
"Lihat, kami bisa membuat Papa pergi liburan!" Dada Revan terbusung, dagunya mendongak congkak. Anak itu berpose seperti pahlawan yang menyelamatkan hari.
Anehnya, kedua saudarinya beserta Rinaldi yang berkunjung ikut bertepuk tangan bangga.
"Memangnya kalian jarang liburan?"
"Tidak sih," sahut Devinda.
Key mengangkat dagunya, kali ini ia yang lebih sombong dari Revan.
"Papa selalu mau libulan, tapi kami halus minta dulu. Kali ini Papa sendili bilang mau libulan!"
Anak itu bertepuk tangan cerita, Miranda mencubit gemas pipi anak itu sembari menata rambut Key. Anak itu sumringah, jelas sekali benar-benar menyukai momen seperti ini.
Miranda tersenyum kecil.
"Bibi pokoknya harus ikut!" seru Revan.
"Tapi ini 'kan liburan keluarga kalian," sahut Miranda. Ia mencubit hidung bangir Revan.
"Nanti kalau Key mengompol kan harus ad yang jaga," balas Revan.
Dia berlari ke arah Key dan menepuk-nepuk pipi adik bungsunya. Senyumnya lebar seperti kakak usil yang suka mengganggu, walaupun pada kenyataannya memang begitu.
"Key tidak pelnah mengompol lagi!"
Pipi Key mengembung.
Rinaldi cepat tanggap dengan menyeret Revan menjauh sebelum Key mencakar wajah yang katanya ganteng milik salah satu kembar Horizon itu. Sementara Devinda sudah merangkul Key yang nyaris mengejar Revan untuk ditendang.
Miranda tertawa sampai tidak sadar keberadaan orang lain.
"Kamu butuh sesuatu untuk dibawa liburan?" tanya Gerald. Laki-laki itu mengagetkan Miranda hingga tidak sengaja melayangkan tangannya.
"Pft."
"ASTAGA PAPA BARU SAJA DITAMPAR?!"
Revan yang paling heboh, ia mengambil kamera dan berdiri di depan dua orang yang kembali canggung.
"Bibi ayo tampar Papa lagi," pintanya.
"Hah," dengkus Gerald. Dia menarik tangan Miranda, walaupun begitu pegangan tangannya tidak sakit sama sekali.
Kemudian menempatkan Miranda di depan pintu masuk kamar anak-anak.
"Bos, aku minta maaf-"
"Aku tidak marah."
"Tapi aku menampar pipi bos."
Miranda panik, di saat seperti ini anehnya Gerald melihat Miranda terlihat makin mempesona hari demi hari.
Ditambah bagaimana reflek Miranda balik memegang tangannya. "Ayo ke rumah sakit, atau aku perlu mengobati bos?"
"Aku tidak apa-apa."
"Tidak-tidak, kita harus ke rumah sakit! kalau bos lemas aku bisa menggendong bos sampai ke sana."
Perkataan absurd macam apa itu, tetapi sekali lagi Miranda terlihat manis.
"Tunggu di sini."
Gerald menutup pintu.
__ADS_1
Dia mengacak-acak rambutnya kemudian memegang bekas tamparan Miranda di pipinya yang memanas. Pikirannya kacau, dia berusaha menetralkan detak jantungnya tanpa sadar anak-anak sedang melihat.
"Om Gerald tidak pernah jatuh cinta ya?" tanya Rinaldi. Dia membuka bungkus permen untuk diberikan ke Key yang masih ingin menendang bokong Revan.
Devinda yang sumringah di sebelahnya menggeleng.
"Tidak tahu! Omo, tapi ini mirip Drakor yang aku tonton!"
"Oh seharusnya Bibi yang ngeblush! Papa seperti perempuan tsundere di anime!" Revan menyahut.
Rinaldi mengerutkan kening, "Kalian membicarakan apa sih?"
.
.
Hari yang ditentukan tiba begitu cepat, Gerald menutup telepon dan segera pergi keluar dimana anak-anaknya sudah berkumpul.
"Papa ayo kita semobil!" Revan menarik Gerald yang baru saja keluar, dia menunjuk salah satu dari dua mobil yang terparkir di halaman. "Bibi yang akan menyetir!"
Kaca mobil diturunkan, Miranda duduk di kursi pengemudi dengan kaca mata hitam dan dandanan nyentrik dia menyapa Gerald.
"Yo, Bos."
"Biar aku yang menyetir, laki-laki yang harus menyetir."
Miranda menatap sinis, beruntung matanya tersembunyi di balik kacamata hitam.
"Tidak bisa begitu dong bos, bawahan yang harus menyetir," katanya.
Gerald tersenyum tipis, sangat tipis sampai tidak ada yang menyadari.
