LOST (Anna)

LOST (Anna)
Bab 26. Permintaan Ryan.


__ADS_3

Hujan baru saja selesai mengguyur desa kecil ini. Bau tanah yang bercampur dengan presipitasi cair tersebut menguar berembus terbawa angin. Kendati demikian, cuaca masih tampak gelap nan sendu, meski waktu baru menunjukkan pukul tiga siang.


Cuaca sendu tersebut tampak berkesinambungan dengan keadaan di dalam rumah sederhana milik Dirno, pria yang seharusnya sudah memasuki usia pensiun tersebut. Pria yang seharusnya sudah tidak boleh memikirkan banyak hal berat, dan pria yang seharusnya sudah bisa menikmati hidup dengan bersantai di rumah.


Akan tetapi, Dirno merupakan tipe pria pekerja keras yang pantang menyerah. Masa lalunya sebagai narapidana membuat Dirno berjanji untuk memperbaiki diri demi keluarga. Alhasil, beliau tumbuh menjadi pria bertanggung jawab yang gemar bekerja.


Baginya, selagi tubuh masih mampu bergerak bebas, dia akan terus bekerja mencari uang. Namun, tidak demikian dengan pikirannya.


Kasih sayang Dirno kepada dua putra putrinya (terutama Anna), membuat pria itu sangat amat takut kehilangan. Dirno begitu menyayangi Anna. Dia lah penghibur yang hadir di tengah-tengah keluarga setelah kepergian sang istri tercinta. Namun, Dirno juga tidak boleh memungkiri, bahwa Anna bukan sepenuhnya bagian dari keluarga mereka.


Anna hanyalah seorang gadis asing terbuang yang dia rawat dengan penuh cinta ... dan kini keluarganya dengan penuh penyesalan meminta gadis itu untuk kembali.


Dirno hanya bisa terpaku memandangi Ryan yang sudah hampir setengah jam tidak bergerak dari posisinya.


Pria dengan segudang harta dan wibawa tersebut kini sedang bersimpuh di hadapan Dirno dengan wajah tertunduk.


Pintanya hanya satu, yaitu membawa Anna kembali ke Jakarta.


Ryan tidak mungkin terus-terusan berada di tempat ini, sebab dia memiliki banyak tanggung jawab di tempat tinggalnya. Namun, Ryan juga enggan meninggalkan Anna begitu saja.


Itulah mengapa dengan segala kerendahan hati, Ryan berniat memindahkan pekerjaan Anna dari panti ke kantornya di Jakarta, sekaligus untuk memancing ingatan Anna. Ryan ingin Anna bisa kembali menjadi adiknya yang dulu.

__ADS_1


"Anda telah membuang Anna," ujar Dirno dingin. Meski matanya memandang bengis ke arah Ryan, tetapi hati pria tua tersebut sebenarnya teriris. Hati orang tua mana yang rela bila putri kecilnya akan diambil?


"Saya tahu," jawab Ryan tanpa mengangkat kepalanya. Sementara Nathan hanya bisa berdiri beberapa meter di sebelah Ryan.


"As ... salamualaikum ...." Denis yang baru saja tiba di rumah, sontak terkejut kala mendapati bos besarnya saat ini sedang bersimpuh penuh harap di lantai rumah mereka. Pria paling terhormat di tempatnya bekerja tersebut tampak sangat tidak berdaya.


Denis hendak menolong, tetapi Nathan segera mengangkat tangannya guna memberi isyarat pada pria itu untuk tetap di tempat.


"Pak, saya mohon, berikan saya kesempatan dengan menebus segala kesalahan saya di masa lalu." Ryan kembali menegaskan niatnya dengan suara bergetar.


"Tapi tidak dengan mengambil putri bungsuku!" seru Dirno sembari menekankan dua kata terakhirnya.


Setelah berkata demikian, Dirno bergegas bangkit dari posisinya dan pergi meninggalkan Ryan tanpa jawaban.


Kesalahan Ryan di masa lalu memang begitu besar, tetapi bukan berarti dia tidak bisa memperbaikinya.


Nathan menghela napas. "Yan, ayo, kita pulang!" Dengan langkah hati-hati Nathan membantu Ryan bangkit dari lantai. Perlahan mereka pun melangkah pergi melewati Denis yang masih tidak mengerti akan apa telah yang terjadi.


Beberapa kali langkah Ryan sempat limbung, entah karena kakinya yang lemah sebab baru saja bersimpuh dalam waktu lama, atau karena hal yang lain.


Begitu mereka sampai di luar pagar, Anna tiba dengan sepeda kesayangannya.

__ADS_1


"Pak Ryan! Mas Nathan!" seru Anna ketika melihat kedua sosok tersebut berada di sana.


Melihat kedatangan Anna, Ryan menepis tangan Nathan dan berjalan menghampiri Anna.


"Pak, ada apa Bapak kemari?" tanya Anna dengan tatapan khawatir. Sejujurnya, Anna sama sekali tidak khawatir dengan Ryan, melainkan sang ayah yang jelas-jelas pernah berseteru dengan kedua pria tersebut.


"Saya ...." Baru saja Ryan hendak menjawab pertanyaan Anna, pria itu tiba-tiba limbung ke depan.


Anna dengan sigap langsung menahan tubuh tinggi pria itu. Entah disadari atau tidak, Anna melingkari tangannya di pinggang Ryan, sedangkan kepala gadis itu berlabuh tepat di dadanya.


Detik itu juga Anna bisa mendengar jelas degupan jantung Ryan. Gemuruhnya terdengar sangat berisik, tapi menenangkan. Belum lagi perasaan tak asing yang datang kala menyentuh tubuh pria berusia 34 tahun tersebut.


Anna terpaku. Sekelebat bayangan tak jelas tiba-tiba hadir mengusik ingatannya.


Bayangan tersebut membuat Anna tersentak kaget dan bergerak menjauh. Namun, Ryan kembali menarik Anna ke dalam dekapannya.


"P pak!"


"Tolong, biarkan seperti ini dulu, Anna. Aku berjanji tidak akan kurang ajar padamu."


Anna yang hendak berontak langsung terdiam.

__ADS_1


Mereka sama sekali tidak mengetahui, bahwa Dirno tengah memerhatikan dari jendela kamar Anna.


__ADS_2