
Miranda mencubit pinggang Siska, perempuan itu mengasuh sakit. Siska menggenggam erat smartphone, cemberut, dia terpaksa berbohong di bawah tatapan main hakim milik Miranda.
"Saya baik-baik saja, Pak."
Kemudian smartphone diambil alih, Miranda tertawa sinting dan melambaikan tangan.
"Siska baik-baik saja 'kan pak, makanya jangan khawatir dan liburan bersama anak-anak saja!"
Ada kekehan pelan dari sambungan telepon.
'Terimakasih.'
Oh, orang yang terlahir kata juga bisa berterimakasih setulus ini ya.
Miranda tersenyum geli, dia hampir saja menutup telepon jika saja Gerald tidak berbicara kembali.
'Miranda.'
"Ada apa, bos?"
Mungkin lebih 5 menit dia menunggu balasan, Miranda agak gugup tentang apa yang akan bosnya katakan. Namun, setelahnya dia bernapas lega.
'Anak-anak bilang lebih menyenangkan liburan denganmu.'
"HAHAHA."
"Kau sinting ya?" sindir Siska. Miranda masa bodo, ia meninggalkan ruangan. Lagipula dia sedikit butuh jalan-jalan setelah merawat Siska yang selalu meminta ini itu tiap sepuluh menit sekali.
Lorong rumah sakit terasa nyaman untuk dilewati, Miranda melempar senyum paling manis pada beberapa pasien dan perawat.
"Bos, kamu masih ada di sana? Bisa aku berbicara dengan anak-anak?"
'Kamu bosan berbicara denganku?'
Hah?
Dahi Miranda berkerut, pertanyaan Gerald terlalu tidak masuk akal untuk dijawab. Jelas-jelaslah Gerald membosankan, kemudian karena Miranda merindukan anak-anak.
Harusnya sih dia menyatakan yang sebenarnya, tetapi ia takut Gerald tersinggung dan memotong gajinya.
"Tidaklah! Tapi aku rindu anak-anak."
'Tunggu sebentar.'
Miranda menunggu.
Kakinya membawanya berkelok ke taman rumah sakit, ia duduk di bangku kosong tepat di bawah pohon. Kemudian, kembali mendekatkan smartphone ke telinganya setelah mendengar suara anak-anak.
'Bibi jahat!'
Kenapa pula ia dikatai jahat.
Ia orang paling baik kok, untuk anak kecil dan sesuatu yang imut-imut untuk dicubit.
'Papa sedih tuh karena Bibi.'
Si kembar sedang ingin mempermainkannya rupanya, dia terkekeh. Kemudian terisak-isak kecil saat berbicara.
"Masa Bibi hanya mau melihat kalian tapi dikatai jahat."
__ADS_1
'Eung, ya sudahlah Bi. Papa tidak penting juga, ayo beralih ke mode video call!'
____
Gerald melihat pintu mobil yang dibuka, dia mendapati Rinaldi cemberut ketika masuk dan menjatuhkan diri ke jok mobil. Melihat itu kening Gerald berkerut bukan main.
"Dimana Miranda?"
Seharusnya ia akan bersama Miranda sementara Rinaldi dengan anak-anak. Gerald merasa kepalanya agak pening, kemudian tersenyum tipis.
Ah, sepertinya Miranda tidak mengerti.
"Bibi mengusirku. Katanya anak kecil jadi penumpang saja!"
Gerald terkekeh.
Ia melajukan mobil. Perjalanan pulang akan dimulai, sementara Miranda dengan anak-anak, Siska sudah dijemput orang tuanya untuk pulang lebih dulu dan mendapatkan perawatan lebih baik di rumah sakit kota.
Gerald sendiri seharusnya bersama Miranda, tetapi yah, seperti yang ia lihat gagal total.
"Om, kok bisa om suka sama Bibi?"
"Bukanya kamu sudah menanyakan itu?"
Gerald pikir, jatuh cinta ke Miranda tidak perlu diingat-ingat lagi.
Namun, Rinaldi keukuh. Remaja itu lebih mirip perempuan yang mengajak saudaranya bergosip. Padahal jelas sekali Gerald bukan tipe penggosip, harusnya Rinaldi membicarakan hal seperti ini kepada si kembar.
"Cerita lah Om! Dilihat bagaimanapun Bibi tidak ada manis-manisnya!"
Dimulai dari mana ya.
"Dulu waktu SMA, aku pertama kali bertemu Miranda di belakang sekolah. Sekolah kami berdekatan, dia lebih muda 4 tahun dan masih di SMP. Kebetulannya SMP yang Miranda tempati adalah tempat kakakku atau mendiang ayahmu mengajar."
