
"Tolong, berlaku lah sopan!" kata Dirno dingin. Pria itu menatap tajam Ryan yang menurutnya tidak sopan.
Ryan cukup terkejut sekaligus heran dengan respon yang diberikan Dirno. Pria itu pun dengan berbesar hati meminta maaf. "Ah, maaf, saya hanya ingin melihat lebih dekat saja untuk memastikan," katanya.
"Memastikan apa?" tanya Dirno tanpa repot-repot menyembunyikan raut kemarahannya. Jantung pria itu bahkan semakin berdetak keras.
"Maaf foto tersebut ... maksud saya, foto tersebut mengingatkan saya pada wajah adik saya yang hilang."
"Jangan sembarangan Anda bicara! Jelas-jelas dia putri saya! Apa buktinya bila dia adik Anda?" Dirno benar-benar marah dan tersinggung dengan ucapan Ryan barusan.
Melihat hal tersebut, Nathan berusaha menengahi. "Maaf Pak, kami tidak bermaksud membuat Pak Dirno marah, hanya saja kami banya ingin bertanya ...."
"Apa pun alasannya, saya memang tersinggung dengan Anda berdua. Kalau memang hanya sekadar bertanya, seharusnya kalian tidak perlu mengatakan hal demikian!" Dirno mengambil foto tersebut dan menutupnya.
"Ini adalah putri saya bernama Annazkia!"
"Baik, Pak, kami mengerti. Sekali lagi kami meminta maaf sebesar-besarnya," ucap Nathan. Pria itu juga turut memberi kode pada Ryan untuk ikut meminta maaf. Namun, belum sempat Ryan bersuara, Dirno sudah mengusirnya secara halus.
"Sejujurnya saya sangat perihatin dengan kejadian yang baru saja kalian ceritakan. Namun, yang saya tidak habis pikir adalah, bagaimana bisa Anda sebagai seorang kakak bisa berlaku kejam pada adik dengan meninggalkannya seorang diri? Bahkan, Anda baru mencarinya setelah tiga belas tahun berlalu!"
Mendengar hal itu, Nathan hendak melakukan pembelaan. Namun, Ryan diam-diam melarang.
Tanpa menjawab apa-apa, Ryan membungkukkan badannya dan berpamitan pada Dirno.
Begitu Ryan dan Nathan keluar, Dirno tanpa repot-repot menunggui, bergegas masuk dan membanting pintu rumah.
__ADS_1
"Bro," panggil Nathan, tatkala mendapati Ryan termangu.
"Wajahnya mirip sekali dengan Anna," gumam pria itu dengan tatapan kosong.
Nathan terdiam, tak tahu harus berkata apa.
"Aku harus menemui Anna sekali lagi! Mungkin saja dia tidak mengenaliku karena sudah belasan tahun berlalu, Nat!" katanya kemudian.
"Tahan dulu, Yan! Kalau memang gadis itu adalah Anna, adikmu, sudah pasti dia akan mengingat semuanya. Tidak mungkin dia tidak mengenali namamu atau perusahaan keluarga kalian, mengingat panti asuhan itu diurus oleh perusahaan kalian."
Benar juga! Tidak mungkin Anna bisa melupakannya.
Mungkinkah gadis itu hanya berpura-pura?
"Aku harus menemuinya lagi, Nat! Ayo, kita kembali ke panti!"
Ryan menampik. "Tidak, aku berjanji hanya akan menanyakan soal dirinya saja!" Pria itu lalu mengalihkan pandangannya pada Bowo. "Bowo, kita kembali ke panti!"
"Tidak! Lanjutkan ke bandara!" tegas Nathan. Keduanya pun mulai melakukan perdebatan sengit, sampai akhirnya Ryan kalah bicara.
Pria itu hanya bisa meninju kepala jok mobil dengan penuh amarah, sedangkan Nathan membuang mukanya ke arah lain.
...**********...
Anna tiba di rumah pukul empat sore.
__ADS_1
"Loh, Ayah tidak kerja?" tanya Anna saat mendapati Dirno masih berada di rumah dan tampak bersantai.
"Ayah bolos!" jawab Dirno singkat.
Anna sontak mengerutkan keningnya kalaemdengar nada bicara Dirno yang sedikit ketus.
"Ayah kenapa, sih, tumben sekali ketus begitu? Ada masalah di tempat kerja?" tanya Anna yang kini sedang meletakkan beberapa bahan makanan di kulkas.
"Tidak ada apa-apa."
Anna mengendikkan bahu. Mungkin beliau memang tidak ingin bercerita dulu. "Oh, iya, Yah. Tadi ada dua orang pria yang datang ke rumah tidak? Mereka berdua kenalanku sekaligus pelanggan yang pernah menggunakan jasa Ayah."
Dirno tersentak kaget dan langsung bangkit dari sofa.
Pria itu berjalan menghampiri Anna dan menatap lekat-lekat wajahnya. "Mereka bilang apa padamu, Nak?" tanya Dirno.
"Oh, jadi Ayah sudah ketemu. Mereka nggak bilang apa-apa sih, cuma Pak Ryan sempat menanyakan nama lengkapku," ujar Anna.
"Lalu, kamu jawab apa?" tanya Dirno lagi seraya memegang kedua lengannya.
"Ya aku jawablah, Annazkia. Memangnya kenapa sih, Yah? Ayah kok jadi menakutkan gini!" celetuk Anna yang heran dengan sikap sang ayah.
Dirno mengembuskan napas lega. "Dengar Ayah baik-baik, Anna! Mulai besok kamu tidak boleh lagi bertemu dengan mereka, oke?"
Anna terkejut. "Loh, kenapa? Pak Ryan dan Mas Nathan orang baik, kok. Lagi pula, Perusahaan Pak Ryan itu yang mengurus Panti Asuhan Kasih, Yah! Jadi, aku tidak mungkin menjauhi mereka atau tidak bertemu lagi dengan mereka, sebab mereka terkadang datang ke panti menjenguk anak-anak."
__ADS_1
Dirno terkesiap.