Loololand: My Little Children

Loololand: My Little Children
Chagiya


__ADS_3

"Pokoknya Bibi harus bersikap seperti istrinya Papa," ujar Revan. Anak itu menendang-nendang kursi yang di duduki Miranda, kemudian beralih ke Gerald yang sedang menyetir. "Dan Papa jangan kelihatan kaku!"


"Sebenarnya kalian membuat masalah apa sampai aku harus ikut-ikutan terseret?" tanya Miranda.


Revan menyikut Devinda.


Sehingga saudarinya yang sedang menonton film di smartphone sedikit mengeluh. "Kami hanya lupa meminta ayah mengambil rapot."


"Itu kan tidak buruk?"


"Lalu ada beberapa teman-"


"Musuh," potong Revan.


"Iya, beberapa musuh yang mengejek kami tidak punya orang tua hanya karena ini," jelas Devinda.


"Terus-terus?" tanya Miranda lagi.


Devinda terkekeh. "Lalu Revan marah dan menghajar mereka."


"Kamu juga ikut! jangan melempar semua kesalahan padaku."


"Kami menghajar mereka bersama-sama."


"Kalian menang?" tanya Gerald tiba-tiba.


Si kembar sama-sama menunjukkan tanda 'peace', "Seratus persen menang."


"Bos jangan ikut-ikutan," ujar Miranda. Dia menghela napas, diliriknya Gerald yang fokus ke jalanan. Laki-laki itu berpakaian serasi dengan gaun selutut yang terpaksa Miranda kenakan.


Sejujurnya ia tidak enak hati, ia bisa saja menyetir tetapi laki-laki itu menolak.


"Bi," panggil Revan.


"Iya?"


"Jangan panggil Papa bos terus, kalian akan langsung ketahuan," kata Revan. Dia menunjuk Miranda. "Panggil pakai kata-kata sayang, atau sweetie, atau Beb, atau Mas atau-"


Revan menyikut saudarinya, "Apa itu panggilan kesayangan di drama Jepang barat kesukaanmu?"


"Korea, bukan Jepang barat."


"Cerewet, jawab saja pertanyaanku."


"Chagiya."


Miranda tertawa, dia melempar cemilan yang ia ambil dari dashboard agar kedua anak itu tidak bertengkar makin hebat.


"Bi ayo panggil!" titah Revan.


Miranda menimang-nimang.


Dia melirik Gerald yang masih fokus menyetir, panggilan sayang apa yang cocok untuk pria itu. Dipikirnya, Gerald tipe-tipe yang tidak terlalu peduli dengan panggilan seperti.


"Gerald." Panggil Miranda dengan suara halus sekali.


Mobil mengerem mendadak, Gerald membenturkan kepalanya ke setir. Miranda reflek memegang bahu laki-laki itu.


"Kalau kamu mengantuk atau apa mending gantian, anak-anak bisa dalam bahaya!"


Gerald menggeleng, dia menutup wajahnya seperti frustasi. "Aku baik-baik saja."

__ADS_1


Dia melanjutkan perjalanan sementara si kembar tersenyum geli di belakang.


.


.


Miranda tidak tahu jika Gerald akan berperilaku selembut ini: membukakan pintu mobil, dan menyamakan langkah dengan Miranda.


Keduanya berjalan beriringan mengikuti si kembar, Miranda melihat-lihat sekeliling. "Kenapa sepi?"


"Seharusnya hari ini sudah libur akhir tahun, tetapi kami harus berangkat untuk menyelesaikan masalah ini dengan orang tua siswa," jawab Devinda.


Revan ikut menyeletuk, "Aku butuh liburan."


"Sayang sekali Papa kami sibuk," sindir Devinda.


Miranda tertawa pelan, sementara Gerald berdehem. Keempatnya berkelok, Miranda memegang lengan Gerald saat melihat orang.


Gerald membeku beberapa saat, pada akhirnya ia melanjutkan berjalan.


"Pagi Mas Zain," sapa Devinda, "Bu Yasmin sudah berangkat?"


"Udah neng, Mas tadi lihatnya sebelum kunci kantin. Neng sama saudara neng buat masalah lagi ya?"


Wajar dia bertanya seperti itu karena Devinda dan Revan selalu berbuat masalah hanya karena bosan, berkali-kali masuk BK tetapi tidak kapok juga.


Devinda menggeleng, "Nggak lah mas, kami mau pamer Papa sama Mama aja."


Revan segera menarik Gerald dan Miranda mendekat, dia tersenyum lebar. "Nih Mas, ortu kami. Cakep 'kan?"


"Wuih, pantes Neng sama Aden cakep wong orang tuanya aja good looking. Mas cuma apa atuh, kang masak kantin yang belum dapat istri."


