LOST (Anna)

LOST (Anna)
Bab 11. Pertemuan tidak diduga.


__ADS_3

"Suasananya masih sama ya, Kak?"


Anna dengan wajah gembira menghirup dalam-dalam udara hangat ibu kota. Dia dan Denis baru saja tiba di terminal setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam.


"Masihlah, seperti kita sudah bertahun-tahun saja tidak ke sini!"


Mendengar celetukan Denis, Anna meringis. Keduanya pun berjalan keluar dari terminal menuju rumah makan terdekat lebih dahulu untuk mengisi perut.


Hari ini Denis mendapatkan tugas mengantarkan berkas-berkas laporan ke kantor utama tempatnya bekerja. Tidak seperti Dirno yang tetap bekerja di bidang sebelumnya, Denis memilih keluar zona nyaman sejak setahun lalu.


Akan tetapi, tidak seperti saat masih tinggal di pinggiran kota yang bekerja serabutan, kini Denis bekerja sebagai office boy di salah satu perusahaan cukup besar.


Selain sebagai office boy, Denis terkadang juga merangkap sebagai apa pun di kantor. Dia tidak segan membantu para karyawan yang membutuhkan sesuatu, dari mulai yang menyangkut dengan pekerjaan sampai yang tidak, seperti membelikan makan atau berbelanja di minimarket.


Para karyawan tentu saja tidak meminta tolong dengan percuma. Ada tips yang selalu Denis terima dengan penuh rasa syukur, meski pada awalnya terasa sungkan.


Itu lah sebabnya dia juga berada di sini bersama Anna. Awalnya bukan Denis lah yang ditugaskan ke kantor pusat. Namun, pria itu menawarkan diri setelah tahu orang yang diberi tugas tiba-tiba berhalangan.


Pria itu juga tadinya mengajak salah seorang rekan sesama office boy, tetapi mendadak batal karena sakit. Alhasil, karena sudah terlanjur memesan dua buah tiket bus, dia pun mengajak adiknya tersebut.


"Kak, Kakak benar tidak apa-apa kalau aku tidak ikut ke kantor Kakak dulu?" tanya Anna di sela-sela makan siang mereka.


"Tidak apa-apa, tetapi kamu hati-hati ya? Jangan pergi ke mana-mana selain melihat rumah saja!" ucap Denis mengingatkan. Gadis itu memang berniat mengunjungi rumah lama mereka. Apa sudah dirubuhkan atau belum. Baru setelah itu Anna akan menyusul ke kantor nanti.


"Iya, paling aku akan mengobrol sebentar dengan para tetangga. Kan, tidak mungkin aku pergi ke sana tanpa menyapa mereka. Lagian, memangnya Kakak lama di sana?"


"Tidak tahu. Mudah-mudahan saja tidak, jadi aku yang akan menyusulmu. Pokoknya saling mengabari saja, oke?"


Anna menganggukkan kepalanya.


...**********...


Sudah hampir lima menit Nathan berdiri di depan sebuah bangunan kecil yang terletak di dalam gang sempit. Rumah ini adalah rumah para pesulap jalanan yang telah kosong.


Mereka sebenarnya sudah mendapatkan alamat terbaru dari Ansell beberapa waktu lalu, hanya saja belum menyempatkan diri mendatanginya, padahal ternyata alamat tersebut berada di kantor cabang tempat mereka minggu lalu berada di sana.


Nathan yang kebetulan sedang lewat memutuskan untuk mampir ke rumah tersebut.


Terlihat ada satu buah papan peringatan bahwa rumah ini akan segera dirubuhkan.

__ADS_1


"Nak?" Seorang wanita tua tiba-tiba menepuk punggung Nathan lembut.


Nathan terkesiap dan langsung menyapa wanita tua tersebut. Raut wajahnya sedikit canggung. Malu juga karena telah tertangkap basah sedang berdiri di depan rumah orang lain.


"Saya memerhatikan kamu sejak tadi. Apa kamu sedang mencari seseorang?" tanya wanita tua ramah tersebut.


"Iya, Nek," jawab Nathan.


Wanita tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Sayang sekali mereka sudah pindah ke Jawa. Saya sendiri tidak tahu di mana tepatnya." jawab beliau.


Nathan yang sebenarnya sudah tahu soal itu, tetap berterima kasih pada si wanita tua atas informasi yang diberikannya.


