LOST (Anna)

LOST (Anna)
Bab 20. Anna ditemukan?


__ADS_3

Anna lantas meraba lehernya dengan saksama, lalu terkejut saat mendapati kalungnya ternyata tidak ada di sana.


"Ahh, syukurlah! Itu kalung saya, Pak. Pengaitnya memang sudah kendur, jadi gampang lepas. Seharusnya saya simpan saja di rumah. Sekali lagi terima ... Pak?" Anna mengangkat alisnya tinggi-tinggi, tatkala Ryan tidak memperkenankan Anna untuk mengambil kalung miliknya tersebut.


"Saya tanya, dari mana kamu mendapatkan kalung ini?"


"Bro!" Nathan yang ikut menyusul Ryan, mendadak menghentikan langkahnya.


"Jawab saya, Anna!" seru Ryan.


Anna mulai ketakutan mendapati bentakan dari Ryan. Terlebih sorot matanya terlihat begitu menyeramkan. "Pa Pak, Anda me membuat saya takut," cicitnya.


"Yan!" Nathan yang belum memahami lantas menghampiri Ryan guna menanyakan maksudnya. Namun, saat Nathan hendak memegang bahu Ryan, pria itu bergegas menampik dan berjalan mendekati Anna.


Anna mundur perlahan. Wajahnya benar-benar ketakutan mendapati Ryan terus mendesaknya.


Nathan dengan cepat menahan lengan Ryan. "Kau menakutinya, Bodoh!" bentak Nathan.


Ryan tampak tidak peduli. "Jawab pertanyaanku, Anna!"


Anna termangu. Bibirnya bergetar hebat. "I itu ke kenangan dari almarhumah ibu saya," jawab Anna terbata.


Ryan dan Nathan membelalakkan matanya.


"Siapa nama ibumu?" tanya Ryan lagi.


"Ma Marni, Pak."


Mendengar jawaban tersebut, Ryan kontan menggelengkan kepalanya keras-keras. Bukan! Itu bukan dari wanita bernama Marni. Dari mana nama itu tiba-tiba muncul? Aoa yang sebenarnya terjadi pada Anna?


Saat Ryan hendak bertanya kembali, sosok Dirno muncul dari dalam rumah.


"Anna, pulang!"


Anna menoleh ke arah Dirno. "Tapi, Yah, kalungku ...?"


"Pulang!" bentak Dirno yang langsung mengejutkan Anna.

__ADS_1


Anna yang sama sekali tidak mengerti keadaan ini hanya bisa menurut. Saat dia kembali menoleh ke arah Ryan, setetes air mata ternyata jatuh membasahi pipi pria itu.


Anna bisa melihat betapa rapuhnya sosok Ryan kini.


Suasana pun semakin memanas, kala Ryan berusaha menahan Anna di sana. Dirno yang tidak terima mulai berteriak-teriak hingga mengundang para tetangga.


Mengetahui kondisi mulai tidak kondusif, Nathan bergegas menarik paksa Ryan ke mobil. Butuh usaha lebih sampai mereka berhasil masuk ke dalam dan pergi.


"Kau ini gila atau apa, sih!" bentak Nathan begitu mereka sudah berada di jalan raya. "Jangan gegabah, Yan! Memangnya apa yang kamu lihat dari kalung tersebut? Kamu ter—"


"Kalung ini dari ibuku!" pekik Ryan sembari memeluk erat kalung Anna yang masih berada dalam genggamannya. Ternyata Dirno tidak berhasil merebut kalung itu dari tangan Ryan tadi.


Nathan yang terkejut lantas menghentikan mobilnya. Pria itu bergegas menoleh ke belakang dan mendapati Ryan meringkuk sembari memeluk kalung itu.


"Apa maksudmu, Yan? Mungkin saja kalung itu memiliki kesamaan dengan kalung umum lainnya," ujar Nathan.


Ryan sama sekali tidak mengindahkan pertanyaan Nathan.


...**********...


"Yah, mana kalungku?" tanya Anna begitu melihat sang ayah masuk ke dalam rumah dengan wajah penuh kemarahan.


Kini Nathan sangat mengerti mengapa Ryan se-emosional itu ketika melihat kalung Anna.


