Loololand: My Little Children

Loololand: My Little Children
Tau Diri Lah!


__ADS_3

"Rinaldi, berhenti."


Rinaldi menginjak rem mendadak, beberapa pengendara motor yang sejak tadi membuntuti mobilnya melewati begitu saja.


Miranda memukul pundak Rinaldi, "Kunci pintu! Cepat! Cari juga rute lain melalui google maps."


Perempuan itu melompat ke sebelah anak-anak, ia secara cepat mengambil smartphone milik Revan. Mencari nama Gerald di telepon dan segera menelepon.


"Bos! Mobilmu diikuti."


Di seberang sambungan Gerald mematikan panggilan. Ia memegang erat kemudi dan menginjak pedal gas, mat fokus menatap depan.


"Siska berlindung di belakang."


"Saya takut pak, tidak mau."


Gerald menghela napas, ia menginjak lagi pedal gas. Beberapa motor mengikuti, ia membuat mobilnya tidak stabil agar tidak bisa dijangkau.


"TURUN LO ANJ*NG!"


Jantungnya berpacu, Gerald memutar setir ke kanan. Motor di kanan dan kiri membuat laju tidak seimbang, Gerald mengemudi dalam keadaan kesal hingga membanting kemudi ke kanan.


"Pak."


Ia membiarkan Siska yang terluka, jika tidak dibereskan mereka bisa makin celaka.


.


.


.


Mereka kira, liburan akan menyenangkan tetapi suasana suntuk tidak bisa terhindarkan. Sampai saat ini Gerald dan Siska tak kunjung sampai ditempat yang seharusnya.


"Papa, tidak segera menyusul ya?" Revan cemberut, bahkan bermain air di kolam renang di hotel berbintang tidak membuat ia senang.


Devinda menghela napas.


Dia memberikan jus jeruk pada Revan yang terus merengek. Ia bersedekap dada. "Papa akan menyusul kok, kita nikmati dulu liburannya."


"Mau Papa," sahut Key.


Miranda yang melihat itu segera mengulurkan tangan pada Rinaldi, Rinaldi yang heran malah menjabat tangan Miranda dan segera melakukan salim.


"Kamu ngapain?"


Kening Miranda berkerut, dia hampir menampar Rinaldi karena tingkah laku remaja itu.


"Loh, Bibi bukannya minta salim?"


"Handphonemu, aku butuh handphonemu."


Rinaldi mendesah pelan, dia naik dari kolam renang hanya untuk mengambil smartphone yang ia taruh di atas meja.


"Jangan buka yang aneh-aneh."


"Iya iya paham."


Ia mencari kembali nomor tuan Horizon, dan mendapatkannya. Ia segera mengambil jarak yang lumayan jauh dari anak-anak, begitu sambungan telepon tersambung suara Gerald segera terdengar dari sana.


'Rinaldi, aku akan menyusul nanti. Aku harus menjaga Siska di rumah sakit X.'


Panggilan ditutup.

__ADS_1


Miranda kembali ke anak-anak, ia mengembalikan smartphone Rinaldi.


"Papa lama ya?" tanya Key, air matanya hampir turun. "Tapi Papa tidak apa-apa?"


Miranda berusaha memasang senyum semanis mungkin, ia memeluk Key yang hampir seunggukan. Anak sekecil ini benar-benar ingin liburan dengan ayahnya.


Mengingatkan ia pada adiknya dulu.


Hah.


"Tidak apa-apa kok, Papamu kan kuat!"


Key tetap cemberut.


"HEI HEI LIHAT SINI!" Rinaldi mengeluarkan tongsis, ia siap mengambil banyak gambar dan segera mengejar anak-anak. "AYO BUAT KENANGAN-KENANGAN."


"TIDAK MAU!!"


Revan melompat ke air, diikuti oleh Rinaldi.


Devinda menghela napas, dia menarik baju Miranda dan tersenyum remeh. "Laki-laki memang kekanak-kanakan ya."


"Iya."


"Tapi Papa bukan tipe yang seperti itu kok."


Miranda tersenyum, ia mengusap rambut Devina. "Iya, Bibi percaya kok. Jaga mereka ya, Bibi mau pergi dulu."


.


.


Gerald melihat Siska yang mengenakan baju pasien, kepala Siska di perban dan tangan perempuan itu diperban. Gerald harus mengupas apel untuk Siska sebagai bentu rasa bersalah melibatkan perempuan itu dalam masalah.


"Maaf membuat Bapak repot," kata Siska tiba-tiba.


Ia meletakkan apel di piring, matanya menatap Siska yang tertawa renyah. Tangan perempuan itu mengambil kesempatan untuk memegang tangannya.


