
Miranda menatap Rinaldi, remaja itu menghalangi pintu masuk ruangan anak-anak. Ia menginjak kaki remaja itu hingga si punya kaki mengaduh, keduanya melotot satu sama lain dan sayup-sayup terdengar suara si kembar yang bersorak untuk pertengkaran kecil ini.
"Apa sih maumu?" tanya Miranda.
"Bibi, ayo kita melakukan dinner. Aku punya rekomendasi restoran enak loh!"
"Aku sibuk."
"Enak loh, dessert nya juga pasti Bibi suka."
Rinaldi menunjukkan smartphone-nya, ada postingan Instagram sebuah restoran bintang empat yang mengunggah menu baru dan diskon.
Miranda mengambil smartphone itu dan men-scroll up seluruh postingan.
"Boleh-boleh, bersama anak-anak 'kan?"
Miranda melihat anak-anak satu persatu, si kembar menggeleng kompak tidak mau ikut.
Sementara Rinaldi menepuk keningnya, "Ya elah Bi, sesekali harus healing."
Miranda mengusap rambut Rinaldi yang sontak ditepis.
"Bibi kenapa sih?"
"Nggak, hanya kasihan karena kamu tidak punya teman."
Yang dikatai tidak punya teman langsung mencak-mencak, enak saja orang setampan Rinaldi Cakrawala dibilang tidak punya teman!
Dia punya segudang orang yang mengantri menjadi teman atau bahkan teman tapi mesra tetapi Rinaldi tolak.
"Enak saja! teori dari mana itu?"
"Ya mana ada anak muda yang mengajak wanita yang lebih tua untuk makan malam bersama."
Benar juga.
"Kita juga akan ditemani Om Gerald."
Miranda mengerutkan kening, dia melewati Rinaldi begitu saja dan segera mendorong pundak si kembar untuk segera berkumpul dengan Kei di karpet berhulu.
"Nggak jadi, makan saja berdua."
"Tapi Bi-"
Miranda berbalik padanya lagi
"Nggak mau."
Rinaldi melirik si kembar untuk meminta tolong, si kembar yang paham langsung merogoh saku dan mengeluarkan uang. Si bungsu Key juga melakukan hal yang sama persis.
"Nanti aku bayar."
"Oke sepakat."
Dasar mata duitan.
.
.
'Pokoknya Om tinggal datang jam 8, semua sudah aku atur.'
Gerald mengangguk, "Baik."
Dia mematikan sambungan telepon, Siska yang sejak tadi berdiri tak jauh sayup-sayup bisa mendengar percakapan keduanya.
"Ingin dinner ya, Pak?"
Gerald mengangguk, ia mengambil berkas lain untuk ia baca dan tanda tangani.
"Dengan siapa kalau saya boleh tau?"
__ADS_1
"Dengan Miranda."
Wajah Siska merah padam, ia menggigit kuku jarinya. Tidak mungkin 'kan, ia kalah dengan wanita tua seperti Miranda?
Ia segera menyentuh pundak Gerald, kemudian tersenyum manis seperti ingin menggoda.
Jam menunjukkan jam 12 siang saat itu, Siska merendahkan tubuhnya dan berbisik tepat di telinga Gerald. "Pak, sudah waktunya makan siang."
"Kamu bisa istirahat sekarang."
"Anda tidak ikut makan siang?"
"Tidak."
Bosnya selalu tidak menganggapnya.
.
.
Sudah hampir jam 8 malam, Rinaldi sudah datang dengan mobil mentereng yang ia pinjam dari Gerald. Remaja itu memasang wajah congkak ketika Miranda datang dengan setelah biasa saja--nyaris dengan perpaduan warna aneh--dan topi yang sepertinya tidak akan cocok untuk tempat makan mereka hari ini.
"Bibi ayo masuk," katanya.
Miranda mengambil alih kunci dan duduk di kursi pengemudi.
"Loh Bi! kan aku yang seharusnya menyetir!"
"Memang kamu sudah memiliki SIM?" tanya Miranda.
Perempuan itu memasang sabuk pengaman, tangannya sudah bersiap memegang setir dan hanya perlu menginjak pedal gas
"Belum sih."
"Cepat masuk, aku yang akan menyetir."
Rinaldi menelan ludah, ia bergegas masuk ke mobil tanpa banyak bicara lagi. Miranda segera menginjak pedal gas dan membawa mobil keluar dari pagar keluarga Horizon.
Sampai sejauh ini tidak ada kecelakaan yang Rinaldi pikir akan terjadi.
Jika Miranda tidak sedang menyetir, ia akan memukul kepala remaja itu.
"Bi."
"Ada apa?"
"Bibi ini masih single 'kan?"
