
...NIGHTMARE 1...
...The Ideas...
Kafetaria di Institut Teknologi Bandung (ITB) tidak pernah sepi, dengan kata lain selalu ramai oleh para mahasiswa dengan obrolannya yang 'WOW' itu.
Salah satu meja bundar di Kafetaria itu. Duduklah tujuh orang –yang jika dilihat dari keakraban mereka, pasti mereka adalah satu geng.
Baiklah, saya(Author) memilih tentang perjalanan geng 7 orang itu untuk mengisi Cerita ini yang akan menemani kita bersama.
Mari saya perkenalkan satu persatu tokoh-tokoh yang akan mengisi Cerita saya ini.
Character Detacted
+Sandi Saputra+
Pemalas. IQ lebih dari 200. Selalu menganggap perempuan merepotkan & cerewet. Yang lainnya tidak ada yang bersifat pribadi. Fakultas Hukum.
+Novi Rahayu+
Cerewet. Tukang gossip. Centil. Selalu memprioritaskan kecantikan & fashion. Keahlian dalam dunia maya. Fakultas Teknologi Informatika.
+Fitriani+
Tidak banyak bicara –karena memang sulit untuk berbicara. Bersuara kecil. Menyukai Kurnia Rizki. Sering nervous. Fakultas Psikologi.
+Kurnia Rizki+
Ceria. Sifatnya terbuka dan mudah tebak. Blak-blak an. Bawel. Mesum. Sering tersenyum. Tidak pandai mengendalikan emosi. Suka makan. Fakultas Tata Boga.
+Jihan Aulia+
Polos. Bicara apa adanya. Baik hati. Sering bernyanyi. Pelupa. Pintar kecuali pelajaran eksak. Paling suka melihat alat musik. Sifatnya kekanak-kanakan. Fakultas Musik.
+Rizal Ardiansyah+
Kalem. Pendiam. Genius. Dingin. Ketus. Berasal dari keturunan konglomerat. Mempunyai garis keturunan khusus. Misterius. Banyak rahasia dalam hidupnya. Menguasai semua pelajaran fakultas yang ada. Fakultas Kedokteran.
+Sendi Antoni+
Master senyum. Suka menggambar. Sering terlihat membaca buku dan tidak dapat diganggu. Pandai. Fakultas Design Grafis.
All Character Completed
Tunggu.
Kurasa ini adalah geng yang sangat sempurna. Ya. Aku tidak salah pilih.
Coba bayangkan. Tiga anggota dari geng itu adalah mahasiswa terpintar se-universitas.
Rizal Ardiansyah.
Sandi Saputra.
Sendi Antoni.
Sudahlah. Jangan membahas mereka bertiga.
Sekarang. Mari kita lihat apa yang akan terjadi dengan geng ini.
.......
...+++~Lost~+++...
.......
"Yeeeaahhh!" teriak kegirangan yang ternyata berasal dari karakter bernama Kurnia itu. Bikin telinga ku pengeng saja.
"Bisakah kau diam Kur. Kau hampir membuat telinga kami tuli seketika karena suara cempreng mu itu." sahut si centil yang bernama Novi.
"Kau tahu Nov. Walaupun Kurnia mempunyai suara cempreng yang –well hampir membuat telinga kita tuli ini, tapi kalau bernyanyi suaranya indah, lho." puji Jihan walaupun rada menyinggung perasaan Kurnia sedikit karena salah satu sifatnya itu.
"Terima kasih Ji atas pujiannya." balas Kurnia terhadap Jihan, "Kalian tahu-"
"Nggak." jawab yang lain kompak dengan nada yang berbeda. Kecuali Rizal.
"Aku belum selesai!" Jawab Kurnia dengan emosi kekesalan dan tampang cemberutnya. Lalu Kurnia melanjutkan kata-katanya kembali. "Kalian tahu 'kan mulai besok kita libur panjang…"
"Hmm… Hmm…" ucap yang lain sambil mengangguk sebanyak dua kali.
"Bagaimana kalau kita buat acara seperti pergi dan menginap di suatu tempat?"
1 menit
Setengah jam
1 jam
"Jawab woiii!"
"Oh… hahaha… setuju setuju setuju." ujar yang lainnya dengan tampang tidak berdosa. Masih tetap… kecuali Rizal.
"Hebat kau Kur, kau bisa memikirkan hal itu. Aku saja tidak." kata Sandi dengan nada malas-malasan nya yang tingkat tinggi.
"Hehehe… Jangan memuji seperti itu… Aku jadi malu." Kurnia tersipu malu sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal.
'Hah… memangnya nada suaraku seperti memuji ya?' batin Sandi dalam hatinya.
"OK! Bagaimana kalau nanti sore kita ketemuan di suatu tempat gitu?" sahut Novi. Matanya memandangi temannya satu-persatu dengan harapan semua akan ikut.
"Ah… nanti sore?" Jihan bertanya dengan nada setengah terkejutnya, "Aku tidak bisa. Aku ada acara nanti sore."
"Eeehh… Kenapa? Kenapa? Kenapa?" tanya Kurnia dengan nada yang semakin lama semakin tinggi ditambah dengan nada yang sangat dramatis.
