LOST (Anna)

LOST (Anna)
Bab 8. Bertemu lagi.


__ADS_3

Satu bulan berlalu.


Pukul sembilan pagi Anna tampak mengayuh pedal sepedanya dengan terburu-buru di jalan raya. Dia harus segera tiba di panti, tempatnya bekerja.


Sejak kepindahan mereka, Anna langsung melamar pekerjaan di beberapa tempat, termasuk panti asuhan yang dikelola sebuah perusahaan swasta. Beruntung, tak perlu menunggu lama, Anna langsung diterima di panti asuhan tersebut dengan gaji yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


"Gara-gara Kak Denis, nih, aku jadi telat, kan!" Anna terus menggerutu menyalahkan sang kakak yang memaksanya menemani siaran langsung sepak bola semalam. Alhasil, dia kini sudah terlambat satu jam dari waktu yang ditentukan.


"Ayo, cepaaat!" teriak Anna sembari mempercepat kayuhan sepedanya.


Disaat yang bersamaan sebuah mobil SUV abu-abu bergerak dari arah berlawanan dengan kecepatan penuh.


"Ingat, Yan, kita ke sini bukan untuk berlibur. Kalau sampai mereka marah, kau harus lembur di kantor selama satu minggu!" ancam Nathan yang kesal dengan atasannya tersebut.


Bagaimana tidak, mereka seharusnya meeting dengan para pejabat kantor cabang pada pukul sembilan tepat. Namun, berkat Ryan yang telat bangun, karena semalaman begadang demi menonton sepak bola, membuat mereka berdua baru keluar dari hotel pukul sembilan kurang lima belas menit.


Alih-alih meminta maaf, Ryan memilih untuk menyumpal telinganya dengan earphone.


"Bro, kau dengar aku tidak!" pekik Nathan.


Ryan tidak mendengar.


Nathan mengalihkan pandangannya pada Ryan untuk melepaskan earphone yang dia pasang. Namun, tanpa disadari mobilnya melewati jalan berlubang.


Teriakan disertai suara benda jatuh, tiba-tiba terdengar. Nathan buru-buru menginjak pedal remnya hingga membuat Ryan nyaris terjungkal jika tidak memakai seatbelt.


Anna meringis kesakitan. Gadis itu rupanya menghindari mobil yang bergerak sampai ke tengah-tengah jalan.


Nahas, dia langsung terjatuh karena menabrak jalanan berlubang.


Ryan dan Nathan saling bertukar pandang.


"Kau menabrak seseorang, Nat?" tanya Ryan dengan tatapan horor.


Nathan melongok ke depan dan tidak menemukan apa-apa. Namun, saat mengalihkan pandangannya ke kaca spion, dia bisa melihat seorang gadis tersungkur bersama sepedanya.


Ryan yang ikut melihat ke belakang bergegas membuka pintu mobil, tetapi Nathan menahannya. "Biar aku saja!"


Nathan turun dari mobil dan menghampiri Anna yang sedang meniup-niup lututnya yang berdarah.


"Nona, Anda baik-baik saja?"


Anna mengalihkan pandangannya pada orang yang barusan memanggil.


Nathan termangu, tatkala mendapati wajah cantik seorang gadis muda yang tampak familiar.


"Hei, orang kaya, kalau bawa mobil hati-hati dong! Memangnya kamu pikir, jalanan ini punya nenek moyangmu!"


Lamunan Nathan mendadak buyar saat gadis itu mulai meneriakinya sembari menunjuk-nujuk wajah pria itu tak sopan.


Hancur sudah rasa kagum Nathan. Ternyata sifat gadis itu tidak secantik wajahnya.

__ADS_1


"Saya minta maaf, Nona. Saya siap mengganti rug—" belum sempat Nathan menyelesaikan kalimatnya. Anna sudah kembali bersuara.


"Halaah, basi! Minggir kamu!" Sembari menahan rasa sakit, Anna bergegas bangkit dari aspal. Kalau saja dia sedang tidak telat, sudah pasti dia akan mengajak pria itu berkelahi.


Tanpa berkata apa-apa, Anna pun segera meninggalkan Nathan yang malah terbengong-bengong di tempat.


"Bagaimana?" tanya Ryan saat Nathan sudah kembali masuk ke dalam mobil.


"Ia pergi begitu saja." Jawab Ryan datar.


Ryan mengangkat alisnya tinggi-tinggi. "Lukanya? Ganti rugi?"


Nathan hanya menjawab dengan gendikkan bahu.


...**********...


Anna baru saja akan masuk ke dalam panti melalui pintu belakang, sebelum seseorang datang memergokinya.


"Astaga, Anna!" Laila, si pemilik panti berusia enam puluh dua tahun menjerit tertahan, tatkala mendapati penampilan Anna sedikit kacau. "Anna, apa yang ... loh, lututmu berdarah?"


Anna meringis. "Nggak sengaja jatuh, Bun," ucapnya.


