Loololand: My Little Children

Loololand: My Little Children
Siapa Namamu?


__ADS_3

Perundingan gagal total, ibu kos hanya memberi waktu sehari untuk tetap tinggal. Miranda berdecak sebal, dia kembali membereskan barang-barangnya ke sebuah kardus dan koper.


"Bisa gila aku," gerutunya kesal.


Tangannya memungut benda-benda yang masih tersisa.


Setelah ia bangkrut, barang-barang mewahnya disita bank untuk melunasi hutang. Yang ia punya hanya baju-baju 'murah' dan beberapa barang miliknya semasa SMA yang ia bawa karena itu adalah kenangan.


Miranda tersenyum miris.


Ia ingat betul ada suatu benda berharganya, ia mengambil sebuah buku catatan dimana banyak foto-fotonya dengan teman SMA-nya dulu. Di setiap foto, keduanya memakai beberapa aksesoris yang sama.


"Bagaimana kabar Sarah ya?"


Sarah, sahabatnya adalah satu-satunya orang yang menemaninya sejak SMP dan SMA dulu.


Walaupun saat naik kelas dua, Sarah tiba-tiba keluar sekolah karena hamil. Sejak saat itu, hubungan mereka makin renggang dan berakhir kehilangan kontak. Terakhir kali mereka saling mengirim pesan adalah Sarah yang mengabarkan jika dia sudah melahirkan anak kembar.


"Pasti dia punya anak-anak yang lucu." Miranda tersenyum.


Dia berfikir jika Sarah seharusnya bahagia.


Ia membuka kembali lembaran demi lembaran bukunya. Keningnya berkerut saat melihat sebuah amplop coklat kusut yang nyaris kotor.


"Apa ini?"


Ia membolak-balikkan amplop, kemudian matanya menemukan sebuah nama.


Sarah Liliyana.


[Dear Miranda.


Kayaknya aku beneran nggak berbakat mengasuh anak, entah kenapa anak-anak selalu nggak suka sama aku.


Jadi tolong, kamu bisa bantu ngerawat mereka kan?


Kalau kamu nggak keberatan, ini alamatku.


Jalan xxxx, no 15.]


Gila, sepertinya Miranda kejatuhan durian runtuh.


.


.


"Kita nggak butuh pengasuh!"


"Betul tuh, Papa juga ngapain peduli sama kami sih."


Dua anak kembar nyaris identik bersedekap dada, mata mereka memincing hingga pelayan yang baru saja memberi mereka sepiring kue jahe hanya tersenyum kaku.


"Seharusnya Papa nggak perlu peduli sama kami," si anak laki-laki, Revan menggigit kue jahe tanpa ampun.


Sementara saudarinya, Devinda mengangguk setuju.


Anak lain di dalam ruangan menggebrak meja, "Kakak belisik! kan tinggal kalian keljai pengasuh bial dia pelgi!"


Keduanya menoleh pada si bungsu. "Key pintar!"


Mereka melanjutkan menyuap kudapan kecil, sementara otak mereka berfikir soal bagaimana cara agar membuat pengasuh tidak betah.


Revan bahkan membuka smartphone-nya dan mengetik di mesin pencarian dengan kata kunci 'mengerjai pengasuh jahat' sebagai inspirasi.


"KETEMU!"

__ADS_1


Para pelayan saling melirik.


Pintu terbuka, pria tegap dengan jas hitam bersih memasuki area makan. Rambut hitamnya berkilau di bawah cahaya lampu, dan wajah datarnya tetap enak dipandang dari sudut manapun.


"Apanya yang ketemu?" tanyanya. Suara pria itu berat dengan intonasi rendah.


Revan dan Devinda saling sikut.


Key meletakkan garpu, "Kakak-kakak mau mengeljai pala pengasuh."


"KEY!"


Yang disebut namanya tak acuh.


Pria itu tidak berkomentar sama sekali, kemudian agak membungkuk, ia menyambut Key yang mengulurkan tangan minta digendong.


"Tuan Horizon, para kandidat sudah menunggu di bawah."


Gerald Horizon, pria itu menengok. Ditepuknya rambut putri bungsu dan sedikit diacak-acak. Key tertawa, dia mencium pipi Gerald.


Revan dan Devinda melirik, mereka memutuskan turun dari kursi.


"Kerjai saja," kata Gerald. Key yang posisinya menghadap si kembar tersenyum lebar.


"Eh?"


Si kembar tersentak dari lamunan, Key cemberut.


"Papa bilang, Kakak-kakak halus tunjukkan yang pantas bekelja kepada kita bukanlah olang sembalangan."


Revan dan Devinda mengangguk.


.


.


Ia kira ia punya tiket emas khusus, tetapi ternyata ia tetap harus mengantri diantara banyak kandidat. Mana kebanyakan muda-muda dan ber-make up menor.


