LOST (Anna)

LOST (Anna)
Bab 28. Keputusan semena-mena.


__ADS_3

"Maafkan Bunda, Anna, tapi ini merupakan keputusan mutlak dari Pak Ryan. Sejujurnya Bunda juga kaget setelah mendapat telepon dari beliau, dan mencoba memgajak Pak Ryan bicara, sebab kamu baru saja pindah ke sini."


Anna tampak terduduk lemas di sofa. Baru saja dua hari yang lalu sang ayah memberitahukannya perihal niat terselubung Ryan, dan kini, pria itu benar-benar mewujudkannya.


"Baiklah kalau begitu, Bun, aku akan mencoba bicara pada Pak Ryan. Hari ini aku izin ya Bun," kata Anna sembari beranjak dari sofa.


"Kamu mau ke mana, Sayang?" tanya Laila heran.


"Mau menghadap Pak Ryan, Bun!" jawab Anna buru-buru.


"Menghadap ke mana? Memangnya kamu tahu beliau ada di mana?" tanya Laila lagi.


"Tahu, Bun, sangat tahu!" Dengan langkah tegas dan mengentak-entak penuh kemarahan, Anna bergegas pergi meninggalkan panti tanpa membawa sepeda kesayangannya. Gadis itu berniat pergi menuju apartemen yang ditinggali Ryan. Namun, tepat ketika Anna hendak menyeberang jalan, sebuah mobil sedan hitam yang sangat dikenalnya muncul.


Anna bergegas lari demi menghadang mobil tersebut.


"Shiiittt! Ada apa, Bro?" tanya Ryan ketika dirinya hampir saja terjerembab ke kursi depan. Pria itu tengah sibuk mengerjakan sesuatu di laptopnya.


"Bro!" panggil Nathan sembari melirik ke belakang.


Ryan mengalihkan pandangannya ke depan dan mendapati sosok Anna tengah berdiri sambil bertolak pinggang. Sedetik kemudian, gadis itu berjalan menuju pintu mobilnya dan menggedor-gedor keras.


"Turun kau!" kata Anna kasar. Dia sama sekali tidak memerdulikan bila orang yang akan diajak ribut adalah bosnya sendiri.


Ryan dengan santai membuka pintu mobil dan keluar dari sana. Matanya memandang Anna datar. "Ada apa Anna? Aku baru mau mem—"

__ADS_1


"Bapak ini jangan sembarangan memecat orang, dong! Mentang-mentang Bapak yang punya kuasa, tetap saja tidak boleh semena-mena. Lagi pula ngapain Bapak ikut-ikutan ngurus panti sih! Itu kan, urusan Bunda Laila. Bapak cuma donatur!"


"Keluargaku membeli panti tersebut bertahun-tahun lalu, dan aku tidak bermaksud memecatmu, melainkan hanya memindahkan pekerjaanmu dari panti ke kantor." Ryan tampak tenang menghadapi kekesalan Anna.


Mendengar itu, Anna sedikit kikuk karena salah bicara. "Mau beli, nggak kek, pecat kek, pindah kek, bodo amat! Dan yang harus Bapak tahu ya ... kalau saya tidak akan menuruti perintah Bapak. Saya baru pindah ke sini dan berkumpul dengan keluarga, jadi lebih baik saya sekalian resign saja!"


"Kalau begitu, kakakmu juga akan resign," ucap Ryan santai.


Anna melotot seketika. "Loh, kenapa jadi bawa-bawa kakak saya?" tanya gadis itu tidak terima.


"Karena kamu dan kakakmu berkesinambungan. Jadi, kalau kamu menolak, kakakmu juga kena imbas. Maaf saja, aku tidak mau memiliki karyawan yang pembangkang. Kamu saja seperti itu, bagaimana dengan kakakmu!" jawab Ryan asal yang langsung mendapat tatapan tajam dari Anna. Sementara Nathan berusaha menahan diri untuk tidak menepuk keningnya.


"Pak, nggak bisa begitu dong!"


"Bisa, dong! Aku bosnya!" sahut Ryan.


"Kalau begitu, kakakmu harus bersiap mengganti kerugian seratus kali lipat karena telah menyalahi kontrak kerja."


Anna lagi-lagi dibuat melotot dengan perkataan Ryan. "Mana ada? Aturan dari mana itu!"


"Aturanku. Aku yang punya kuasa mutlak di kantor pusat mau pun kantor cabang!"


Anna mengepalkan tangannya kuat-kuat. Bagaimana bisa ada seorang pria selicik ini? Apa semua orang kaya memiliki sifat seperti ini?


...**********...

__ADS_1


Denis hanya bisa menganga setelah mendengar penjelasan Anna soal Ryan tadi pagi. Pria itu sama sekali tidak menyangka, Ryan bisa selicik ini. Dia pun berniat menemui Ryan keesokan harinya untuk berbicara. Namun, Dirno mencegah.


"Pergilah," titah sang ayah kemudian.


"Yah!"


"Ayah!" Anna dan Denis kompak memekik. Mereka terkejut dengan perkataan beliau yang seolah tidak mempermasalahkan kepindahan Anna, padahal jelas-jelas kemarin Dirno begitu keras menentangnya.


"Yah, aku belum lama menyusul kemari dan kita baru saja benar-benar bisa berkumpul," ujar Anna.


"Tidak apa-apa. Ayah sudah berpikir masak-masak. Kalau memang rezekimu di sana, jemputlah," ucap Dirno lembut.


Denis hanya mampu terdiam. Agaknya dia bisa melihat kesedihan yang tertera di setiap kata yang meluncur dari mulut sang ayah.


Ini bukan soal rezeki, melainkan soal Anna sendiri. Mungkinkah beliau sudah memasrahkan diri, bila Ryan akan berusaha memulihkan ingatan gadis itu?


"Yah, kalau hati Ayah tidak berkenan, katakan saja, maka Anna tidak akan berangkat. Soal aku dan ganti rugi tidak perlu dipikirkan," ujar Denis sembari menoleh ke arah Anna guna meminta persetujuan.


Anna menganggukkan kepala. Tanpa terasa matanya tiba-tiba berkaca-kaca. "Aku ingin bersama Ayah," ucap Anna lirih.


Dirno tersenyum. Tangannya mengelus lembut surai panjang putri kecilnya yang telah dia rawat dengan penuh jiwa, keringat, dan air mata. "Ayah juga ingin bersamamu, Nak ... selamanya."


Anna tertegun mendengar perkataan sang ayah. Entah mengapa, pembicaraan kali ini bukan merujuk pada pekerjaannya yang jauh di ibu kota.


Anna tersentak kala setetes liquid bening tiba-tiba mengalir membasahi pipinya. Rasa sakit dan pilu menghentak jiwa gadis muda tersebut seketika.

__ADS_1


Anna tidak menyukai perasaan ini.


Aku ... kenapa? Batinnya.


__ADS_2