"Kalung itu khusus dibuatkan oleh mendiang Nyonya Belinda untuk Anna, dan Ryan lah yang mendesainnya. Di belakang ukiran nama tersebut terdapat nama satu keluarga yang hanya bisa dilihat oleh kaca pembesar."


Saking penasarannya, Nathan sampai meminta tolong satpam apartemen untuk mencarikan kaca pembesar. Dan hasilnya ... di belakang setiap huruf jelas terlihat nama Martin, Belinda, dan Ryan sendiri.


Bulu kuduk Nathan meremang seketika.


Anna benar-benar adik dari Ryan.


"Atau mungkin saja gadis itu menemukan kalung tersebut di jalanan?" Nathan langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat atas pemikiran konyolnya tersebut.


Pria itu kemudian menoleh pada Ryan yang masih terlelap di ranjangnya. Nathan sengaja memberikan obat tidur pada Ryan, agar dia bisa menenangkan diri.


...*************...

__ADS_1


Denis yang baru pulang dari tempat kerjanya hanya bisa termangu saat mendengar suara-suara sumbang para tetangga soal pertengkaran Dirno dengan dua orang asing saat sore tadi.


Begitu Denis mencoba menanyakan hal tersebut, Dirno dengan mata basah menjawab, bahwa Ryan dan Nathan menemukan kalung milik Anna.


"Yah, sebaiknya kita katakan saja pada mereka," ujar Denis pasrah.


"Tidak, Denis! Ayah tidak mau menyerahkan Anna pada mereka. Anna telah dibuang bagai sampah, dan kini mereka meminta Anna kembali setelah tiga belas tahun."


Denis mengusap lengan ayahnya lembut. "Mungkin ini memang sudah waktunya, Yah," ucap pria berusia 29 tahun itu.


Dirno terdiam.


...**********...


Suasana di rumah sakit tempat Dirno bekerja sangat ramai hari ini. Berbagai dekorasi dan pernak-pernik khas ulang tahun menghiasi hampir tiap sudut lantai satu.


Hari ini adalah hari ulang tahun salah satu pasien mereka bernama Angel, seorang gadis berusia 10 tahun pengidap kanker otak stadium empat. Harapan hidup Angel yang sangat sedikit, membuat kedua orang tuanya memutuskan membuat acara ulang tahun terakhir dengan sangat meriah.


Dirno yang kini berpakaian layaknya badut lucu, tengah sibuk menghibur Angel dan beberapa pasien lain bersama rekan-rekannya.


"Angel benar-benar sangat bahagia," ujar Cahyo, salah seorang rekan Dirno. Mereka berdua baru saja selesai mengisi sesi pertama acara tersebut dan sedang beristirahat.


"Ya, siapa yang tidak bahagia dengan acara semeriah ini, kan?" kelakar Dirno.


Cahyo tersenyum tipis. "Bukan hanya itu saja yang membuat Angel bahagia, Mas Dirno, melainkan karena kebersamaan kedua orang tuanya yang sudah lama bercerai."


Mendengar itu, Dirno sontak terdiam. "Mereka bercerai saat Angel sedang sakit?"


Cahyo menggeleng. "Mereka bahkan sudah bercerai saat Angel berusia dua tahun, jauh sebelum anak itu sakit," ucapnya. "Dari yang aku dengar, sejak saat itu Angel tidak pernah lagi diperkenankan bertemu ibunya," Sambung Cahyo.


"Angel tumbuh dan berkembang tanpa mengetahui sedikit pun kabar tentang ibunya, hingga penyakit mematikan tersebut muncul dan merenggut masa depan gadis itu. Bahkan penyakit tersebut sempat membuat Angel hilang ingatan."


Dirno tersentak kaget.


"Mengetahui penderitaan Angel, sang ayah akhirnya luluh dan memutuskan mempertemukan mereka berdua." Cahyo tampak terdiam sejenak. "Dan Mas Dirno tahu, keajaiban apa yang terjadi setelah Angel bertemu dengan ibunya?"


Dirno menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Angel mampu mengingat kembali semua yang sempat dia lupakan."


__ADS_2