
Ryan baru saja masuk ke dalam kamar hotel tempatnya menginap. Pria itu melemparkan jasnya sembarang, lalu merebahkan diri di atas ranjang tanpa melepaskan dasi, dan sepatunya terlebih dahulu.
Matanya menerawang menatap langit-langit kamar dengan berbagai macam perasaan berkecamuk. Kini satu-satunya harapan hanya para pesulap jalanan itu, dan Ryan berharap pencariannya dapat membuahkan hasil.
Doakan aku, Yah, Bu, Batin Ryan lirih.
"Anna," panggilnya. Setetes air mata tanpa disadari mengalir membasahi pipi Ryan. Jika saja waktu bisa diulang kembali, Ryan tentu tidak akan pernah sekali pun bersikap kekanak-kanakan dengan membenci Anna.
Dibandingkan dengan dirinya, Anna yang sebenarnya lebih menderita karena harus kehilangan sang ayah saat masih berusia belia. Andai saja dia tidak menuruti ego remajanya, dia pasti tidak akan pernah sekali pun meninggalkan Anna di taman waktu itu.
Belum lagi kenyataan pahit bahwa dia hanya lah anak angkat dari keluarga Cetta.
Bagaimana bisa dia menikmati semua fasilitas dan peninggalan keluarga angkatnya, sementara Anna tidak diketahui nasibnya.
Ryan menggeram tertahan. Dadanya terasa sangat sesak memikirkan bagaimana nasib Anna. Sehatkah dia? Masih hidupkah dia?
Kenyataan bahwa pria itu mungkin saja tidak akan pernah bertemu lagi dengan Anna, membuat perasaan sesak tersebut berkembang berkali-kali lipat.
...**********...
Anna kini sedang duduk di depan sebuah toko obat kecil seorang diri. Di pangkuan gadis itu terdapat plastik belanjaan dengan ukuran yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Wajah gadis itu senang, tetapi juga merasa sedikit tak enak.
Tak berapa lama, Nathan keluar dari toko obat tersebut dan duduk di sebelah Anna. Pria itu tanpa bersuara mulai membuka plester kecil yang baru saja dibelinya di sana.
Anna meringis lalu menggigit bibirnya. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa niatnya untuk meneenndang pria itu ternyata benar-benar dilakukannya.
Nathan yang tidak siap mendapat serangan mendadak tersebut tentu saja langsung tersungkur ke aspal. Telapak tangan pria itu lecet ketika berusaha menahan beban tubuhnya di aspal.
Anna meletakkan plastik belanjaannya di bawah kursi lalu merebut plester tersebut.
"Hei-"
Anna menarik tangan kanan Nathan dan menutup luka lecet yang ada di telapak tangannya dengan cepat.
"Maafkan aku," lirih gadis itu setelahnya, "dan kuanggap, kita sudah impas sekarang!" sambungnya cepat, seraya menunjukkan luka di lututnya yang sudah tertutup perban.
Nathan menghela napasnya. "Maaf ... dan, ya, kita impas!" sahut pria tampan itu seraya mengerling pada plastik belanjaan yang berada di dekat kaki Anna.
Anna berdeham mencoba untuk tak tertawa mendengar perkataan Nathan. Gadis itu memang sengaja memeras pria asing didepannya ini sebagai bentuk tanggung jawab. Sebab itu lah mengapa plastik belanjaannya mengembang dua kali lipat dari sebelumnya.
"Baiklah, aku juga sudah mengantarmu sampai sini, jadi ...."
Anna tersenyum tipis. "Terima kasih ya, Mas Nathan," ucapnya setengah tidak iklhas, karena Nathan meminta Anna untuk memanggilnya demikian.
"Hanya itu?" tanya Nathan.
__ADS_1
Anna mengangkat alisnya tinggi-tinggi. "Terus?"
Nathan mengubah posisi duduknya menghadap Anna. "Jarak tempat ini ke minimarket tadi cukup jauh. Kamu tidak mau berbasa-basi dulu? Menawariku mampir ke rumahmu dulu, misalnya!"
Mendengar hal tersebut, Anna sontak terkesiap. "Kamu mau, aku melakukannya?"
"Tidak!" Nathan kembali meluruskan duduknya sambil bersedekap. "Kamu itu cewek, jadi tidak sepantasnya menawarkan hal itu kepada orang asing tahu!" sambung Nathan.
Raut wajah Anna seketika berubah, matanya mendelik menatap Nathan yang sedang menahan tawanya.
"Cih! Bodo amat, aku pergi dulu!" Baru saja Anna melangkahkan kakinya meninggalkan Nathan, pria itu sudah memanggil kembali.
"Apa?" teriak Anna.