"Kenapa, naksir?"
Rinaldi sontak membuat wajah mengerut jijik, Miranda tertawa kecil dan memutar setir ke arah kiri. Keduanya melihat jalanan kota di malam hari, lampu-lampu menyala terang.
Beberapa kali, Miranda harus menghindari pengendara motor ugal-ugalan.
"Orang kok makin hari makin nggak taat aturan," gerutunya.
Rinaldi tersindir.
"Berhenti Bi."
Laju mobil perlahan-lahan menjadi pelan, Miranda memutar setir ke kiri untuk masuk ke halaman restoran dan kemudian berhenti.
Rinaldi menghela napas, ia melepaskan jaket yang ia kenakan kemudian memasangkannya pada Miranda.
"Wow, gentleman."
"Apaan, ini karena pakaian Bibi bikin malu."
"Ini fashion."
"Fashion ya fashion, tapi tahu tempat lah, Bi."
__ADS_1
Rinaldi melihat sekali lagi ke arah Miranda, dari segi mananya sih Gerald bisa suka perempuan ini. Poin positif milik Miranda tidak terlalu banyak, sementara poin negatifnya banyak dari yang narsis sampai selera fashionnya rendah.
Walaupun begitu ia tidak ambil pusing.
"Selamat malam, Rinaldi."
Di depan pintu masuk, pegawai yang bertugas menyambut tamu melempar senyum manis.
"Selamat malam Mas Hendri." Rinaldi balas tersenyum.
Dia menarik Miranda untuk segera masuk, restoran sejauh ini sudah penuh. Kecuali meja paling pojok yang dihias banyak lilin dan bunga.
Miranda dalam hati mencibir, katanya seperti makan malam dengan pasangan saja.
"Om Gerald katanya bakal datang sebentar lagi."
Miranda yang memegang menu dan baru saja memesan makanan malah tidak menanggapi dan memberikan menu ke Rinaldi.
"Seperti biasa ya Kak," kata Rinaldi.
Si pelayan mengangguk.
"Jadi Bibi hanya perlu menunggu Om Gerald, kita bisa mengobrol jika Bibi bosan."
Miranda mengambil kesempatan itu untuk bertanya, "Kamu mengenal Sarah?"
"Mana mungkin aku tidak kenal." Rinaldi mengepalkan tangannya, tetapi hal itu luput dari perhatian Miranda. "Orang itu sering datang untuk bertemu Ayahku, dulu sebelum mereka meninggal."
"Pas-"
"Ah hari ini kan kita tidak boleh mengobrol tentang mereka," potong Rinaldi, dia tersenyum cerah sampai-sampai Miranda menutup mata sangking terangnya. "Nah katakan padaku tipe pria idaman Bibi."
"Kamu benar-benar tidak menyukaiku 'kan?"
Rinaldi tertawa, itu membuat keduanya menjadi pusat perhatian untuk beberapa saat.
"Mana mungkinlah, seleraku bukan Bibi. Anggap saja kita sedang bergosip, nah Bibi ayo jawab."
"Aku tidak pernah berfikir untuk menikah."
Rinaldi panik, secepat kilat ia mengganti topik daripada membuat suasana canggung.
"Kalau begitu cerita tentang keluarga Bibi."
"Kedua orang tuaku meninggalkan saat aku berumur 14 tahu, satu-satunya keluarga yang aku punya hanyalah adik laki-lakiku," katanya. Miranda melihat langit-langit restoran, matanya menerawang jauh. "Dulu waktu seumuranmu, aku sering memalak anak orang kaya untuk memenuhi kebutuhanku."
"Nggak kaget," kata Rinaldi.
Miranda terkekeh pelan.
"Aku tidak memalak banyak orang kok, hanya satu kakak kelas yang dulu dikenal pendiam."
Miranda mengingat-ingat sekali lagi.
Bagaimana orang yang ia maksud itu, tetapi nihil, dia seperti melupakan sesuatu yang penting. Ah, mungkin karena ia tidak pernah tahu nama kakak kelas itu.
"Apa kakak kelas itu membenci Bibi?"
"Tidak tahu, dia selalu menyerahkan uangnya tanpa aku minta."
"Mungkin dia menyukai Bibi."
"Jelas, aku kan cantik."
Rinaldi tertawa main-main, kepercayaan diri Miranda terlalu tinggi hingga ia mengira itu sebuah karangan saja.
Drrt drrt
Ia segera mengambil smartphonenya.
"Iya Om?"
__ADS_1
Miranda bisa melihat kening Rinaldi berkerut, remaja itu melirik Miranda dan menghela napas bimbang.
"Maaf Bi, Om Gerald tidak bisa datang karena sekretarisnya tiba-tiba dalam masalah."