
Notifikasi pesan muncul, Gerald mengambil smartphonenya sehingga mendapati pesan yang Devinda kirim.
Dev: Papa, aku butuh uang untuk beli album terbaru
Album? Sepertinya baru beberapa minggu lalu putrinya meminta hal yang sama.
'Tidak'
Balasan lain segera muncul.
Dev: Aku punya video Bibi ikut senam Poco-Poco weekend lalu
Dev: Yakin Papa tidak mau?
Dev: Ya sudah deh aku kirim ke kak Rinal saja biar jadi bahan meme
Gerald tersenyum geli, Devinda selalu tau bagaimana membuka peluang saat berbicara dengan orang lain. Sebagai ayah, dia bangga karena tidak membuat anak-anaknya tidak bodoh.
'Berapa?'
Devinda menyebutkan nominal, beserta video yang dimaksud.
Dev: Thanks Papa, ily.
Gerald memutar video, durasinya ada 15 menit dan matanya langsung tertuju pada Miranda yang tidak mengikuti gerakan sama sekali. Perempuan itu malah sempat-sempatnya berjoget ria diluar gerakan senam, Gerald yakin Devinda yang ada di sana pura-pura tidak mengenali.
Pantas anak perempuannya bilang untuk dijadikan meme, jika diunggah di internet pasti akan viral.
"Ada-ada saja."
Smartphonenya berdering lagi.
Ia segera mengangkat setelah nama yang tertera adalah orang yang memang harus menghubunginya. Sandi Imanuel, kepala cabang yang mengurus praktik gelap keluarga Horizon dan bertugas untuk mencegah serta melindungi bisnis turun temurun dari lama.
'Tuan, saya menunggu untuk diperintah.'
"Kamu pasti dengar jika ada sebuah geng yang terlalu nekat menyentuh bisnis kita."
'Saya sudah mendengar dari sekertaris anda.'
Gerald mendesah lelah, ia sebenarnya tidak ingin mengambil jalur kekerasan seperti ini. Namun, jika dibiarkan lebih lanjut akan menganggu. Seperti ratusan semut yang ingin mengalahkan ular.
Ini tidak bisa dibiarkan lebih lama.
"Cari anggotanya, riwayat dan apa yang mereka kerjakan. Berikan pula perlindungan kepada karyawan, diam-diam jangan sampai ketahuan."
'Apa saya juga perlu mencari klien yang mereka ajak bekerja sama?'
"Iya, telusuri semuanya yang bisa dijadikan bukti."
.
.
__ADS_1
Devinda membuka pintu mobil, dia mendapati Gerald yang menyetir tanpa kehadiran Miranda. Hanya sendirian dengan baju olahraga yang jarang sekali nampak.
"Wlee ... Dev cepat masuk!" Revan menubruk punggungnya, saudara kembarnya itu memberi seringai mengejek pada anak tukang bully yang baru saja mereka kerjai. "Mampus, makan tuh skorsing!"
Dia berangsur-angsur duduk di bangku belakang. "Loh Papa?"
Gerald berdehem, begitupun Devinda yang habis memasang sabuk pengaman.
"Tumben papa jemput, mau ada apa nih?" tanya Revan.
Ia bersiul setelah mengambil camilan dari tas, ia melempar satu ke Devinda yang ditangkap dengan baik.
"Tidak ada orang mencurigakan di sekitar kalian?"
Si kembar saling melirik, kemudian memberikan tanda peace dengan cengengesan lebar.
Tidak ada yang mencurigakan hari ini, jika ada Devinda akan sensitif akan hal itu ataupun Revan yang mencari masalah karena tidak suka dengan orang yang dimaksud. Mereka juga bisa menjaga dirinya sendiri lebih dari siapapun.
Namun, nampaknya Gerald masih khawatir.
Jarang-jarang ada yang mengganggu ayah mereka sampai-sampai menanyakan hal secara terang-terangan, itu membuat si kembar tertarik untuk mengerjai.
"Kalau kami sih baik, tapi tidak tahu dengan Bibi," kata Revan. Wajahnya dibuat-buat khawatir.
"Bibi terlihat kuat sih, tapi siapa tahu kalau di dalam dia juga lemah."
Revan mengangkat tangan, berpose agak berlebihan saat meletakkan punggung tangan ke keningnya. Kemudian menutupnya mulut dengan tangan satunya.
