LOST (Anna)

LOST (Anna)
Bab 25. Arti keluarga.


__ADS_3

"Loh, Kakak masih di rumah? Bukannya hari ini long shift?" Anna yang baru saja keluar dari kamar sedikit tercengang, ketika mendapati Denis masih bersantai di rumah hanya dengan memakai kaos oblong dan celana pendeknya.


"Kamu libur, kan? Hari ini Kakak juga ambil libur. Kita jalan-jalan, yuk? Kayaknya sudah lama kita tidak melakukannya semenjak bekerja," ujar Denis tanpa basa-basi. Meski senyum lebar terpatri di wajah pria itu, tapi Anna bisa merasakan sesuatu hal yang sedikit berbeda dari sang kakak, entah apa itu.


"Tumben sekali. Kemarin-kemarin Kakak sulit sekali diajak pergi bareng. Pasti bilangnya selalu capek dan ingin menikmati hari libur dengan rebahan di rumah saja!" celetuk Anna.


Denis mengacak rambut Anna gemas. "Itu kan, kemarin-kemarin, sekarang beda lagi."


"Ih, kebiasaan banget, sih!" seru Anna kesal dengn keisengan Denis. Namun, kendati demikian, Anna tahu bahwa keisengan tersebut merupakan bentuk kasih sayang Denis padanya.


"Oke, nanti siang kita jalan-jalan keluar. Kakak harus traktir aku ya?" todong Anna.


Denis mengacungkan jempolnya sebelum kemudian kembali mengacak rambut sang adik dengan penuh sayang. Tanpa diketahui Anna, sorot mata pria itu terlihat sangat sendu.


...**********...


Tempat pertama yang Denis dan Anna kunjungi hari ini adalah pantai, tempat yang sebenarnya sudah lama diidam-idamkan Anna. Meski kota kecil mereka memiliki wisata alam dan dianugerahi beberapa pantai, tetapi gadis itu belum pernah sekali pun pergi ke sana.


Suasana pantai saat Anna dan Denis tiba tidak terlalu ramai. Mungkin karena hari ini bukan lah hari libur. Namun, itu sama sekali tidak mengurangi perasaan senang Anna untuk menikmati suasana liburannya kali ini. Bahkan, dia merasa bersyukur karena bisa lebih bebas mengeksplor tempat tersebut.


Setelah menggelar tikar dan meletakkan keranjang berisi bekal makan siang mereka, Anna langsung membuka sepatu dan menggulung celana panjangnya sebatas lutut, untuk kemudian berlari menuju air laut. Smeentara Denis memilih berdiam diri sejenak di sana.


"Kak, sini!" titah Anna.


"Nanti dulu. Baru sampai juga sampai!" sahut Denis sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Anna mengangkat bahunya lalu kembali bermain air, sementara Denis memerhatikan gadis itu dari jauh.


Segenggam perasaan takut tiba-tiba muncul, ketika dia kembali mengingat pembicaraannya dengan sang ayah waktu lalu.


Ya, perasaan takut akan kehilangan Anna, adik perempuan yang sangat dicintainya. Rasa sayang yang dimiliki Denis bahkan sering membuatnya lupa, bahwa Anna bukan lah adik kandungnya.

__ADS_1


Akan tetapi, ada satu hal yang paling ditakuti Denis saat ini, yaitu reaksi Anna bila gadis itu mengetahui fakta yang sebenarnya, karena cepat atau lambat terlepas amnesia yang dilimilikinya, Ryan pasti akan memberitahu Anna.


Bisakah dia mencegah hal tersebut agar tidak sampai terjadi? Entah lah. Satu sisi dia bahkan ingin membawa pergi Anna jauh dari sini, tetapi di sisi lain, dia tak ingin terus hidup dalam kebohongan.


"Kak!"


Denis tersentak mendapati Anna ternyata telah duduk di sebelahnya sembari menikmati sebotol lemon dingin yang mereka bawa.


"Kenapa melamun? Aku perhatikan sejak tadi, Kakak kayaknya kurang menikmati liburan kita? Kenapa? Kalau memang tidak suka harusnya tidak perlu ke mana-mana, kan?" ujar Anna.


