LOST (Anna)

LOST (Anna)
Bab 18. Rencana Ryan.


__ADS_3

Ryan bangun dari tidurnya dalam keadaan sedikit linglung dan pusing. Selembar handuk kecil jatuh dari dahinya begitu dia terduduk. Pria itu kemudian menatap jam dinding kamar yang ternyata sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.


"Sudah bangun rupanya," ujar Nathan yang baru memasuki kamar Ryan. Di tangannya terdapat nampan berisi semangkuk bubur ayam dan air putih hangat.


"Makan dulu, tidak usah pakai drama!"


Ryan tidak menjawab dan hanya menuruti perintah Natha. Pria itu pun mulai menyantap makanannya dengan ogah-ogahan. Namun, begitu suapan pertama berhasil tertelan, Ryan dengan semangat menyantap bubur tersebut hingga tandas tak tersisa.


Nathan tertawa kecil melihat tingkah Ryan yang ternyata kelaparan. Bagaimana tidak, nyaris seharian dia memang tidak menyantap apa pun.


Setelah makan dam meminum obat dari dokter, Nathan kembali menyuruh Ryan untuk beristirahat. "Jangan masuk kantor dulu, aku yang akan menghandle semua," ucap Nathan.


Ryan tidak menolak karena kepalanya memang masih terasa pening. Saat akan kembali merebahkan diri, sorot matanya tanpa sengaja menangkap kembali potret Anna.


Kali ini Ryan tidak mengindahkan foto tersebut dan membiarkannya saja tergeletak di atas nakas.


...**********...


Sementara itu suasana pagi di rumah Anna, Dirno, dan Denis tampak memanas. Anna tidak memerdulikan teriakan ayahnya yang menyuruh gadis itu untuk tidak bekerja, dengan tetap berangkat ke panti, sedangkan Denis mau tidak mau membela Anna.


Setelah semalaman berpikir, seperti Denis memiliki pendapat lain soal masalah ini. Namun, belum sempat dia mengutarakannya, sang ayah sudah naik pitam.


Pertengkaran pun pecah seketika. Denis yang tidak tahan akhirnya berkata jujur tentang tempat kerjanya.


"Yah, aku juga bekerja di Cetta Corp. Apa Ayah tidak ingat nama perusahaan tempatku bekerja?" ujar Denis seraya mengerling lemari kaca yang berada di sudut ruangan, tempat di mana Denis berfoto di depan kantor Cetta Corp saat pertama kali masuk kerja.


Dirno tersentak kaget. Dia benar-benar lupa nama kantor tempat sang putri bekerja. Pria itu kemudian membiarkan dirinya terduduk di lantai.


"Yah!" Denis menahan tubuh Dirno.


"Yah, aku tahu ketakutan Ayah akan kehilangan Anna. Aku pun demikian. Apa lagi Anna hilang karena ulah keluarganya sendiri. Namun, biar bagaimana pun keadaan Anna sekarang, dia tetap memiliki keluarga."


"Lalu, kamu akan membiarkan Anna diambil oleh mereka? Anna hilang ingatan, Denis!" seru Dirno.

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak akan pernah sudi menyerahkannya! Namun, kalau dipikir-pikir semua kejadian yang kita alami pasti merupakan campur tangan dari Allah. Allah lah yang menginginkan kita untuk mengembalikan Anna."


Mendnegar hal tersebut, Dirno sontak melotot.


Denis segera menenangkannya. "Tidak usah berputar-putar, kamu memang ingin melepaskan Anna, kan?"


Helaan napas keluar dari mulut Denis. Dia pun dengan sabar menjelaskan maksudnya.


"Ryan dan Nathan sudah mengetahui soal Anna dan keluarga kita. Mereka juga sudah melihatnya sendiri. Kalau memang mereka percaya, mereka pasti tidak akan pernah kembali lagi dan itu tandanya kita tidak akan kehilangan Anna."


"Kalau tidak?" tanya Dirno dengan tatapan sengit.


Denis terdiam sejenak. "Kalau tidak percaya, mereka pasti akan berusaha mencari tahu. Saat itu lah kita biarkan semua mengalir apa adanya. Toh, Anna sendiri tidak pernah mengingat kehidupan lamanya. Jadi, apa yang harus dikhawatirkan?"


"Bagaimana kalau Anna berhasil mengingat masa lalunya?"


Denis menggelengkan kepala. "Tidak mungkin. Ayah tahu sendiri amnesia yang dialami Anna permanen. Dia tidak akan mampu mengingat segalanya, terkecuali kita!" jawab Denis dengan nada meyakinkan.


