilih beranjak dari kursi penumpang ke kursi samping sopir.
Gadis itu menghela napas.
"Aku benci sekertaris Papa."
Siska, jelas perempuan itu yang Devinda maksud.
Walaupun Devinda terlihat sering membenci sesuatu, sebenarnya ia jarang membenci sesuatu dan hanya membenci hal itu karena benar-benar membuatnya muak. Keponakannya itu bisa mengendalikan diri sejak kecil, berbeda sekali dengan Revan yang berkebalikan darinya.
Makanya saat Devinda mengucapkan hal itu, Rinaldi agak terkejut.
"Kenapa?"
"Dia suka ikut campur, tidak tulus juga berbeda dengan Bibi."
Dibandingkan bagaimanapun Miranda akan menang telak.
Devinda memutar bola matanya kesal, bertindak sok akrab hanya karena ingin mendekati Papa mereka benar-benar tidak akan mempan sama sekali.
Devinda sudah kebal.
"Ngomong-ngomong kenapa hari ini kalian murung?"
Rinaldi kembali melajukan mobil, dia menunggu jawaban Devinda yang sangat lambat.
"Dia mengungkit luka lama."
"Hahaha," Rinaldi tertawa kecil, dia mengacak rambut Devinda seolah menyalurkan semangat. "Tenang saja, bukan masalah besar kok."
"Ya semoga saja sih, tapi melihat dia membuatku makin muak. Kenapa dunia ini tidak diisi orang-orang seperti Bibi saja sih?" gerutu Devinda, dia menghela napas panjang.
Sementara Rinaldi tertawa, laki-laki itu sudah membayangkan bagaimana dunia ini berjalan jika hanya diisi orang-orang seperti Miranda. Yang pasti kacau balau.
"Terdengar seperti mimpi buruk."
"Setidaknya selagi aku masih anak-anak, aku akan dimanjakan."
.
.
__ADS_1
Rinaldi menciut, ada bekas kemarahan yang ketara saat si kembar membuka pintu. Ruangan yang seharusnya hening dan teratur berganti menjadi meriah, dengan banyak balon dan pita.
Banyak teman si kembar yang datang tanpa diundang.
Juga kue ulangtahun besar bertuliskan angka 13.
"SELAMAT ULANG TAHUN!!"
Siska yang menjadi dalang acara bersorak paling meriah, ada dua kado yang dia genggam erat-erat seperti sogokan untuk memperlancar hubungannya dengan Gerald.
Sayang sekali, tidak sesuai keinginannya. Si kembar justru menampik apa yang ia sodorkan.
"Tante sudah kelewatan batas!" tegas Devinda, dia maju lebih dulu. "Kami tidak minta ulang tahun kami dirayakan!"
Saat itu Siska masih agak tersenyum, ia mencoba sabar.
"Tapi kan ini yang namanya kejutan."
Dia kemudian menarik Devinda dan Revan ke meja yang disediakan. Si kembar tidak berbicara apa-apa, merek melihat teman-teman yang datang ke tempat mereka.
Lucu.
Kebanyakan malah musuh mereka.
Revan menusuk kue dengan kasar, matanya menyipit kepada Siska yang terkejut bukan main.
"AKU TIDAK SUKA STROBERI, BERI AKU RASA LAIN!"
Siska masih tetap sabar.
"Aha, Tante sudah mempersiapkan banyak rasa untuk kalian. Kalian bisa memilih apapun rasa yang kalian suka."
Namun, bukannya berterimakasih Revan malah mendorong semua kue hingga berjatuhan.
"Aku tidak suka," kata Revan.
Rinaldi meringis, dia segera memanggil pelayan untuk membersihkan kekacauan.
Sementara itu, Devinda mengusir teman-temannya satu persatu tanpa peduli pandangan orang lain.
"Pergi, tidak ada pesta di sini," katanya.
