
"Loh, kok nggak ada!" gumam Anna dengan wajah panik. Gadis itu terlihat sedang sibuk membongkar barang-barang di dalam kamarnya hingga tampak seperti kapal pecah.
"Adikmu kenapa?" tanya Dirno pada Denis yang sedang menonton televisi. Ketiganya baru saja selesai menikmati makan malam buatan Anna.
Denis mengangkat bahunya. Baru saja dia hendak berdiri untuk menghampiri Anna di dalam kamarnya, gadis itu sudah muncul di ambang pintu sembari menangis tersedu.
"Loh, kenapa Sayang? tanya Dirno kebingungan. Pria itu bergegas menghampiri putrinya yang kini terduduk di lantai dengan wajah penuh lelehan air mata.
"Kalungku hilang, Yah!" pekik Anna.
"Kok bisa?" Denis lah yang bersuara.
"Nggak tahu!" teriak Anna.
Dirno semakin panik mendengar teriakan putri kecilnya tersebut, sekaligus heran, sebab seingatnya, Anna tidak pernah sekali pun melepaskan kalung itu.
"Apa mungkin kamu pernah melepaskannya?" tanya Dirno hati-hati.
"Nggak pernah Ayah!" jawab Anna lagi. "Aku sudah mencarinya ke mana-mana, tapi tetap saja tidak ada!" sambungnya gadis itu.
Dirno segera memeluk erat sang putri kesayangan dan menenangkannya.
"Sudah, jangan nangis, besok akan Kakak bantu carikan!" ujarnya sembari menghampiri mereka berdua.
"Benar?" tanya Anna yang langsung menatap Denis dengan penuh harapan.
"Iya, benar! Sudah, berhenti menangisnya! Kamu itu semakin jelek kalau menangis, tahu!" Kata-kata Denis sukses membuat Anna berhenti menangis. Dia kontan melempar bantal tidurnya yang tergeletak tak jauh dari sana.
"Nggak usah, kalau nggak niat!" sungut Anna seraya memandang Denis dengan tatapan judes.
Denis tertawa tertawa kecil.
"Sudah, sudah!" Dirno menengahi kedua anaknya. Walau sudah berusia 29 tahun, Denis masih senang sekali membuat Anna kesal. Putranya itu memang masih senang bermain. Itu lah mengapa sampai saat ini dia belum juga mencari pendamping.
"Besok kita cari sama-sama ya?" Dirno mengusap kepala Anna dengan penuh kasih sayang.
Anna mengangguk. "Maafkan aku ya, Yah?" Suaranya masih terdengar bergetar. "Padahal aku berjanji akan selalu menjaga kalung pemberian ibu," sambungnya.
Dirno mengangguk paham. "Tidak apa-apa, ibumu pasti mengerti," jawab Dirno dengan suara nyaris tidak terdengar.
...**********...
Suasana di dalam mobil yang dikendarai Nathan dan Ryan tampak sepi hari ini. Sejak kejadian semalam, mereka berdua memang masih belum saling membuka mulut, kecuali ketika sedang membicarakan pekerjaan.
__ADS_1
Hari ini mereka akan kembali ke Jakarta. Alhasil, niat Ryan untuk mencari alamat pria bernama Dirno tersebut harus dibatalkan. Apa lagi kondisi mereka berdua sedang cukup dingin dan kurang bersahabat.
Ryan menolehkan kepalanya, menatap Nathan yang sedang fokus menyetir. Pria itu kembali mengingat obrolannya dengan Nathan semalam
Siapa sangka, pria ceria seperti Nathan ternyata memiliki masa lalu yang cukup menyayat hati.
Ya, sejak usianya delapan tahun, Nathan harus rela kehilangan ayahnya yang sedang bekerja di luar negeri sebagai TKI.
Saat itu kehidupan Nathan sangat lah memperihatinkan, sebab sang ayah baru saja dipecat dari tempat kerja lamanya.
Mengetahui nasib yang menimpa beliau, seorang teman lama bernama Zaki menawarkan beliau untuk ikut bekerja bersamanya menjadi awak kapal asing di luar negeri.
Setelah berunding lama dan mendapat persetujuan ibu Nathan, sang ayah pun langsung berangkat bersama temannya melalui agen tenaga kerja yang menaungi mereka.
Nathan yang masih sangat belia tentu saja tak bisa melarang keputusan kedua orang tuanya. Terlebih. beliau berjanji hanya akan bekerja di sana selama dua tahun dan pulang ke rumah lalu membuka toko kelontong.
Sejak saat itu, Nathan hanya tinggal berdua dengan sang ibu. Selama hampir dua tahun beliau selalu rutin berkomunikasi dan juga mengirim uang untuk mereka setiap bulan. Namun, dua bulan sebelum kepulangannya, tiba-tiba sang ayah sudah tidak bisa lagi dihubungi. Begitu pula dengan teman yang berangkat bersama dengannya.
Tidak ada yang bisa dilakukan ibunya mau pun kedubes RI negara tersebut, sebab ternyata kedatangan sang ayah tidak pernah tercatat di sana. Bahkan, agen tenaga kerja yang menaungi sang ayah merupakan agen fiktif.
