
Anna keluar dari kamarnya pukul delapan tiga puluh pagi, dua jam setelah kepergian ayahnya berangkat kerja. Dia sengaja menyembunyikan diri dan tidak keluar dari kamar terlebih dahulu hingga beliau pergi bekerja, demi menghindari pertengkaran yang sebetulnya tidak pernah dia mengerti.
Apa lagi, pertengkaran tersebut terjadi sejak kedatangan Ryan dan Nathan ke rumah mereka.
Entah apa yang membuat ayahnya begitu berang dengan dua pria itu, tetapi satu hal yang dapat Anna simpulkan adalah, sang ayah seolah-olah sedang merasa takut, cemas, dan marah akan kehadiran mereka berdua.
Sementara bagi Anna sendiri, Ryan dan Nathan merupakan pria yang sangat baik. Hal itu jelas terlihat dari bagaimana interaksi mereka berdua dengan puluhan anak-anak panti asuhannya. Namun, gadis itu memang menyadari beberapa keanehan yang terjadi, terutama pada diri Ryan, seperti perilaku dan tatapan mata pria itu padanya.
Entah disadari atau tidak, Ryan selalu menatap Anna dengan pandangan yang sulit diartikan. Belum lagi, terkadang dia juga menangkap beberapa momen aneh saat Ryan dan Nathan berbicara serius ketika sedang berdua di halaman panti.
Anna tentu saja penasaran. Namun, dia tidak mungkin menguping atau pun mencari tahu.
Keanehan tersebut terasa semakin jelas, ketika Ryan dengan wajah menakutkan memberondongi gadis itu dengan berbagai macam pertanyaan terkait kalung emas peninggalan almarhumah sang ibu.
Kendati tampak menakutkan, Anna juga dapat menangkap secara sekilas, raut wajah penuh kerapuhan dan keputusasaan di wajah Ryan.
Hal yang sempat membuat hati Anna mendadak gelisah, seolah turut merasakan apa yang sedang Ryan rasakan.
Akan tetapi, lagi-lagi sampai saat ini Anna tidak mengerti apa yang terjadi, dan apa yang membuat Ryan begitu emosional dengan kalung tersebut? Mereka berdua hanyalah orang asing yang baru saja dipertemukan, tetapi mengapa Ryan seolah-olah mengenal betul kalung miliknya.
Bahkan kalung itu sekarang berada di tangan Ryan, dan pria itu belum juga muncul di hadapannya.
Mungkinkah Ryan telah kembali ke Jakarta karena kejadian ini?
Anna berharap, tidak. Namun, jika memang pria itu telah kembali ke Jakarta, dia akan menyusulnya ke sana demi mendapatkan kembali kalung kesayangannya tersebut.
"Anna," panggil Denis yang ternyata baru keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Melihat sang kakak belum berangkat kerja, Anna pun terkejut. "Loh, Kakak nggak kerja?" tanyanya.
"Libur." Jawabnya singkat. "Kamu sendiri, tumben keluar kamar siang? Ayah ya?" sambung pria itu sembari berjalan menuju dapur untuk mengambil minum.
Anna menganggukkan kepala. Gadis itu kemudian memicing sejenak, lalu menarik tangan Denis dan mendudukkannya di sofa.
"Kak, sekarang ceritakan padaku apa yang terjadi sama ayah!" desak gadis itu tiba-tiba.
Denis sontak mengerutkan keningnya. "Loh, loh, kok, tanya Kakak. Kakak saja tidak tahu apa pun!" kilahnya.
Anna masih mempertahankan tatapan curiganya. "Tapi, kok, cuma Kakak yang biasa-biasa saja. Ini Ayah, loh! Ayah yang nggak pernah kita lihat marah-marah sama siapa pun, terlebih sama kita."
Denis mengangkat alisnya tinggi-tinggi. "Ah, nggak juga. Ayah suka marah-marah kok. Beliau kan, manusia, Ann, bukan robot yang nggak punya emosi!"
Mendengar jawaban tak masuk akal dari Denis, Anna sontak mendecih keras. "Hayo, apa jangan-jangan Kakak mengetahui sesuatu? Apa ayah cerita sesuatu sama Kakak? Memangnya aku tidak tahu apa, kalau kalian sering berbincang berdua tanpa aku!"
Denis terkejut dan mendadak salah tingkah. "Ka kamu ini ngomong apa, sih? Udah ahh, Kakak mau makan nih, laper!" Denis bergegas bangkit dari sofa.
...**********...
"Bro, makan dulu," titah Nathan pada Ryan yang senantiasa berdiri di depan jendela. Matanya tampak menerawang jauh, seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Yan!" Nathan kembali memanggil.
"Aku akan menemui Pak Dirno kembali," ucapnya datar.
Nathan menghela napas. Sejak kemarin dia selalu meminta Ryan untuk bersabar terlebih dahulu, guna memberikan Pak Dirno waktu untuk menenangkan diri. Namun, sepertinya pria itu tidak mengindahkan.
__ADS_1
"Bersabarlah. Suasana hati kalian masih panas, terutama Pak Dirno. Biarkan beliau berpikir dahulu, aku yakin dia sebenarnya mengerti apa yang kau rasakan, Yan," ujar Nathan lembut.
"Sampai kapan aku harus menunggu lagi, sedangkan aku telah menunggu bertahun-tahun?" Ryan mengalihkan pandangannya pada Nathan.
"Kau mampu menunggunya belasan tahun, jadi seharusnya kau juga mampu menunggu sedikit lebih lama lagi," ucap Nathan yang langsung membuat Ryan terbungkam.
...**********...
"Saya akhiri pertemuan hari ini. Terima kasih!" Ryan mengakhiri percakapannya di hadapan seluruh peserta rapat. Hari ini Ryan menerima tawaran dari Yuda, kerabat jauh yang memegang penuh kantor cabang, untuk memimpin rapat di sana. Kebetulan rapat tersebut berhubungan langsung dengan kantor pusat tempatnya memimpin.
Tak berapa lama para peserta rapat pun membubarkan diri.
"Terima kasih, Adryan," ucap Yuda.
"Sama-sama, Mas," jawab Ryan ramah.
"Hari ini kamu tidak ada jadwal lagi, kan? Makan siang bersama saja, bagaimana?" tanya Yuda kemudian.
"Lain kali saja, Mas, aku mau ke suatu tempat dulu."
Yuda menganguk-anggukkan kepalanya dan menepuk pundak Ryan sekali. "Baiklah kalau begitu, hati-hati."
Setelah Yuda keluar, seorang wanita datang menghampiri Ryan dan Nathan. "Pak, ada tamu yang ingin menemui Anda."
Ryan mengerutkan keningnya, sebab di kantor ini dia tidak memiliki temu janji dengan seseorang, apa lagi ini bukan tempatnya. "Siapa? Saya tidak memiliki janji dengan siapa pun."
"Saya sudah bilang, Pak, tetapi beliau ngotot ingin bertemu. Nama beliau Pak Dirno."
__ADS_1
Mendengar jawaban si karyawan wanita, Ryan sontak menoleh ke arah Nathan.
"Tolong, siapkan ruangan untukku!"