Mendengar itu, Laila segera menarik Anna masuk untuk mengobatinya. Beberapa anak panti yang mengetahui Anna terluka bergegas menghampiri gadis itu.


"Ka Anna kenapa?"


"Kakak berdarah ya?"


"Bunda, Kakak Anna terluka ya?"


"Kakak tidak apa-apa, kok!" jawab Anna.


"Kakak kalian jatuh karena tidak berhati-hati. Kalian jangan sampai seperti Kak Anna ya?" ujar Laila dengan wajah jengkel. Kendati demikian, dia tetap mengobati Anna dengan telaten.


Anna memajukan bibirnya dan hanya bisa pasrah mendengar nasihat Laila. Mau membela diri juga percuma, jadi lebih baik diam saja.


Laila memang dikenal sebagai wanita yang sangat cerewet. Namun, kendati demikian, wanita itu memiliki hati yang sangat baik.


Lebih dari separuh usianya digunakan Laila untuk menjadi pengurus anak-anak terlantar bersama sang suami, dan setelah suaminya meninggal, dia tetap membantu mengurus panti bersama putri tunggalnya, Emma.


Selesai mengobati Anna, Laila menyuruh gadis itu untuk berganti pakaian dan beristirahat. Dia juga melarang Anna untuk membantu mengurus anak-anak hari ini.


"Aku kan, nggak kenapa-kenapa Bun," ujar Anna tak enak hati.


"Lukamu parah, Ann. Kamu istirahat saja dulu sehari ini. Lagi pula semua pekerjaan juga sudah selesai."


"Tapi ...."


"Tidak ada tapi-tapian!"


Anna menghela napas pasrah dan memilih untuk berkumpul di ruang bayi saja.

__ADS_1


...**********...


Ryan sedang duduk bersama seorang pria asing bernama Ansell. Ansell adalah seorang penyidik berkebangsaan Australia yang juga teman lama Ryan semasa Kuliah. Ryan sengaja meminta bantuan Ansell untuk mencari petunjuk soal keberadaan Anna.


"Ini alamat mereka." Ansell memberikan secarik kertas berisi alamat para pesulap jalanan yang baru.


"Sang ayah bernama Dirno, seorang mantan napi kambuhan yang gemar keluar masuk penjara semasa mudanya. Kini dia memiliki seorang putra dan putri yang tidak diketahui namanya."


Ryan mendengarkan informasi dari Ansell dengan saksama.


"Kasus apa?" tanya Ryan.


"Pencurian, perampokan bersenjata penjambretan, berkelahi, dan lain sebagainya."


"Lalu?"


"Hanya itu saja yang aku tahu. Sejujurnya sangat sulit untuk mendapatkan detail soal mereka karena beberapa catatan kriminal terberat yang pernah menjerat Dirno telah dihapus."


Ryan mengerutkan keningnya. "Bagaimana bisa?"


Ansell mengangkat bahu. "Entahlah. Mungkin saja dia pernah berjasa membantu pihak berwajib dengan imbalan itu, atau ada hal lainnya yang aku tidak tahu."


Ryan terdiam sejenak. "Terima kasih bantuannya, Ansell, terima kasih banyak," ucap Ryan seraya mengulurkan tangannya di hadapan Ansell.


"Sama-sama, Bro! Maaf, aku harus segera kembali pulang, jadi aku tidak bisa membantumu lebih jauh."


"Bantuanmu sangat berharga." Keduanya saling berjabatan tangan.


...**********...


Hari sudah sore ketika Anna menghentikan sepedanya di sebuah minimarket untuk membeli plester dan beberapa makanan instan.


"Terima kasih, Ridho," ucap Anna saat menerima barang belanjaan yang baru saja selesai dibayarnya.


"Sama-sama, Mbak Anna. Kaki Mbak Luka?" tanya si penjaga kasir.


"Iya, nih. Biasa kesenggol. Aku pergi dulu ya, Do, bye!" Pamit Anna.


"Hati-hati, Mbak!" teriak Ridho.


"Iya!" Jawab Anna yang baru saja menutup pintu minimarket.


Saat hendak menuruni anak tangga, tiba-tiba seseorang menabrak lengannya hingga membuat plastik belanjaan Anna jatuh dan berhamburan keluar.


Mata gadis itu membola seketika. Dia berjongkok dan mulai memunguti satu persatu barang-barang belanjaannya yang berserakan tersebut.


"Hari ini, hari apa sih? Kok apes banget!" gerutu Anna yang telah mengalami kejadian kurang beruntung sebanyak dua kali.


"Hei, ini!"


Anna yang sedang sibuk memunguti buah sontak menerima barang belanjaannya yang baru saja disodorkan seseorang. "Terima kasi—"

__ADS_1


Perkataan Anna terhenti. Dia dan Nathan saling bertukar pandang selama beberapa saat, sebelum akhirnya saling berteriak.


"Awww!" Suara lengkingan terdengar sesaat kemudian.


__ADS_2