
Ryan dan Denis saat ini sedang makan bersama di dalam ruangan pria itu. Semula, Denis menolak ajakan makan sore Ryan, karena merasa sangat canggung berhadapan dengannya. Dia yang baru bekerja sama sekali tidak mengetahui bahwa pemilik perusahaan tempatnya bekerja adalah orang yang pernah nyaris menabraknya beberapa bulan lalu.
Pantas saja Ryan dengan mudah mengganti rugi tanpa melihat nominalnya.
Tak hanya terkejut dengan Ryan, Denis juga sangat terkejut dengan pribadi Ryan yang begitu ramah. Walau tertutup tetapi Denis bisa melihat dengan jelas kebaikan hati yang dimiliki bos besarnya tersebut.
Pria itu bahkan berbesar hati mengatakan permintaan maafnya lagi, beserta alasan mengapa dia terburu-buru waktu itu.
"Tidak apa-apa Pak, saya malah yang jadi tidak enak hati karena Bapak malah memberikan saya sejumlah yang sangat besar. Saya bahkan masih menyimpan uang tersebut dan berniat mengembalikannya."
Mendengar hal tersebut, Ryan tersentak kaget. "Tidak, tidak perlu! Aku memberikannya padamu untuk kau gunakan!"
"Ta tapi Pak ...."
"Saya tidak ingin menerima alasan, Denis. Jadi gunakanlah uang itu sebagaimana mestinya. Oke?" kata Ryan.
Denis mengangguk canggung. Mereka pun melanjutkan pembicaraan sampai akhirnya Denis pamit undur diri.
"Terima kasih sudah menemani saya, Denis," ucap Ryan pada Denis.
"Saya yang seharusnya berterima kasih, Pak."
Ryan tersenyum tipis lalu berpesan pada Denis untuk berhati-hati. Pria itu menolak uang pemberian Ryan.
...**********...
"Terima kasih es krimnya." Mata Anna berbinar-binar menatap kilauan es krim yang tersaji di hadapannya.
Kapan lagi bisa makan gratis di tempat mewah seperti ini. Seumur-umur dia hanya mampu membayangkannya saja karena harga es krim di sini sama dengan jatah makan keluarganya selama satu minggu.
"Jangan sungkan kalau kau mau lagi," Nathan membuka suaranya. Matanya terus menatap Anna tanpa berkedip. Bagaimana tidak, sebab gadis ini baru mengaku sebagai penghuni lama rumah tersebut, sekaligus salah satu anak dari si pesulap jalanan bernama Dirno. Yang berarti sejak awal dia sudah menemukan salah satu orang yang mereka cari.
Akan tetapi, yang lebih membuat Nathan terkejut adalah nama Anna yang memiliki kesamaan dengan nama adik Ryan.
Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa semua kebetulan ini bisa datang bertubi-tubi.
"Mas Nathan? Kok bengong, sih!" Suara Anna kembali mengusik indera pendengarannya.
"Eh, maaf," jawab Nathan.
__ADS_1
"Omong-omong, kenapa Mas bisa ada di rumahku?" tanya gadis itu disela-sela makannya.
Nathan terdiam. Haruskah dia jujur saja pada Anna, atau berdalih dengan alasan lain.
Bagaimana kalau dia menceritakan saja langsung pada Anna soal adik Ryan, tanpa bertemu terlebih dahulu dengan Dirno?
Nathan menggeleng cepat. Tidak! Entah mengapa perasaannya menolak melakukan hal tersebut.
"Aku kenal dengan ayahmu," jawab Nathan singkat.
Anna mengerutkan keningnya dalam-dalam, seraya menelisik Nathan penuh heran.
"Secara pribadi?" tanyanya lagi.
"Ya, seperti itu," jawab Ryan lagi.
Sejak kapan ayahnya kenal dengan orang-orang kalangan atas? Mungkinkah pelanggan beliau? Sepertinya bukan.
"Mas Nathan kenal ayahku dari mana?" Anna memicingkan curiga. Tiba-tiba perasaan tidak enak muncul seketika. "Jangan-jangan pertemuan kita selama ini bukan kebetulan semata ya? Mas pasti sudah merencanakan semuanya agar terlihat alami! Hayo, siapa Mas sebenarnya?"
Nathan menghela napas, "Tidak perlu berperasangka buruk seperti itu. Aku mengenal beliau karena pernah memakai jasanya, tepatnya saudaraku." Nathan berusaha berkilah
Nathan meringis. Semudah itu dia percaya? Batinnya geli. Namun, dia tetap menerima kartu nama itu, "Terima kasih," ucap Nathan.
