LOST (Anna)

LOST (Anna)
Bab 19. Kalung Anna.


__ADS_3

Ryan dan Natham berhasil menemukan tempat tinggal baru, yaitu sebuah apartemen kecil yang letaknya berada di kota, cukup jauh dari panti mau pun rumah Anna.


Sebagai sekretaris Ryan, biar bagaimana pun Natham harus tetap keamanan dan keselamatan pria itu. Oleh karenanya Nathan tidak ingin Ryan tinggal di tempat sembarangan.


Demi membantu meringankan pekerjaan rumah, Nathan juga menyewa seorang asisten rumah tangga profesional yang hanya akan datang di waktu-waktu tertentu saja. Selebihnya, mereka berdua sepakat mengerjakan segala hal sendiri.


Butuh waktu beberapa hari bagi Ryan untuk dapat beradaptasi di tempat tinggal barunya itu.


Kini keduanya sedang pergi menuju Panti Asuhan Kasih untuk melakukan kunjungan kembali.


Sebelum berangkat ke sana, Ryan sudah memberitahu Bunda Laila untuk tidak membuat acara penyambutan seperti kemarin, sebab mereka berdua berencana akan tinggal di desa tersebut sampai beberapa waktu ke depan.


"Jadi, Kakak Ryan akan sering-sering datang ke sini ya, Bunda?" tanya seorang gadis berusia dua belas tahun, setelah Bunda Laila mengumumkan apa yang diperintahkan Ryan.


Bunda Laila menganggukkan kepala. "Ya, benar!"


Suara sorak sorai kegembiraan pun terdengar seketika.


Bunda Laila menepuk tangannya guna memberi isyarat pada mereka untuk kembali tenang. "Oleh sebab itu, mulai sekarang kalian tidak boleh mengotori kamar ya? Mulai sekarang kalian harus disiplin! Tidak boleh melempar sepatu, kaos kaki, dan pakaian sembarangan. Rapikan ranjang setiap bangun tidur, dan makan dengan teratur! Oke?"


"OKE!" sahut para anak-anak panti dengan wajah antusias. Anak-anak berusia belia mulai masuk ke kamar mereka masing-masing, sedangkan yang lebih besar membantu pengurus panti membersihkan rumah. Sementara para balita sibuk mengikuti kakak-kakak mereka yang lebih besar.


Tepat pada jam makan siang, Ryan dan Nathan tiba di panti asuhan sembari membawa banyak sekali makanan cepat saji. Ryan memang sudah berpesan untuk tidak memasak hari ini.


Kedatangan kedua pria tampan tersebut tentu saja disambut hangat oleh anak-anak panti. Mereka saling memperebutkan 'si kakak-kakak', sebelum akhirnya Anna membantu menenangkan.


Melihat kehadiran Anna, Ryan sempat termangu. Pria itu menatap sang gadis dengan saksama, guna memastikan kembali kemiripan antara Anna dan adiknya. Namun, Ryan cukup kesulitan, sebab, menyamakan wajah seorang anak-anak dengan wanita dewasa memang tidak bisa dilakukan oleh mata telllannnjaang.


"Bro!"


Panggilan Nathan sontak membuyarkan lamunan Ryan. Mereka pun melangkah masuk ke dalam panti bersama.


Kedatangan Ryan dan Nathan memang selalu bisa membawa kegembiraan bagi anak-anak tersendiri. Mereka tampak lebih bersemangat dari biasanya. Apa lagi kedua pria itu selalu memanjakan mereka dengan barang-barang yang mereka bawa.


Hal tersebut sebenarnya cukup membuat Bunda Laila tak enak hati, karena takut anak-anak memiliki sifat kurang ajar dan hanya mengharapkan kedatangan mereka dengan alasan. Namun, sepertinya tidak demikian. Anak-anak memang tulus menyayangi kedua pria itu, terutama Ryan.


Sore pun tiba, Anna dan beberapa pengurus panti yang tidak tinggal di sana tengah bersiap pulang ke rumah.

__ADS_1


"Anna, pulang bareng saja, yuk! Kamu tidak bawa sepeda, kan?" Siska, seorang pengurus panti lain yang seusia dengannya, menawarkan diri.


"Iya, nih, sepedaku bocor! Oke, aku nebeng boleh ya?"


"Boleh!"


"Pulang dengan kami saja." Ryan tiba-tiba muncul di hadapan kedua gadis itu. Matanya menoleh pada Anna yang kini terlihat kaget.


"Bapak ajak ngomong saya?" tanya Anna sembari menunjuk dirinya sendiri.


"Ya." Jawab Ryan.


