Loololand: My Little Children

Loololand: My Little Children
Ibu dan Anak


__ADS_3

"Bibi yakin mau menggunakan baju kumal itu?" Revan tidak habis pikir, diperhatikanpun selera Miranda sangat buruk.


Bagaimana mungkin kemeja abu-abu dipadukan dengan celana jeans sobek-sobek, dan apa-apaan rambut Miranda yang dikuncir dengan jepit pasta gigi--itu pasti jepit rambut dari Key-- dan dengan percaya dirinya memakai sandal jepit.


"Aku cantik jadi tidak masalah, Pak Khasim jangan tertawa!"


Mereka berada di mobil untuk perjalanan ke sekolah, dan bahkan supir mereka yang hampir setengah abad menertawai pakaian Miranda.


"Huh, kenapa kalian tidak menghargai kecantikanku sih?"


"Bibi memang cantik, tapi aneh," sahut Devinda, ia menerima coklat batangan yang Miranda ambil dari tas. "Seharusnya terima saja baju yang kami pilih tadi."


"Baju itu kekecilan untukku," katanya.


Revan dan Devinda menghela napas, "Halah alasan."


Yang dituduh hanya tertawa dan terus menggelitiki Key.


Mobil melaju makin pelan hingga pada akhirnya berhenti, Miranda sontak menengok, ternyata macet.


"Kita bisa telat kalau begini," kata Miranda.


Pak Khasim segera memundurkan mobil dan memilih jalan lain. "Tidak apa-apa, Miranda. Tuan dan Nona muda sering terlambat jadi saya punya banyak rute jalan tikus."


"Ha, mereka sering terlambat? bukannya mereka selalu berangkat pagi?"


"Iya, tapi setelahnya mampir ke toko makanan dan berakhir hampir telat."


"PAMAN JANGAN BUKA-BUKA RAHASIA DONG! PAMAN KAN JUGA SERING KEBAGIAN MAKANAN!" Devinda memukul main-main pundak Pak Khasim yang justru tertawa.


"Maaf-maaf hahaha."


"Key mau kue," Revan menunjuk Key, yang ditunjuk menggeleng.


"Kakak jangan menuduh, Key tidak lapal!"


Miranda tersenyum, "Ayo mampir ke toko kue dulu, Pak."


"YEAY."


.


.


.


Saat mereka tiba, benar-benar telat. Keberadaan mereka menjadi pusat perhatian karena pas sekali dengan Ibu guru yang membagikan hadiah untuk pemenang tugas menjual lukisan tempo lalu.


Nama Key menjadi juara satu, Keyna segera mengambil piagam dan piala setelah turun dari gendongan Miranda.


"Maaf, kami telat karena ada beberapa kendala," kata Miranda.


Si Ibu guru mengangguk, "Tidak masalah Bu, saya maklum karena Key juga sering telat. Silahkan duduk Bu."


"Hehehe," Key tertawa, dia memamerkan piala serta piagam.


Miranda mengangguk, "Terimakasih."


Banyak pasang mata menatap mereka terang-terangan, mata Miranda hampir buta karena silau cahaya yang dipantulkan emas yang para ibu itu pakai.


Beruntungnya Key lebih dulu membimbingnya ke sebuah kursi, ada Raka, anak yang tempo hari Miranda temui sedang duduk dengan seorang perempuan cantik.


"Laka, Key juala satu wleee."

__ADS_1


"Hmp, kali ini Key menang tapi nanti Laka yang menang."


"Mana bisa."


"Bisa! Key, kenapa Bibi penculik ini ada belsamamu? Mama balumu?"


"Calon."


Kedua anak itu mengobrol sehingga mau tak mau, Miranda mencoba mengakrabkan diri dengan ibunya Raka. Perempuan yang terlihat masih muda itu membalas perkenalan Miranda dengan baik.


Namanya Desi Panduwinata, lebih muda dari Miranda.


"Kakak ini ibu barunya Key ya?"


Miranda tersanjung, akhirnya ia dipanggil kakak bukan ibu ataupun bibi.


"Bukan, aku pengasuhnya."


"Maaf, saya kira Kakak benar-benar ibunya Key karena kalian sedikit mirip."


"Tidak mas-"


"Ya ampun pantas gayanya kampungan, ternyata memang pengasuh." Perempuan lain menyahut, lebih tua dari Miranda dan bergincu tebal. Dia memamerkan gelang-gelang emas dihadapan Miranda. "Seharusnya kamu malu datang kemari."


Abaikan dia.


Miranda tidak menggubris sedikitpun dan kembali berbicara pada Desi. "Key dan Raka kompak ya."


"Hahaha, Raka memang gampang akrab tapi juga gampang terpengaruh jadi nakal. Bu Dwi, mau ikut mengobrol bersama kami?" tawar Desi.


Ibu-ibu tadi sontak menggeleng, "Mana sudi aku bersama kalian, jangan mentang-mentang kau menikah dengan orang kaya kau bisa selevel denganku yang terlahir sudah kaya."


Beberapa ibu lain ikut bergabung begitu ibu guru pergi untuk menyiapkan acara.


"Desi kan dari kampung."


