
"Tolong, biarkan seperti ini dulu, Anna. Aku berjanji tidak akan kurang ajar padamu."
Lagi-lagi suara itu kembali terngiang di telinga Anna. Suara dari seorang pria asing yang akhir-akhir ini sering sekali mengganggu, baik secara nyata mau pun mimpi.
Ya, entah bagaimana, sejak terakhir kali pertemuan di apartemen Ryan, Anna beberapa kali memimpikan pria itu.
Anna tidak bisa menjelaskan secara spesifik bagaimana mimpi tersebut. Hanya saja sosok Ryan datang bersama siluet seorang wanita yang tidak dapat dilihatnya dengan jelas.
Jika sudah begitu, Anna akan langsung terbangun dari tidurnya dengan keringat dingin membasahi tubuh.
Anna bukannya gadis bodoh yang tidak menyadari keanehan antara Ryan dan keluarganya. Terlebih sikap sang ayah yang begitu membenci Ryan. Apa lagi beliau bukan pertama kali terlihat bersitegang dengan Ryan.
Saat terakhir Ryan datang ke rumah mereka, satu minggu lalu, Anna sadar bahwa keduanya terlibat konflik yang cukup serius.
Embusan napas keluar dari mulut mungil Anna. Alih-alih tidur, gadis itu malah membiarkan matanya tetap terbuka sampai dini hari.
...**********...
"Sebenarnya apa yang terjadi antara Ayah dengan Pak Ryan?" tanya Anna di sela-sela sarapan pagi keluarga yang tenang.
Pertanyaan tersebut sontak membuat kedua pria yang duduk di hadapan Anna itu saling melempar tatapan tanpa suara.
"Apa maksudmu?" Dirno memilih balik bertanya, dari pada menjawab pertanyaan sang putri bungsu.
__ADS_1
"Yah, aku tidak bodoh-bodoh amat. Pertemuan Ayah dengan Pak Ryan dan Mas Nathan sejak awal tampak ada yang tidak beres. Memangnya, apa yang sudah mereka lakukan pada Ayah? Mengapa Ayah terlihat sangat tidak menyukai kehadiran mereka? Katanya perkenalan kalian bermula dari undangan pesta yang diisi oleh Ayah, tetapi kenapa aku merasa ada sesuatu hal yang jauh lebih serius dari pada itu?"
Anna mengambil napas dan menghembuskannya sebanyak dua kali, setelah mengungkapkan sederet pertanyaan yang selama ini tersimpan di dalam kepalanya. Gadis itu menelisik penuh curiga pada Dirno dan Denis yang kini terlihat sedikit gelisah.
"Kenapa kamu menanyakan hal itu?" Denis lah yang pertama kali menemukan suaranya dan berujar demikian.
"Tentu karena aku penasaran, Kak! Aku sudah lama menyimpan semua pertanyaan ini dalam kepalaku, dan rasanya aku nggak sanggup lagi menahan!" sahut Anna kesal.
Dirno berdeham lalu meletakkan sendok makannya di atas piring yang masih tersisa makanan.
"Ayah tidak ada masalah apa-apa dengan mereka. Ayah hanya tidak menyukai sikap mereka, itu saja." Jawab Dirno.
"Sikap mereka yang bagaimana?" tanya Anna tidak sabaran.
"Anna, mereka sebenarnya berniat ke sini untuk merekrutmu bekerja di Jakarta."
Anna mengangkat alisnya, begitu pula dengan Denis.
Pria berusia 29 tahun itu melirik sang ayah penuh arti, seolah menanyakan apa maksud dari perkataan beliau.
Mungkinkah beliau secara tidak langsung menyetujui permintaan Ryan untuk membawa pergi Anna ke Jakarta? Denis mengetahui tujuan Ryan datang ke rumah setelah Dirno menceritakannya beberapa hari lalu.
Kalau memang iya, bagaimana dengan ketegasan Dirno untuk tidak melepaskan Anna dari dekapan mereka?
__ADS_1
"Maksud Ayah apa?" tanya Anna yang sama sekali tidak mengerti dengan perkataan sang ayah.
Dirno memejamkan matanya sejenak, sebelum kemudian kembali bersuara. "Sejak awal dia memintamu untuk bekerja di sana, Sayang. Entah dari mana, dia mendapatkan info jika kamu pernah ditolak bekerja di salah satu perusahaan asing karena tidak memiliki ijasah strata satu."
Anna bengong seketika. Dalam hati, dia mempertanyakan kebenaran yang baru saja terucap dari mulut Dirno.
Yang benar saja? Hanya karena masalah sesepele itu, beliau bisa sangat membenci Ryan dan Nathan?
"Alasan apa itu!" seru Anna dengan raut tidak percaya.
"Ini bukan alasan, Nak. Kalau memang kamu tidak percaya, coba saja tanyakan pada mereka."
Anna terdiam sejenak. "Lalu, mengapa kalian sampai bersitegang seperti itu?"
"Kami tidak bersitegang," kilah Dirno.
"Lalu, bagaimana kamu menanggapinya, Anna?" tanya Denis yang penasaran dngan sang adik.
"Tentu saja aku tidak akan mau ikut! Buat apa pindah ke sana bila tidak ada kalian. Lagi pula, sejak awal kita pindah ke sini untuk memulai hidup baru bersama!"
Mendengar jawaban Anna, Dirno lantas mendekatinya dan memeluk tubuh mu Anna. "Kita akan selalu bersama, oke?"
Anna menganggukkan kepala dan membalas pelukan sang ayah sama eratnya.
__ADS_1