
Rintik hujan turun, Gerald meremas laporan yang diterima dari sekertaris barunya dan membuang tepat di tong sampah. Pintu lobi kantor terbuka dan tertutup, tetapi Gerald tidak ada niatan untuk keluar sebelum rasa pusingnya reda.
"Rekap semua properti perusahaan yang rival kita rusak, suruh anggota tim penyidik yang kita punya mendata semuanya."
"Tapi pak-"
"Apa?" potong Gerald. Sekertaris barunya agak tersentak, tetapi kemudian bernapas tenang saat Gerald meminta maaf. "Maaf, saya sedang banyak pikiran."
"Ah tidak masalah, tapi dari dari informasi yang saya dengar ada pergerakan lain selain merusak properti, karyawan di kita beberapa ada yang jadi target geng tersebut." Adrian selaku sekertaris mengeratkan pegangan pada dokumen.
Gerald mengangguk.
"Hubungi Sandi, nomornya ada di kontak perusahaan. Suruh dia menghubungi saya nanti malam."
"Baik pak!"
Geral melangkah keluar, ia segera mendapati Miranda yang keluar dari mobil dengan payung. Perempuan itu menaiki undakan tangga untuk menjemput Gerald.
"Untuk apa kamu kemari?"
"Anak-anak mau mengajak makan malam, eh, bos tidak keberatan 'kan?" tanya Miranda.
Gerald menggeleng, ia mengambil alih payung dan mendekatkan diri untuk lebih menempel pada Miranda. Keduanya berjalan beriringan menuruni tangga mengabaikan beberapa tatapan pegawai wanita yang agaknya makin sinis.
"Bagaimana harimu?"
Entah Gerald yang tidak berbakat membuka pembicaraan atau apa, tetapi kali ini Miranda agak canggung saat menjawab.
"B-baik-baik saja."
"Yakin?"
Gerald terkekeh saat membuka pintu pengemudi, ia mendorong sedikit agar Miranda segera duduk sementara dia masih berdiri di luar menunggu jawaban.
Perempuan yang biasanya ceplas-ceplos mendadak termangu.
Gerald mendecakkan lidah, ia kemudian melempar tatapan ke si kembar yang membuang muka dan Miranda.
"Anak-anak mengganggumu lagi?"
"Mana mungkin!" seru Miranda. Tatapannya berapi-api seperti biasanya, "Anak-anak lucu sekali bos, mana mungkin membuat masalah."
Gerald meraih sisi rambut Miranda, kemudian sedikit mendekatkan wajahnya.
Miranda berangsur-angsur mundur ke kursi samping kemudi.
"Sekarang aku tau cara mengusirmu dari kursi sopir."
Ada gelak tawa dari anak-anak, si kembar sedikit maju ke depan dan mulai menggoda Miranda.
"Bibi akhirnya kalah," ejek Devinda.
"Bos penjahat akhirnya dikalahkan, Papa memang hebat!!"
Key yang dikira akan tenang juga ikut mengejek, "Papa yes Papa!"
__ADS_1
Gerald menutup payung, kemudian menutup pintu mobil. Dia tersenyum tipis, anak-anak dan Miranda makin lengket hari tiap hari hingga ia merasa bangga bukan main. Begitu menoleh ke arah Miranda, pipi merona perempuan itu yang pertama kali menarik perhatiannya.
Sedangkan anak-anak menunjuk-nunjuk pipi Miranda dengan gelak tawa puas.
"Bibi marah ya?" tanya Revan, tetapi masih seperti orang yang meledek.
"Bibi pasti malu karena pertama kali kalah."
Devinda benar, Miranda memang seperti itu.
Pada fase ini pasti Miranda akan menolak.
"ENAK SAJA, ini karena ... panas," sangkal Miranda. Lihat gelagat bodoh yang lucu itu.
"Padahal ini hujan loh Bi," sahut Devinda.
"Iya maksudku karena dingin!"
Mungkin perdebatan tidak akan selesai jika tidak dihentikan segera, Gerald berdehem sehingga anak-anak kembali ke kursi masing-masing siap menunggu perintah.
"Jangan lupa pakai sabuk pengaman."
"Aye aye kapten!"
Gerald melirik Miranda, perempuan itu sedang memasang sabuk pengaman Key, kemudian beralih ke dirinya sendiri. Kalau boleh jujur, segala hal di diri Miranda bisa disebut lucu.
Bahkan mata yang kini menatapnya terkejut.