"Kamu juga pasti dari kampung, ho, pasti bekerja sebagai pengasuh hanya untuk menggoda ayahnya Key ya?" Stella, wanita bergaun merah ngejreng menambahi.


"Pasti tuh, tampang kek gitu cuma bisa jadi pelacur."


Kenapa pula mulut mereka seperti tidak pernah disekolahkan.


"Des, gerah nggak? kayak ada setan ya."


Desi yang semula menunduk segera menyikut Miranda, dengan panik dia meminta maaf atas perkataan Miranda. "M-maaf."


Bu Dwi menggebrak meja Key, dia memelototi Miranda. Permusuhan jelas ketara, tetapi Miranda bukan orang yang penakut hingga ia gentar.


Ia bersedekap dada, "Biasanya yang suka ngurusin orang seperti kalian kurang kasih sayang dari suami, maklum, mungkin suami kalian jijik sama nafas bau kalian."


"Kak Mir-"


"Udahlah Des, nggak perlu bikin mereka puas. Toh mereka kaya hasil keluarga mereka dulu 'kan? Aku yakin mereka bahkan nggak pernah kerja dan cuma ongkang-ongkang kaki," kata Miranda.


Stella segera menarik kerah baju Miranda, "Orang kampung kek kamu beneran nggak pernah sekolah!"


"Lah emang situ pernah sekolah?"


Gerombolan makin ramai, ibu-ibu beserta anak-anaknya menyaksikan debat mulut tersebut.


Desi menutup telinga Raka yang sebenarnya ingin mendengar, sementara Key memeluk Miranda agar tidak melihat wajah bengis Dwi dan Stella.


"Kurang ajar-"

__ADS_1


Tangan Stella hampir menampar Miranda, tetapi ditangkap dengan baik.


"Orang bodoh biasanya main tangan duluan."


"Nggak usah sok-"


"ADA APA INI?! KEMBALI KE TEMPAT DUDUK MASING-MASING!" Guru yang tadi pergi datang dengan seorang guru laki-laki.


Kerumunan membubarkan diri, tetapi Miranda tetap menerima tatapan tajam dan menakutkan dari dua orang tadi.


"Bibi kelen," kata Key tiba-tiba.


Miranda segera sadar dan mengecup lembut kening Key, "Jangan ditiru, tidak boleh."


"Tapi kalau ada yang mengatai Key lebih dulu?"


"Hajar saja seperti saat Key menghajar Raka."


.


.


Miranda bersorak, Key baru saja mendahului peserta lain di lomba lari estafet.


"Key!"


Kemudian terjatuh, Miranda khawatir tetapi terus berusaha menyemangati. Ia tahu jika Key bisa dan mampu mencapainya.


Key sendiri hampir menangis tetapi tetap berlari, kemudian saat sampai Miranda langsung mengambil tongkat merah yang Key berikan dan langsung berlari.


"Aku tidak akan mengecewakan Key!"


Miranda berlari cepat untuk menyamai jarak, kemudian menyalip satu persatu peserta ibu-ibu yang kebanyakan memang jarang berolahraga hingga ia berhasil memenangkan juara pertama.


"PEMENANG KOMPETISI ESTAFET IBU DAN ANAK ADALAH KEY DAN IBUNYA!!"


Key segera berlari hingga memeluk Miranda, keduanya saling tertawa dibawah tatapan iri beberapa orang.


"Pantas menang, mungkin dia pernah jadi pencopet," ejek Bu Dwi, yang lain tertawa makin mengejek.


Key menggembungkan pipi, nyari menendang lutut Bu Dwi jika saja Miranda tidak menahan.


Perempuan itu justru sangat tenang sembari mengibaskan rambut, mata coklat Miranda kemudian menatap lurus.


"Sebenarnya Bu, aku tidak bermaksud menyebarkan hal ini tetapi agaknya Ibu sudah kelewatan," Miranda tersenyum tipis, "Suamimu itu Bayu Adriansyah 'kan? mantan kepala cabang perusahaan X yang udah pindah pekerjaan itu?"


"Iya kenapa? mau menggoda suamiku juga?" Bu Dwi berkacak pinggang makin menantang, "Kamu bukan tipenya."


"Ya ampun benar-benar istrinya Bayu, padahal Bayu punya pacar di sana sini. Si tua bangkotan itu bahkan hampir terkena kasus pelecehan."


"Apa-"


"Lalu suaminya Bu Stella, bukannya nggak pantas ya dia memberi nafkah uang haram ke istrinya?"


"Jangan asal bicara ya kami-"


"Istrinya ibu itu juga, oh itu juga, kenapa aku bisa lupa ya kalau aku menyimpan rahasia mereka semua."


Stella melayangkan tamparan, itu membuat Miranda mendorong perempuan itu hingga jatuh kebelakang.


"Bersikap sopan dong jika tidak mau suami kalian di Penjara."


"Memangnya siapa kamu hah?"

__ADS_1


Di kehebohan itu, Miranda yang paling merasa tenang dan mengangkat dagu bangga.


"Aku?" dia mengibaskan rambutnya, "Miranda Husain, mantan bos suami kalian."


__ADS_2