Hingga saat ini Nathan tak pernah bertemu dengan ayahnya. Beruntung, ibunya memiliki mental sekuat baja, dan beliau masih sehat hingga sekarang.
Ryan kini mengerti, mengapa selama ini Nathan tidak pernah menceritakan apa pun soal ayahnya. Dia bahkan lebih pandai menyembunyikan penderitaannya dan hidup biasa-biasa saja, seolah tidak memiliki beban yang berarti.
"Maafkan aku." Nathan tiba-tiba membuka suaranya ketika mobil yang mereka kendarai berhenti di lampu merah.
"Aku yang seharusnya minta maaf," ujar Ryan sembari menatap Nathan penuh penyesalan.
Nathan tersenyum sendu. "Tidak seharusnya aku mencampuri urusan keluargamu, apa lagi sampai melibatkan perasaanku sendiri. "Nathan terlihat mengeratkan tangannya pada kemudi mobil.
Ryan terdiam sejenak. " ... dan tidak seharusnya kau mengajakku bertengkar, sedangkan keluargamu saat ini hanyalah aku dan ibumu."
Perkataan Ryan barusan sukses membuat Aiden tertawa kecil. Suasana di antara mereka kembali menghangat. Selama mereka bersahabat, mereka memang tidak pernah bertengkar lama.
Ryan tersenyum lega mendengar tawa Nathan. Yah, biar bagaimana pun juga, Ryan tidak akan bisa menjalani hidup tanpa pria itu, yang senantiasa mendampinginya selama bertahun-tahun. Apa lagi setelah kehilangan ibunya. Entah bagaimana jadinya bila dia tak pernah bertemu dengan Nathan.
"Terima kasih, Bro," ucal Ryan.
"Untuk apa?" tanya Nathan.
"Karena telah menyadarkanku untuk tidak menyerah."
Nathan tersenyum dan menepuk bahu sahabatnya tersebut dengan penuh kehangatan. "Kita tidak akan menyerah, kan?" tanyanya.
__ADS_1
"Tidak!" Ryan tersenyum simpul lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil, tepat di mana terdapat halte bus di sana.
Tidak seperti di Jakarta, desa ini masih begitu asri dan sejuk. Tak banyak kendaraan bermesin yang lalu lalang di sini, karena mereka lebih suka memakai kendaraan umum untuk berpergian
Ryan menyamankan posisi duduknya, ketika memerhatikan kerumunan kecil orang-orang yang sedang berlalu lalang di depan halte bus.
Senyumnya mengembang, tatkala mendapati seorang nenek yang sedang menggandeng cucunya pulang dari pasar sambil membawa barang belanjaan. Lalu, ada juga seorang bapak paruh baya yang tampak serius membaca koran edisi terbaru di sudut halte.
Bergulir sedikit, Ryan juga bisa melihat dengan jelas seorang gadis cantik yang sepertinya sedang kesal, karena pucuk kepalanya selalu diacak-acak oleh seorang pria muda yang berdiri di sebelahnya.
Tanpa sadar, Ryan terus menatap wajah gadis itu dalam-dalam, hingga mobil kembali bergerak pergi meninggalkan tempat.
"Kau kenapa?" tanya Denis saat mendapati Anna tiba-tiba melamun.
"Tidak. Hanya saja aku merasa seperti sedang diperhatikan," jawab Anna jujur.
Denis mengerutkan keningnya sembari memasang raut wajah menyebalkan. "Nah loh, ada hantu yang mengikutimu kali!"
"Ih, apaan sih!" sungut Anna. "Sudah, nggak usah mulai! Pokoknya Kakak harus membantu mencari kalungku sampai dapat!" sambungnya marah-marah.
Denis tertawa kecil lalu kemudian merangkul Anna dengan penuh sayang. "Baik, baik!" jawab pria itu tanpa beban. Tangannya kembali mengacak rambut sang adik, bermaksud menggoda.
Anna memekik. Mereka sempat berdebat, sebelum akhirnya berhenti karena bus yang mereka tunfgu sudah datang.
...**********...
"Kau melamun?" tanya Nathan yang heran dengan raut wajah aneh Ryan.
"Tidak!" jawab Ryan singkat.
Nathan mendengkus geli. "Wajahmu berbanding terbalik dengan jawabannya. Apa yang yang sedang mengganggu pikiranmu?"
Ryan mengalihkan pandangannya pada Nathan. "Aku hanya merasa seperti melihat seseorang yang sangat familiar." jawabnya.
"Siapa?" Nathan menaikkan alisnya.
"Tidak tahu."
Nathan terdiam sejenak. "Wajar saja, kau sudah bertemu dengan begitu banyak orang. Beberapa di antaranya pasti tampak familiar di matamu, Bro!"
Ryan bungkam, tetap menyetujui perkataan sahabatnya itu.
Entahll lah, untuk saat ini yang harus ada di pikirannya selain Anna hanya lah pekerjaan.
__ADS_1