"Namamu! Aku sudah menyebutkan namaku tadi. Jangan curang!" balas Nathan.
"Anna!" Jawab Anna cepat sembari berbalik pergi meninggalkan Nathan.
Nathan terkesiap. Setiap mendengar nama tersebut, Nathan selalu mengingat adik dari Ryan.
"Aku sedang mencari Anna, dan bertemu gadis aneh bernama sama. Kuharap, adik Ryan memiliki sifat yang manis," gumam Nathan.
Nathan terus memperhatikan Anna yang kini mulai menaiki sepedanya. Namun, mata pria itu tiba-tiba menangkap sesosok benda berkilau yang terjatuh di atas tanah.
Nathan berjalan menuju tempat tersebut dan mengambil benda berkilau yang ternyata merupakan kalung emas berbandul ukiran nama.
...**********...
Anna baru saja tiba di rumah, ketika mendapati sang ayah sedang tertidur pulas di sofa ruang televisi. Tampaknya pria itu baru saja sampai.
Anna berjalan perlahan mendekati Dirno.
"Yah, nggak tidur di kamar saja?" tanya gadis itu lembut sembari mencium tangan ayahnya.
Dirno menguap lebar lalu menjawab, "di sini saja,"
Anna kemudian membenarkan posisi kaki ayahnya dan juga memutar kipas angin agar beliau tidak sakit.
Perlahan-lahan ekonomi mereka memang sudah lebih membaik berkat kerja keras Dirno. Namun, itu juga menjadi beban tersendiri bagi Anna dan Denis karena mengkhawatirkan kondisi beliau.
Berkali-kali mereka meminta Dirno untuk berhenti bekerja, tetapi beliau selalu menolak.
"Kalian tidak memiliki kewajiban untuk menafkahi keluarga ini, karena ini adalah tanggung jawab Ayah. Tabung gaji kalian untuk masa depan."
Bagi Denis dan Anna, bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah cukup.
__ADS_1
Anna mengusap pelan lengan ayahnya lalu meletakkan plastik belanjaan di atas meja makan dapur. Gadis itu akan mandi terlebih dahulu sebelum memasak.
...**********...
"Dari mana saja kau?" sentak Ryan begitu Nathan tiba di kamar hotel. Setelah mengantar Ryan, pria itu memang berniat pergi ke minimarket untuk berbelanja sesuatu
"Ada insiden." Jawab Nathan kalem. Pria itu meletakkan sekantong makanan ringan di atas meja televisi, sebelum kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi.
"Bagaimana pertemuanmu dengan Ansell?" tanya Nathan ketika keluar dari kamar mandi.
Alih-alih menjawab, Ryan meletakkan secarik kertas di atas nakas.
Nathan mengambil kertas tersebut dan membacanya. "Kita akan segera menemukannya."
Ryan terdiam. Tangannya tampak sibuk mengutak-atik remote televisi. "Jika kali ini gagal lagi, aku akan menghentikan pencarian saja sepertinya."
"Kenapa?" tanya Nathan.
"Lelah." Jawab Ryan tanpa basa-basi.
Nathan berdecak. "Yang benar saja! Kau sudah sejauh ini ... jangan menyerah!"
Ryan tidak menjawab.
"Bro!" Nathan meninggikan suaranya guna mencuri perhatian Ryan.
"Kau sudah mencarinya selama bertahun-tahun! Kau sudah berjanji di depan pusara kedua orangtuamu, dan kau bahkan berjanji untuk mengembalikan semua ini pada Anna nanti. Lalu sekarang? Leluconmu benar-benar buruk!" seru Nathan panjang lebar.
"Kau tidak sedang berada di posisiku, Nat!"
"Tapi aku mengerti perasaanmu!" balas Nathan.
"Tidak! Kau tidak tahu bagaimana perasaanku!" kilah Ryan.
"Aku tahu!"
Suara lemparan benda pun terdengar. Ryan yang sejak tadi berusaha menahan emosinya, kini melempar remote televisi dengan keras ke lantai hingga hancur berkeping-keping.
Pria itu muak pada Nathan yang selalu saja mengoceh dan menyemangatinya untuk terus mencari Anna selama ini.
Nathan terdiam. Dia memang tidak sepantasnya mencampuri urusan pribadi Ryan. Hanya saja ....
"Bro," panggil Nathan.
Ryan berdiri dari posisinya. "Aku akan memesan kamar lain," ucap pria itu seraya melangkah menuju pintu keluar.
__ADS_1
"Aku sudah kehilangan ayahku sejak dua puluh dua tahun yang lalu."
Perkataan Nathan tiba-tiba menghentikan langkah Ryan.