
Ryan dan Nathan tampak berdiri di depan sebuah rumah kecil yang kondisinya sudah tidak layak huni. Bangunan tersebut berada di dalam sebuah gang sempit pinggiran kota.
Pagi tadi mereka pergi ke taman bermain tempat di mana dulu Anna ditinggalkan.
Mengingat bagaimana kronologisnya dulu, Nathan berinisiatif menemui pesulap jalanan yang juga sedang berada di sana pada hari kejadian. Namun, sayang, pesulap jalanan tersebut sudah tidak lagi bekerja di sana.
"Mereka adalah pekerja lepas. Pihak taman bermain memang mengizinkan mereka untuk mengais rezeki di sini. Setelah kejadian kecelakaan tersebut, mereka sempat tidak kembali ke sini berbulan-bulan, dan tahun lalu mereka memutuskan berhenti total karena telah mendapatkan pekerjaan baru."
"Mereka sempat melakukan atraksi terakhir di sini beberapa waktu lalu. Katanya sih, sekalian pamit pindah rumah. Entah sekarang sudah pindah atau belum, kalian bisa mengeceknya sendiri."
Kini harapan satu-satu Ryan adalah para pesulap jalanan tersebut, sebab menurut salah seorang security, mereka ikut mengantar Anna saat dibawa ke rumah sakit.
"Kalau tidak salah lihat sih, begitu, Pak. Hanya setelah saya bertanya pada mereka, mereka bilang tidak. Jadi saya tidak tahu pasti."
Nathan kembali memastikan alamat rumah tersebut dengan bangunan tak layak huni ini. "Memang ini rumahnya," ucap Nathan pada Ryan.
Ryan menatap nanar rumah tersebut. Tidak bisa dibayangkan betapa beratnya perjuangan para pesulap jalanan tersebut untuk tinggal dan memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Pria itu kemudian melangkahkan kakinya lebih dekat menuju sebuah jendela berukuran sedang, yang bagian sudutnya telah pecah.
Dari lubang jendela tersebut, Ryan bisa melihat bagian dalam rumah yang telah kosong tidak berpenghuni. Namun, Ryan bisa melihat sebuah kardus yang tergeletak malang di sudut ruangan.
"Bro!" panggil Nathan seraya memainkan pegangan pintu yang ternyata tidak dikunci.
Setelah menimbang-nimbang sesaat, mereka pun sepakat memasuki rumah kosong tersebut.
Tidak seperti penampilannya yang cukup menyedihkan, rumah kecil tersebut tampak sangat bersih dan wangi. Mereka bahkan tidak menemukan setitik pun debu di sana.
Ryan berjalan menuju kardus yang sebelumnya dia lihat, lalu membukanya.
Tidak ada hal spesial di dalamnya. Hanya ada beberapa barang tidak terpakai yang mungkin sengaja ditinggalkan penghuni rumah.
Sementara Ryan sedang sibuk memeriksa kardus, Nathan memilih menjelajahi dapur kecil yang berada tepat di sebelah ruangan. Di sana, dia menemukan secarik kertas kecil yang tertempel di atas meja kompor.
__ADS_1
Selamat tinggal kakek rumahku yang manis. Kamu akan selalu ada dalam ingatan kami.
Nathan mengembangkan senyumnya saat membaca catatan tersebut.
Saat Ryan hendak menghampiri Nathan, tiba-tiba ponselnya kembali berbunyi. "Aku angkat telepon dulu," ujarnya pada Nathan.
Nathan mengangguk setelah itu beranjak dari dapur dan melangkah menuju kamar mandi.
Kamar mandi yang dimiliki rumah itu sangat kecil. Bahkan tergolong sempit jika dimasuki olehnya yang memiliki tinggi nyaris 180 centimeter. Mendati demikian kamar mandi tersebut sama rapi dan wanginya dengan ruangan lain.
Para penghuni rumah benar-benar telaten merawatnya, kendati dalam kondisi memperihatinkan.
"Bro!" panggil Ryan. "Aku harus pergi ke kantor sekarang. Kau tetaplah di sini dulu, siapa tahu saja ada petunjuk kecil soal mereka. Jangan lupa juga untuk menanyakan tetangga di sekitar sini," sambungnya.
Nathan mengangguk. "Baiklah, aku mengerti." Dia melempar kunci mobilnya pada Ryan.
Ryan berjalan keluar dari gang sempit tersebut, menuju mobilnya yang terparkir di seberang jalan. Tanpa diketahui Ryan, seorang gadis baru saja masuk ke dalam gang sempit itu.
"Iya Bude, aku masih jaga toko sekalian pamitan hari terakhir."
Nathan mengerutkan keningnya saat mendengar suara seorang gadis yang sedang pertanyaan tersebut.
"Oh, pantas. Omong-omong, ada apa? Apa ada barang yang tertinggal?"
"Iya Bude, aku masuk dulu ya?"
"Oke. Sampaikan salam Bude untuk ayah dan kakakmu ya, Ann?"
"Baik, Bude!"
Mendengar percakapan tersebut, Nathan buru-buru menutup kamar mandi untuk menyembunyikan diri.
__ADS_1
.
"Loh, pintunya terbuka? Perasaan sudah kututup rapat." Anna memandang heran pada pintu rumahnya yang sudah terbuka lebar. Gadis itu segera masuk untuk memeriksa keadaan di dalam sana.
Nihil. Hanya ada sebuah kardus yang memang sengaja dia letakkan di sudut ruangan.
Entahlah, mungkin pintu tersebut terbuka oleh angin. Maklum saja kuncinya sudah rusak total.
Anna menghampiri kardus tersebut dan membawanya untuk dijual. Lumayan uangnya bisa dia pakai untuk ongkos bus.
"Ayo, barang-barang kesayanganku, kalian harus ditukar dengan sejumlah uang," ujar Anna dengan nada riang sembari menepuk-nepuk kardus dalam dekapannya itu.
Nathan tersenyum mendengarnya. Dia yakin bahwa gadis itu adalah penghuni rumah ini.
Mengetahui hal tersebut, Nathan bergegas hendak keluar dari toilet untuk menemui sang gadis. Namun kemudian, dia mengurungkan niatnya.
Apa jadinya bila gadis itu mendapati seorang pria asing berada di dalam rumahnya. Nathan pasti akan diteriaki oleh gadis itu.
Tak ingin menimbulkan kekacauan, Nathan memilih tetap berada di dalam.
**********
"Gadis pemilik rumah itu datang saat kau pergi." Nathan membuka percakapan. Mereka sedang mengobrol di ruang kerja Ryan sembari menunggu pesanan makan siang datang. Pekerjaan yang menumpuk membuat Ryan enggan angkat kaki dari ruangannyameski hanya untuk sekadar makan siang.
"Apa kau menemuinya?" tanya Ryan.
"Tentu saja tidak! Posisiku sedang berada di dalam rumah. Apa jadinya bila aku tiba-tiba muncul? Bisa-bisa ia akan meneriakiku dan memanggil tetangga!" seru Nathan.
Ryan mendengkus.
"Eh, tapi aku berhasil mendapatkan informasi dari tetangganya, bahwa mereka pergi ke daerah Jawa Tengah. Aku akan mencoba mencari alamat rumah baru mereka."
__ADS_1
Ryan terdiam sejenak lalu menganggukkan kepalanya. Entah mengapa dia ingin sekali menemui para pesulap jalanan tersebut. Mungkin saja mereka bisa memberikan petunjuk pasti soal Anna.