Anna sontak meringis. "Tidak perlu, Pak, kebetulan rumah saya dan Siska dekat, jadi bareng dia saja." Gadis itu menolak halus tawaran Ryan.


Ryan hendak membuka suaranya. Namun, Nathan keburu menginterupsi. "Sudah, pulang bersama kami saja. Ayo!"


Anna yang bingung lantas menoleh ke arah Siska.


Siska sendiri hanya bisa memberi isyarat pada Anna untuk mau menerima tawaran mereka. Kapan lagi bisa naik mobil milik bos besar? Hehehe.


Alhasil, Anna pun berkenan pulang bersama mereka.


"Bapak, maaf, Bapak kenapa dari tadi melihat saya terus?" Anna yang risih akhirnya memberanikan diri membuka suara.


Mendengar pertanyaan tersebut, Ryan tersentak. Nathan pun pura-pura berdeham seolah memberi isyarat.


"Maaf, saya mungkin membuatmu risih," ucap Ryan.


"Tidak apa-apa, Pak. Saya justru merasa tidak enak. Mungkin pernah melakukan kesalahan."


"Tidak!" jawab Ryan cepat. "Kamu tidak melakukan kesalahan. Hanya saja wajahmu terlihat sangat familiar dengan seseorang yang saya kenal," sambungnya.


Anna terdiam sejenak. "Siapa Pak?"


"Adik saya!" jawab Ryan.


Mendengar itu Anna sontak mengerutkan keningnya. Dia ingin bertanya lebih lanjut soal adik yang dimaksud Ryan, sebab sepertinya pria itu sangat merindukan sang adik. Namun, buru-buru diurungkan karena merasa tak sepantasnya bicara.

__ADS_1


Melihat kecanggungan antara Ryan dan Anna, Nathan berinisiatif membuka suara. "Oh iya, Ann, waktu itu kami sudah bertemu dengan ayahmu," ujar Nathan.


Anna lantas mengalihkan pandangannya pada Nathan. "Iya, aku juga sudah mengobrol dengan ayah, tapi ada hal yang cukup membuatku aneh," kata gadis itu.


"Apa?" tanya Nathan.


"Setelah tahu aku mengenal kalian, tiba-tiba ayah menyuruhku untuk resign dari panti."


Mendengar jawaban Anna, Ryan dan Nathan seketika saling melemparkan tatapan tajam melalui kaca spion tengah.


Nathan meringis tertawa. "Benarkah? Kenapa?"


"Justru itu aku malah ingin bertanya ke Mas Nathan. Kata Mas Nathan, ayah pernah mengisi acara salah satu saudara Mas, tetapi kenapa sepertinya setelah kedatangan kalian, kami jadi bertengkar? Ahh, maaf, kalau aku lancang! Aku benar-benar tidak bermaksud menuduh atau apa ...." Anna langsung merapatkan bibirnya.


"Ahh, itu ... hanya ada kesalahpahaman saja. Nanti kami akan menemui beliau lagi untuk meluruskan kesalahpahaman kemarin. Kami harap, kamu tidak keberatan. Justru kami yang meminta maaf karena telah membuatmu bertengkar," ujar Nathan kemudian.


"Tidak apa-apa, Mas. Ayah mungkin sedang lelah. Maklum saja, beliau masih kerasan bekerja padahal aku sudah menyuruhnya untuk diam di rumah."


Obrolan pun terus bergulir dengan membicarakan hal lain. Hingga tanpa terasa, mobil yang dikendarai Nathan memasuki perumahan Anna.


"Mas, aku turun di sini saja!" seru Anna saat mobil hendak berbelok memasuki blok-nya.


Nathan yang memahami maksud Anna bergegas menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Terima kasih atas tumpangannya, Mas Nathan, Pak Ryan," ujar Anna.


"Sama-sama," jawab kedua pria itu nyaris berbarengan.


Anna pun keluar dari mobil dan melambaikan tangan, sebelum akhirnya berjalan perlahan hingga menghilang di tikungan.


"Aneh sekali!" gumam Nathan. "Bro, rasanya apa y—"


Belum sempat Nathan menyelesaikan perkataannya, suara pintu mobil tiba-tiba terdengar menutup, diiringi keberadaan Ryan yang telah menghilang dari sana.


"Loh, Pak, ada apa?" tanya Anna yang terkejut melihat Ryan berlari ke arahnya.


Ryan dengan wajah syok tiba-tiba mengangkat tangannya ke arah Anna, guna menunjukkan seutas kalung berbandul nama yang jatuh di jok mobil.

__ADS_1


"Kalung ini ... milik siapa?" tanya Ryan dengan suara nyaris tercekat.


__ADS_2