
"Bi, Om Gerald beneran mau datang, dia cuma ada masalah-"
Miranda menutup mulut Rinaldi yang sejak tadi mengoceh, dia menyeret anak itu keluar dari mobil setelah acara makan malam itu.
"Dia pengusaha, dan tentu saja sibuk."
"Tapi Om Gerald beneran mau datang."
Miranda terkekeh.
Baginya tidak berguna mengetahui informasi seperti itu, ia membuka pintu dan Key sudah menyambutnya. Anak itu minta di gendong sehingga Miranda harus sedikit membungkuk.
"Bi."
"Ya ampun Rinaldi! Demi Tuhan aku tidak marah atau kesal!"
Mata Key berkedip-kedip, dia melihat muka pucat Rinaldi.
"Tapi Om Gerald ingin datang, dia tidak bermaksud mempermainkan Bibi. Bibi harus memberi Om kesempatan," kata Rinaldi.
Miranda mengerutkan kening.
Kenapa Rinaldi seolah memandang Miranda seperti pacar atau apapun yang perlu belaian kasih sayang Gerald.
Padahal nyatanya hubungan keduanya hanya majikan dan bawahan, tidak lebih toh semua orang paham itu.
"Iya, aku benar-benar tidak masalah."
"Bibi jangan benci Papa!"
Aduh kenapa juga Key ikut-ikutan.
"Papa baik."
Iya dia setuju, karena gaji yang pria itu beri lima kali lipat dari UMR daerah, bagaimana mungkin Miranda tidak menganggapnya baik, tetapi hanya sebatas ini.
Sisanya dia masih menganggap Gerald Horizon sebagai orang menakutkan.
"Papa juga penyayang."
Oh, hanya kepada anak-anaknya.
"Papa pasti mempelakukan olang yang ia cinta dengan baik."
Anggap saja Miranda tidak mendengarkannya.
Ia mencoba mengalihkan topik, "Kenapa Key tidak tidur?"
"Tidak mengantuk, Key mau dongeng."
Miranda tersenyum, ia berdiri dan segera melangkah menuju kamar anak-anak sementara Rinaldi masih setia membuntuti. Sementara itu keributan mereka di dengar oleh banyak pegawai lain.
.
.
Gerald terbangun di kursi lipat, matanya terbuka menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk.
Malam tadi, Siska yang seharusnya sudah pulang menelpon untuk membantu menyelesaikan masalah tidak sengaja menabrak warga. Perempuan itu menangis seunggukan sambil meminta Gerald datang secara langsung.
Seharusnya Gerald bisa saja mengirim orang lain, tetapi Siska memaksa dengan suara tangis.
Setibanya di tempat kejadian, ia melihat Siska yang tidak berani membuka pintu mobil dan mengunci diri, sementara warga mengerubungi mobil perempuan itu.
Gerald harus turun tangan dan entah bagaimana pikiran orang-orang, ia dan Siska malah diminta menginap semalam sebagai jaminan.
"Pak, saya benar-benar minta maaf sekali sudah merepotkan bapak," kata Siska.
__ADS_1
Gerald melihat atas hingga bawah, untuk keadaan seperti ini dia heran bagaimana perempuan itu bisa-bisanya berganti baju dengan gaun tidur di atas lutut.
"Tidak masalah."
"Maaf sekali lagi Pak, makan malam anda dengan Kak Miranda batal karena saya. Saya akan membantu menjelaskan agar Kak Miranda tidak marah."
"Miranda tidak akan marah."
Siska agak mendekat, dadanya menempel ke lengan Gerald yang sudah berdiri.
"Jika bapak ingin, saya bisa menemani anda sarapan untuk gantinya," katanya. Ia memeluk lengan Gerald erat, kemudian menatap Gerald dengan senyum halus.
Gerald menyentak pegangan tangan Siska, kemudian melepaskan diri dan mengambil jarak.
Smartphonenya berbunyi.
Gerald segera keluar dan turun ke lantai bawah untuk mencari sinyal dan menjawab telepon.
.
.
'Ya?'
Miranda mengerutkan kening, suara tuan Horizon lebih serak dari biasanya.
"Bos, baru bangun tidur? Aku akan menelepon lagi nanti."
Miranda segera mematikan panggilan. Kemudian melihat ke anak-anak serta satu remaja yang melihatnya dengan mata mendamba.
"Tuan Horizon baru bangun tidur, kita tidak bisa mengganggunya."
