
Laki-laki dengan setelan modis tersenyum bangga, dia masuk ke kafe dan melihat seseorang yang ia ajak ketemuan duduk tenang sembari menyeruput kopi pahit.
Dia bersiul.
"Lama tidak berjumpa Kak, makin jelek saja," ledeknya.
Miranda yang dikatai melempar sedotan yang segera dihindari, laki-laki itu segera duduk di depan setelah memesan beberapa minuman dan makanan.
"Aku dengar Kakak bangkrut."
Miranda memutar bola mata jengah, dia melepas topi agar leluasa memelototi adiknya yang makin tidak punya adab setelah pergi entah kemana.
"Ya begitulah."
"Kakak tidak kepikiran jadi wanita penghibur om-om 'kan?"
"Kalau iya kenapa?"
"Pasti tidak laku."
Adiknya tertawa, wajahnya yang minta dipukul membuat Miranda benar-benar hampir menginjak wajah yang telah lama tidak ia lihat secara sukarela. Kebiasaan buruk adiknya makin menjadi-jadi entah karena apa.
Yang pasti, Miranda kesal bukan kepalang.
Adik ya punya banyak hutang dimana dan apa yang ia lakukan hingga bisa lost kontak selama lima tahun kebelakang.
"Jangan banyak bicara, aku punya banyak pertanyaan untukmu," kata Miranda.
Dia menarik tangan adiknya hingga tidak bisa tiba-tiba kabur, kemudian dia tersenyum lebar membuat beberapa anak ketakutan.
Adiknya yang melihat itu tertawa.
"Kakak makin gila ternyata, apa yang mau kakak tanyakan?"
"Mahes, kemana saja kamu?"
Adiknya, Mahes tersenyum. Dia mengambil pesanannya dari pelayan dan mulai menyedot minuman. Membuat Miranda harus menunggu lebih lama untuk tahu jawaban.
Pada akhirnya, Mahes membuang banyak waktu.
Ia berkedip genit, "Bekerja, aku bekerja untuk kenalanku dan sekarang memegang posisi yang lumayan tinggi. Kalau kakak?"
"Pengasuh."
"Orang gila mana yang mau memperkerjakan kakak?"
"Orang baik yang menggajiku dua digit tiap bulan, kurang baik apa dia?"
Mahes tidak bisa menahan tawa, dia tersedak minumannya sendiri hingga Miranda hanya bisa tertawa kecil.
Adiknya sama cerobohnya seperti terakhir kali. Miranda segera mengulurkan tangan untuk memberikan tisu, tetapi tangannya ditangkap dan dibuat seakan-akan mengelus-elus pipi Mahes.
Sekarang ini, yang gila adalah Mahes.
"Keluar dari pekerjaan kakak ya, bekerja denganku. Skill kakak lumayan berguna."
Miranda memandang dari atas hingga bawah.
Kemudian menghela napas.
__ADS_1
"Tidak," tolaknya tegas.
Mahes tertawa, dia menyodorkan amplop berisi uang kepada Miranda yang segera perempuan itu terima.
"Sesuau dugaan, ini, pakai uang saku untuk kakak."
Kening Miranda berkerut.
Mahes terlalu tenang, senyumnya tipis, agak lelah sehingga Miranda agak khawatir dengan pekerjaan apa yang Mahes lakukan.
"Uang saku untuk apa?"
"Karena dulu kakak yang membiayaiku, sekarang giliranku untuk membayar kembali.
"Tidak butuh."
Miranda beranjak ke kasir, dia membayar minumannya sendiri lengkap dengan apa yang Mahes pesan. Setelahnya kembali mengambil topi untuk segera pergi tetapi Mahes mencengkram pergelangan tangan Miranda.
"Aku akan kembali menjemput Kakak jika sudah waktunya."
Miranda memutar bola matanya, dia menarik tangan kemudian bersedekap dada menatap Mahes yang kini tersenyum suram.
"Lebih baik kita jalan-jalan jika kamu merindukanku."
"Boleh?"
"Bayar."
Mahes tertawa kecil dan mengeluarkan berapa lembar seratus ribu, ia kemudian membenahi pakaiannya dan agak kusut siap untuk mengelilingi kota bersama Miranda.
Sayang saat itu teleponnya berdering.
"Lain kali saja kak, aku ada pekerjaan jadi aku sita ini sebagai oleh-oleh."