"Bos menunggu apa lagi?"
Mobil melaju pelan, di bawah guyuran air hujan yang makin deras fokus Gerald agak terbagi menjadi dua. Kepada jalanan yang ia lalui dan Miranda yang melihat video bayi-bayi lucu di sosial media.
.
.
Revan menepuk-nepuk perutnya yang kekenyangan setelah sampai ke rumah, Devinda bahkan harus menyanggah tubuh saudaranya agar tidak jatuh hingga menggelinding turun.
"Makanya jangan makan banyak," kata Devinda.
Revan cengengesan. "Papa tidak melarang kok."
Yang disebut sedang menggendong Key, Gerald menatap datar Revan membuat anak itu makin terlihat cengengesan.
"Papa, Bibi mana?" tanya Key tiba-tiba.
Benar juga, Gerald segera menurunkan Key. Ia berjalan keluar dan menengok ke sana kemari hingga menemukan sosok Miranda yang berdiri di depan gerbang, berdiri bersama sosok yang kemarin sempat memancing kemarahan singkat Gerald.
Ia secara impulsif mendekati keduanya.
Suara cemas Miranda bisa ia dengar jelas.
"Kamu ini tahan sakit atau apa? sudah tau aku tidak ada kenapa tidak kembali saja?" Miranda terus mengomel, dia memukul lengan Mahes hingga orang yang basah kuyup itu mengaduh.
"Jika aku pergi nanti tidak bisa bertemu kakak, jadi jangan marah ya."
__ADS_1
"Kamu ngomong apa sih? balik sana terus mandi air anget atau aku anterin pulang?"
Mahes tertawa kecil, kepalanya tidak sengaja menoleh hingga menyadari keberadaan Gerald.
"Kalau peluk boleh?"
Miranda berdecak, tetapi juga melebarkan kedua tangannya sesuai permintaan Mahes. Namun, Gerald lebih dulu menarik Miranda mundur.
"Bajumu bisa basah."
Gerald melepas jas kemudian melemparkannya pada Mahes, laki-laki itu menangkap dengan karena reflek. Kemudian melemparkan kembali ke Gerald yang sudah membawa Miranda mundur.
Keduanya sedikit melotot satu sama lain.
Sementara Miranda menarik jas Gerald, berjalan menuju Mahes untuk memberikan jas kepada Mahes.
"Kak."
"Pakai, besok kembali ke sini setelah jasnya di cuci," kata Miranda. Perempuan itu berkacak pinggang. "Dan yang sopan sama majikanku, paham?"
"Tapi kak-"
"Mahes, kamu sudah dewasa jangan seperti anak-anak terus. Cepat pulang dan ganti baju biar kamu nggak sakit, nanti malam kakak telfon buat mastiin kamu nurut atau enggak."
Mahes tersenyum kecut, walaupun pada akhirnya dia mengangguk.
Gerald menyaksikan bagaimana Gerald langsung pergi tanpa banyak berbicara lagi, menurut seperti memang ingin bersikap baik di depan Miranda. Dipikir-pikir, dia juga melakukan hal yang sama.
Ha, agak lucu.
"Aku minta maaf karena perbuatan adikku, bos."
"Tidak masalah, ayo masuk."
Gerald berjalan lebih dulu, tetapi dia memperlambat langkah hingga menyamakan laju jalannya dengan Miranda. Berjalan berdampingan sama sekali tidak buruk.
"Ngomong-ngomong, dia adik kandungmu?"
Tidak ada jawaban, Gerald mulai menyadari sesuatu jika dia tidak sepatutnya menanyakan hal yang sensitif.
"Maaf, kamu tidak perlu menjawab."
Miranda menggeleng lemah, "Aku anak pancingan, bos tau 'kan mitos anak yang diadopsi akan membuat peluang kehamilan makin besar? Mendiang orang tuaku percaya itu dan mengadopsiku, setelah penantian lama Mahes lahir. Dia adik yang paling aku sayangi."
"Dia tau?"
"Mahes tau. Makanya dia selalu bertingkah seenaknya agar aku mengurus dia, dasar kekanak-kanakan."
Pantas saja.
Gerald menyentuh pundak Miranda yang ditepis, ternyata Miranda masih tidak senang dengan sentuhan tiba-tiba.
"Sekarang aku tau kenapa kamu pandai mengurus anak nakal."
"Si kembar tidak senakal itu kok!"
__ADS_1
Gerald tertawa kecil, "Aku sangat tau."