Gerald tidak menyentak, "Saya benar-benar minta maaf pak, karena saya bapak tidak bisa berlibur bersama anak-anak."


"Mereka aman bersama Miranda."


Siska tampak termenung agak lama, kemudian menggenggam tangan Gerald makin erat.


"Saya rasa anda harus memecat kak Miranda."


"Apa alasannya?"


"Dia terlihat barbar pak, saya takut anak-anak akan bertingkah makin nakal jika masih diasuh oleh dia. Jika anda tidak keberatan, anda bisa mencari istri contohnya saya."


Gerald tidak berbicara, ia memberi isyarat diam saat mengangkat telepon. Siska diam-diam mendesah kecewa, modusnya gagal.


"Ada apa?"


'Papa! Bibi menghilang!'


'TADI DIA IZIN PERGI TETAPI KEMUDIAN WUSH HILANG! KAMI TAKUT DIA DICULIK HANTU!'


Brak


Yang dibicarakan datang dengan penampilan acak-acakan. Gerald tersenyum geli, ia melihat tampang bodoh Miranda yang segera menatap ia lekat-lekat.


"Bos! Anda harus berlibur bersama anak-anak."

__ADS_1


'BIBI? ITU BIBI?!'


"Iya."


Sambungan ditutup, Gerald berdiri untuk mengambil alih helm yang masih Miranda pegang. Ia juga mengambil beberapa dedaunan kering dan bulu unggas di rambut pendek bergelombang perempuan itu.


"Kamu seperti baru saja menerjang badai."


"Lebih buruk dari itu bos! aku hampir mati karena berkendara dibelakang truk pengangkut ayam."


"Kamu tidak apa-apa?"


"Hanya terkena bau tidak enak." Miranda mencium baunya sediri, "Tapi baunya masih lumayan kok, Bos."


Gerald maju lebih dekat, dia mengendus bau Miranda.


"Masih harum."


Miranda agak gugup, tetapi ia segera mendorong Gerald keluar dari pintu.


"Bos harus menyusul anak-anak segera!" Ia juga mengambil kunci dari sakunya untuk ia serahkan ke Gerald. "Bos bisa naik motor 'kan?"


"Bisa."


"Biar aku yang menjaga Siska," Miranda melempar tatapan ke Siska yang sudah duduk di atas ranjang, "Tidak apa 'kan?"


"Sebenarnya tidak apa, tetapi aku takut kak Miranda tidak bisa mengurusku atau akan keberatan."


Miranda mengerutkan kening.


Jadi ini toh alasan ia tidak menyukai Siska, ternyata perempuan itu seperti manipulatif yang berbicara lirih untuk mempengaruhi. Dari sorot matanya, Miranda bisa tau apa arti sebenarnya dari perkataannya.


Maka dari itu dia tertawa.


"Ngomong apa sih? Aku ini sudah berpengalaman merawat orang."


"Tapi aku masih takut Kak Miranda keberatan dan kesusahan."


Melawan orang seperti Siska seharusnya akan berat jika tidak punya pengalaman.


Tapi di itu Miranda Husain, orang paling kompeten dalam provokasi dan mempengaruhi. Masa dia tidak bisa membalikan sesuatu yang mudah seperti bocah baru kasmaran seperti Siska.


"Aku tau aku memang tidak bisa diandalkan," ujar Miranda. Ia menggigit bibir bawahnya sendiri.


"Aku tidak bermaksud begitu kak!" sahut Siska cepat.


Ia tidak mau hilang muka di depan Gerald.


"Tidak apa, aku memang tidak bisa diandalkan. Aku terlalu tua untuk anak muda sepertimu."


"Baik Kak baik! Kakak bisa menjagaku."


Miranda tersenyum, ia menghapus air mata main-main dan segera mendorong Gerald untuk keluar dari pintu.


"Bye bye Bos, aku akan menjaga Siska. Tolong bermain dengan anak-anak sepuasnya."


Miranda tersenyum, kemudian ia berbalik pada Siska yang melemparinya dengan tatapan permusuhan yang amat ketara tanpa ada niat disembunyikan.


"Kenapa? nggak suka?" tanya Miranda sinis, ia duduk di bangku bekas Gerald dan memakan apel yang sudah dikupas.


"Kamu harusnya sadar umur, kamu terlalu tua untuk pak Gerald!"


"Siapa juga yang mau dengan bos?"

__ADS_1


"Bohong banget! Para pengasuh yang pak Gerald sewa juga awalnya juga begitu. Kamu juga- hmp!"


Miranda tidak habis pikir, ia menyuapi Siska agar tidak banyak bicara lagi.


__ADS_2