LOST (Anna)

LOST (Anna)
Bab 6. Ingatan Anna.


__ADS_3

Anna sedang sibuk memasukkan peralatan sulap ayahnya ke dalam tas. Izin cuti yang diambil Dirno untuk membantu kepindahan kedua anaknya terpaksa batal, sebab Dirno harus menggantikan rekan kerjanya yang baru saja tertimpa musibah.


Anna dan Denis sebenarnya tidak mempermasalahkan hal tersebut, karena mereka memang sudah melarang sang ayah untuk melakukan perjalanan jauh kemari. Apa lagi mereka tidak memiliki banyak barang untuk dibawa pergi ke rumah baru.


Selesai membereskan tas ayahnya, Anna kembali berkutat pada beberapa barang yang akan mereka bawa, termasuk foto-foto sang wanita berpenampilan sederhana yang terpajang di dinding rumah mereka.


Anna mengambil salah satu foto tersebut dan menatapnya penuh sendu.


"Wah, kue buatan putri ayah sangat enak!" seru Dirno setelah menghabiskan dua keping kue buatan Anna sambil menonton televisi. "Sayang, ka—" Dirno tiba-tiba menghentikan pembicaraannya, tatkala mendapati Anna sedang sibuk membersihkan dan mengelus foto mendiang istrinya, Marni.


Suasana hati Dirno mendadak berubah. Setiap Anna melakukan hal-hal demikian, ketakutan itu selalu hadir di hati Dirno. Diam-diam pria itu mendekati Anna dan duduk di sebelahnya.


"Maaf ya Yah, aku sama sekali tidak bisa mengingat bunda," ucap Anna lirih. Batinnya lagi-lagi tersiksa mendapati kenyataan bahwa belasan tahun lalu, dia sempat mengalami kecelakaan hingga membuatnya kehilangan ingatan secara permanen.


Jangankan pada ibunya yang telah tiada, pada ayah dan kakaknya pun tak mampu Anna ingat. Bagaimana Anna menghabiskan masa kecil yang indah? Bagaimana hangatnya dekapan mendiang ibunya, dan seperti apa rupa asli beliau, Anna benar-benar tidak tahu.


"Padahal aku ingin sekali bisa mengingat kenangan-kenangan lama bersama bunda. Namun, semakin aku berusaha menggali, kepalaku malah semakin terasa sakit," sambung Anna lirih.


Dirno terdiam. Sampai kapan pun Anna memang tidak akan bisa mengingat tentang mereka, sebab Anna bukan berasal dari keluarga ini.


Sehari setelah kecelakaan terjadi, Anna tersadar tanpa mengingat apa-apa. Bahkan tragedi kecelakaan yang baru menimpanya pun tak mampu Anna ingat. Tidak ada sedikit pun kenangan yang terlintas di benak gadis itu.


Dirno dan Denis yang sempat terkejut akhirnya memutuskan untuk merawat Anna dan mengangkatnya sebagai keluarga. Sejak saat itu pula lah mereka sepakat untuk menyembunyikan segalanya dari Anna, termasuk identitasnya yang memang tidak diketahui mereka.


Akan tetapi, beberapa tahun lalu Denis sempat meminta Dirno untuk mengembalikan Anna kepada keluarganya dengan menghubungi polisi. Namun, Dirno menolak. Perasaan sayang yang timbul pada Anna membuat Dirno enggan menerima kenyataan bahwa Anna hanya lah orang lain yang mereka bawa pulang.


Lagi pula, dia tak ingin lagi berurusan dengan pihak berwajib apa pun masalahnya.


"Tak ada yang perlu dimaafkan, Nak. Bunda pasti mengerti kondisimu, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa pun," ucap Dirno be berusaha menenangkan kegundahan Anna.


Anna mengangkat kepalanya dan menatap Dirno dalam-dalam. "Yah, apa bunda menyayangiku?" Lagi-lagi dia menanyakan hal yang sama sejak bertahun-tahun silam.


"Tentu saja!" Jawab Dirno tersenyum. "Bunda adalah orang pertama yang begitu mencintaimu dan akan selalu membelamu. Beliau juga pandai membaca dongeng saat kamu tidur. Ada banyak hal yang sudah dilewati kalian berdua," sambungnya.


"Tetapi aku sama sekali tidak ingat." Anna lagi-lagi tertunduk.

__ADS_1


Dirno dengan lembut merangkul bahu Anna. "Tidak masalah kenangan itu tersimpan atau tidak di dalam ingatanmu, Sayang, karena yang harus kamu tahu hanya satu, yaitu seberapa besar perasaan cinta kami."


