Loololand: My Little Children

Loololand: My Little Children
Restu


__ADS_3

"Bibi cantik memakai makeup."


Harusnya sih, ini hari cukup baik karena mood si kembar tidak seburuk kemarin-kemarin. Hanya saja ... kenapa Miranda harus menjadi kelinci percobaan make up gagal ditangan dua anak itu?


Ya Tuhan, mukanya seperti badut sekarang ini.


"Bibi cantik," kata Devinda, ia tersenyum manis.


Melihat itu Miranda tak enak hati memberhentikannya. Ia hanya pasrah dengan apa-apa saja yang akan dia terima dari dua anak itu.


Ini sudah pukul 3 sore, dan Key tertidur di sofa, lelap.


Si kembar sudah mendandani Miranda sejak dua jam yang lalu, dan belum selesai sampai saat ini.


"Bibi pakai ini ya?"


Devinda menyodorkan gaun berwarna pink di atas lutut, ia memandang jijik dan mendorong benda itu jauh-jauh darinya.


"Mau ya Bi?"


Anak-anak memang susah ditolak.


Miranda segera mengenakan gaun itu, ia berlenggak-lenggok sesuai instruksi si kembar yang sibuk memotret.


Sebenarnya ia tau jika si kembar hanya ingin mengerjainya, tetapi tak apalah, menjadi bodoh memang spesialis Miranda saat menghadapi hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginannya.


Tak apa pikirnya, sampai ketika si kembar tiba-tiba melakukan panggilan video.


Gerald adalah yang anak-anak telepon, laki-laki itu terdiam agak lama, matanya memindai dari atas hingga bawah. Make up yang berantakan, rambut yang seperti tidak ditata, dan gaun yang terlalu terang untuk kepribadian Miranda.


'Sepertinya ini mimpi di siang bolong, Miranda Husain berpakaian seperti badut.'


"Enak saja! Ini fashion, anda tidak boleh menyinggung selera anak-anak!"


'Begitu, jadi ini ulah anak-anak? Good job, Sweetie.'


Si kembar saling sikut, mereka tidak pernah mendengar ayah mereka tertawa seperti ini.


"Sudah saya bilang jangan mengejek Fashion anak-anak!!"


'Itu bukan ejekan.'


"Terdengar seperti ejekan di telingaku."


'Butuh uang untuk memeriksakan telingamu?'


"Aku memang butuh uang yang sangat banyak sampai-sampai aku bisa mengajak anak-anak malang pergi dari cengkraman orang tua buruk."


'Terdengar bagus, kamu bisa menjadi sekertaris-'


"Anda seharusnya sibuk, jadi tolong tutup teleponnya."


Ini respon yang sangat berkebalikan dari yang mereka duga. Makanya Devinda berdehem untuk mengalihkan pembicaraan ke arah yang menurutnya lebih menguntungkannya.


"Bibi cantik 'kan, Papa? Seperti Mama."


Gerald berhenti terkekeh, dia menggeleng secara tegas. 'Miranda, cepat hapus dandananmu.'


Video call segera ditutup.


Si kembar saling melirik, rencana pertama gagal.


"Kita lanjutkan ke rencana kedua."

__ADS_1


Rencana kedua adalah menuduh Miranda mencuri, tetapi sesampainya di tempat itu perhiasan yang semalam Devinda sembunyikan menghilang.


"Bibi lihat perhiasan?" tanya Revan, ragu-ragu.


Miranda mengangguk, "Aku susah mengembalikannya, kalian yang meletakkannya ya?"


Revan sontak menggeleng, berbeda dengan Devinda yang bersedekap dada.


"Iya, memangnya masalah?"


"Tidak, cuma kalian kurang pintar menjadi tukang fitnah. Kalian kebanyakan nonton sinetron ya?" tanya Miranda geli.


Perempuan itu berjalan keluar dari kamar dan menghampiri Key yang sudah bangun sambil mengucek-ngucek mata.


Bagi si kembar, Miranda seperti kecoa yang susah disingkirkan.


"Pertama, aku melihat Devinda masuk ke kamarku,"kata Miranda. Devinda tersentak dan mencebik, ternyata rencananya sudah gagal sejak awal.


"Kedua, aku tidak bodoh."


"Tapi Bibi terlihat bodoh," kata Revan.


Key tertawa, tetapi kemudian menusuk-nusuk pipi Miranda agar tidak dimasukkan ke hati.


Mereka berkelok ke ruangan lain, beberapa karyawan menyapa Miranda karena memang hanya beberapa hari Miranda sudah punya banyak koneksi berkat kepribadiannya.


