
"Iya, Bun, aku akan meluangkan waktu ke sana. Maaf, saat di sana aku tidak sempat mampir." Ryan tampak sedang berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.
Tidak apa-apa. Nak Ryan kan, sedang sibuk. Jaga kesehatan ya?
"Baik, Bunda. Bunda juga jaga kesehatan." Ryan pun mengakhiri pembicaraan dengan mengucapkan salam.
"Bro, tolong kosongkan jadwalku selama dua hari, aku ingin mengunjungi panti," ujarnya pada Nathan yang sedang sibuk mengetik di kursi tamu.
"Oke, noted!" balas Nathan tanpa mengalihkan pandangannya pada laptop.
"Kita juga sekalian akan mencari rumah Pak Dirno di sana," sambung Ryan yang langsung membuat Nathan bungkam.
Nathan seketika gamang. Haruskah dia menceritakan pertemuannya dengan Anna? Bagaimana kalau Ryan berpikir bahwa Anna adalah adiknya, padahal jelas-jelas gadis itu merupakan putri bungsu Dirno yang kebetulan memiliki nama sama?
Belum lagi, Ryan pasti akan buru-buru memintanya untuk berangkat sekarang juga tanpa memikirkan pekerjaan yang masih menumpuk dan belum terjadwal.
Alhasil, untuk saat ini Nathan memilih untuk menyembunyikannya terlebih dahulu dari sahabatnya tersebut.
...**********...
Anak-anak panti bersorak sorai, tatkala Laila, sang pemilik panti memberitahukan pada mereka soal kedatangan 'Kakak Ryan' ke sana.
Ryan memang sengaja meminta mereka memanggilnya demikian, tanpa embel-embel panggilan hormat.
Anna yang merupakan pengurus baru di panti asuhan tersebut hanya bisa tersenyum menatap kebahagiaan anak-anak panti soal kedatangan sang donatur. Dia sempat mendengar dari Laila soal Cetta Corp yang telah menjadi donatur tetap selama belasan tahun. Bahkan panti asuhan mereka bukan lah satu-satunya.
Ada tiga panti asuhan lagi yang salah satunya sudah lebih lama diurus perusahaan tersebut, yaitu sejak sang pemimpin terdahulu masih hidup.
Seluruh penghuni panti, termasuk anak-anak yang lebih besar kini mulai sibuk membereskan rumah dan kamar masing-masing demi menyambut kedatangan beliau. Sementara Anna dan dua orang pengurus lainnya mulai berbelanja bahan makanan.
...**********...
Dua hari kemudian.
Suasana panti hari ini tampak begitu sibuk dan ramai. Setelah membantu mengurus adik bayi dan balita, Anna bergegas membantu Bude Maya dan Deva di dapur untuk memasak berbagai hidangan sederhana yang menggugah selera.
"Bude, sepertinya anak-anak sayang sekali dengan sang donatur ya?" tanya Anna pada Bude Maya, yang begitu heran melihat kehebohan mereka.
__ADS_1
Bude Maya tertawa kecil. "Memang. Pak Ryan itu selalu memanjakan anak-anak dengan banyak mainan yang dibawanya. Belum lagi beliau juga suka lupa waktu kalau berada di sini. Bahkan bisa menginap, loh!"
Anna mengangguk-anggukkan kepalanya. "Pantas saja beberapa anak panti sempat berdebat memperebutkan 'Kakak Ryan'." Gadis itu terkikik geli.
"Ya, Pak Ryan memang kalau menginap dan tidur bersama anak-anak."
Anna tersentuh dengan cerita Bude Maya. Siapa yang sangka, di dunia yang kejam ini masih ada segelintir orang yang memiliki kebaikan hati bak malaikat. Apa lagi kebaikan itu muncul dari orang kaya yang biasanya senang menindas orang lemah.
"Aku jadi gugup Bude. Bagaimana kalau Pak Ryan tidak menyukai kinerjaku di sini?" ujar Anna khawatir.
"Tidak, Pak Ryan tidak seperti itu. Lagi pula, dia menyerahkan semuanya pada Bunda Laila dan tidak terlalu ikut campur soal urusan itu. Paling-paling hanya memberikan saran saja."
