Loololand: My Little Children

Loololand: My Little Children
Sebenarnya


__ADS_3

Miranda tercengang, dia dibawa duduk oleh si kembar yang mulai bercerita.


"Mama tidak pernah mencintai papa," katanya. Devinda mulai bercerita dengan ironi, "Mama mencintai ayahnya kak Rinal, mendiang Paman Dani."


Miranda tidak mampu berkata-kata.


Ah, dia mengingat orang itu, kalau tidak salah itu guru yang mengajar sejarah di SMP nya dulu. Guru yang memang dekat dengan semua orang sehingga membuat Miranda tidak mencurigainya.


Namun, menyebalkan rasanya tidak mengetahui hubungan gelap sahabatnya dengan guru yang jelas-jelas sangat dilarang.


"Mereka saling mencintai-"


Ia terbayang Sarah yang selalu senang tiap kali bertemu kekasih gelapnya itu.


"Sampai-sampai mama hamil, lucunya. Padahal saat itu Paman sudah punya istri dan Kak Rinaldi juga baru masuk taman kanak-kanak."


Si kembar tertawa, ironi, keduanya bersenggaman tangan mencoba saling menguatkan. Miranda hanya terdiam, tugasnya hanya mendengarkan."


"Makanya Papa menjadi kambing hitam, aku dengar jika Paman Dani memohon agar Papa menikahi Mama agar tidak menanggung malu. Papa dengan bodohnya setuju, dia mau menanggung kesalahan yang tidak ia perbuat agar rumah tangga kakaknya tidak hancur."


Devinda menghela napas.


Dia menerawang jauh, dari umur 5 tahun dia selalu mendengar gosip-gosip yang benar adanya.


"Mungkin Bibi kira Mama akan mencintai Papa setelah menikah, sayangnya tidak, Mama selingkuh dengan Paman Dani lagi."


"Bos tau?"


"Papa tau," jawab Devinda. "Tapi papa tidak bisa berbuat apa-apa, kami pernah mendengar jika ada perjanjian jika Papa tidak boleh mengurusi hubungan Mama dengan Paman, hanya perlu bersikap seperti suami yang mengabaikan istri saja."


Miranda tidak habis pikir.


Dia ikut merasa bersalah karena perbuatan sahabatnya.


Dia tidak menyangka Sarah akan tega melakukan itu.


"Ulangtahun kami itu tidak menyenangkan karena gara-gara kamu lahir Papa tidak harus menanggung beban."


"Tidak sayang," kata Miranda.


Dia memeluk Devinda dan Revan yang mulai menangis. Anak itu tampak rapuh dan perlu direngkuh.


"Bos tidak berfikir kalian beban, bos selalu menyayangi kalian."


"Bibi."


Devinda menatap Miranda, air matanya hampir turun.


"Kami belum habis cerita."


Revan yang melanjutkan, "Lalu Mama hamil lagi, Bibi tau kan kalau itu Key yang dikandung. Sejak dia dikandungan kami selalu iri, dan takut Papa akan meninggalkan kami demi darah dagingnya. Kami selalu berfikir jika Key adalah anak mama papa hingga dulu membenci adik bungsu kami, tetapi Key sama saja seperti kami, bukan anak papa."


Miranda tercengang.


"Mama masih tetap berhubungan dengan Paman, dan Papa harus menutupi kelakuannya hingga suatu waktu terbongkar karena istri Paman Dani memergoki mereka."


Kedua anak itu tertawa.

__ADS_1


"Ironis ya, secara kebetulan kami ini saudara tirinya Kak Rinaldi."


Miranda tidak bisa mengatakan apa-apa, itu hak mereka untuk membenci tetapi Miranda merasakan agak sesak.


"Apa yang membuat kalian membencinya?"


Si kembar saling melirik satu sama lain, kali ini Revan yang menjawab dengan suara rendah tidak seperti dirinya.


"Mama hanya ingin uang, hanya ingin Paman Dani, dan status sebagai istri Papa."


Ia tidak menyangka Sarah berkembang sebagai wanita sepicik itu. Padahal dulu, Sarah hanya perempuan apa adanya yang menerima ia dengan baik.


Karena cinta Sarah berubah.


"Maaf."


"Itu bukan salah Bibi kok," sahut Revan, dia tertawa.


"Tapi Sarah terlalu banyak berbuat kesalahan, aku seharusnya mengetahui hal ini sejak lama bukannya saat dia sudah meninggal."


