
Gerald tersenyum tenang, ia melihat kedekatan Anak-anaknya dengan Miranda dari balkon lantai dua. Rinaldi yang ikut menemani menguap, kalau tidak salah sudah lebih dari dua jam ia melihat Gerald melakukan hal yang sama.
"Hubungan Om dengan Bibi tidak ada perkembangan ya?" sindir Rinaldi.
Anak itu membuat Gerald lumayan tertohok sehingga laki-laki itu berdehem pelan sembari mengambil rokok dari saku.
"Asal bisa melihat Miranda sudah cukup."
"Cemen," ejek Rinaldi. Dia pada akhirnya menghela napas ketika Gerald kembali fokus ke Miranda.
Rinaldi berpangku tangan.
Matanya fokus melihat Miranda dan Anak-anak bermain-main air, baju perempuan itu basah sehingga ia melepas jaketnya.
"BIBI TANGKAP INI!"
Kemudian menjatuhkan jaketnya yang ditangkap dengan nyaris sempurna. Miranda memberi jempol, kemudian lanjut bermain menggunakan selang air untuk menyerang si kembar.
Rinaldi berbalik menatap Gerald.
"Jika Om begini terus Bibi benar-benar tidak akan sadar, Om 'kan tau bagaimana Bibi. Dia terlalu bodoh menyangkut suka yang Om rasakan."
Parameter Miranda peka mungkin hanya 20 persen, apalagi tingkah polah Gerald yang seperti pengagum rahasia hanya akan membawa hubungan yang tidak akan maju.
Menyarankan makan malam romantis lagi juga tidak mungkin.
Rinaldi memijat keningnya, pusing sendiri atas kelakuan dua bayi besar yang ia kenal.
"Asal Miranda tidak terganggu," kata Gerald.
"Jika Bibi tiba-tiba dekat dengan laki-laki lain?"
Gerald tidak menjawab, ia memperhatikan motor yang masuk dari gerbang depan kemudian berhenti tepat di depan di sekitar Anak-anak bermain. Helm full-face segera dicopot dan Gerald bisa melihat betul laki-laki muda seumuran Siska melambaikan tangan.
Sementara Miranda buru-buru mendekat, seperti agak berdebat.
"Mau apa kamu kemari?" tanya Miranda, matanya menyipit pada Mahes yang tiba-tiba datang. "Tau darimana aku bekerja di sini?"
"Kakak kok marah, aku kan hanya berkeliling dan tidak sengaja melihatmu. Oh hai, ini anak-anak yang Kakak asuh? Manisnya."
Miranda menepis tangan Mahes yang ingin mencubit pipi Key.
"Kuman."
"Sudah cuci tangan seperti yang kakak ajarkan kok."
Mahes tersenyum tipis. Revan dan Devinda agak menyipit, kemudian menyerang dengan pistol air yang ditanggapi dengan tawa.
"RAWR."
Si kembar melarikan diri, bersembunyi di balik bangunan dan kembali mengamati.
"Siapanya Bibi?" tanya Revan.
"Tidak tahu."
__ADS_1
Keduanya lanjut mengamati dan mendengarkan pembicaraan kedua orang yang sedikit tidak akur.
"Kakak mau jalan-jalan? Temanku ada yang buka cabang es krim, nanti aku yang traktir."
Key menarik jaket yang Miranda pakai, membuat perempuan itu menunduk. "Key mau es klim, tapi dengan Papa."
Mata bulat Key memandang Mahes tidak suka, tetapi lelaki dewasa itu malah melambai menampilkan senyum karismatik yang katanya bisa membuat kaum hawa menjerit, katanya.
Miranda menggendong Key setelah memberikan anak itu handuk.
"Mahes kita bisa berbicara saat aku libur."
"Ah tidak asik, ayolah Kak. Aku sudah lama tidak jalan-jalan dengan kakak."
"Ehem."
Keduanya menoleh ke sumber suara, tepat dimana Gerald sudah berdiri di samping Miranda. Hawa kehadirannya yang kadang tipis membuat gerakannya jarang disadari.
Key yang mengangkat tangan. "Mau es klim."
"Tentu, tapi ganti baju dulu lalu kita beli bersama Miranda."
Gerakan tangan Gerald menyuruh Miranda masuk, tetapi perempuan itu abai dan tetap berdiri tanpa ada niatan berjalan ke arah pintu utama. Malahan dia memandang Mahes yang kini mengamati Gerald dari atas hingga bawah, kemudian menyunggingkan senyum aneh.
"Bos nya kakak?"
