Loololand: My Little Children

Loololand: My Little Children
Pengasuh Baru


__ADS_3

Ia diterima kerja dan bisa tinggal di kediaman keluarga Horizon yang super mewah karena pekerjaannya. Ia senang, tetapi juga sedih saat tau fakta jika Sarah, sahabatnya telah meninggal dunia 4 tahun yang lalu dalam kecelakaan mobil.


Hatinya kacau, ia telat datang.


"Bibi!!"


Matanya memandang anak-anak Sarah satu persatu, kemudian memeluk si kembar yang memberontak karena tiba-tiba dipeluk.


"Kalian mirip sekali dengan Sarah," akunya, dia menghapus air matanya dan balik tersenyum.


Si kembar diam beberapa saat, Miranda mengecek jurnal yang ia bawa untuk jadwal kegiatan anak-anak. Ini baru hari pertamanya bekerja dan ia masih belum terbiasa, nyaris tersesat, jika saja salah satu pelayan tidak berbaik hati mengantarnya ke ruang tujuan.


"Nah, saatnya makan siang!" katanya, dia menarik si kembar yang mulai memberontak.


Revan menendang kaki Miranda, "Jangan tarik-tarik kami dong! kami bisa berjalan sendiri!"


"Kami punya mata tau Bi, jangan buat kami seperti tidak berguna saja!"


Dibentak seperti itu anehnya Miranda justru tersenyum, batinnya menelisik, benar-benar mirip sekali dengan Sarah yang keras kepala. Juga sedikit imut seperti adiknya dulu.


"Maaf-maaf, silahkan kalian berjalan sendiri."


Si kembar berjalan lebih dulu, Miranda berbalik ke arah Key yang yang mau digendong.


"Kak Revan dan kak Devindla memang nakal, Bibi jangan masukan ke dalam hati ya."


Miranda mencubit gemas pipi gemuk itu, kemudian mengecup hingga Key tertawa geli. Dia mengikuti langkah si kembar hingga menuju ruang makan, di sana tuan Horizon sudah duduk di salah satu kursi seperti menunggu mereka.


Gerald Horizon, setelah Miranda ingat kembali, dia yang membuat Sarah hamil di luar nikah hingga putus sekolah. Lalu, rumornya keluarga Horizon bergerak di dunia gelap dan bisa melakukan apapun untuk menghabisi orang yang tidak mereka suka.


Miranda berspekulasi jika pria itu berbahaya.


"Bibi ayo duduk," kata Key, dia menarik kerah baju Miranda dan menunjuk kursi di dekat Gerald Horizon.


Miranda menggeleng, dia mendudukkan Key ke kursi sementara ia berdiri di sisi Key.


Si kembar saling melirik, "Papa tumben makan bersama kami."


"Tidak boleh?" tanya Gerald, dia meletakkan garpu dan sendok seolah merajuk.


Revan tertawa, dia meletakkan garpu dan sendok juga mengikuti Gerald. Sementara Devinda mencubit pinggang Revan hingga saudaranya itu mengaduh.


"Sakit tau!" keluh Revan.


Devinda menunjuk wajah Revan dengan sendok, "Jangan bicara dengan Papa, kita masih marah karena Papa memilih pengasuh tua untuk kita."


Miranda yang merasa dibicarakan segera berdehem, tetapi dia masih tetap berdiri tenang dengan kesabaran nyaris menyentuh ubun-ubun.


Ia tidak suka dibilang tua, dia baru 28 tahun walaupun memang beberapa bulan ini tidak menggunakan skincare karena kendala biaya. Tapi hei, dia masih cantik luar biasa.


"Bibi malah?" tanya Key tiba-tiba.


Miranda menggeleng, tetapi Key menggebrak meja. Pipinya naik turun dan matanya memincing. "Bibi memang jelek tapi dia lebih muda dali Papa!"


"Pftt."


Gerald berdehem, dia melirik Miranda yang hilang fokus. "Ambilkan saya air."

__ADS_1


"Tapi kan di depan anda-"


"Air dari lemari pendingin, sekarang!"


Miranda segera melakukan perintah, walaupun hatinya dongkol sepenuh hati dia tetap melaksanakan dengan baik tanpa ada niat menumpahkan minuman ke muka bos-nya di hari pertama bekerja.


"Aku juga ingin tisu, minta pada Ami di lantai bawah."


Apa pula perintah ini.


Miranda bergegas sebelum tangannya melayang menampar muka pria tampan itu.


"Jangan lupa sendok dan garpu baru, lalu buah-buahan segar."


Hosh hosh


Bisa gila dia lama-lama.


Si kembar yang melihat hanya tertawa, dan terus makan. Key memelototi Gerald yang disambut usapan di rambut hitam anak itu.


