LOST (Anna)

LOST (Anna)
Bab 17. Denis pusing.


__ADS_3

"Kalau begitu, kamu harus keluar dari panti itu, Nak!" pinta Dirno tegas.


Anna mengangkat alisnya tinggi-tinggi. "Maksud Ayah apa, sih? Kok tiba-tiba menyuruhku resign? Aku kan, baru masuk kerja, Yah. Lagian aku sudah kerasan kerja di sana dan nggak ada alasan juga untuk keluar!'


"Ayah tidak mau tahu, Anna. Pokoknya, kamu besok tidak boleh pergi bekerja lagi!" tegas Dirno.


Anna tentu saja menolak keras perintah tersebut. Apa lagi Dirno tidak mau memberikan alasan yang tepat dan malah semakin gencar menyuruh Anna keluar dari sana.


Keributan pun tidak terhindarkan. Dirno yang selama ini selalu bersikap lembut kepada dua anaknya tiba-tiba berkata dengan nada tinggi. Dia memaksa Anna untuk lekas angkat kaki dari panti.


"Ayah tidak ingin mendengar apa pun dari kamu. Pokoknya kamu harus keluar dari sana atau kalau tidak ...!"


"'Kalau tidak' apa Ayah?" Anna mendongakkan kepalanya guna menatap mata tajam beliau. Gadis itu cukup terguncang mendengar bentakan Dirno.


"Ada apa ini?" Denis yang baru pulang bekerja kontan terkejut mendapati keributan yang terjadi antara ayah dan adiknya. Anna bahkan sudah menangis keras di hadapan Dirno.


"Ada apa, Yah? Anna?" tanya Denis.


Anna mengalihkan pandangannya pada Denis lalu berkata, "Ayah jahat!" sambil berlalu menuju kamar.


"Anna!" panggil Dirno yang lebih terdengar seperti sebuah bentakan.


"Yah, kenapa?" Denis berusaha menenangkan hati Dirno, sekaligus mengajak pria itu berbincang.


...**********...


Nathan baru saja selesai mandi dan berganti pakaian. Hari ini dia memutuskan menginap di rumah Ryan untuk mengawasinya.


Meski mereka sedang bertengkar, Nathan tetap saja tidak bisa memalingkan perhatiannya pada kondisi sang sahabat.


"Mas Nathan, makan dulu, saya sudah siapkan makanannya di bawah." Seorang asisten rumah tangga berusia paruh baya bernama Narti, datang menghampirinya.


"Terima kasih, Bi Narti, saya akan makan di atas bersama Ryan," jawab Nathan.


"Kalau begitu, biar saya ambilkan dulu."


"Tidak perlu, Bi, biar saya saja." Tanpa menunggu jawaban Bi Narti, Nathan bergegas turun ke lantai bawah. Pria itu meminta sebuah nampan, dua buah gelas, dan piring untuk mereka berdua.

__ADS_1


"Yan, bangun! Makan dulu, sejak pulang tadi perutmu belum terisi apa-apa!" titah Nathan sembari meletakkan piring berisi nasi goreng di atas nakas. Meski tengah memejamkan mata, dia tahu betul pria itu belum tertidur sama sekali.


"Aku tidak lapar!" jawab Ryan singkat.


Nathan berdecak. "Makan dulu! Kalau kau sakit, siapa yang akan mengurus kantor?"


"Aku tidak peduli!"


"Ryan!" bentak Nathan.


"Tinggalkan aku sendiri!"


Nathan menghela napasnya. Dia bangkit dari ranjang lalu berkata, "tingkahmu begini hanya akan merugikan dirimu sendiri. Kau pikir, Tuhan akan perihatin dengan sikapmu? Tidak, Yan!" Suara pintu pun terdengar menutup.


Ryan membuka lengannya. Mata coklat pria itu basah.


Dalam hati dia membenarkan sekaligus menertawakan perkataan Nathan barusan.


Benar juga! Dia lah yang berulah ... menjadi penyebab hilangnya Anna.


Ryan bahkan membenarkan perkataan Dirno, meski beliau tidak mengetahui, bahwa sebelum-sebelumnya mereka sudah mencari Anna walau tidak maksimal.