"Orang pintar tidak boleh sombong," balas Miranda.


"Tapi bibi sering narsis dan sombong," sahut Devinda.


Miranda mempercepat langkah hingga tanpa sadar si kembar nyaris berlari untuk mengejar Miranda.


"Bibi!"


Dia tertawa keras, Revan juga ikut tertawa dan makin cepat mengejar. Mereka kemudian sampai ke ruangan mereka dan Miranda yang menepuk sofa mempersilahkan si kembar untuk duduk.


"Mau bermain game?"


"Tidak mau!"


"Kalau aku kalah, aku akan mengundurkan diri sebagai pengasuh kalian. Kalau kalian yang kalah, kalian harus menuruti perintah dariku."


"Permainan apa."


"Kejar-kejaran, deal?"


"Deal."


.


.


.


Secara singkat si kembar kalah.


Keduanya terengah-engah di karpet merah jambu, Key menepuk-nepuk pipi kedua anak itu.


"Lemah," ejek si bungsu.


"D-dimana Bibi?"


"Pelgi membeli susu."

__ADS_1


Keduanya melotot, tidak mereka sangka perempuan tua seperti Miranda bisa berlari cepat seperti itu. Bahkan baru lima menit, Revan sudah tertangkap disusul Devina di menit ke tujuh. Mereka mengulangi permainan dan mendapatkan hasil yang sama, kalah telak.


"Key! Bibi itu monster!" kata Revan mengada-ada.


Key menatap Revan sengit, "Jangan belcanda, Bibi manusia kalena dia tidak memakan kita."


Devinda tertawa kecil, ia menarik Key hingga ikut terlentang di karpet yang sama. Tiga bersaudara itu mengamati langit-langit ruangan yang dihiasi lampu gantung dan gambaran gugus bintang.


"Bibi baik kok," kata Key.


"Para pengasuh yang dulu juga baik di awal, tetapi mengincar Papa," sahut Devinda, dia memikirkan lagi para pengasuh yang tidak benar-benar sayang terhadap mereka.


Masih ia ingat betul bagaimana salah satunya membanting gelas karena Revan berisik dan menutupi hal itu sebagai perkelahian anak-anak.


"Bibi tidak tertarik dengan Papa, Papa yang tertarik dengan Bibi."


"Tidak mungkin lah!"


"Mungkin, Papa tidak suka belbicara dengan Olang tetapi kalau dengan Bibi, Papa jadi banyak bicala. Papa suka Bibi! Key juga suka Bibi!"


Drtt drtt


Itu panggilan video dari ayah mereka.


Revan segera mengangkat panggilan itu dan mendapati wajah ayahnya yang agak terheran dengan mereka bertiga yang saat ini akur.


"Papa!" panggil Key, dia bertingkah imut saat melambaikan tangan.


Gerald balas melambai, 'Apa yang terjadi?'


"Kami habis dikejar monster," jawab Revan.


"Kakak-kakak habis belmain dengan Bibi, mereka kalah taluhan."


'Kalian akhirnya menemukan lawan yang salah.'


"Telus pa, Bibi sedang membelikan Key susu di toko. Padahal Key suluh mengambilkan bukan membeli, Bibi aneh tapi Key suka."


'Miranda memang seperti itu, maklumi saja.'


Si kembar kembali saling lirik, mereka kembali memikirkan perkataan Key tadi.


"Papa!" Revan mencebik lucu sementara Devinda membuang muka. "Papa tidak mungkin-"


Srttt


'Oh maaf pak, sedang berbicara dengan siapa? Oh hai anak-anak, Tante Siska kangen kalian nih, kapan-kapan Tante mampir ya?'


Key tidak suka, Siska mengambil alih smartphone ayahnya dan kini menggantikan Gerald berbicara dengan mereka.


"Tidak pelu Tante!" jawab Key, Devinda dan Revan mengangguk setuju.


Namun, Siska makin keras kepala. 'Tante akan mampir saat luang~ pasti kalian kangen sama Tante kan, tidak usah malu. Ayah kalian juga senang dengan Tante.'


Revan buru-buru mematikan teleponnya.


Ia, Devina dan Key sudah sepakat dalam hati.


"Key susumu sudah jadi."


Revan segera bangkit dari tidur, disusul Devinda yang segera menubruk serta memeluk Miranda.


"Bibi harus menikah dengan Papa."

__ADS_1


"Kami sudah memberikan Bibi restu."


__ADS_2