Dirno bungkam. Matanya sontak berkaca-kaca. "Ayah sangat menyayangi Anna. Antara kamu dan Anna, kasih sayang yang Ayah berikan sama besarnya, Den. Ayah tidak sudi jika Anna kembali pada keluarga jahat seperti itu," ucap pria itu lirih.


Keduanya pun tak lagi terdengar berbicara.


...**********...


Beberapa hari kemudian.


"Kau gilla!" sentak Nathan begitu mendengar permintaan konyol yang terlontar dari mulut Ryan. Pasalnya, pria itu dengan mudah meminta Nathan untuk memindahkan mereka ke kantor cabang agar bisa mengawasi Anna, atau yang paling gila adalah memindahkan panti asuhan tempat Anna bekerja ke jakarta, supaya gadis itu bisa ikut kemari.


"Apa yang membuatmu yakin bahwa Annazkia, adalah adikmu, Anna?" ujar Nathan sembari menekankan nama lengkap Anna padanya.


"Fotonya yang ingin aku lihat kemarin, dan sikap Pak Dirno. Aku juga akan mencoba mencuri beberapa sampel bagian tubuhnya untuk test DNA!"


Nathan memijat keningnya yang mulai berdenyut. Dia pikir, setelah sembuh dari sakit, Ryan akan kembali seperti semula. Namun, perkiraannya ternyata salah. "Kau benar-benar gillaa, Yan!"

__ADS_1


"Wajar saja Pak Dirno marah dan tersinggung, karena kau, tanpa permisi menuduhkan sesuatu hal yang tidak masuk akal, Bro! Anna jelas-jelas anak dari Pak Dirno!"


"Tapi gadis itu tidak pernah dibawa ke taman bermain!"


"Ya, karena Anna masih kecil!" sahut Nathan kesal.


Ryan melempar bolpoin yang dia gunakan, ke dinding hingga pecah. "Kau menyuruhku untuk tidak menyerah, kini setelah aku benar-benar tidak menyerah, kau malah bersikap breenggssek seperti ini, Nat!"


Nathan sontak terdiam. Pria itu bangkit dan berjalan menuju Ryan. "Aku memang menyuruhmu untuk terus mencari, tetapi tidak dengan mencurigai keluarga orang lain."


"Nathan Hendrawan Wibisono, tolong bantu saya memilih salah satu dari apa yang saya katakan tadi


Nathan menghela napas pasrah. Kalau Ryan sudah mengubah gaya bicaranya seperti ini, itu berarti hubungan mereka sekarang hanya sebatas atasan dan bawahan saja, dan sebagai bawahan, dia harus menuruti semua perkataan bosnya.


"Baik, Pak!"


...**********...


Setelah memikirkan masak-masak, Nathan tidak memilih keduanya dan mengusulkan hal lain, yaitu mengangkat CFO kantor untuk sementara waktu sampai dia kembali, dan mengangkat Tyo sebagai CFO.


Ryan sendiri tetap akan bekerja dengan membantu Tyo dari jauh. Dia juga masih memegang beberapa hal krusial lainnya, seperti meeting-meeting besar di kantor mau pun dengan klien VIP.


Ryan tentu saja menyetujui usulan Nathan tersebut. Memang akan sangat merepotkan memindahkan panti atau pun pindah tempat bekerja, apa lagi kalau hanya beberapa waktu saja.


Tyo yang semula menolak tegas tawaran Ryan akhirnya luluh, ketika mengetahui alasan sebenarnya.


Sembari memegang janji untuk tidak membocorkan apa pun pada orang lain, Tyo berdoa semoga Anna benar-benar ditemukan oleh mereka.


Kini Ryan dan Nathan hanya perlu mencari tempat tinggal. Nathan menolak mentah-mentah saat Ryan mengusulkan untuk membeli rumah di komplek yang sama dengan Anna.


"Pak Dirno tidak akan tinggal diam, Yan, dan aku jamin kau malah akan kehilangan mereka selamanya!"


Ryan hanya bisa pasrah dan menyerahkan semuanya pada sahabat sekaligus sekretarisnya tersebut.

__ADS_1


"Ah, bagaimana dengan ibumu?" tanya Ryan.


"Tidak apa-apa. Aku sudah mengatakan padanya. Paling aku akan sering-sering pulang untuk menjenguk." Jawab Nathan. Beruntung ibunya tinggal tak jauh dari kediaman beberapa kerabat. Nathan juga menyewa sepasang suami istri yang sangat dia kenal, untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga dan penjaga rumah untuk menemani beliau.


__ADS_2