"Sekarang rumah ini akan segera dihancurkan oleh para ahli waris pemiliknya untuk dibangun ulang."


Pantas saja papan peringatan itu terpasang! Batin Nathan


"Kalau begitu, Nek, apa aku boleh melihat rumah itu lebih dekat?" tanya Nathan kemudian.


"Oh, boleh, boleh, tidak ada yang melarang."


"Terima kasih," ucap Nathan sembaru membungkukkan badannya pada si nenek baik hati.


Nathan sontak terbatuk-batuk, dan dengan cepat mengambil sapu tangan untuk menutupi hidung dan mulutnya.


...**********...


"Terima kasih, Pak," ujar Anna seraya menerima roti kukus hangat dari seorang penjual roti pinggir jalan. Kini Anna dengan hati riang sedang berjalan menuju tempat tinggalnya dulu, setelah turun dari angkutan umum.


Sementara Denis masih tertahan di kantor. Ada beberapa hal yang harus Denis kerjakan sebelum mengantar berkas itu kepada pimpinannya secara langsung.


Setelah selesai, dia pun dipersilakan memasuki ruangan sang pimpinan yang berada di lantai dua puluh gedung kantor ini, karena sang sekretaris pimpinan sedang tidak berada di tempat.


"Ini tidak apa-apa kalau saya yang antar?" tanya Denis guna memastikan.


"Tidak apa-apa, Mas. Silakan naik saja, Pak Nathan, sekretaris Bapak, juga sedang tidak berada di tempat." Jawab salah seorang karyawan yang membantu Denis.


"Baiklah." Denis perlahan melangkah memasuki lift dan tiba di lantai dua puluh dengan cepat.


Tidak seperti lantai sebelumnya yang dia singgahi, lantai dua puluh ini sama sekali tidak terlihat layaknya sebuah ruangan kantor.

__ADS_1


Beberapa fasilitas yang memanjakan tertangkap segera indera penglihatan Denis, seperti ruang fitness, pantry, bermain golf, hingga televisi dengan berbagai fasilitasnya. Belum lagi ruangan-ruangan tertutup yang tidak memiliki kaca transparan seperti sebelumnya.


Denis bahkan terkejut, tatkala mendapati sebuah kolam renang berukuran sedang di sana.


Sesampainya di depan ruangan paling besar dengan tulisan nama sang pimpinan, Denis pun mengetuk pintu.


"Masuk!"


Denis membuka pintu perlahan. "Permisi, Pak?" sapa Denis pada seseorang yang sedang sibuk mengetik sesuatu di laptop miliknya.


Semula Denis sempat mengira jika pimpinannya tersebut merupakan seoramg pria tua beruban. Namun, ternyata, tidak demikikan. Usia pimpinannya bahkan hanya memiliki selisih beberapa tahun saja darinya.


"Aa, kau yang ditugaskan ke kantor pusat, ya?" tanya orang itu pada Denis tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


"Iya, Pak. Ini, Pak, silakan." Denis meletakkan berkas-berkas tersebut di atas meja.


"Terima kasih," ucap pria itu sembari mendongakkan matanya. "Emm, sepertinya saya pernah melihat Anda?" tanya orang itu pada Denis tiba-tiba.


Denis yang juga merasakan hal yang sama, turut bersuara. "Saya juga merasa begitu Pak!"


Cukup lama mereka saling bertatapan sebelum akhirnya masing-masing dari mereka menyadari sesuatu.


...**********...


Sudah lebih dari lima menit Anna mengintip ke dalam rumah lamanya. Gadis itu masih memerhatikan seseorang yang sedang menyusup ke dalam rumah tersebut dan belum beranjak dari sana.


Dari pakaian yang dikenakan pria itu, sepertinya ia orang kaya. Lalu, mengapa bisa ada orang kaya yang masuk ke dalam rumah kosong itu?


"Mungkin dia ahli waris si pemilik rumah," gumam Anna


Anna terus memerhatikan orang tersebut hingga tanpa sengaja tangannya menyenggol pintu rumah.


Suara decitan pintu mengambil alih perhatian Nathan seketika. Dengan sigap dia bergegas menoleh ke sumber suara.


"Loh!" seru Anna, ketika mereka berdua saling bertemu pandang.


"Anna?"


"Mas Nathan, kan?"

__ADS_1


__ADS_2