"Ahh, iya!" Seakan teringat dengan sesuatu, Nathan segera merogoh saku jasnya. "Kamu menjatuhkan ini tempo hari, dan saat aku memanggil, kamu sudah cepat sekali menghilangnya."
Anna memekik kegirangan, tatkala mengetahui bahwa kalung kesayangannya berada di tangan Nathan dan tidak hilang. Pria itu memang hampir selalu membawa kalung tersebut karena berharap bisa bertemu dengan Anna kembali, dan itu memang terjadi.
Ucapan maaf berkali-kali disematkan Anna untuk Nathan. Dia bahkan akan bergantian meneraktir Nathan. "Tapi tunggu aku gajian dan jangan mahal-mahal ya, Mas?"
Perkataan tersebut sontak mengundang gelak tawa dari Nathan, hingga membuat para pengunjung menoleh ke arahnya.
Anna yang panik refleks memukul lengan pria itu. "Tampang rapi, cakep, tapi ketawanya bar-bar sekali. Malu-maluin tahu!"
Nathan tersenyum miring. "Jadi, aku cakep?"
Anna tersentak. "Dih, percaya diri sekali pria ini!"
Keduanya pun saling berdebat soal perkataan Anna yang terlontar begitu saja tanpa berpikir. Anna sendiri tidak menyangka bahwa Nathan memiliki tingkat kenarsisan sangat tinggi.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian mereka pun berpisah, karena Nathan harus kembali ke kantor. Ryan sudah menelepon dirinya berkali-kali. Sebelum itu dia mengantar Anna ke terminal terlebih dahulu.
Denis tiba di terminal lima belas menit kemudian. Terlalu lama berbincang dengan Ryan membuat pria itu membatalkan niatnya mengunjungi rumah lama. Lagi pula tak ada yang bisa dia lihat selain kenangan bersama sang ibu saja.
Begitu sang kakak tiba, Anna dengan riang gembira menunjukan kalung miliknya yang semula hilang. Dia menceritakan pada Denis bahwa jamnya ternyata tidak sengaja terbawa salah satu teman yang pernah berkunjung ke desa
"Kok bisa ketemu di sini? Terus temanmu ngapain ke desa?"
"Nggak tahu juga." Anna mengendikkan bahu.
"Aneh sekali!" gumam Denis. Dia lantas bertanya-tanya dalam hati tentang teman yang dimaksud Anna tersebut. Apa lagi, Anna juga bilang bahwa temannya itu pernah memakai jasa ayah mereka.
"Ahh, sudah, tidak perlu dipikirkan! Kapan-kapan aku akan kenalkan. Oke?"
"Oke, aku juga penasaran dengan temanmu itu. Omong-omong, sudah beli tiketnya?" tanya Denis.
"Sudah, dong! Nunggu Kakak kelamaan!"
Mereka pulang satu jam kemudian saat hari sudah gelap. Beruntung mereka masih diberi libur satu hari lagi dari tempat kerja masing-masing untuk beristirahat setelah melakukan perjalan cukup jauh dan melelahkan.
"Tadi ngapain aja di kantor, Kak?" tanya Anna saat mereka sudah menaiki bus.
"Tidak banyak ... Eh iya, An, ingat tidak dengan cerita Kakak soal orang yang menabrak dan mengganti rugi sebanyak dua juta itu?" kata Denis tiba-tiba.
"Ingat! Kenapa memangnya?"
"Dia ternyata pemilik perusahaan tempat Kakak bekerja, tahu!" jawab Denis antusias.
"APA?" pekik Anna. Untung saja bus masih dalam keadaan sepi, jadi tidak ada yang terganggu dengan teriakan gadis itu.
"Terus, terus?"
"Ya, Kakak diajak makan enak dan mahal. Sayang banget kamu nggak ikut," ujar Denis kemudian.
"Cih, aku juga diajak makan es krim mahal tahu sama temanku!"
Layaknya seorang anak kecil, mereka berdua saling menyombongkan diri dengan makanan yang baru saja mereka santap masing-masing.
Kendati demikian, Anna juga merasa aneh dengan kebetulan yang terjadi pada sang kakak seperti dirinya.
__ADS_1
Entah mengapa, semenjak pindah rumah dia merasa hidupnya jadi sedikit lucu.