Pria itu bangkit dari posisi tidurnya dan membuka dompetnya


Selembar foto berisi potret satu keluarga bahagia, tersemat di dalam sana. Itu merupakan foto terakhir, sekaligus satu-satunya yang Ryan miliki.


Foto tersebut diambil tepat sehari sebelum insiden kebakaran terjadi.


Tidak ada barang-barang yang selamat pasca kebakaran, termasuk foto-foto keluarga mereka. Namun, Belinda masih menyimpan foto klise yang belum dicetak.


Belinda memang sengaja tidak mencetaknya karena takut akan hilang kembali. Itu lah mengapa dia lebih memilih menyimpan semua itu di dalam sebuah kotak khusus sebagai kenang-kenangan.


Dengan tangan bergetar Ryan mengelus potret seorang gadis kecil yang sedang tersenyum manis sembari memeluk lengan kirinya. Senyum yang tak pernah lagi terlihat di wajah Anna setelah kematian ayah mereka.


Kilas balik masa lalu tiba-tiba saja menyeruak kembali ke permukaan.


"Dasar pembunnuhhh! Kamu yang harusnya maattii waktu itu, bukannya ayah!"

__ADS_1


"Dia bukan adikku! Dia itu si biang onar yang membuat ayahku meninggal!


"Dasar gadis kecil pembawa sial! Kamu sudah membuatmu ayahku meninggal, jangan-jangan kamu sengaja ya? Jangan-jangan kamu bukan anak keluarga ini!"


Ryan sontak menggeram kesakitan, tatkala mengingat perkataan terakhir yang pernah dia lontarkan pada Anna, selepas kepergian Martin.


Siapa sangka perkataan tersebut justru menjadi boomerang yang menyerang dirinya.


Geraman tersebut berubah menjadi tangisan keras yang mengundang Nathan dan beberapa asisten rumah tangganya untuk datang.


Tyo yang baru saja tiba di rumah tersebut bahkan ikut berlari menuju kamar Ryan..


"Ryan!" Nathan memekik keras, ketika mendapati Ryan tertelungkup di lantai dalam kondisi memperihatinkan. Dibantu Bi Narti dan dua orang asisten rumah tangga lain, pria itu membantu menaikkan Ryan ke atas ranjang.


"Ryan?" Tyo yang baru masuk bergegas menghampiri mereka.


"Badannya panas, Om," ujar Nathan setelah memeriksa dahi Ryan.


"Baringkan saja, biar Om telepon dokter dulu." Tyo bergegas menelepon dokter, sebelum akhirnya meminta Bi Narti untuk menyiapkan kompres.


...**********...


Denis terhenyak setelah mendengar semua cerita dari Dirno. Pria itu terkejut saat mengetahui bahwa Anna secara tidak langsung bekerja di bawah naungan Cetta Corp. Pasalnya, perusahaan tersebut adalah perusahaan tempatnya bekerja juga.


Itu berarti, nama Ryan dan Nathan yang baru dikatakan sang ayah merupakan CEO Cetta Corp dan sekretaris pribadinya.


Napas Denis terasa sesak. Kalau memang benar cerita tersebut, Anna tidak lain dan tidak bukan adalah adik dari CEO tempat mereka bekerja.


"Hueeek!" Rasa mual tiba-tiba menyerang Denis. Pria itu dengan cepat pergi menuju kamar mandi.


"Denis, kamu kenapa?" teriak Dirno.


"Pusing, Yah!" katanya dengan nada tercekat.


Dalam hatinya, Denis juga mengkhawatirkan reaksi sang ayah begitu tahu, bahwa dirinya juga bekerja di bawah kepemimpinan Ryan.


Pria itu tiba-tiba mengingat kembali perkataanmya tempo lalu soal uang yang diberikan Ryan saat nyaris menabraknya.

__ADS_1


Harapan agar uang tersebut tidak membawa masalah sepertinya tidak terkabul.


Kini, Denis harus memikirkan cara agar Anna tidak ditemukan mereka, selain harus keluar dari tempat kerja. Sebab, biar bagaimana pun, mereka butuh pekerjaan tersebut, dan Denis juga tidak rela menyerahkan Anna yang sudah mereka buang!


__ADS_2