Denis menegakkan posisi duduknya. "Bukan. Aku hanya sedikit memikirkan pekerjaan saja."


Anna mengerutkan keningnya. "Memangnya kenapa dengan pekerjaan?" tanyanya penasaran.


Denis sontak mengacak rambut Anna sambil mendengkus. "Mau tahu aja kamu! Dari pada itu, ada satu hal yang mau aku tanyakan," katanya kemudian.


"Apa?" Anna tampak antusias hingga mengubah posisi duduknya menghadap sang kakak.


"Bagimu apa arti keluarga?"


"Kenapa?" tanya Denis heran.


"Ck, ada apa sih, dengan kalian? Kok, tumben-tumbenan menanyakan hal-hal aneh padaku!" kata Anna bersungut-sungut.


"Kalian?" Denis mengerutkan kening.


"Ya. Sebelumnya Pak Ryan juga menanyakan hal yang hampir sama. Tepatnya soal arti kalung ini bagiku!"


Denis mengangkat alisnya tinggi-tinggi. "Kalungnya ada padamu?" tanyanya.


"Iya, Dua hari lalu dia mengembalikannya padaku. Ah, sudah, jangan bicarakan dia! Jadi, kenapa Kakak tiba-tiba bertanya hal aneh begitu?" Anna memicing, menatap Denis dalam-dalam seolah sedang berusaha mengorek sesuatu yang dia sendiri tidak tahu.

__ADS_1


Mendapatkan tatapan demikian dari Anna, Denis sontak salah tingkah. Demi menghilangkan kecurigaan, dia pun mengarang jawaban. "Tidak. Aku hanya sedang memikirkan tentang temanku saja. Dia baru mendapati kabar bahwa dirinya bukan lah anak kandung di keluarga."


Anna terkesiap lalu memandang Denis penuh perihatin. "Malang sekali. Kenapa bisa?" tanya gadis itu.


"Entah bagaimana awalnya, yang jelas dia baru saja diberitahu kalau dia bukan lah bagian dari keluarga itu."


"Lalu, apa hubungannya dengan arti keluarga yang Kakak maksud?" Anna mengerutkan keningnya.


"Karena bagiku, keluarga bukan hanya sekadar pertalian darah saja, melainkan lebih dari itu." Denis mengalihkan pandangannya pada Anna. "Jadi, apa arti keluarga bagimu, Anna? Dan, bagaimana bila kamu menjadi temanku?"


Anna terdiam. Entah mengapa, begitu melihat sorot mata Denis, Anna merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


"Keluarga adalah segalanya bagiku, dan jika aku berada di posisi teman Kakak, mungkin awalnya aku akan sangat kecewa dan banyak menangis. Namun, yang Kakak bilang benar, 'keluarga bukan hanya sekadar pertalian darah saja'."


Suasana sempat hening sejenak.


"Kamu tidak marah pada mereka karena telah menyembunyikan semuanya?" tanya Denis lagi.


Anna menghela napasnya lalu memandang hamparan air laut dengan mata menerawang. "Mungkin sedikit marah. Wajar saja, sebab aku hanyalah manusia biasa yang menyimpan banyak emosi."


"Jadi kesimpulannya?" Denis tampak penasaran dengan jawaban Anna selanjutnya.


Anna tentu saja terheran. "Kesimpulan apa? Kakak ini aneh sekali, sih!"


"Ya kesimpulannya ... kamu akan kembali ke keluarga aslimu atau tetap bersama keluarga angkatmu?"


Anna memeluk kedua lututnya lalu meletakkan dagu di sana. "Aku tinggal bersama keluargaku yang sekarang. Rasanya jahat sekali bila aku egois meninggalkan mereka hanya karena tidak memiliki ikatan darah yang sama. Padahal mereka telah merawatku hingga sampai seperti ini."


Mendengar jawaban Anna, Denis lantas berdiri dari posisinya dan berjalan pergi.


"Kak, mau ke mana?" teriak Anna ketika mendapati tingkah aneh sang kakak.

__ADS_1


"Toilet!" jawab Denis tanpa berpaling.


Anna sama sekali tidak mengetahui air mata yang kini mengalir membasahi pria berusia dua puluh sembilan tahun tersebut.


__ADS_2