Miranda mengangguk, itu membuat Mahes mendekat dan mengulurkan jabat tangan.
"Salam kenal, aku adik ya Kak Miranda. Bisa kita bicara sebentar?"
Gerald tidak keberatan, ia mempersilakan Mahes masuk dan duduk di ruang tamu setelah ia mengusir Miranda dari pembicaraan. Firasatnya mengatakan jika apa yang Mahes bicarakan akan berhubungan dengan Miranda dan itu firasatnya terbukti.
Sembari tersenyum tipis, ia menatap Gerald tepat di mata. "Pecat kak Miranda."
"Tidak ada alasan bagiku memecatnya."
Mahes mengeluarkan amplop lain, lebih dari satu.
"Kak Miranda tidak cocok menjadi pengasuh."
"Miranda suka anak-anak."
Gerald tidak habis pikir, ia menatap Mahes sebal. Ada rasa tidak rela membayangkan Miranda direnggut darinya.
Terlebih dari bocah tengik seperti Mahes.
"Hah, sebagai seorang pebisnis kamu seharusnya tahu jika Kak Miranda bisa melebarkan sayap jika memiliki kesempatan lain, bukannya terkurung sebagai pengasuh sebagai burung di sangkar emas yang kamu ciptakan."
Gerald tertawa kecil, "Siapa yang peduli?"
Matanya berkilat tajam, ada hasrat yang menyuruhnya untuk terus bertahan.
"Aku tidak memaksanya, ia bebas melakukan apa saja tanpa aku belenggu. Miranda tidak suka diatur, dia tau waktunya sendiri," balas Gerald.
Yang selalu ia tahu adalah Miranda keras kepala, pemegang kontrol penuh atas dirinya sendiri. Maka dari itu, tindakan Mahes seperti mencoreng kebanggaan Miranda sendiri.
__ADS_1
"Tapi aku ingin kamu memecatnya."
Mahes menatap congkak, lewat beberapa perbandingan ia dan Miranda punya satu kesamaan keras kepala.
"Aku akan menyediakan pekerjaan untuk kak Miranda, membuat dia menjadi dirinya sendiri dan tidak terkekang dengan anak-anak. Yang seharusnya Miranda-ku perlukan itu aku."
Hah.
Sinting.
Kenapa ya.
Kenapa Gerald justru tersenyum lebar di saat seperti ini.
Ia tidak tahu, tetapi matanya fokus melihat wajah Mahes yang berangsur-angsur kesal. Laki-laki itu menggebrak meja setelah menyerahkan amplop lain berisi uang.
"Kamu harus memecat kakakku."
Entah bagaimana justru Gerald yang tertawa.
Dia berdiri memberi isyarat untuk staffnya mendekat, kemudian berbisik dan kembali tenang.
"Tidak bisa, Miranda cocok di sini."
Pelayan berangsur-angsur datang, menuangkan teh ataupun memijat bahu Mahes secara bergiliran. Gerald menyaksikan perubahan mood spesifik Mahes yang makin turun, merasa terganggu Mahes menepis semua tangan yang memegangnya.
"Kalian boleh pergi," sahut Gerald.
Ia kemudian melihat Mahes, wajahnya menjadi datar. "Biar aku tanya baik-baik, kamu punya perasaan yang lebih kepada kakakmu sendiri?"
Mahes tidak berani menjawab.
Itu terlihat konyol bagaimana saingannya tiba di saat yang tidak terduga.
Staff yang tadi kembali dengan koper yang ditaruh di paha Mahes, laki-laki itu mengerutkan kening.
"Hadiah, untuk calon iparku."
Stress berjalan Gerald mungkin berkala akan kambuh, ia memerintahkan satpam untuk mengusir Mahes keluar dari rumahnya.
Tidak peduli, energinya seperti terkuras habis.
Ia menaiki anak tangga satu demi satu, begitu mendapati diri di depan pintu yang ia tuju ia mengatur napas agar tidak terlihat janggal.
Miranda yang sudah berganti baju dan Key yang tertidur adalah hal pertama yang ia lihat.
"Bos, apa adikku sudah pergi?" tanyanya.
Gerald mengangguk, ia kemudian menjatuhkan diri di sofa yang Miranda dan Key tempati.
"Dia tadi bicara apa saja."
"Menyuruhku menaikkan gajimu."
"Bos menyetujuinya?"
__ADS_1
Gerald mengangguk, sementara Miranda tersenyum, menggemaskan sekali dalam sudut pandang Gerald.
"Bos memang luar biasa."