
Hari terasa kembali menyenangkan seperti sediakala bagi Anna. Tidak ada lagi ketegangan mau pun air mata di rumah kecil itu. Dirno dengan berbesar hati mendatangi putrinya dan meminta maaf atas perlakuan yang dia lakukan selama beberapa hari ke belakang.
"Ayah terlalu banyak pikiran di rumah sakit, jadi, maaf bila Ayah membawa-bawanya sampai ke rumah."
Anna menggelengkan kepala. Gadis cantik berusia dua puluh empat tahun tersebut kembali memeluk tubuh tua ayahnya. Tubuh tua yang masih mampu menopang hidup kedua putra putri tercintanya.
Elusan hangat dan penuh kasih sayang sontak dirasakan Anna dari tangan keriput milik sang ayah. Anna memejamkan mata, meresapi tiap curahan cinta yang dilimpahkan Dirno padanya. Namun, meski mereka kembali seperti sediakala, ada setitik perasaan asing yang hinggap di benak Anna. Perasaan yang membuat gadis itu kurang nyaman, entah apa.
Anna mencoba mengabaikan setitik perasaan itu. Mungkin saja, hal tersebut hanyalah efek dari keributan yang pernah terjadi beberapa hari lalu.
"Jangan pernah tinggalkan Ayah ya, Nak." Dirno kembali membuka suaranya yang kini terdengar lebih serak dan bergetar.
"Ayah menangis?" Anna hendak mengangkat kepala untuk melihat wajah beliau. Namun, Dirno bergegas menahannya dan meminta Anna untuk tetap memeluk dan bersandar di dadanya, seolah tidak diperkenankan melihat kerapuhan di wajah tua itu.
"Tidak." Jawab Dirno.
Anna terdiam sesaat, sebelum kemudian menjawab pertanyaan aneh Dirno. "Tentu saja aku tidak akan ke mana-mana Ayah. Aku akan tetap di sini ... menemani Ayah melewati tiap detik waktu bersama Kak Denis. Kami lah yang akan menjadi penopang Ayah nanti."
Dirno tampak terguncang mendengar tiap bulir kata yang meluncur dari mulut Anna. Begitu pun dengan Anna yang entah mengapa merasakan kesedihan mendalam saat ini.
Dalam hati, gadis itu hanya berharap kebahagiaan dan keberkahan selalu datang menghampiri keluarga kecil mereka.
__ADS_1
...**********...
Anna baru saja hendak mengayuh sepedanya keluar dari panti asuhan, ketika sebuah mobil mewah berhenti persis di depan pagar.
Anna tahu benar milik siapa mobil tersebut. Diam-diam Anna mensyukuri kehadiran pria itu karena ternyata dia belum kembali ke Jakarta. Meski Ryan memang berencana tinggal di sana, bukan berarti dia tidak akan sibuk ke sana kemari demi mengurus pekerjaannya.
Mencoba mengabaikan kejadian di antara mereka beberapa waktu lalu, Anna berusaha bersikap profesional dengan turun dari sepedanya dan berjalan ke luar pagar untuk menyapa si pemilik mobil.
"Sore, Pak Ryan," sapa Anna dengan seuntai senyum manis yang terasa kurang bersahabat.
Ryan yang baru keluar dari mobil, menatap Anna penuh arti. Sorot matanya tampak sendu.
"Aku ingin bertemu denganmu," ucapnya pada Anna.
Anna tersentak. Sebab selain mengetahui tujuan Ryan, juga menyadari cara bicara dan penyebutan dirinya mulai berubah.
"Untuk apa Pak?" tanya Anna.
Ryan terlihat sedang memikirkan sesuatu terlebih dahulu sebelum menjawabnya. "Benda milikmu ada padaku. Kamu ingat?"
Tentu saja ingat! Batin Anna berkobar. Syukurlah pria itu tahu diri.
__ADS_1
Anna menganggukkan kepalanya santun. Demi mendapatkan kalung tersebut akhirnya dia berkenan ikut dengan Ryan ke suatu tempat.
Anna sama sekali tidak bisa menebak bahwa Ryan akan membawanya ke tempat tinggal pria itu. Anna tentu saja panik dan takut. Namun, ketakutannya sirna saat melihat seorang wanita tua yang sedang sibuk membersihkan rumah. Wanita itu merupakan asisten rumah tangga yang Ryan sewa.
Syukurlah! Batin Anna. "Setidaknya akan ada saksi bila pria ini ingin macam-macam denganku!" sambungnya dengan suara sangat kecil.
Anna duduk di sofa empuk yang rasanya jauh lebih nyaman berkali-kali lipat dari sofa di rumahnya. Sekilas dia memandangi interior apartemen tersebut yang tampak sangat membosankan. Mungkin karena yang tinggal di sana adalah pria lajang.
Ryan ikut duduk di hadapan Anna setelah meletakkan secangkir teh hangat yang sangat wangi. Anna yakin teh tersebut sangat mahal harganya.
Tak lama kemudian, Ryan terlihat melepaskan sesuatu dari lehernya.
Anna tersentak mendapati kalung tersebut ternyata sedari tadi dipakai Ryan.
Kurang ajar sekali! Batin Anna. Pria itu baru saja memakai benda milik orang lain, dan yang lebih menyebalkan adalah, mengapa dirinya harus repot-repot datang ke sini bila kalung tersebut ternyata sudah dibawa-bawa Ryan di lehernya.
"Sejak tadi Bapak memakai kalung ini?" tanya Anna tanpa memerdulikan raut wajah kurang berkenannya.
Ryan menganggukkan kepala. "Apa arti kalung ini bagimu, Anna?" tanya pria itu tiba-tiba.
Anna mengerutkan dahinya tanda tidak nyaman, sebab merasa Ryan terlalu ingin tahu dengan apa yang dia miliki.
__ADS_1