LOST (Anna)

LOST (Anna)
Bab 14. Pertemuan dengan Dirno.


__ADS_3

Ryan, Nathan, dan juga Bowo diperkenankan menyantap makanan bersama seluruh penghuni panti. Suasana hangat dan menyenangkan tercipta, meski tidak dirasakan dengan Ryan.


Ryan bukan tidak menyukai keberadaannya di sini. Dia hanya terlalu fokus memerhatikan gadis bernama Anna tersebut.


Seumur hidup, dia sudah mengenal banyak gadis bernama sama dengan sang adik, hanya saja baru kali ini dia begitu penasaran dengan gadis tersebut.


Setelah acara makan pagi mereka selesai, Ryan, Nathan, dan Bunda Laila sempat membahas beberapa laporan keuangan panti, sebelum bergabung kembali dengan anak-anak.


Mereka mulai membentuk kelompok masing-masing dengan Ryan, Nathan, dan Bowo sebagai pimpinannya.


Bowo yang pendiam bahkan mengeluarkan bakat melukisnya yang tidak oernah diketahui siapa pun. Dlaam sekejap, kepopuleran putra Tyo tersebut melejit.


Pukul dua siang, Bude Maya dan Anna pun meminta Anak-anak untuk tidur siang terlebih dahulu sebelum melanjutkan hari kembali, sekaligus memberikan waktu pada ketiga pria itu untuk beristirahat.


"Silakan, Pak!" Anna tiba-tiba datang menghampiri Ryan yang sedang duduk sendirian di pelataran panti, sembari membawa segelas es teh.


"Saya tidak memintanya," ujar Ryan tak enak hati.


Anna tersenyum malu. "Saya memang berinisiatif membuatkannya untuk Bapak. Kalau Bapak tidak suka juga tidak apa-apa," kata gadis itu.


"Terima kasih banyak." Ryan mengambil gelas tersebut dan menandaskan setengah isinya. Rasa dingin langsung menyegarkan tenggorokan Ryan, apa lagi cuaca hari ini cukup panas.


"Anak-anak benar-benar merindukan Anda," ucap Anna kemudian.

__ADS_1


"Saya juga merindukan mereka. Sudah beberapa minggu saya memang belum kembali ke sini karena kesibukan," jawab Ryan.


"Pantas, mereka begitu rusuh tadi." Anna tertawa kecil.


Obrolan-obrolan ringan pun tiba-tiba bergulir dari keduanya. Termasuk perkenalan Anna dan Nathan yang membuat Ryan penasaran.


Anna yang entah bagaimana menikmati obrolan mereka, akhirnya menceritakan juga beberapa pertemuan kebetulan gadis itu dengan Nathan, termasuk di rumah lamanya.


Ryan terkesiap. "Jadi, kamu anak dari Pak Dirno?" tanyanya kemudian.


"Iya, Pak. Bapak kenal ayah saya?" Anna yang heran dengan raut wajah Ryan, kembali bertanya.


Ryan terdiam sejenak. Mungkinkah kita


Jantung pria itu berdegup sangat keras. Inikah mengapa Ryan begitu penasaran dengan sosok Anna? Pasalnya, secara kebetulan mereka akhirnya bisa bertemu dengan salah satu anggota keluarga Dirno.


"Anna, kalau boleh saya tahu, siapa nama lengkapmu?"


"Nama lengkap saya, Annazkia Ibrahim, Pak!" jawab Anna tanpa pikir panjang.


Harapan Ryan yang semula mengembang, kini redup seketika ketika mendengar nama tersebut. Rupanya nama Anna hanya lah penggalan nama lengkapnya. Nama gadis itu juga sangat berbeda dengan nama sang adik.


"Kapan-kapan, boleh saya bertemu dengan ayahmu, Anna?"

__ADS_1


Anna menganggukkan kepalanya lalu tersenyum tipis. "Dengan senang hati, Pak."


Ryan memejamkan matanya sejenak, saat menyadari garis senyum Anna sama dengan milik adiknya yang hilang.


Tidak! Dia tidak boleh seperti ini! Satu-satunya hal yang harus Ryan lakukan saat ini adalah bertemu dengan Dirno. Bila Dirno ternyata tidak mengetahui apa pun soal sang adik, Ryan terpaksa harus menghentikan pencarian karena tidak lagi memiliki petunjuk.


...**********...


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, ketika Ryan dan Nathan memilih bersantai di halaman belakang panti.


Ryan lah yang mengajak Nathan ke sana untuk berbincang-bincang sejenak. "Apa ada hal yang ingin kau katakan padaku, Nat!"


Nathan terdiam selama beberapa saat. "Anna bilang padamu ya? Maaf, Bro, bukan maksudku untuk menyembunyikan fakta bahwa dia adalah anak Pak Dirno, hanya saja aku hendak memastikannya lebih dulu," ujar Nathan.


"Memastikan apa? Apa menurutmu, dia adalah Anna yang kita cari?" tanya Ryan.


Nathan mengembuskan napasnya. "Bukan begitu juga. Aku hanya ... tidak ingin kau merasa terbebani dengan ini. Melihatmu rapuh setiap kali gagal menemukan Anna, membuatku enggan memakai cara lama. Itu lah mengapa, aku memilih untuk memeriksanya sendiri dulu."


Suasana di antara mereka tiba-tiba dingin. Tidak ada yang saling berbicara selama beberapa saat, sebelum akhirnya Nathan kembali bersuara.


"Maaf, Bro," ucap Nathan.


"Tidak apa-apa." Jawab Ryan.

__ADS_1


"Lalu, bagaimana selanjutnya?" tanya Nathan pada Ryan.


"Besok kita akan menemui Pak Dirno."


__ADS_2