LOST (Anna)

LOST (Anna)
Bab 24. Perasaan Anna.


__ADS_3

Suasana hening sejenak, sebelum akhirnya Anna memilih menjawab pertanyaan Ryan dengan nada biasa. "Kalung itu peninggalan mendiang ibu saya sebelum meninggal, jadi tentu saja benda itu memiliki arti segalanya bagi saya."


Ryan terdiam. Matanya menatap nanar sosok Anna yang kini sedang membuang muka. Kalung tersebut memang peninggalan ibu mereka, meski sosok ibu yang ada dalam pikiran Anna berbeda dengan yang dia pikirkan.


"Sekarang, bisa saya ambil kalung itu? Maaf, sepertinya Anda agak lancang karena sudah membawa bahkan memakai barang milik orang lain," ujar Anna dingin. Gadis itu sama sekali tidak memerdulikan bila Ryan merasa tersinggung dengan perkataannya.


Ryan dengan gerakan perlahan membuka kalung tersebut dan menyerahkannya pada Anna. Namun, saat Anna hendak mengambilnya, pria itu bergegas bangkit dari sofa.


"Pak, kalung saya!" seru Anna sambil berdiri dari sofa. Dia pikir, Ryan akan pergi meninggalkannya. Namun, pria itu ternyata berpindah ke belakang tubuhnya dan langsung memakaikan kalung tersebut ke leher Anna.


Anna tersentak. Tubuhnya mematung sejenak, ketika hangatnya jemari Ryan menyentuh sedikit kulit bersihnya.


"Jangan hilangkan kalung ini. Jaga dengan segenap nyawamu," bisik Ryan lirih. Suaranya terdengar sangat sedih, seolah-olah benda tersebut juga at berharga bagi Ryan.


Anna berpaling menuju Ryan untuk menanyakan maksud perkataan pria itu, tetapi begitu berbalik, wajah mereka berdua tiba-tiba bersirobok dengan jarak yang sangat dekat.


Jantung Anna berdebar keras, kala menatap wajah tampan Ryan yang begitu teduh.


Anna sadar betul debaran yang hadir dalam dadanya bukan lah perasaan cinta terhadap lawan jenis. Entah lah, debaran ini terasa begitu rumit dan menyesakkan. Anna bahkan bisa merasakan segenggam kesedihan mendalam yang tiba-tiba hadir memenuhi jiwanya.


Ryan yang turut menatap Anna dalam diam, sontak saja tersentak, tatkala mendapati tetesan air mata yang tiba-tiba jatuh mengalir membasahi pipi Anna.

__ADS_1


Tangan Ryan refleks terangkat untuk menghapus air mata Anna. Sentuhan halus tersebut lantas menyadarkan Anna dari lamunannya.


Gadis itu muncur satu langkah sembari menghapus sisa lelehan air mata yang belum terhapus oleh Ryan.


Dengan wajah bingung, Anna terlihat bergumam sendirian.


"Pak, saya harus pulang," pinta Anna.


"Aku antar, sebentar b—"


"Tidak!" pekik Anna seraya mengangkat tangannya, seolah meminta Ryan untuk menjaga jarak. "Biar saya pulang sendiri!"


"Tolong, biarkan saya pulang sendiri!" Setelah berkata demikian, Anna bergegas lari meninggalkan apartemen.


Ryan mematung di tempat. Matanya menatap nanar kepergian Anna.


Sementara Anna memaksakan diri untuk terus berlari meninggalkan kawasan tersebut, hingga tiba di halte yang jaraknya cukup jauh dari apartemen Ryan.


Tepat ketika Anna sampai, bus pun datang. Anna segera masuk dan duduk di barisan paling belakang.


Anna terdiam di sana, mencerna kejadian yang baru saja dia alami.

__ADS_1


"Perasaan apa ini?" gumamnya, saat menyadari bahwa perasaan tadi kembali datang mengusik jiwanya.


Wajah sendu Ryan bahkan turut hadir dalam ingatan Anna. Anna jelas melihat ada banyak kesedihan yang ada di raut wajahnya.


Kesedihan yang entah mengapa jelas tergambarkan di benak Anna.


Anna refleks mencengkeram dadanya, kala tetesan air mata kembali mengalir membasahi pipi gadis itu.


"Bisa pergi tidak!" hardiknya pada diri sendiri. Namun, bukannya pergi, perasaan itu malah semakin kuat mengekang jiwa Anna hingga membuat gadis itu menangis tersedu-sedu.


...**********...


Denis tidak bisa berkata apa-apa setelah mendengar pengakuan sang ayah yang telah berterus terang pada Ryan dan Nathan. Dia hanya mampu bersandar sembari memijit pelipisnya yang terasa sakit.


"Kita hanya harus bersiap untuk kemungkinan terburuk, Yah," ujar Denis.


Dirno terdiam. Di satu sisi, dia merasa menyesal telah mengatakan hal yang sebenarnya pada Ryan, tetapi di sisi lain ada perasaan lega, seolah beban berat terangkat dari seluruh sendi-sendi tubuhnya.


Denis benar. Mereka harus bersiap dengan kemungkinan terburuk. Apa lagi Ryan sepertinya tidak berniat meninggalkan kota ini, yang berarti intensitas pertemuannya dengan Anna akan sering terjadi.


Bisa jadi pertemuan-pertemuan itu lah yang akan menjadi pemantik ingatan Anna, yang sudah terkubur selama belasan tahun.

__ADS_1


__ADS_2