"Tuan ... hosh ... bolehkah aku duduk?"


"Entahlah," Gerald membuang muka, si kembar makin tertawa terpingkal-pingkal.


Pada akhirnya Miranda memilih duduk, dia meminum air hingga tandas dengan wajah merenggut.


Key mencoba menepuk punggung Miranda, membuat suasana Miranda sedikit lebih baik.


Hanya sedikit.


"Pengasuh tolong ambilkan saos di dapur."


Rekan kerjanya, Ami menepuk pundaknya untuk menenangkan. Namun, perempuan yang lebih muda itu sangat keras menertawai kesialan Miranda di hari pertama.


"Sepertinya tuan Horizon menyukaimu," hibur Ami, perempuan 24 tahun, cantik dan muda.


"Untuk dikerjai?" cibir Miranda, dia meruntuk sifat kekanak-kanakan Gerald. "Aku seperti mengasuh 4 anak, bukanya tiga."


"Biasanya tuan Horizon bersikap dingin, jarang-jarang seperti ini."


Lagi, Ami masih mencoba menghibur.


"Lagipula kebanyakan pegawai perempuan iri karena kamu diajak bicara tuan Horizon, biasanya tuan hanya berbicara dengan pegawai laki-laki saja. Kamu harus bersyukur!$


Miranda tetap masih mencibir, Sarah pasti tidak kuat dengan pria semena-mena itu.


Memikirkan itu, dia segera memegang pundak Ami hingga orang itu terkejut.


"Ada apa?"


"Kau bekerja berapa lama di rumah ini?"


"Baru 4 tahun."


Miranda melepas pegangan tangannya dan mendesah lesu, dia berdiri dari duduknya, ia akan bertanya ke pegawai yang lebih senior tentang Sarah.


Naasnya, baru saja dia berdiri seorang memanggil namanya.

__ADS_1


"Miranda, tuan Horizon mencarimu!"


Damn!


"Ami aku pergi dulu."


Dia segera berlari dan mencari kehadiran pria itu di ruang belajar anak-anak, ah dia terlalu terburu-buru untuk bertanya. Untungnya, Gerald benar-benar ada di sana, duduk di kursi sembari memegang buku cerita.


Si kembar sudah tidur di lantai, mungkin sangking tidak tertariknya dengan gaya bercerita ayah mereka yang monoton.


Sementara Key tertidur di pangkuan Gerald.


"Diam di situ," Miranda bergegas membopong Key, ia menepuk-nepuk punggung anak berusia 6 tahun itu hingga anak itu merasa nyaman dalam pelukannya.


Ia kemudian membuka pintu kamar anak-anak, mendekati kasur dan membaringkan Key di tengah-tengah kasur.


"Tidur yang nyenyak anakku sayang~"


Setelah memastikan Key nyaman dengan posisi sekarang, dia menemukan Gerald yang menggendong si kembar tengah berjalan menuju ke arahnya.


Miranda tersenyum kecut, setahunya Gerald lebih tua empat tahun darinya. Bisa-bisanya pria itu masih kuat menggendong dua anak dalam satu waktu.


"Biar saya bantu."


"Itu memang tugasmu."


Harusnya Miranda tidak usah menawarkan diri saja, dia menggerutu tetapi tetap melakukan tugasnya.


Gerald tersenyum geli, tetapi senyumnya tidak disadari Miranda yang kini memasang selimut dan kemudian mematikan lampu.


Gerald menatap Miranda secara intens, membuat perempuan itu tidak nyaman dan mulai menatap balik.


"Apa ada yang bisa saya bantu lagi, tuan?"


"Ambilkan saya jas."


Hah, Miranda mengangguk.


Setengah jam kemudian dia baru kembali dengan dua setel jas yang dirasanya cocok. Dari sudut pandangnya ia bisa melihat Gerald berdiri bersama seorang perempuan muda nan cantik.


Miranda agak tidak menyukai perempuan itu, menurutnya dandanan di perempuan terlalu menor.


"Pak, dia siapa?"


"Miranda kemari."


Miranda segera mendekat, ia menyerahkan jas. Dari ekor matanya ia kembali melirik si perempuan yang menatapnya agak tajam.


"Oh namanya Miranda. Hai Kak Miranda, aku Siska."


"Hai Dik."


Siska tertawa cantik, dia beralih ke Gerald lagi untuk menawari bantuan memasang jas, tetapi ditolak. Miranda diam-diam menertawai dalam hati, dan memuji respon Gerald pada Siska yang menurutnya benar-benar anak muda centil.


"Baiklah pak, kita harus segera pergi untuk rapat. Kak Miranda, kami pergi dulu, dadah~"


'Jangan kembali lagi ya.'

__ADS_1


__ADS_2