Mahes segera meninggalkan tempat sebelum Miranda memukulnya.
.
.
Gerald melempar dokumen, ia memandang Siska yang gemetaran karena suatu hal. Masalahnya ia tahu hal yang membuat perempuan itu resah, itu pasti tentang yang Siska katakan ke anak-anaknya kemarin.
"Say atidak butuh penjelasan."
"Tapi pak-"
"Kamu dipecat, silahkan tinggalkan kantor ini."
Siska tidak habis pikir, air matanya jatuh. Padahal ia bersikap baik ke anak-anak pria itu kenapa malah dia yang diusir. Seharusnya laki-laki itu mengusir Miranda yang membawa pengaruh buruk, bukan dia.
Siska tidak mau begini.
Jadi dia menelepon kenalan yang sekiranya bisa membantu.
"Aku ingin bertemu."
Siska membulatkan dendam untuk membalas dendam dan memisahkan Miranda dari anak-anak.
Ia tidak mau kalah dengan wanita tua itu, jika memang dia tidak bisa mendapatkan perhatian Gerald maka Miranda juga tidak boleh.
__ADS_1
Setelah ia memarkirkan mobil di pusat pembelanjaan, kemudian turun setelah menerima lokasi yang ditentukan. Setelah memutari cukup lama akhirnya dia bertemu dengan dua orang yang sudah menunggu.
Mereka seperti berandalan yang suka memukul.
"Klien kita cantik juga?" Tomi menyikut temannya, dia bersiul.
Sementara Raka juga bersiul, matanya seperti melihat Siska dari atas hingga bawah.
"Ada apa nih?"
"Aku bisa memberitahu kalian soal kelemahan Gerald Horizon, asal tangani wanita ini."
Siska menunjukkan foto di smartphonenya. Itu Miranda yang sedang menggendong Key, dan tertawa bersama.
Jelek, menurut Siska.
Namun, tiba-tiba smartphonenya dicabut. Seseorang mengamati foto dan memberi seringai tipis.
"Kirimkan ke aku ya," katanya, dia kembali mencari-cari foto yang dia inginkan. Kemudian mengirimkannya lewat bluetooth sebelum mengembalikannya kembali ke Siska. "Thanks."
Siska memandang laki-laki muda itu, matanya menyipit. Daripada anggota geng yang sering mengacau, dia terlihat seperti anak rumahan baik-baik yang lebih senang jadi playboy kelas kakap.
"Ada apa?" tanyanya.
Tomi segera merangkul bahu kawannya, dia tersenyum lebar. "Bos bakal bangga kalau kita melaporkan temuan kita?"
"Apanya?"
Mahes tertawa kecil, ia masih melihat foto yang lebih menarik perhatiannya.
Siska yang agak merasa diabaikan segera maju, "Aku mantan sekertaris Gerald Horizon, aku tau kelemahannya. Salah satunya foto orang yang sedang kamu pegang."
"Lalu tugas kami untuk dapat informasi tersebut?" tanya Mahes.
Siska mengepalkan tinju.
"Singkirkan wanita jal*ng itu itu."
Siska menatap berapi-api, wajahnya dipenuhi rasa kesal yang sangat membuat dia mencengkram smartphonenya.
Tiga pria yang melihatnya tersenyum singkat, suka bagaimana emosi keruh masuk ke diri Siska dan tidak mungkin bisa dikeluarkan lagi.
Namun, Mahes pas akhirnya menggeleng. Dia memasukkan smartphonenya setelah sekian lama memandang foto yang menurutnya manis.
"Kami dilarang membunuh," katanya.
Siska jelas tahu itu bohong, bagaimanapun ia melihat Tomi dan Raka hendak protes sebelum Mahes mengangkat tangan dan tersenyum terlalu manis.
"Jika memisahkan pasti sangat mudah," kata Mahes.
Siska menyimak, orang di depannya terlihat seperti iblis dengan senyum semanis itu sekarang.
"Lagipula mereka tidak cocok."
"Benar 'kan?! Wanita tua itu tidak pantas dengan tuan Horizon!" kata Siska berapi-api, dia hampir mau menyebutkan segala kejelekan Miranda tetapi Mahes lebih dulu memberikan isyarat untuk diam.
Kemudian melepaskan topi yang Mahes kenakan.
"Orang seperti itu tidak pantas dengan Miranda-ku."
__ADS_1