Siska yang melihat itu menarik tangan Devinda, matanya panas karena terus memelototi anak dari bosnya tanpa ampun.
"Apa yang kamu lakukan?! Aku sudah bersusah payah menyusun ulang tahun kalian tapi kalian tidak tau terimakasih sama sekali!" katanya kesal.
Siska nyaris menampar pipi Devinda jika tidak ingat ia harus menjaga sikap.
"Kami tidak memintanya," balas Devinda. Anak itu menarik napas panjang, dia bersedekap dada dan menatap Siska angkuh. "Kita juga tidak sedekat itu sampai Tante harus membuat kejutan untukku dan saudaraku."
"Tapi kamu seharusnya menghargai kerja kerasku!"
Siska makin tersulut.
Rinaldi melihat ini sebagai hal yang harus segera dihentikan, tetapi Devinda memberi isyarat untuk berhenti di sana.
__ADS_1
"Aku cuma mau mengusir hal najis di rumahku."
Siska benar-benar tersulut.
Dia menarik rambut Devinda yang menatapnya semena-mena, kemudian menarik tangan kurus Devinda sebelum dia terdorong ke belakang karena ulah Revan.
Si kembar menatapnya bengis.
"Pergi dari rumah kami!" kata mereka berbarengan.
Siska tertawa.
"Rumah kalian?" tanya Siska, dia mengepalkan tangannya. Tawanya makin menjadi-jadi ketika si kembar melotot.
Siska menggebrak meja makan, membuat orang-orang yang masih tersisa terpaku padanya.
"Kalian hanya anak haram jal*ng itu!"
Si kembar tidak menanggapi, mereka mengepalkan tangan. Kemudian, Siska kembali berbicara seperti hak berbicaranya sudah bebas.
"Kelakuan kalian mirip sekali dengan jal*ng tidak tahu malu itu! Kelakuan kalian mirip! Hahaha, gosip di kantor ternyata benar! KALIAN NGGAK TAU SOPAN SANTUN DAN NGERASA PUNYA KUASA!"
Siska menggebrak meja sekali lagi.
"KALIAN YANG LEBIH NAJIS!"
Rinaldi tidak tinggal diam, dia segera menarik Siska keluar tetapi ditepis. Orang suruhan Siska yang perempuan itu bawa menghalangi Rinaldi, sementara pelayan lain segera memanggil unit keamanan.
Namun, sebelum unit keamanan datang Siska masih mengoceh semaunya.
Teman sekelas si kembar juga mendengarnya, tatapan jijikan makin mereka terima.
"Tante punya hak apa bicara seperti itu?!" Devinda kembali maju, dia menggenggam tangan saudara kembarnya erat.
"KALIAN BAHKAN BUKAN ANAK KANDUNGNYA PAK GERALD!"
Plak
Rasa perih segera hinggap di pipi kanan Siska, perempuan itu segera menatap dalang dari rasa sakitnya yang kini menurunkan Key dari gendongan, dan meletakkan beberapa kantong berisi susu.
Miranda menatap Siska.
"Apa yang kamu katakan di depan anak-anak?" tanyanya jengah, Miranda menjambak rambut Siska hingga perempuan itu meringis sakit.
"Aku cuma bilang fakta! anak-anak itu bahkan bukan anak pak Gerald tapi sombongnya bukan main! Mereka cuma anak jal*Ng hina yang menjebak pak Gerald."
Plak
Miranda menampar sekali lagi.
Dia mendorong Siska hingga tersungkur, "Aku akan menghitung satu sampai tiga, jika kamu tidak segera keluar aku akan memukulmu."
Dia kemudian mengedarkan pandangan kepada orang yang masih tersisa.
"Satu ... Dua ... Ti-"
__ADS_1
Sebelum hitungan ketiga semua sudah terlebih dulu keluar dari tempat kejadian.
Miranda ingin segera menghampiri si kembar yang hampir menangis, tetapi ditepis, kedua anak itu segera naik ke lantai atas.