
Dirno tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tetap egois mempertahankan Anna, setelah mengetahui kisah hidup Angel. Meski Anna telah dibuang secara kejam oleh kakaknya, bukan berarti keluarga Anna yang lain tidak menginginkan kehadiran gadis itu, terutama kedua orang tuanya.
Alhasil, berbekal nama perusahaan tempat Denis bekerja, Dirno mencoba pergi ke sana. Siapa tahu saja dia bisa mendapatkan alamat kantor pusat di mana Ryan berada. Namun, entah ini sebuah keberuntungan atau bukan, pria itu ternyata masih berada di desa ini.
"Tolong sekali, saya ingin bertemu dengan Bapak Ryan," pinta Dirno dengan sopan, sembari berdiri canggung di depan kedua resepsionis kantor.
Kedua wanita yang sedari tadi menolak permintaan Dirno tersebut mulai menunjukkan sikap risihnya. "Pak, Anda harus memiliki janji dengan beliau terlebih dahulu, tidak bisa sembarangan bertemu. Lagi pula, beliau saat ini sedang rapat dan tidak tahu kapan akan usai," ucap salah seorang resepsionis sekali lagi.
"Saya akan menunggu, Mbak! Tolong katakan saja nama saya, Dirno, pasti beliau mau menemui saya."
Kedua resepsionis tersebut saling bertatap-tatapan sejenak, sebelum akhirnya salah seorang dari mereka terpaksa naik ke lantai atas untuk menemui Ryan. Meski Ryan bukan lah pemimpin perusahaan cabang di sini, pria itu tetap lah bos tertinggi yang wajib dihormati dan dilindungi dari orang-orang aneh yang berpotensi mengganggu.
Akan tetapi, saat wanita tersebut memberitahu nama Dirno pada Ryan, raut wajahnya tiba-tiba berubah. Dia bahkan meminta disiapkan ruangn khusus untuk pertemuan mereka.
Setelah menunggu tak sampai lima menit, Nathan turun menemui Dirno atas suruhan Ryan, dan langsung membawa pria itu ke lantai sepuluh lantai tertinggi di sana.
"Maaf jika Bapak menunggu lama," ucap Nathan.
"Saya mengerti," jawab Dirno pelan. Pria yang sebelum-sebelumnya tampak sangar dan sangat membenci mereka, kini berubah menjadi lebih pendiam.
Nathan sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada diri pria itu, termasuk tujuannya datang kemari. Kalau hanya untuk ribut-ribut, Nathan meragukan hal tersebut.
Ketika mereka tiba di lantai sepuluh, Nathan dan Dirno pergi menuju salah satu ruangan tertutup yang biasa dipakai Yuda untuk keperluan pribadinya. Ruangan tersebut mirip seperti kamar dengan ruang tamu dan toilet yang cukup mewah.
__ADS_1
Begitu melihat kedatangan Dirno, Ryan dengan santun mencium tangan beliau.
"Silakan duduk, Pak," ujar Ryan.
Dirno kemudian duduk persis di hadapan Ryan, sementara Nathan duduk di sebelah sahabatnya itu.
Suasana sempat hening sejenak, sebelum akhirnya Dirno mengeluarkan selembar foto dari dalam dompetnya. Foto tersebut merupakan foto yang sama dengan yang ingin dilihat Ryan.
Ryan mengambil foto tersebut dan memerhatikan dengan saksama.
Sedetik kemudian pria itu terkejut bukan kepalang ketika memastikan dengan benar bahwa itu adalah sosok Anna.
"Ini ...."
Mendengar cerita Dirno, Ryan dan Nathan kompak saling berpandangan. Mereka berdua sama sekali tidak mengerti akan apa yang sedang dibicarakan pria tua itu.
"Maksud Bapak apa? Maaf Pak, kami tidak terlalu mengerti." Rasa penasaran membuat Ryan sontak mengajukan pertanyaan.
Dirno menghela napasnya terlebih dahulu, sebelum kemudian melanjutkan ceritanya. "Anna ... kehilangan ingatannya ... permanen."
Ryan terkesiap, begitu pula dengan Nathan.
"Sehari setelah kecelakaan terjadi seharusnya Anna dirujuk ke rumah sakit lebih besar untuk melakukan perawatan lebih lanjut, tetapi saya yang hanya seorang pengamen jalanan tidak mampu melakukannya."
__ADS_1
Ryan tak mampu berkata-kata. Pria yang semula terduduk tegap di sofa, kini tampak limbung jika saja Nathan tidak sigap menahannya.
"Entah ini saling berhubungan atau tidak, mungkin saja jika saya memiliki uang lebih banyak, Anna tidak akan mengalami hal seperti ini." Suara Dirno mulai bergetar. Matanya bahkan telah basah.
"Perasaan bersalah tentang bagaimana saya yang tidak mampu membawa Anna ke dokter, selalu menghantui setiap malam. Namun, ketika saya mengingat kembali bagaimana mobil hitam itu dengan kejam meninggalkannya sendirian di sana, membuat saya berpikir, bahwa tindakan saya adalah benar. Anna tidak diinginkan! Jadi, saya memutuskan merawatnya dan melimpahkan kasih sayang pada gadis itu, seolah dia adalah putri yang tidak pernah saya miliki." Dirno tertunduk dan menghapus setitik air mata menggunakan ujung bajunya.
Ryan hanya bisa mematung menatap Dirno dengan penuh tanda tanya dan juga kemarahan. Dia ingin menyemburkan segala emosinya, tetapi pria itu sadar diri bahwa dia lah pemicu kejadian tiga belas tahun silam.
"Kenapa Bapak tidak melaporkan soal Anna kepada polisi?" Nathan lah yang akhirnya mengajukan pertanyaan pada Dirno.
Dirno mengangkat kepalanya dan menatap Nathan. "Saya seorang mantan residivis semasa muda dulu. Menikah dengan ibu Denis adalah pintu kehidupan saya yang baru. Kendati saya pernah menolong pihak berwajib dengan imbalan penghapusan catatan kriminal terberat yang saya miliki, tetap saja rasa trauma berhubungan dengan mereka menjadi momok tersendiri."
"Kalau begitu, biarkan Anna tahu semuanya! Katakan yang sebenarnya!" titah Ryan kemudian.
Dirno terdiam sejenak, lalu memohon pada mereka untuk tidak mengambil Anna darinya. Pria itu bukannya tidak ingin mengembalikan Anna, tetapi dia hanya belum siap Anna mengetahui segalanya.
"Anna adalah gadis yang rapuh. Dia pernah menangis selama berminggu-minggu setelah kematian kucing kesayangannya. Jadi, tolong berikan dia waktu. Biarkan Anna menemukan sendiri memorinya dulu," pinta Dirno dengan raut wajah memelas.
Mendengar itu, Ryan terlihat emosi. "Bapak bilang, hilang ingatan yang diidap Anna permanen? Jadi, bagaimana bisa dia mengingat semuanya bila kita tidak membawanya ke rumah sakit untuk memastikan sendiri?"
"Bro, tenanglah!" Nathan berusaha menenangkan Ryan yang napasnya mulai naik turun.
"Tolong, saya tidak sanggup melihat bagaimana reaksi Anna. Anna juga pasti tidak akan memercayai karena sama sekali tidak memiliki memori tentang masa lalunya."
__ADS_1
Ryan bersandar lemas di sofa. Pria itu memegang kalung Anna yang kini sedang dipakainya.