Anna memejamkan matanya sejenak demi menghalau air mata yang hendak mengalir. "Terima kasih ya Ayah, karena sudah mau merawatku dalam kondisi begini. Pasti sulit sekali bagi Ayah, kan?"


Dirno menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang sulit Nak. Terima kasih juga sudah menjadi putri Ayah. Ayah beruntung memiliki kalian berdua." Pelukan hangat diberikan Dirno untuk Anna.


Dalam hati Dirno menyampaikan ribuan kata maaf pada Anna karena tidak mengatakan hal yang sebenarnya. Dia sudah berjanji pada diri sendiri untuk membawa rahasia ini sampai tiada.


...**********...


Beberapa hari kemudian.


Hujan deras sejak sore tadi mengguyur kota ini dengan lebat. Ryan yang hari ini memilih pergi ke kantor dengan membawa motor, kini tampak basah kuyup ketika tiba di rumah.


Seorang asisten rumah tangga yang melihat kedatangan Ruan, bergegas lari menghampirinya. "Perlu saya siapkan juga air mandinya, Pak?" tanya sang asisten dengan penuh kesopanan, sembari menerima Jas dan dasi Ryan yang basah.


Jas hujan tak berguna! batin Ryan jengkel. "Tidak perlu, aku akan menyiapkan ya sendiri. Tolong buatkan aku susu hangat saja," jawabnya.


Asisten rumah tangga tersebut mengangguk lalu pergi meninggalkan Ryan yang kini mulai menaiki tangga menuju lantai dua. Pria itu langsung mengguyur seluruh tubuhnya dengan air hangat beraroma terapi.


Beberapa detik kemudian sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya.


Jangan lupa, besok kita akan mengambil jam penerbangan pertama, bro!


Pesan tersebut tak lain dan tak bukan dari sahabat kentalnya sekaligus sekretarisnya sendiri, Nathan.


"Ciiihh!"


...***********...


Dua hari setelahnya.


Ryan dan Nathan baru saja kembali dari perjalanan bisnis mereka dan kini sedang menyantap makan siang di sebuah restoran mewah pinggir Kota.


"Mereka gila!" sungut Nathan yang kembali kesal setiap mengingat pertemuan panas yang mereka lakukan dengan klien tak berotak kemarin.

__ADS_1


Ryan mendengkus. "Jangan mengeluh terus," ujarnya tenang. Untung saja proyek yang mereka bahas dengan klien tersebut menemui kesepakatan. Andai saja kerjasama itu tidak terjalin, mungkin Ryan akan melakukan hal yang sama seperti yang Nathan lakukan sekarang.


Ponsel Ryan tiba-tiba berbunyi.


"Halo!" Ryan mengangkat teleponnya dan terlihat berbicara dengan seseorang.


Nathan mengalihkan pandangannya pada Ryan. Pria berusia 30 tahun itu bisa melihat jelas raut wajah sahabatnya mulai berubah.


"Baiklah. Informasi sekecil apa pun yang kau dapatkan langsung segera kabari aku," ujar Ryan sebelum mengakhiri sambungan telepon.


"Anna?" tanya Nathan sesaat setelah Ryan menutup teleponnya.


Ryan mengangguk.


"Bagaimana? Masih nihil?"


Ryan mengembuskan napasnya frustrasi. Nafsu makan pria itu menguap seketika.


"Apa katanya?" tanya Nathan.


Ryan menggelengkan kepala. "Nihil."


"


Nathan menatap sahabatnya dengan penuh iba. Dia sangat tahu bagaimana usaha Ryan untuk menemukan Anna beberapa tahun terakhir ini.


Nathan terdiam sejenak. "Omong-omong, selama ini kau mencari Anna ke mana?" tanya pria itu.


"Luar kota dan sebagian negara tetangga, karena petunjuk terakhir berada di sana." Jawab Ryan yang sudah berganti-ganti detektif swasta sewaannya.


Ryan bukannya tidak ingin meminta bantuan pihak berwajib. Pengalaman buruk dengan beberapa oknum membuat dia sepakat untuk mencari sendiri. Belinda bahkan sempat ditipu dan diperas. Meski tidak semua demikian, tetapi hal tersebut cukup membuat keduanya kapok.


"Besok kita kembali ke taman bermain," ujar Nathan.


"Untuk apa?" Ryan mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Sudah, ikut saja!"


__ADS_2