
"Ami, di rumah ini ada hantu?"
Ami berfikir sejenak, banyak penampakan dan beberapa gangguan yang dialami para pekerja di tempat ini dan itu lumrah.
Hanya saja ia bingung, hantu seperti apa yang membuat Miranda terlihat pucat pasi serta terus menggigit jari dari tadi.
"Ada, kadang-kadang. Memang kamu melihat penampakan apa?"tanya Ami balik, dia menyerahkan kopi hitam ke Miranda yang diterima dengan baik.
"Bukan penampakan, tapi sepertinya si kembar sedang kerasukan."
Kening Ami berkerut.
Tidak pernah ada hal semacam itu di rumah ini.
"Kamu pasti mengigau karena lelah mengurus anak-anak."
"Bukan-"
"Bibi sakit?"
Miranda terlonjak kaget, yang dibicarakan datang tiba-tiba dengan memamerkan senyum lebar, yang bagi Miranda sangat menakutkan.
Ia sampai begidik.
"Mau aku pijat?" tanya Devinda, dia menyikut Revan yang juga mengangguk menawarkan hal yang sama.
Miranda menggeleng, dia berdiri dari duduknya dan mengangkat si kembar duduk di kursi tinggi menghadap Ami.
"Ami, buatkan mereka susu."
"Kami bukan Key, aku mau jus jambu!" sahut Revan, dia menyerahkan tasnya ke Miranda begitu juga Devinda.
"Capuccino."
"Baik tuan muda, nona muda."
Miranda melihat si kembar yang kini beralih menatapnya, keningnya berkerut, hampir berpraduga buruk akan ada hal-hal yang tidak diinginkan.
"Bibi tidak minta Minuman pada Kak Ami?"
"Aku sudah dapat," Miranda mendorong minumannya ke arah Revan, lantas anak laki-laki yang sering ingin tahu segera mencicipi.
"Pahit!"
"Namanya juga tanpa gula."
"Kenapa tidak Bibi kasih gula sih?"
"Karena selera bibi ya tanpa gula, biar bibi tetap ingat kalau dunia pahit. Soalnya yang manis kan bayi-bayi besarku ini."
Miranda mencubit gemas pipi si kembar hingga kedua anak itu tertawa geli.
"Bibi geli!"
Aduh, Miranda makin yakin jika ada yang aneh.
Seharusnya si kembar kan memberontak dan mengatainya tua, walaupun dia masih merasa muda dan cantik.
"Kalian ini tidak perlu memaksakan diri menyukaiku karena kalah taruhan kemarin."
"Siapa yang memaksakan diri?"
"Bibi mengatakan hal aneh lagi."
Kalau bukan begitu lalu apa.
"Apa ini trik kalian untuk mengerjaiku?"
"Dibilang tidak kok tidak percaya," Revan meminum minumannya, ia memelototi Miranda yang masih kukuh dengan pikirannya bahwa si kembar ada maunya, memang benar sih, tapi tidak salah hal negatif.
"Bibi kan akan menjadi mama kami, ya kami harus baik."
"Idih, siapa yang mau dengan pria tua itu ."
__ADS_1
Devinda dan Revan saling melirik sebelum mengangguk dan tertawa kecil, mereka turun dari kursi dan berjalan meninggalkan Miranda yang masih istirahat di dapur.
"Bibi benar-benar tidak menyukai Papa," kata Revan.
"Mari kita buat Bibi menyukai Papa!"
.
.
.
Gerald merapikan dokumen yang telah ia tandatangani, bertepatan dengan Siska yang masuk ke ruangan. Perempuan itu dengan beberapa dokumen baru.
"Apa saja jadwalku hari ini?"
"Ada meeting dengan klien siang dan malam nanti, lokasi sudah pihak sana tentukan." Siska meletakan dokumen baru, ia sengaja menyenggol tangan Gerald. "Lalu ada kabar dari wilayah lain ada sekolompok gangster yang mengusik di wilayah kita, apa perlu dibereskan Pak?"
Gerald menggeleng.
"Abaikan saja untuk saat ini."
Siska mengangguk, dia beralih ke belakang kursi Gerald dan mulai memijat, Gerald yang merasa tidak nyaman menepis tangan Siska yang seketika kecewa.
"Buatkan aku kopi pahit."
"Baik, pak."
Setelah memastikan Siska pergi, Gerald mengangkat telepon yang mulai berbunyi. Itu panggilan video dari anak-anaknya.
'Papa~'
Si kembar melambai-lambai, Gerald tahu ada yang dua anaknya rencanakan sejak pertama kali melihat ekspresi mereka.
'Bibi sepertinya sakit kepala, kami takut karena kami dia menderita seperti it-'
"Memang, 'kan?"
