
Miranda mengetuk pintu sekali lagi, tetapi respon si kembar yang mengurung diri masih tetap sama. Kedua anak itu diam, membuat Miranda makin khawatir.
"Buka ya sayang? Bibi bawakan makanan."
Tidak ada tanggapan.
Miranda mondar-mandir tidak jelas di depan pintu, dia menyesal kenapa tidak pulang lebih cepat dan berakhir seperti ini.
Kepalanya pusing, ia segera menarik Rinaldi yang baru naik ke lantai dua bersama Key yang dia gendong. Remaja itu meringis karena pegangan di tangannya terlalu erat.
"Bibi lepas."
"Rinaldi jawab dulu, apa yang Siska katakan sebelum aku datang ke sini?"
Miranda harus mendengar semuanya. Dia harus tau semua kronologi untuk menyimpulkan semuanya.
"Sekertaris Om Gerald yang berulah, aku tidak tahu menahu kenapa tiba-tiba ada pesta ulangtahun. Bibi yang seharusnya tahu 'kan?"
"Aku juga tidak tahu, Key mengajak berbelanja dari pagi. Sekalian kami jalan-jalan, aku tidak tahu Siska senekat ini!"
Miranda mendesah lelah.
Ia mengetuk pintu sekali lagi tetapi lagi-lagi tidak ada jawaban sama sekali.
"Lalu apa yang dikatakan Siska itu benar?"
Rinaldi tidak berani menjawab, dia diam saja. Memilih mengalihkan perhatian dan bermain-main dengan pucuk kepala Key.
Hal dikatakan Siska pasti menusuk ke hati mereka, itu membuat Miranda makin panik kepada si kembar yang mungkin sakit hati atau sejenisnya.
Akhirnya Miranda menghela napas.
"Jangan-jangan Key--"
"Iya."
Miranda tidak habis pikir, kepalanya tiba-tiba sakit untuk memikirkan masalah apa yang terjadi di keluarga ini. Ia tidak menyangka jika hal seperti ini terjadi di dunia nyata alih-alih di sinetron, terlebih sahabatnya terlibat.
Dia tidak tau jelas detailnya, tetapi mulai tau gambaran kasarnya.
"Bibi," panggil Key, dia menarik-narik ujung baju Miranda. "Jangan katakan ini kepada Papa, nanti Papa sedih."
Miranda mengangguk, dia berjongkok untuk mengecup kening Key.
"Key sekarang sama Kak Rinaldi ya? Kakak-kakak Key sedang mau punya waktu berdua saja~"
Key menurut, dia melambai pada Miranda begitu mengikuti Rinaldi ke kamar lain.
.
.
Ini sudah hampir tengah malam, tetapi si kembar tidak keluar sama sekali. Padahal anak-anak itu belum makan sejak tadi.
Miranda agak khawatir, apalagi persediaan cemilan di kulkas kamar sudah menipis. Dia takut anak-anak kelaparan dan makin resah karena tidak ada camilan.
Makanya, dia mengetuk kamar sekali lagi.
__ADS_1
"Kalian ayo buka pintunya, ini ada camilan loh!"
Tidak ada jawaban.
Hanya ada suara isakan yang samar-samar. Bisa ditebak jika si kembar menangis sejak tadi, hal itu membuat Miranda sakit. Dia tidak suka orang yang ia sudah anggap anak menyimpan luka tanpa bisa ia tangani.
Ia kemudian mengambil handphone.
Ada nama yang harus ia dihubungi.
Bosnya.
Telepon segera diangkat, suara serak dari laki-laki dewasa yang ia hafal menyapa di gendang telinganya.
'Miranda kenapa kamu menelpon?'
Bosnya pasti terganggu karena tiba-tiba ditelepon, mungkin juga merasa tidak nyaman mendapat telepon di tengah malam seperti ini.
"Aku mau mengabarkan jika si kembar-"
'Aku sudah tahu.'
Bibir Miranda tiba-tiba tercekat, emosinya naik sepersekian detik hingga ia tanpa sadar mulai memakai dengan suara agak keras.
"Bajingan, bos harus segera pulang! Tidak ada alasan atau aku akan menganggap Bos ayah yang buruk dan aku akan membawa kabur anak-anak?!"
Ia segera menutup panggilannya.