Oh, jangan lupakan baju yang seksi abis.


'Anak muda zaman sekarang niatnya mau cari kerja atau godain suami orang sih?' batinnya geli.


Pikirannya agak gusar, ia harus menang dari para kandidat agar bisa menemui Sarah.


Saat ia mencoba fokus, ia mendengar suara pintu terbuka, kandidat sebelumnya yang dipanggil masuk menangis dan meninggalkan ruangan dengan terburu-buru.


Staf yang berjaga di pintu agak gusar. "Selanjutnya."


Disaat seperti ini mentalitas kandidat lain ikut diuji.


Miranda menyunggingkan senyum aneh, yang membuat kandidat di sebelahnya yang tidak sengaja melihat bergidik ngeri.


Perempuan itu melepas bandana polkadot hijau dan menggerai rambutnya, ia keluar dari barisan dan melangkah lurus menuju ke arah pintu.


"Maaf ibu-"


"Kak," ralat Miranda.


Si staf buru-buru membenahi kata-katanya, "Maaf Kak, tapi ini bukan giliran kakak."


Miranda tidak peduli, di tinjunya pintu besi yang menghalangi. Ia menunjuk para kandidat lain yang merasa heran dengan tingkah anehnya.


"Kalian dengerin saya!" katanya lantang, "Kalian tidak lihat kalau kandidat yang keluar tadi dandanannya mirip sekali dengan kalian? Menor, pamer paha, pamer dada dan pamer muka?!"


Banyak protes yang menusuk ke arah Miranda, tetapi Miranda menepisnya.

__ADS_1


"Mikir dong! Itu artinya yang cari pengasuh otaknya masih jalan! Mana mau dia dapat pengasuh yang kelihatan mau menggoda suaminya?"


"Ibu-"


"Aku masih muda! Diam dulu," potong Miranda, dia memukul pintu besi lagi, wajahnya makin beringas. "Kalian lihat tadi yang masuk? Seratus perses saya bilang dia bakal keluar dengan keadaan yang sama seperti kandidat sebelumnya!"


Brak


Setelahnya pintu dibuka.


Sesuai yang dikatakan Miranda, perempuan yang keluar juga mengalami hal yang sama--menangis dan melangkah terburu-buru.


Para kandidat mulai panik.


Miranda tertawa, "TUNGGU APA LAGI?! PERGI SANA!!"


Banyak yang memilih berhamburan keluar, tetapi masih ada beberapa yang tetap ingin mencoba peruntungan.


Miranda tersenyum kecut saat si staff masih melarangnya masuk.


"Selanjutnya."


Miranda menggerutu, dia menendang pintu yang kembali menutup.


"Kenapa aku belum boleh masuk sih?"


"Sesuai nomor, bu- eh, kak."


Miranda merenggut, dia menatap kandidat lain dengan galak. Kakinya diketuk-ketuk ke lantai, masih menunggu dan menunggu.


Dia kemudian melirik si staff, "Ngomong-ngomong, majikanmu bagaimana kabarnya?"


"Baik, tuan Horizon selalu fit dan tidak punya keluhan kesehatan-"


"Bukan dia, tapi istrinya."


"Nyonya- ah, silahkan masuk."


Si staff membuka pintu setelah kandidat tadi keluar dengan ekspresi yang sama. Miranda tersenyum, dia segera masuk.


Matanya memindai seluruh ruangan berornamen abu-abu, kemudian mendapati empat manusia yang duduk di sofa.


Tuan Horizon dan tiga anaknya.


"Duduk," kata Gerald, ia fokus ke berkas, "Karina Tina?"


"Bukan."


Miranda melambai pada anak-anak yang bermuka masam, rambut coklat kemerahan mirip sekali dengan milik Sarah. Kemudian pada si bungsu yang menyapanya suka cita. Ia ingat, itu anaknya yang pernah ia tolong sebelumnya.


"Jadi siapa?"


"Miranda Husain."


Gerald mengangkat kepalanya, berkas di tangan pria itu jatuh. Miranda sigap mengambil berkas dan kembali menyerahkannya pada pria tadi.


Ekspresi yang ditangkap Miranda seperti ingin mencekiknya hidup-hidup.


Tidak mungkinkan Sarah menceritakan bahwa Miranda pernah mengerjainya saat persami dan menyimpan dendam untuk dibalaskan?


"Siapa namamu?"


"Miranda Husain." Miranda agak terkejut kenapa tiba-tiba pria itu memegang tangannya, terlebih menggenggam jari-jemarinya hingga ia mengerutkan keningnya berkali-kali. "Pak, jangan menyentuh saya sembarangan, saya akan adukan ini ke istri anda!"


Gerald meremas telapak tangan Miranda.

__ADS_1


"Kamu diterima."


"PAPA!!"


__ADS_2