Gerald mengingat-ingat lagi.
Pertemuan pertama baginya lumayan berkesan.
"Dia seperti preman, memalak setelah melihat aku memakai seragam SMA orang kaya. Karena kasihan aku memberikan setengah uang jajanku dulu padanya, dia senang sampai-sampai menepuk-nepuk pundakku dan bilang 'Wuih, senior ini baik banget! makasih ya kapan-kapan aku ganti!' terus pergi."
Ia ingat betul bagaimana wajah yang semula garang jadi berseri-seri.
Miranda remaja menampilkan cengiran menggelitik sampai Gerald tertawa saat itu.
"Aku kira kami tidak akan bertemu lagi, tapi kami bertemu lagi setelahnya. Makin sering karena Ibuku menyuruh untuk sering-sering mengantar makanan untuk kakak. Lagi-lagi aku bertemu Miranda."
Seperti takdir, atau ini memang permainan takdir yang lucu.
Miranda sewaktu SMP bagi Gerald terlihat lucu, energik dan ingin dia pegang erat-erat.
"Seperti biasa, dia memalak. Tidak, dia menawarkan jasa peluk untuk ditukar uang. Aneh, siapa pula yang mau dia peluk? Jadi aku hanya memberinya uang dan dia memberikan permen sebagai imbalan."
Rinaldi menyimak baik-baik.
Dia mengeluarkan smartphone dan diam-diam mencari aplikasi perekam suara. Momen seperti ini harus diabadikan.
"Lalu Ibuku meninggal, Ayahku terlalu sibuk untuk memperhatikan dan Kakak yang sibuk dengan pacarnya. Di sisi itu hanya Miranda yang aku tau, aku meminta jasanya. Selain ibuku, aku merasa kehangatan darinya untuk pertama kali. Miranda terlalu positif saat mendengar keluhanku, aku terlihat seperti orang cengeng yang mengadu ke anak kecil saat itu."
Gerald menghela napas.
__ADS_1
Memalukan, tetapi itu kenyatannya.
"Sejak saat itu, aku sudah tidak masalah untuk dipalak olehnya."
Gerald terkekeh, ceritanya selesai.
Sementara Rinaldi tertawa canggung, dia teringat akan sesuatu. Cerita Miranda dan Gerald berkaitan satu sama lain, dia agak curiga.
"Om pernah memberitahu nama Om ke Bibi saat masih sekolah dulu?"
"Tidak pernah."
"Om tidak pakai tanda pengenal?"
"Sekolahku melarang memakai pin nama saat diluar sekolah."
"PANTAS SAJA!"
Rinaldi seperti kesetanan, Gerald menghentikan laju mobil. Matanya dalam diam seperti mengutuk Rinaldi yang bisa saja membuat sebuah kecelakaan beruntun.
"Bibi mengingat Om! Tapi tidak tahu nama Om!"
Gerald tertawa kaku.
"Iya, tetapi akhirnya dia tahu namaku. Gerald Horizon, orang yang membuat sahabatnya hamil hingga keluar dari sekolah."
Rinaldi diam membisu, dia mengutuk.
.
.
Key mengantuk, dia memegang jari Gerald yang baru saja keluar dari mobil. Dia mengulurkan tangan minta digendong, "Papa gendong."
Gerald menuruti permintaan Key.
Kemudian si kembar keluar, mereka tertawa-tawa seperti baru mengerjai seseorang.
"Kenapa?" tanya Gerald.
"Bibi aneh! Hahahaha, dia bilang dia mau mencari cowok muda untuk dinafkahi kalau mau jadi suaminya," kata Revan. Anak itu masih tertawa dan menunjuk-nunjuk Miranda yang baru keluar.
"Kak Rinal hati-hati ya!" tambah Devinda.
Rinaldi menunjuk dirinya sendiri, kemudian tertawa dan mendekati Gerald untuk berbisik.
"Kalau Om tidak bergerak dan masih menjadi pengecut, bisa-bisa aku yang dapat Bibi."
Rinaldi tersenyum amat manis sekali, tetapi tangan Key bergerak untuk menampar pipi Rinaldi.
"Paman jelek, jangan dengan Bibi!"
Gerald tersenyum, dia memberikan Key ke Rinaldi sementara ia mendekati Miranda. Perempuan itu terkejut ketika pundaknya ditepuk.
"Jika kamu tidak keberatan, aku ingin mengajakmu makan malam."
"Tap-"
"Aku bayar."
__ADS_1