"Miranda, kamu harus keluar dulu."
"Untuk apa?"
Miranda segera membuka pintu mobil, mengambil uang kemudian segera berlari mengambil apa yang Gerald perintahkan. Sementara Gerald masuk ke kursi kemudi, ia bersiul pelan tanpa peduli pandangan anak-anak yang sudah sangat menusuk padanya.
"Papa aneh, biasanya tidak banyak bicara. Papa pasti benar-benar menyukai Bibi," ujar Devina. Ia kembali memasang earphone tanpa mau mendengar bantahan dari Gerald.
Sementara Revan menendang kursi Gerald, "Papa tidak boleh begitu pada Bibi, aku tau Bibi mata duitan tapi ya Papa tidak boleh mengerjai Bibi."
"Sepelti kakak tidak pelnah saja," sahut Key.
Revan cemberut, dia mencubit pipi Key. "Bibi enak dikerjai sih."
"Agree," sahut Gerald.
Revan tertawa.
Tok tok
"Pak maaf ya saya terlambat, saya harus berkemas dulu."
Keempatnya menoleh, Siska berada di luar mobil dengan koper besar. Dia tersenyum manis dan melambai-lambai ke anak-anak Gerald dan dengan kedipan centil.
Revan melotot, "Kenapa dia ikut?!"
"Papa tidak bisa meninggalkan pekerjaan," balas Gerald. Dia mengangguk pada Siska yang kemudian perempuan itu tersenyum sumringah.
"Saya naik mobil ini ya pak?"
Tanpa menunggu jawaban ia segera berlari untuk masuk ke mobil. Wajah Revan sudah kecut, dia bersedekap dada dan menendang-nendang kursi Gerald.
Devina menghela napas, dia membuka pintu mobil dan menarik Key turun.
__ADS_1
"Kenapa turun?" tanya Siska.
Devinda tersenyum, "Takut Key tidak ada yang mengurus."
"Eh jangan turun, Tante bisa ganti popok dan baik kepada anak-anak. Pak, jangan biarkan mereka turun ya?" Siska memelas, dia menunjuk-nunjuk Devinda yang memutar bola mata.
Asisten Gerald itu memohon-mohon.
"Saya kompeten kok masalah anak. Ya pak?"
Sikapnya terlalu kekanak-kanakan.
Gerald menghela napas, "Biarkan anak-anak."
Devinda tersenyum senang, Revan mengikuti turun hingga membiarkan kedua orang dewasa masih di dalam mobil.
"Anak-anak tidak suka saya ya, Pak?"
Gerald tidak menjawab, dan hanya memberikan tidur. Siska segera mengambil dan dengan sengaja menyentuh tangan Gerald, sedikit membelai sebelum laki-laki itu menarik tangannya dari jangkauan Siska.
"Bos, ini."
Tiba-tiba saja Miranda sudah kembali, ia celingak-celinguk tidak melihat anak-anak.
"Merek ada di mobil belakang."
Miranda ber-oh panjang, dia tanpa banyak bicara bahkan tidak menyadari keberadaan Siska yang hampir mau menyapa. Ia melangkah cepat menuju mobil kedua dan mengetuk kaca.
Rinaldi tersenyum mengejek, "Kali ini aku yang menyetir."
"Memang kamu punya SIM?"
Rinaldi segera menunjukkan SIM miliknya, lalu tertawa kemenangan. "Aku sudah 18 tahun."
Miranda tersenyum kecut, tetapi ia segera duduk di kursi samping mobil. Telat saat itu telepon genggamnya berdering. Ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Miranda mengangkat telepon.
"Siapa? Agensi pencari bakat ya?"
Ada kekehan pelan dari sambungan telepon, Miranda mengerutkan kening seperti mengenali suaranya.
'Saya mencari model untuk iklan produk penghilang kutu. Apa Ibu mau menerima tawaran saya?"
Sekarang Miranda yakin.
"Kita harus ketemu, segera mungkin."
'Tidak sekarang, aku masih punya pekerjaan. Mungkin beberapa minggu dari sekarang.'
"Hah, darimana kamu dapat nomor teleponku?"
'Rahasia.'
Miranda menutup telepon, seseorang yang menghubunginya makin menyebalkan tiap tahun. Padahal dulu, anak itu super super imut hingga Miranda ingin terus memegangnya.
"Siapa?" tanya Rinaldi.
"Adikku."
"Hah? Bibi punya adik? Umur berapa? Cantik atau tidak?"
"Kenapa? Mau pacarin orang yang mirip denganku karena cintamu tidak berbalas?"
"HAHAHAHAH." Revan tertawa, dia menunjuk-nunjuk Miranda. "Kok bisa ada orang senarsis Bibi?"
__ADS_1
"Ya karena aku cantik."