Tubuh Miranda segera merosot, ia terduduk dengan memperhatikan langit-langit. Para pelayan seharusnya mendekatinya, tetapi atas perintah Rinaldi tidak ada yang berani menyapa, terlebih karena wajah Miranda yang seperti tidak ingin diganggu.
"Sebenarnya apa sih yang kamu perbuat Sarah?" Miranda kesal, dia mengacak-acak rambutnya.
Mungkin diam-diam juga menertawai bagaimana wajah bangun tidur perempuan itu terlihat seperti orang gila.
"Apa?!" tanya Miranda galak.
Gerald berdehem, dia seperti suami yang dimarahi.
"Bos kalau sudah tau harusnya pulang dong! Harus menyelesaikan masalah rumit ini! Jangan malah menetap di kantor seperti orang tidak punya kerjaan! Arghhh, aku kesal."
Miranda tersenyum getir.
Dia masih menjambak rambutnya karena frustasi bukan main.
Matanya merah dan hampir menangis, Gerald maju untuk menghapus air mata Miranda. Pergerakan Gerald membuat Miranda terkejut sehingga terpaku, ia baru sadar ketika Gerald kembali mundur.
"Aku minta maaf."
Namun emosi Miranda masih tidak mereda.
"Bos pasti tau cara agar anak-anak mau makan 'kan? Sejak tadi mereka belum makan! aku khawatir, atau aku dobrak saja pintunya?"
"Kenapa tidak kamu lakukan sejak tadi?"
"Aku takut pintunya mahal, hah, gajiku tidak akan cukup untuk menggantinya!"
Gerald tersenyum.
__ADS_1
Ia menyerahkan paper bag ke Miranda dan menggantikan perempuan itu mengetuk pintu. Pertama-tama memang tidak ada jawaban sama sekali, tetapi Gerald tetap mengetuk.
"Tidak akan dibuka kalau bos cuma mengetuk," kata Miranda.
Ia baru saja mengambil kotak susu dari paper bag. Kotak susu yang familiar, tapi dimana ya?
"Coba panggil mereka."
Laki-laki itu akhirnya buka suara.
"Revan, Devinda. Miranda mengkhawatirkan kalian-"
Perutnya disikut, Miranda memelototi dan menunjuk Gerald dengan cepat. Perempuan itu memberi isyarat akan memotong leher Gerald jika tidak berkata jujur.
"Hah, Papa mengkhawatirkan kalian. Jadi buka pintu ya?"
Gerald memutar otak.
Dia harus membujuk si kembar setidaknya untuk menjawab panggilannya, jika tidak mungkin Miranda akan bener-bener memotong lehernya karena terlampau kesal.
"Anak-anak."
Suaranya lelah.
Gerald mendesah lelah, ia kembali mengetuk, agak lebih kuat dari tadi.
"Jika kalian percaya pada Papa, tolong buka pintunya. Bagaimanapun, Papa adalah ayah kalian. Tetap sebagai orang tua kalian apapun yang terjadi."
Miranda tidak tahu apa yang terjadi, tetapi untuk saat ini Gerald memperlihatkan punggung lemah yang secara tidak sadar Miranda gapai.
Laki-laki itu membalas dengan menggenggam tangan Miranda, membawa tangan yang lebih kecil tetapi kasar untuk menempel di sekitar bibirnya.
"Jangan dilepas."
Miranda kikuk, dia tidak menyangka akan diperlakukan seperti ini.
Untungnya suara pintu yang terbuka dan anak-anak yang berdiri di tengah pintu membuat Gerald melepaskannya.
"Papa tetap brengsek ya," ejek Devinda.
Revan segera menarik Miranda masuk, kemudian memberi kode kepada Devinda untuk membanting pintu tanpa mendengar penjelasan Gerald.
"Bibi bodoh! seharusnya abaikan saja kami seperti yang sahabat bibi lakukan!"
Devinda mendesah lelah.
Ia mengepalkan tangannya, sementara Miranda beranjak memegang pundak Devinda.
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
Belum ada jawaban, si kembar saling melirik satu sama lain. Membuat Miranda yang tidak sabaran beralih memegang pundak Revan.
"Bibi juga perlu tahu kesalahan sahabat bibi kepada kalian," kata Miranda tulus, dia perlu tahu apa yang Sarah perbuat hingga seperti ini.
Namun, jawaban yang tidak terduga keluar dari mulut si kembar secara berbarengan.
"Wanita itu tidak punya salah kepada kami."
__ADS_1
"Dia punya salah ke Papa."