
"Bibi, Papa punya senjata api bisa menembak bibi," Revan mencebik, yang ditakuti malah fokus mengepang rambut si bungsu. "Sebelum Bibi habis ditangan Papa, harusnya bibi mengundurkan diri saja."
Tidak digubris.
"Memang Bibi tidak sayang nyawa?"
Merasa diabaikan, Revan menarik baju bawah Miranda.
"Ya sayang?"
"BIBI JANGAN BERMUKA SEPERTI PENCULIK DONG!" Revan menunjuk-nunjuk muka Miranda, sementara kedua saudarinya tertawa kecil.
Miranda berfikir sejenak.
"Mukaku memang begini, cantik kan?"
Dia tertawa main-main, kemudian menurunkan Key dari kursi. Ia bisa melihat muka kecut Revan, anak laki-laki itu bersedekap dada dengan dasi yang tidak tertata rapi membuat tangan Miranda gemas.
"MANA ADA!"
"Ya ampun, bocah laki-laki sepertimu memang belum tau cara menilai wanita." Miranda mengibaskan rambut, ia menyerahkan bando putih ke Devinda yang baru selesai menyisir.
Yang dikatai bocah tersinggung.
Dia menghentak-hentakkan kaki ke tanah.
Miranda tertawa miris, seingatnya si kembar sudah 12 tahun tetapi kenapa Key malah kelihatan lebih dewasa dari kedua anak itu, terkhusus Revan yang punya tempramen mirip sekali dengan Sarah.
"Kakak, Bibi cantik kok," kata Key, dia berkedip polos begitu mengintip dari samping kaki Miranda. "Papa 'kan suka Bibi."
Teori dari mana itu?
Wajah Miranda ditekuk, tetapi dia menggeleng maklum, mungkin saja Key salah paham dengan perlakuan Gerald kepadanya.
"Mana ada!" Revan menyahut, "Aku tidak sudi punya mama baru."
"Papa juga tidak mungkin menikah lagi!" sambung Devinda, cemberut. "Apalagi dengan perempuan tua seperti Bibi."
Key juga ikut cemberut.
Tiga bersaudara itu saling memelototi satu sama lain.
"Sudah-sudah, cepat berangkat sekolah saja."
Miranda mendorong punggung si kembar hingga keluar dari pintu, dia tentu tidak ingin menciptakan perang di antara anak-anak.
.
.
Devinda mencoret-coret kertas, pelajaran matematika sudah ia dan saudaranya hafal di luar kepala. Fokusnya kini hanya kepada rencana menyingkirkan Miranda dari rumah.
Mereka tidak suka orang baru, apalagi perempuan dan diperparah mengenal mendiang ibu mereka.
Rasanya seperti hari-hari mereka akan makin gelap.
"Dev, kita bisa mengusir perempuan itu kan?" tanya Revan, anak itu bermain game dengan suara yang dikecilkan nyaris tidak terdengar.
"Mungkin, kita harus buat Papa tidak suka kepada Bibi."
"Gimana caranya?"
__ADS_1
"Kita buat Bibi berpenampilan seperti wanita yang tidak Papa suka."
Revan berfikir, benar juga.
"Tapi kita harus punya rencana cadangan!" kata Revan, dia nyaris menjatuhkan smartphone-nya dan menganggu guru sehingga banyak pasang mata yang melihatnya. "APA?!"
Yang dibentak segera mengalihkan pandangan.
Siapa yang ingin menganggu tuan muda keluarga gangster ternama?
.
.
"Bibi kami punya kue~"
Kening Miranda berkerut, si kembar bersikap terlalu baik secara mendadak membuat dia curiga. Di dunia bisnis, orang yang seperti itu pasti ada maunya.
Namun, mereka begitu imut sampai-sampai Miranda tidak bisa menolak.
"Rasa apa?"
"Blueberry! tapi kalau Bibi tidak suka tidak apa kok, kami akan membeli yang baru sesuai kesukaan bibi," jawab Devinda, ia melepas tas dan memberikan barang-barangnya ke Miranda.
Keduanya saling tatap, Miranda tersenyum lembut hingga Devinda hampir tak enak hati.
"Ini enak kok," jawab Miranda.
"Oh ya Bibi, hal yang tidak Bibi suka itu apa saja? kami tidak mau membuat bibi tidak suka."
Revan diam-diam memuji akting Devinda yang sangat natural, ia hanya berdiri di belakang saudarinya bersiap mencatat di smartphone.