Revan dan Devinda saling pandang, mereka merebut smartphone Miranda setelahnya. Key menggembungkan pipi, dan Rinaldi yang menepuk keningnya.
Ami yang melihat menghela napas, ia mendorong minuman-minuman yang keempat majikannya inginkan dari meja dapur.
Ami tersenyum kecil, ia menyodorkan kopi pahit dingin. "Semangat, kalau jadi kamu aku pasti sudah encok."
Miranda cengo, dia memukul lengan Ami main-main. "Aku bukan nenek-nenek, kamu tau."
"Maksudku, kamu mengasuh 4 pembuat masalah."
"Tetapi anak-anak tetap imut!"
Ami terkekeh dan kembali ke dapur setelah melambai.
Revan menarik baju Miranda, ia menyerahkan smartphone yang sudah tersambung panggilan dengan milik Gerald.
"Halo Bos, maaf mengganggu-"
'Aku minta maaf karena mengingkari janjiku semalam.'
Miranda tertawa pelan, "Aku mengerti, Bos pasti sibuk."
Terdengar suara helaan napas dari sebrang.
'Bagaimana caraku mengganti waktumu yang terbuang?'
"U-"
'Selain itu.'
Miranda muram, dia melihat ke anak-anak dan melihat Revan dan Devinda yang menatapnya. Ia jadi teringat surat BK yang kedua anak itu serahkan padanya kemarin.
Si kembar memang pembuat masalah terbaik, tetapi imut.
"Mungkin jika bos kembali sebelum hari Senin itu akan menjadi bayaran yang setimpal, ada hal menyangkut anak-anak yang perlu aku bicara secara tatap muka."
__ADS_1
Rivan dan Devinda saling menyikut, mereka tersenyum cerah.
'Aku pasti akan kembali, tapi minta hal selain itu.'
Kening Miranda kembali mengerut, dia tidak tahu harus berfikir apa sehingga dia agak menjauhkan smartphone dan berjongkok ke arah Key.
"Key mau apa?"
"Cayon!"
Miranda mencubit gemas pipi anak asuhnya, kemudian mendekatkan smartphone lagi. "Aku perlu Crayon, mungkin sekaligus buku mewarnai dan buku gambar."
'Hah.'
'Aku bertanya tentang keinginanmu bukan keinginan anak-anak.'
"Keinginanku? Uang."
Rinaldi tertawa keras, dia mengambil alih smartphone.
"Om, pulang saja dan bawakan Bibi makanan. Dia pasti senang!"
Rinaldi menutup panggilan telepon, dia dan si kembar tertawa.
Miranda menggendong Key, dia ingin mengabaikan ketiga orang yang masih tertawa. Tetapi tawa mereka menganggu untuk pekerja lain, ia menendang Rinaldi hingga mengaduh.
"BIBI KENAPA SIH?!"
"Jangan berisik, bawa anak-anak keliling sana."
"Mana kunci mobilnya?"
"Jalan kaki."
"Nggak asik."
.
.
Gerald keluar dari mobilnya, matanya berkeliling. Begitu memasuki rumah tidak adapun tanda-tanda keberadaan Miranda atau anak-anak.
Gerald menyerahkan beberapa paper bag ke salah satu pelayan.
"Dimana anak-anak?"
"Anak-anak sedang pergi bersama tuan Rinaldi."
Gerald memutuskan untuk naik ke lantai atas, ia akan sedikit beristirahat sembari menunggu anak-anak kembali.
Namun, begitu membuka pintu seseorang yang tertidur di atas sofa membuat ia terdiam cukup lama. Agak tidak menyangka jika Miranda tidak ikut bersama anak-anak.
Laki-laki itu segera mendekat, disentuhnya pucuk rambut Miranda.
"Masih seperti dulu."
Cara Miranda tertidur pulas sama seperti terakhir kali ia ingat, Gerald tersenyum tipis.
Ia melepaskan jas dan menjadikannya sebagai selimut.
Kemudian berbalik menuruni tangga, ia mengambil salah satu paper bag dan kembali membawanya ke atas. Ia meletakkan benda itu di meja samping sofa.
"Miranda," panggilnya lirih sekali. Ia menggenggam lembut tangan Miranda, mencoba menyalurkan perasaan hangat yang selalu ia miliki untuk perempuan itu, hanya sebentar kemudian ia melepaskannya kembali. "Aku mencintaimu."
Tidak ada balasan, Miranda juga tidak mungkin mendengarnya.
Gerald tau, untuk saat ini dia tidak bisa memaksakan kehendaknya.
__ADS_1