Loololand: My Little Children

Loololand: My Little Children
Mak Comblang Dadakan


__ADS_3

Bel tanda pelajaran selesai berbunyi, para murid berpakaian SMA berhamburan dari sekolah tempat mereka menimba ilmu. Diantara para murid lain, seorang siswa masih berdiri di depan kelas untuk mengangkat telepon.


"Mood ibu buruk lagi?"


Di seragamnya ada tanda nama Rinaldi Cakrawala, dia menarik napas jengah dan mengacak-acak rambutnya.


Ibunya kadang bersikap baik, tetapi jika dalam mood buruk bahkan tidak Sudi melihat wajah Rinaldi yang persis dengan almarhum suaminya sewaktu muda.


"Terimakasih Bi, jaga ibu baik-baik. Hari ini aku akan menginap ke rumah Om Gerald."


.


Revan dan Devinda bertepuk tangan, Key sedang membanggakan piala kemenangannya dan menceritakan bagaimana tindakan Miranda yang menurutnya keren kemarin.


"Pokoknya bibi kelen!"


Revan mengangguk dan bertepuk tangan, berbeda dengan Devinda yang ogah-ogahan. "Kamu sudah mengulang ini 5 kali, Key."


"Tapi bibi memang kelen!"


"Benar tuh Dev, seperti film yang sering kita tonton ciat ciat ciat!"


"Ciat ciat?"


Revan sontak memeluk Gerald yang baru saja tiba, pria itu melepas dasi dan menatap anak-anak satu persatu. Key memamerkan piala dan piagamnya serta Devinda yang bermain smartphone.


"Papa kok tumben pulang cepat?"


"Bukannya kalian merindukan Papa?"


"Siapa yang bilang?"


"Miranda."


Devinda mengangguk saja, bisa-bisanya ayahnya tertipu.


"Siapa Miranda?" Rinaldi tiba setelah Gerald, dia tersenyum cerah begitu merentangkan tangan hingga Key berlari memeluknya.


"Kak Linal!" sambut Key.


Rinaldi tersenyum, dia mengalihkan perhatiannya kembali ke Gerald. "Om aku mau menginap ya, cuma beberapa hari kok."


Gerald mengiyakan, dia memanggil salah satu pekerja yang membawa beberapa paper bag besar. "Untuk kalian, tetapi kado berwarna hijau berikan ke Miranda."


"Siap Papa!"


Gerald mengacak rambut Revan dan Devinda sebelum pergi.


Sementara itu Rinaldi mendekati anak-anak, dia masih menggendong Key di kedua lengannya dan duduk di tengah-tengah si kembar.


"Hijau untuk Bibi, kita pisahkan dulu." Devinda memisahkan beberapa kotak, setidaknya ada dua kotak hijau yang mereka temui.


"Aku bertaruh Bibi tidak akan suka," Revan menanggapi. "Selera Papa selalu buruk saat memilih kado."


"Hei- siapa itu Miranda?" tanya Rinaldi penasaran.


Si kembar baru menyadari kehadirannya setelah sempat dilupakan. Kedua anak itu saling melirik sebelum bertingkah sok manis.


"Calon mama baru kami~"


"Orang yang papa suka~"


"Oh ayolah para setan kecil, mana mungkin hal itu terjadi," balas Rinaldi jengah, ia mencubit pipi kedua anak itu satu persatu.


"Ya sudah kalau Kak Rinal tidak percaya~"

__ADS_1


Rinaldi mengerutkan kening, ia tidak percaya sama sekali. Baginya si kembar terlalu sering bermain-main dan jarang jujur dengan apa yang terjadi.


Dia mengabaikan dua anak yang kembali membongkar kado dan beralih ke Key, "Key, sial itu Miranda?"


"Bibi pengasuh kami."


Jawaban itu lebih masuk akal.


Kemudian Rinaldi dapat merasakan kerah belakang jaketnya ditarik, ia refleks menurunkan Key dari gendongan sebelum berdiri mengikuti tarikan.


"Siapa kamu? pencuri?"


"Bukan! Enak saja, anda yang siapa?"


Orang yang menariknya tidak menjawab, Rinaldi mulai resah. Mengaduh, orang itu menjatuhkannya hingga bokongnya menabrak lantai.


"Key, siapa orang ini?"


"Kak Linal, Bibi! dia bukan olang jahat."


Rinaldi masih mengaduh saat perempuan yang lebih tua berjongkok, Miranda terkekeh pelan saat mengulurkan tangannya pada Rinaldi.


"Maaf, aku Miranda Husain, pengasuh anak-anak. Kamu siapanya tuan Horizon?"


Jadi dia Miranda yang dimaksud.


Tidak terlalu muda, bahkan lebih tua dari pengasuh-pengasuh sebelumnya.


Tidak terlalu cantik juga.


