LOST (Anna)

LOST (Anna)
Bab 15. Pertemuan dengan Dirno (2).


__ADS_3

Keesokan paginya, Ryan, Nathan, dan Bowo pun pamit setelah sarapan pagi. Beberapa anak panti sempat menahan mereka untuk lebih lama berada di sana, sampai ada yang menangis. Namun, Ryan terpaksa tidak mengabulkan karena jadwal liburnya memang telah habis.


Akan tetapi, sebelum benar-benar pergi, keduanya sepakat untuk pergi menemui Dirno terlebih dulu.


"Ayah ada di rumah, kebetulan baru pulang kerja semalam," ucap Anna memberitahu. Tak lupa dia juga menjelaskan denah rumahnya pada Ryan dan Nathan yang bisa dilalui oleh mobil.


"Baiklah. Terima kasih, Anna," ucap Ryan.


"Sama-sama, Pak." Setelah berpamitan dengan Anna, Bunda Laila, dan seluruh penghuni panti, ketiganya bergegas pergi menuju alamat Dirno.


Tak butuh waktu lama, Ryan, Nathan, dan Bowo tiba di depan sebuah rumah yang sesuai dengan alamat Dirno.


Rumah mungil dengan pagar kayu berwarna coklat tersebut tampak sangat sepi ketika mereka tiba.


Ryan terdiam sejenak selama beberapa saat, sebelum memberanikan diri keluar dan mengetuk pagar.


Beberapa detik kemudian, seorang pria tua beruban muncul dari dalam rumah. Pria tua itu tampak mengerutkan keningnya saat mendapati dua orang asing mendatangi rumah.


"Maaf, apa benar ini rumah Pak Dirno?" tanya Nathan.


"Ya, saya sendiri."


Mendengar jawaban tersebut, Ryan dan Nathan bernapas lega. "Pak, saya Nathan dan ini sahabat saya, Ryan, kami ingin berbincang sejenak dengan Bapak, boleh?"


Dirno yang mengira bahwa mereka adalah pelanggan yang akan menyewa jasanya dengan ramah mengiyakan. Beliau pun membukakan pintu pagar dan mempersilakan dua pria tersebut untuk masuk.

__ADS_1


"Maaf, rumah saya kecil dan berantakan," ujar Dirno tak enak hati, sebab melihat penampilan Ryan dan Nathan yang bersih layaknya penampilan orang-orang kaya. Beliau pun mengambil dua gelas air mineral untuk disuguhkan pada mereka.


"Tidak apa-apa, Pak," jawab Nathan.


"Jadi, ada perlu apa, Anda sekalian kemari? Apa kalian ingin menggunakan jasa saya untuk mengisi acara?"


Dirno dan Nathan mulai berbicara. Sementara Ryan memilih memerhatikan sekeliling ruangan rumah ini dengan saksama.


Matanya begitu tertarik pada beberapa foto yang terpajang di sana, termasuk salah satu foto berisi Dirno yang tampak lebih muda sedang berdiri bersama kedua putra-putrinya. Namun, yang membuat Ryan terkejut adalah sosok Anna muda yang begitu mirip dengan adiknya.


"Bukan Pak, kami ingin menanyakan kejadian lama yang mungkin Anda pernah saksikan." Nathan menjawab.


Dirno mengerutkan keningnya. "Kejadian apa?" tanya pria itu.


"Pak, foto itu kapan diambil?" Ryan yang sejak tadi diam, tiba-tiba mengajukan sebuah pertanyaan.


Tangan Ryan bergetar.


Dirno kembali fokus menatap Nathan guna menanyakan maksudnya kembali.


"Begini Pak, kira-kira sekitar tiga belas tahun yang lalu apa Anda pernah bekerja di taman bermain Skyland?" Nathan mulai menjelaskan maksudnya.


"Ya, saya menjadi pekerja lepasan di sana. Tidak terikat." Jawab Dirno.


"Kalau begitu, Bapak pasti mengetahui insiden tiga belas tahun lalu, tentang seorang gadis kecil yang mengalami kecelakaan di tempat itu?"

__ADS_1


Mendengar perkataan Nathan, buku kuduk Dirno tiba-tiba meremang disertai perasaan takut yang turut membelenggunya.


"Maksud Anda?" Dirno memicing. Ada raut tak suka yang ditunjukkan pria itu pada Ryan dan Nathan.


Nathan dan Ryan saling bertatapan sejenak. "Kurang lebih tiga belas tahun lalu, Ryan, sahabat saya ini, kehilangan adik kecilnya di sana, ki—"


"Tidak! Lebih tepatnya saya telah meninggalkan adik saya di tempat itu!"


Suasana di dalam rumah Dirno mendadak sunyi senyap.


Dirno tersentak kaget mengetahui hal tersebut.


Setelah tiga belas tahun menyembunyikan Anna dan berharap tak ada yang menemukan, tiba-tiba dua orang pria asing datang menemuinya.


Alih-alih senang dengan kenyataan tersebut, Dirno justru sangat marah. Pasalnya, Ryan dengan lugas mengakui bahwa dia telah meninggalkan Anna sendirian di tempat itu.


Kilatan masa lalu tentang bagaimana Anna berlari sembari meneriaki sebuah mobil dengan putus asa kembali menyeruak ke permukaan.


Tidak! Pria ini telah membuangnya. Dia bahkan baru mencarinya setelah tiga belas tahun. Jadi, dia tak lagi berhak atas Anna, putri kecil kesayangannya!


"Saya tidak tahu soal itu. Setiap malam pengunjung kami banyak, jadi saya tidak memerhatikan sekeliling dan hanya fokus mencari uang!" Jawab Dirno dengan raut wajah berubah.


"Tapi, Pak, kalau saya tidak salah ingat, kata salah seorang security, Anda lah yang ikut pergi mengantar gadis itu ke rumah sakit!" seru Nathan.


Dirno menggeleng tegas. "Tidak! Saya selalu pulang setelah selesai melakukan atraksi. Hidup saya sulit, saya tidak memiliki waktu untuk melakukan kebajikan!"

__ADS_1


"Lalu, apa benar itu foto putri Anda, Pak? Sebab wajahnya sekilas mirip dengan adik saya." Ryan turut membuka suaranya. Dia bahkan bangkit dari sofa, hendak menghampiri foto tersebut guna melihatnya lebih dekat. Namun, Dirno dengan cepat menahan Ryan.


__ADS_2