Kemudian, kata-kata Devinda membuat ia tidak lagi bisa berkata-kata. "Sebetulnya, kami bersyukur Mama dan Paman Dani mati hari itu."


.


.


Miranda berjalan menuju balkon setelah memastikan si kembar tidur dan tidak lagi menangis, sekarang kepalanya yang agak pening. Dia memandang taman kediaman Horizon yang agak terang, kemudian menghela napas panjang.


Kemudian teleponnya berdering.


"Ada apa?" tanyanya.


'Kakak pasti sedang banyak pikiran.'


Miranda menghela napas, suara adiknya terdengar mengejek dari seberang sambungan telepon. Miranda terlalu lelah untuk menghadapi, sehingga dia hanya berdehem saja.


Adiknya sama saja seperti terakhir kali, jika Miranda tidak sedang dalam keadaan gundah ia akan langsung mengajak adiknya bertemu dan melakukan adu mulut atau adu jotos.


'Benar-benar banyak masalah ya.'


Angin malam menerpa rambut pendek Miranda, dia tidak terlalu tertarik hingga hanya mendengarkan. Fakta tentang Sarah mengguncang pikirannya.


Itu membuat hal-hal disekitarnya terasa tidak bisa fokus.


'Kak, sebenarnya kamu dimana? Aku sudah datang ke rumahmu tetapi dijual, kemudian ke rumah lama tetapi sudah di gusur. Sekarang kau tinggal dimana?'


"Aku tinggal di rumah bos ku."


Adiknya terkekeh.


'Well, kembali menjadi babu.'


Miranda tidak menggubris ejekan itu, ia kemudian mematikan telepon bertepatan dengan seseorang yang datang mendekat dan menawarkan rokok.


Miranda mengambil satu.


"Thanks."

__ADS_1


Gerald hanya mengangguk, dia mematik korek api dan membiarkan Miranda merokok. Perempuan itu pasti stress setengah mati, entah apa yang ia bicarakan dengan anak-anaknya tetapi sepertinya cukup membuat otak agak bodoh Miranda meledak.


Namun, ada yang berbeda.


Entah bagaimana Gerald menyadari jika Miranda memandanginya dari atas hingga bawah.


Sedikit membuat dia salah tingkah.


"Aku minta maaf jika Sarah menyusahkan bos selama ini."


Miranda tidak Biasanya meminta maaf, sehingga Gerald sadar betul apa yang dibicarakan perempuan itu dengan anak-anaknya.


Pasti tentang masa lalu.


Gerald menghela napas, dia melepas jasnya untuk ia pakaikan ke Miranda.


"Itu bukan salahmu."


Suaranya terdengar tenang, Miranda secara tidak sadar merasa kegelisahannya sedikit terangkat.


Namun, dia malu. Dia selalu menuduh Gerald yang tidak-tidak padahal itu bukan yang sebenarnya. Gerald hanya korban, dan itu jelas kebenaran. Pantas, ia merasa tidak ada anak-anak yang terlalu mirip dengan Gerald.


Ya karena mereka bukan anak-anak laki-laki itu.


"Aku benar-benar minta maaf."


Gerald mengambil rokok, menyalakan rokok itu. Dia terdiam cukup lama. Sama halnya dengan Miranda, ia kini memandangi langit malam.


"Berapa lama kamu menjadi perokok?" tanya Gerald, berusaha mengalihkan topik.


"Akhir-akhir ini, ketika stress. Kalau Bos?"


"Dari saat SMA, tapi tidak sering."


Keduanya terdiam lagi.


Dipikir-pikir, Miranda tidak punya obrolan yang layak untuk bosnya itu. Itu membuat Miranda tercekik rasa malu, etiket dalam bekerja yang ia tahu jelas tidak seperti ini.


Terlebih Gerald yang selalu memaklumi.


"Aku sekali lagi minta maaf."


Gerald membuang rokoknya, dia mengulurkan tangan. Miranda mengerutkan kening, tidak mengerti. Namun, Gerald tidak menjelaskan sehingga Miranda mengambil inisiatif untuk menggenggam tangan Gerald yang lebih besar.


Rasa-rasanya hangat.


Miranda sempat berfikir bagaimana ya rasanya dipeluk dengan lengan kokoh dan dibelai oleh telapak tangan itu?


Kemudian, ia sadar dan menampar dirinya sendiri dengan tangan lain.


"B-bos?"


"Aku sedang berfikir."


Miranda tidak bisa bertanya lagi karena kalimat Gerald setelahnya.


"Aku akan menempatkanmu di sisiku."

__ADS_1


__ADS_2