Bahkan Rinaldi pikir jika banyak wanita cantik di luaran sana yang ingin sekali menjadi pengasuh anak-anak supaya bisa dekat dengan Gerald. Yah, itu wajar sih mengingat seberapa kaya pria itu.


"Hei aku bertanya!"


"Oh maaf, aku keponakannya Om Gerald. Bibi-"


Muka Miranda mendadak jadi galak, Rinaldi justru tertawa.


"Oke, aku akan panggil Bibi."


"Anak ini! aku lebih muda dari tuan Horizon kenapa dia kau panggil Om sementara aku Bibi?"


"Om Gerald masih 32 tahun-"


"Aku ini 28 tahun!"


"Lah-"


"Bibi kelihatan tua sih," sahut Revan, dia meletakkan dua kotak hijau di samping Miranda. "Ini hadiah dari Papa."


"Khusus untuk Bibi, tapi jangan kecewa jika hadiahnya tidak sesuai keinginan Bibi," tambah Devinda.


"Kenapa?" tanya Miranda.


"Om Gerald payah dalam memilih hadiah."


Miranda tertawa, ah, benar juga. Dari wajahnya Gerald saja Miranda bisa tau jika pria itu sangat membosankan, kenapa bisa mendiang sahabatnya yang selalu trendy mau dengan pria macam itu.


Pasti karena insiden hamil diluar nikah itu, hah.


"Bibi ayo buka, Key mau lihat."


Miranda mengambil satu kotak dan membukanya. Isinya hanya macaron dan beberapa botol soda, kotak yang lain berisi selusin bubuk kopi hitam dalam botol.


Anehnya Miranda tersenyum tipis. "Aku akan berterima pada tuan Horizon."

__ADS_1


"Apa?!" Revan menepuk punggung Miranda, Devinda melakukan hal sama. Wajah mereka kaget sejadi-jadinya.


Rinaldi yang melihat juga ikut kaget, "Itu sesuai dengan yang Bibi sukai?"


Tidak mungkin Gerald bisa memberi hadiah yang bagus, atau tipe hadiah Miranda terlalu sepele sehingga mudah ditebak. Apapun itu, ini keajaiban dunia.


"Tante, bukan Bibi. Iya, ini pas sekali dengan yang aku perlukan. Kalian mau macaron?"


"MAU!" Key menjadi satu-satunya yang tidak terkejut.


.


.


Gerald mendapati anak-anak akur di ruang bermain, juga mendapati Miranda yang tertidur tenang di kursi dengan wajah yang sudah penuh coretan, kemungkinan besar itu ulah si kembar. Melihat itu dia tanpa sadar tersenyum tipis.


"O-om, barusan tersenyum?!"


"Ya?"


Rinaldi menutup mulutnya, dia menunjuk Miranda dan Gerald secara bergantian.


Hal itu membuat Gerald melempar tatapan datar atas tingkahnya.


"Om tidak kerasukan? Om tersenyum untuk Bibi itu?"


"Kenapa tidak? Miranda lucu."


Gerald tersenyum geli.


Rinaldi makin tidak habis pikir, otaknya mulai memikirkan hal-hal yang tidak perlu.


"Om suka bibi itu?"


Gerald memilih diam, tetapi Rinaldi tau jelas jawabannya. Ternyata yang tadi si kembar katakan benar adanya.


Jika begitu, Rinaldi harus membantu agar cinta Gerald terbalaskan. Namun, ini akan penuh perjuangan karena dari kesan pertamanya, Miranda tipe perempuan keras kepala yang selalu teguh bisa hidup tanpa bantuan pria.


"Sejak kapan?" tanya Rinaldi.


"Sudah lama."


Rinaldi tidak suka jawaban ambigu seperti ini, ia jadi membayangkan jika Gerald menyukai Miranda sejak sekolah dulu. Tapi mana mungkin hal itu terjadi.


"Kapan Om akan mengakui perasaan Om?"


"Tidak akan, Miranda membenciku."


Rinaldi perhatian perubahan mood Gerald terlalu drastis jika menyangkut Miranda.


"Ha kenapa?"


"Aku membuat sahabatnya meninggal."


"Ha? Jadi Bibi sahabatnya si sinting itu?"


Gerald mengangguk.


Rinaldi mencengkram bahu Gerald, "Itu bukan salah Om, itu karma!"


Rinaldi selalu tidak menyukai Sarah, sejak Gerald menikah dengan perempuan itu bahkan sampai Sarah meninggal, tidak ada yang ia sukai dari perempuan seperti itu.


Baginya, kecelakaan yang Sarah alami adalah karma.


Jadi mendengar Gerald masih menyalahkan diri sendiri atas insiden 4 tahun lalu membuat Rinaldi makin membenci Sarah sejadi-jadinya.

__ADS_1


"Aku akan membantu Om mendapatkan hati bibi," putus Rinaldi.


__ADS_2