Oh lihat itu.
Revan jelas tidak berbakat dalam akting, banyak celah ekspresi dimana-mana, terlebih anak sulungnya itu hampir tertawa jika saja Devinda tidak menyikut.
'Bisakah Papa membantu kami apa yang bibi suka atau tidak suka?'
Daripada membuat ini semakin panjang, dan Revan yang mungkin akan mengamuk jika terlalu banyak membaca dialog membuat Gerald segera mengangguk.
"Tentu."
'Yeay! Jangan lupa puji Bibi ya Pa. Kami akan mengirim nomor Bibi ke Papa!'
Panggilan dimatikan sepihak.
Lalu pesan masuk tiba, itu dari Revan.
Gerald segera menghubungi Miranda sesuai keinginan si kembar, saat tersambung suara Miranda terdengar tidak bersahabat.
'Sorry, aku tidak akan tertipu telepon bodong. Enyah sana!'
"Pft."
Telepon segera ditutup.
Gerald menelepon sekali lagi dan kembali diangkat, rupa-rupanya Miranda memang tipe yang ingin menghabiskan pulsa seseorang.
'Mau apa lagi? Oh apa ini agensi artis yang mau merekrutku karena aku bak supermodel?'
"Miranda."
'Siapa ini?'
Gerald tidak segera menjawab, pria itu menikmati kebingungan Miranda sejenak.
"Gerald Horizon."
__ADS_1
'Eh bos, ada apa?'
"Bagaimana kabar anak-anak?"
'Luwar biasa.'
Entah selera humornya yang rendah atau Miranda yang terlalu lucu, Gerald tidak bisa menampik jika dia tersenyum geli untuk saat ini.
"Lebih spesifiknya?"
'Si kembar dalam mood yang baik, ya ampun aku bahkan mengira jika mereka kerasukan tadi sangking berbunga-bunga sekali mood mereka. Lalu Key mengajakku ke sekolahnya, anak-anak tuan memang lucu.'
"Kamu juga lucu."
'Bisa diulangi lagi? tadi berisik hingga aku tidak dengar.'
"Lupakan saja. Aku berfikir untuk memberikan hadiah karena menjaga anak-anak dengan baik."
'Bukannya aku sudah digaji?'
"Anggap saja bonus."
Miranda selalu mata duitan, jadi semuanya akan mudah jika berhubungan dengan itu.
'Aku mau tambahan uang gaji.'
"Bukan itu, katakan saja apa yang kamu sukai."
'Uang.'
Gerald tersenyum geli, lagi dan lagi Miranda terlalu mudah untuk ditebak.
"Selain itu?"
'Tidak ada, aku penerima apa saja yang berbau gratis.'
"Hm, apa yang kamu tidak suka?"
'Gaun, jika tuan berfikir memberi lebih baik jangan memberiku hadiah. Aku selalu tidak cocok memakai gaun. Jangan makeup, jangan pakaian terlalu polos.'
"Baik akan aku catat."
Pintu terbuka, Siska kembali dengan segelas kopi pahit yang tadi Gerald minta lantas meletakkannya di meja sembari mencuri-curi dengar percakapan Gerald dengan seseorang di dalam telepon.
'Lalu kapan tuan akan kembali?'
"Apa ada hal buruk yang terjadi pada anak-anak?"
'Mereka baik-baik saja. Key merindukan tuan, si kembar juga pasti berfikir hal yang sama. Bagaimanapun mereka butuh sosok ayah yang menemani, jika tuan ayah yang baik sih.'
Gerald sama sekali tidak tersinggung.
Mulut Miranda memang ceplas-ceplos sejak pertama kali mereka kenal.
"Secepatnya."
'Oh bagus, aku akan mengatakan ke si kembar kabar ini. Soalnya kalau tuan berbohong, si kembar pasti akan menelpon tuan dan mengganggu terus. Aku tutup ya tuan, selamat bekerja.'
"Kamu juga."
Panggilan ditutup, Gerald mengambil cangkir kopi dan segera minum. Suasana hatinya membaik, mungkin ia juga harus membeli hadiah untuk si kembar karena hal ini.
"Siapa yang tadi menelepon, pak?" Siska bertanya, dia tersenyum cantik dan membuat jarak yang sangat dekat dengan Gerald.
"Miranda."
"Anda terlihat senang," kata Siska lagi, di dalam hatinya ia cemburu.
Gerald memilih tidak menjawab dan kembali mengerjakan dokumen.
Siska mengepalkan tangannya.
Perempuan tua seperti Miranda tidak mungkin akan membuat Gerald tertarikkan? dalam dunia wanita, yang muda yang akan selalu menang.
__ADS_1