Sementara itu Miranda berfikir sejenak.
Devinda dan Revan saling sikut, mereka mundur mencari tempat aman untuk kembali berdiskusi. Jawaban Miranda tidak sesuai perkiraan Devinda dan Revan.
Kedua anak itu saling lirik, "Bibi itu beneran sok baik ya?" tanya Revan.
Devinda mengangguk, mereka selalu tau wanita seperti Miranda akan menjadi benalu dan hanya mengincar ayah mereka saja.
Bagi mereka, semuanya sama saja. Pasti Miranda akan membuka kedok sok baik entah satu bulan lagi atau bahkan bertahun-tahun lagi saat dia berhasil menjadi ibu tiri mereka.
"Aku tidak suka dia," kata Revan lagi, dia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Matanya memincing tajam, "Dia pasti mirip Mama atau Tante Siska."
"Bibi tidak sepelti itu," kata Key, dia menendang kaki Revan dengan ekspresi marah lucu. "Bibi tidak menyakiti kakak 'kan?"
Revan menggeleng.
"Belum," sahut Devinda.
Key beralih menendang kaki kakak perempuannya itu, "Kan belum pasti Bibi akan menyakiti kita, Bibi itu baik, Key saja baru dikasih kue bluebelli."
"Kue itu kan kami yang beli!" sahut Revan, dia menunjuk-nunjuk pipi chubby Key. Kemudian menjerit panik saat jarinya digigit.
"KEY LEPAS!"
Devinda berusaha menarik Key mundur, tetapi Key masih menggigit hingga Revan makin kuat menjerit. Bertepatan saat itu, Miranda datang.
Ia memisahkan Revan dan Key dengan mudah.
"Kalian ini!" Miranda berkacak pinggang, "Jangan bertengkar melulu! Key harus makan makanan yang sehat, jangan sembarang makan sesuatu."
__ADS_1
"Enak saja, jariku bergizi tau!" seru Revan.
Key membuka mulut untuk memamerkan gigi-giginya yang baru tumbuh.
Revan menjerit dalam hati dan bersembunyi di balik badan Devinda.
Miranda tertawa main-main saat mengusap-usap kepala kedua anak itu, "Kalian cuci tangan dulu, habis itu baru makan ya? Aku harus menidurkan Key dulu."
Keduanya melihat punggung Miranda yang makin menjauh.
Sumpah, mereka hampir terbujuk.
.
"Papa!"
Jam 8 malam, Revan menghubungi ayahnya hanya untuk menggerutu. Anak laki-laki hampir remaja itu selesai mengerjakan pr dan perlu mendinginkan kepalanya.
"Aku perlu smartphone baru."
'Minta ke Pengasuhmu.'
Jawaban Gerald membuat Revan cemberut, dia menjatuhkan dirinya ke kasur tempat Key sudah tertidur sementara Devinda masih ada di luar ruangan entah untuk apa.
"Pasti Bibi tua itu tidak mau membelikan jika aku minta."
'Iya.'
"Papa menyebalkan! kenapa sih Papa tiba-tiba menerima Bibi itu sementara katanya dia tidak mengirimkan lamaran? Apa karena dia teman mama?"
Revan menggigit bibir.
Kenapa sih harus orang yang kenal dengan mama mereka, tidak suka semua hal yang berhubungan dengan wanita itu.
Mengganggu.
'Miranda kompeten, dia berbakat menjaga anak kecil.'
Benar sih Miranda kelihatan kompeten, tetapi kadang-kadang malah terlihat seperti penculik anak.
"Darimana Papa tau?! Bisa saja dia memalsukan hal itu kan? Pokoknya aku tidak suka Bibi."
Bukannya menjawab, ayahnya malah balik bertanya.
'Mengapa?'
Seolah mempermainkan perasaan Revan sejak kehadiran pengasuh barunya.
"Bibi sok baik! Masa dia memperlakukan kami seperti anaknya sendiri, mana sok memaklumi kelakuan kami yang nakal lagi."
Ayahnya mungkin sedang tertawa di kantor saat ini.
'Akhirnya anakku mengaku nakal.'
"BUKAN ITU INTINYA PA!"
Revan membanting smartphone-nya di kasur, itu membuat Key terbangun dan mengucek matanya.
"S-orry Key."
Dia masih trauma digigit Key sore tadi, bekasnya saja masih sakit.
__ADS_1
"TIDUL!"