Anna mengamini. Dia berharap, pria itu menyukai kinerja dirinya agar tidak memberi saran buruk pada Bunda Laila.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, ketika mobil Ryan mendekat ke arah panti. Bersama Bowo, keduanya bisa melihat puluhan anak-anak panti dan para pengurus berbaris demi menyambut kedatangan mereka.
Beberapa anak di antaranya bahkan menyiapkan balon dan bunga, jug kertas karton bertuliskan 'Welcome home, Kakak Adryan!'
"Mereka terlalu berlebihan." gumam Ryan tak enak hati, meski senyumnya kini mengembang. Perasaan hangat dan damai sontak menyelimuti diri pria berusia tiga puluh empat tahun tersebut.
Ryan sontak tertawa, kala anak-anak panti mulai mengerubungi mereka berdua dengan celotehan masing-masing. Mereka bahkan sempat cemburu saat Ryan dan Nathan menggendong salah satu adik terkecil mereka.
Melihat kekacauan tersebut, Bunda Laila dan beberapa pengurus panti tampak berusaha menenangkan anak-anak.
Anak-anak baru bisa tenang setelah Nathan berkata, "yang paling santun dan berbaris rapi akan mendapatkan hadiah dari Om Bowo!"
Tanpa menunggu lama, mereka pun bergegas membentuk barisan.
Bowo hanya bisa meringis pasrah soal panggilannya yang terdengar tampak tua, padahal usia pria itu bahkan jauh di atas Ryan.
Anna dan Bude Maya yang baru saja selesai menyiapkan hidangan, bergegas menyusul keluar panti.
Mata gadis itu terbelalak lebar, tatkala tanpa sengaja dia bertemu dengan Nathan yang ternyata juga sedang menatapnya.
Nathan pun tak kalah terkejutnya dengan Anna.
"Ayo, ayo, kita masuk dulu!" Suara Bunda Laila sontak membuyarkan mereka.
__ADS_1
Ryan dan Nathan pun berpapasan dengan Maya dan juga Anna.
Maya menyambut kedatangan mereka dengan sangat ramah, begitu pula Ryan dan Nathan yang tidak sungkan mencium tangan para pengurus panti yang berusia tua seperti Maya dan Bunda Laila.
"Ahh, Nak Ryan. Ini pengurus panti kami yang baru, Anna," ujar Bunda Laila pada Ryan. "Anna, ini Pak Ryan, yang kemarin Bunda ceritakan."
Nama yang lagi-lagi begitu sensitif bagi Ryan.
Ryan sontak terdiam. Matanya memandangi Anna dengan tatapan tidak terbaca.
Entah mengapa, pria itu merasa sangat familiar dengan wajah Anna.
Mendapat tatapan demikian, Anna jadi khawatir sendiri. Mungkinkah pria itu tidak menyukai dirinya?
Aduh, jangan-jangan dia nggak suka aku, terus meminta Bunda untuk memecatku! Batin Anna panik.
"Salam kenal, saya Ryan," ucap Ryan sembaru mengulurkan tangannya pada Anna.
Anna dengan canggung menyambut uluran tangan Ryan. "Salam kenal, Pak, saya Anna," ucap gadis itu.
Di belakang Ryan, Nathan tampak termangu, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.
Setelah menjabat tangan Ryan, Anna pun menyapa Nathan ramah.
"Kita ketemu lagi Mas Nathan," ucap Anna tersenyum.
Mendengar itu, Ryan sontak mengalihkan pandangannya pada Nathan.
"Ini Anna, gadis yang pernah nyaris saja kita tabtak tempo hari." Nathan berusaha menjelaskan secara singkat pertemuan mereka.
"Oh, jadi Pak Nathan!" celetuk Bunda Laila. "Iya, waktu itu Anna datang ke panti dalam keadaan luka."
Nathan meringis lalu meminta maaf. "Saya terlalu ceroboh saat menyetir mobil waktu itu." Katanya.
"Tidak apa-apa, semua kan, sudah selesai. Lagi pula, saya juga tanpa sengaja membuat Anda terluka." Demi menghormati Ryan, Anna mengajak bicara Nathan menggunakan bahasa formal.
Ryan hanya bisa terdiam memandangi keduanya secara bergantian.
__ADS_1