"Andai ada pahlawan kesiangan yang membantu Bibi, pasti akan langsung membuat Bibi jatuh cinta."
Gerald tersenyum maklum, dia mengemudikan mobil tanpa banyak bicara menuju komplek perumahan tempat Miranda membawa Key jalan-jalan.
Sepanjang jalan, mungkin Revan yang paling ingin berbicara dan mengatakan macam-macam.
"Pa, paman yang kemarin itu adiknya Bibi?" tanya Revan.
"Iya, memangnya kenapa?"
Kemarin dia tidak sengaja melihat Mahes berdebat dengan Gerald, pria itu secara bagaimanapun tidak mirip dengan Miranda. Malahan, lebih terlihat normal daripada selera berpakaian Miranda yang memalukan walaupun bisa dimaklumi.
Namun, entah karena apa Revan kurang suka.
Mungkin karena perasaan takut Miranda mengundurkan diri untuk pergi bersama keluarganya, lalu meninggalkan mereka hingga kesepian seperti sebelum-sebelumnya.
"Bibi tidak berniat meninggalkan kita 'kan?"
Revan menunduk.
Pandangannya gelisah melihat kakinya yang berayun.
"Tidak akan."
"Janji?"
__ADS_1
Gerald hanya mengangguk, itu membuat Revan mengembungkan pipi dan bersedekap dada setelah membenturkan punggung ke kursi.
Dia tida mau Miranda keluar, dia tidak mau pengasuh baru yang mungkin tidak akan cocok dengan tabiatnya.
"Kalau Bibi mau keluar dari pekerjaan ini Papa harus langsung melamarnya," sahut Devinda.
"Itu tidak mungkin," balas Gerald.
Ia memutar mata jengah.
"Kalau begitu berikan Bibi gaji yang makin besar, buat dia tetap tinggal. Aku tidak mau pengasuh lain yang tidak kompeten."
Gerald tersenyum, si kembar menerima Miranda dan tidak ingin kehilangannya. Mungkin bagi mereka, Miranda sudah seperti sosok ibu yang tidak pernah mereka rasakan kasih sayangnya.
Seingatnya dulu, dua anak itu seperti kucing kecil yang mencakar tiap didekati.
Tidak ada yang berani mendekat sampai-sampai Sarah sering memaki, katanya tidak berguna, sialan dan tidak bisa bersikap manis untuk menarik perhatian.
Jika teringat masa-masa itu, Gerald ingin menampar dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa karena perjanjian antara ia Sarah dan kakaknya.
"Miranda akan tetap tinggal." Gerald menegakkan.
Mobil berbelok kembali, kemudian berhenti di depan seseorang yang berdiri di tengah jalan.
"Gila," seru Revan. Ia membuka sabuk pengaman dan maju ke kursi samping pengemudi sangking terkejutnya. "Bibi membunuh orang?"
"Mereka hanya pingsan, bodoh," hardik Devina yang ikut maju.
Gerald memutuskan untuk keluar, dia menghampiri Miranda yang mengepalkan tinju sembari menggendong Key yang bertepuk tangan. Dua orang jambret terkapar di tanah.
"Enak saja mau mencuri uangku!" makinya.
Orang-orang yang bergerombol mulai banyak, Miranda menunjuk-nunjuk jambret.
"Miranda."
"Papa ~" Key membuka tangan, minta digendong oleh Gerald yang disetujui.
"Kamu terluka?"
Gerald melihat sekujur tubuh Miranda tetapi tidak ada luka yang perlu dikhawatirkan. Miranda ditarik masuk ke mobil, dipakaikan sabuk pengaman. Gerald masuk kembali ke mobil, hendak mengemudi setelah jambret diamankan ke pinggir jalan.
"Enak saja mau menjambret uangku, hmp."
Dia menggembungkan pipinya lucu.
Gerald tidak bisa menahan gemas hingga mencubit pipi Miranda, yang kemudian membuat perempuan itu ternganga.
"Hukuman karena kamu membuat keributan," ucap Gerald.
Si kembar saling melihat, mulai mengatai Gerald sebagai tukang modus dan Miranda si tidak peka nomor satu.
"Tapi aku mau mempertahankan uangku!"
__ADS_1
"Tapi nyawamu lebih penting."
Miranda membuang muka, merajuk persis seperti anak kecil jika menyangkut uang. Gerald tersenyum simpul.