"Mas Zain kan? Sini Mas saya kasih tau cara dapat jodoh, mas harus branding diri Mas sendiri."


"Gimana?"


"Kan Mas pinter masak, nah kalau Mas Zain punya sosial media bisa post menu masakan atau hidangan yang mas masak. Nanti lama-lama banyak yang kagum deh," kata Miranda.


Mas Zain bertepuk tangan, "Wuih, bakal saya coba nih. Makasih mbak."


Mas Zain pergi setelahnya.


Miranda menutup mulutnya, matanya berbinar. Si kembar saling melirik, kening mereka berkerut.


"Kenapa Bi-eh Ma? kok kelihatan senang?"


"Baru kali ini aku dipanggil Mbak."


Si kembar sontak tertawa, begitu dengan Gerald yang diam-diam tersenyum kecil. Mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai ke pintu yang sedikit terbuka, ada tanda ruang BK di depan pintu.


"PERMISI BU, KAMI MAU AMBIL RAPOT!!" teriak Revan.


Miranda segera menutup mulut Revan, "Maaf, permisi Bu."


Perempuan berkerudung tersenyum tipis, "Tidak masalah Bu, tapi maaf ibu dan suami ibu harus berdiri karena kursi sudah penuh."


Di bangku yang ditunjuk ada beberapa orang yang lebih dulu ada di sana, ada 5 anak yang jelas-jelas babak belur. Miranda tertawa dalam hati, ternyata si kembar benar-benar memenangkan pertarungan.


Ia kemudian berjalan ke arah sana, mengulurkan tangan pada salah satu orang tua siswa.


"Saya minta maaf atas kelakuan anak-anak saya," katanya.

__ADS_1


Tidak ada tanggapan sehingga Miranda beralih mengelus rambut siswa itu satu persatu


Gerald mengikuti di belakang, dia menatap orang tua siswa satu persatu.


"Tuan Horizon?"


"Baron."


Pak Baron segera berdiri dari kursi, dia mempersilakan Gerald duduk. Namun, Gerald lebih dulu menarik lembut tangan Miranda, membuat perempuan itu duduk di kursi yang tersisa.


"Kenapa-"


"Stt, jangan membantah."


Gerald kembali menegakkan tubuhnya, ia bisa melihat Revan dan Devinda yang berdiri di samping guru BK mereka, Bu Yasmin.


"Saya minta maaf karena mengundang bapak dan ibu sekalian yang pasti sangat sibuk, tetapi ada masalah anak-anak ibu yang harus dipertanggungjawabkan sebagai siswa di sekolah ini."


Bu Yasmin menatap satu persatu wali siswa.


"Nak Revan dan Devinda sudah memukuli teman sekelasnya beberapa hari yang lalu," kata perempuan hampir setengah abad itu.


"Iya tuh, saya tidak terima anak saya dibeginikan!" Salah-satu ibu-ibu menyahut, dia memegang wajah anaknya yang masih bengkak.


"Padahal tidak mungkin anak saya berbuat masalah."


"Orang tua mereka mengajari apa sih sampai berlaku barbar seperti ini?!"


Revan dan Devinda cemberut bukan main.


Miranda berdehem, "Saya dengar dari anak-anak kami, anak-anak kalian duluan yang mengejek mereka?"


Miranda melihat anak-anak satu persatu, dia menghela napas. "Tidak memiliki orang tua, itu tidak pantas diucapkan dan menjadi bahan ledekan."


"Pasti itu mengada-ada! Saya sudah dengar jika si kembar sangat nakal!"


"Benar, tetapi saya tahu kelakuan mereka, mereka hanya membuat masalah dengan orang-orang yang pantas."


Miranda bersedekap dada, dagunya diangkat tinggi.


"Berapa?" tanyanya.


Seluruh mata menatap tepat padanya, di ruang itu hanya dia yang berani bersuara paling tegas.


"Suami saya akan membayar tanggungan rumah saat agar tidak berbuntut panjang," lanjut Miranda.


Gerald tersenyum tipis, ia memegang pundak Miranda sebagai bentuk dukungan.


"Saya akan melakukan itu asal kalian meminta maaf karena mengatai anak-anak saya tidak punya orang tua, benar 'kan sayang?"


Deg


Miranda hampir tertawa.


Namun, dia menahannya sekuat yang ia bisa.


"Ha, saya mengumpulkan kalian bukan untuk ini." Bu Yasmin mengeluh, tetapi dia tetap tersenyum. "Orang tua Revan dan Devinda akan menanggung segala perawatan, dan anak-anak korban harus meminta maaf. Namun, Revan dan Devinda juga harus ikut meminta maaf karena tersulut emosi, apa kalian tidak keberatan?"


Revan cemberut.


Gerald berdehem, "Kita akan liburan jika kalian mau meminta maaf."

__ADS_1


__ADS_2