"Ti-tidak bi-biasanya Ji-jihan ada pementasan mu-musik di hari bi-biasa." Fitri menyahut dengan suara terkecil dan dengan terbata-bata. Takut menyinggung perasaan Jihan.
Semua menoleh ke arah Jihan. Bahkan Rizal yang diam pun juga ikut menoleh.
Jihan melihat dengan tampang polos dan bingung ke setiap pasang mata teman-temannya, "Hei… Kenapa kalian melihat ku seperti itu. Tidak enak tahu." Jihan mengembungkan pipinya.
Tanpa disadari. Tiba-tiba. Dan tanpa terduga-duga. Salah satu tangan Rizal bergerak dan mencubit pipi Jihan yang mengembung.
__ADS_1
"Lucu." kata Rizal datar. Tanpa nada. Dingin. Singkat. Jelas. Padat. Dan yang pastinya masih dengan tanpa stoic andalannya.
'Mujizat.' kata mereka semua dalam hati.
Novi merasa iri karena hanya Jihan yang diperlakukan dengan Rizal seperti itu. Sedangkan dia… tidak.
"Rizal. Kau sakit ya." tangan Kurnia bergerak untuk menghentikan cubitan Rizal ke Jihan itu dan menempatkan tangannya di dahi Rizal. Lalu melepaskannya kemudian.
"Hn."
'Tangan Rizal dingin.' batin Jihan.
Hening sejenak
"Ah! Sudahlah teman-teman. Jadi, kapan kita akan bertemu?" celetuk Sendi yang sudah bosan atas semua keheningan ini.
"Hmm… Merepotkan." Sandi merenggangkan tubuhnya yang sudah pegal-pegal, "Kalau malam? apakah kau bisa?" tanya Sandi pada Jihan.
"Nah… Kalau malam bisa." jawab Jihan dengan sangat yakin sambil mengangguk sekali.
"Ya sudah kalau begitu, kita ketemuannya malam saja. Gimana?" usul Sendi sambil mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.
"Baiklah. Di tempat biasa ya." Kurnia menjawab dengan antusias.
"OK. Jam setengah delapan malam ya." Novi memperingatkan, "Zal, kau ikut 'kan?" tanya Novi dengan nada yang centil.
"Hn."
Jihan melirik arlojinya. "Baiklah minna. Aku pulang dulu, ya…"
"Ya, kita juga sudah mau pulang." jawab yang lainnya dengan serempak. Kok bisa?
Semua pun mulai bangkit berdiri dari kursi tempat duduk mereka.
"OK. Sampai nanti, Gyus." ucap semuanya lalu pergi menuju kendaraan masing-masing untuk pulang ke rumah mereka dan mempersiapkan diri untuk pertemuan nanti malam.
.......
...+++~Lost~+++...
.......
Malam pun tiba sebelum jam setengah delapan malam, satu persatu dari mereka pun mulai datang dengan kendaraan mereka masing-masing.
Karena berhubung saya(Author) sedang tidak ada kerjaan. Jadi saya akan memberi tahu urutan nama-nama yang datang dari pertama hingga akhir.
Kurnia Rizki.
Sendi Antoni.
Novi Rahayu.
Fitriani.
Sandi Saputra.
Rizal Ardiansyah.
Jihan Aulia.
"Ma-maaf Gyus…" nafas Jihan tersengal-sengal. Ia mengatur nafasnya sejenak "Aku telat. Sudah lama?"
"Ah, Jihan! Duduklah kita juga pada baru datang, kok." sapa Novi ramah dengan senyumannya yang 'WOW' seperti biasanya, sambil menepuk-nepukan tangannya diatas kursi yang masih kosong tepat disebelahnya.
"Oh. Oke." Jihan duduk setelah Novi memberikannya kode duduk-disebelahnya-yang-masih-kosong itu.
"Jadi… Apa yang akan kita lakukan untuk mengisi liburan?" tanya Rizal langsung pada intinya.
Hening.
"Akhirnya kau bicara, Zal" kata Kurnia sambil memeluk erat Rizal yang berada di sebelahnya. Sehingga Rizal terdorong kesamping –yang dimana disampingnya adalah seorang Novi.
'Aaahhh~~ Rizal.' Ungkapan bahagia Novibyang membuat mukanya bersemu merah.
"Wajah mu kenapa merah Nov?" tanya Sendi dengan polosnya. Kurnia pun menarik badan Rizal hingga ia duduk tegak kembali setelah menyadari posisi tubuh 'korban'nya sudah berubah akibat kelakuannya.
"Hah? Ah. Tidak apa-apa." tawa kebahagiaan menyelimuti pikiran dan hatinya. 'Hohoho… Kau lihat Ji? Aku bahkan bisa merasakan tubuh Rizal secara langsung tanpa disengaja. Tunggu. Tanpa sengaja? Argh! Rizal mencubit Jihan dengan sengaja.' tampang cemberut pun terpasang di wajah merah Novi yang mulai memudar.
"Hahaha… Kau lucu. Tampang mu bisa berubah-ubah." ujar Sendi spontan.
"Biarin."
"Sudah. Sudah. Ayo kita kembali ke pokok pembicaraan kita. Aku ingin cepat-cepat pulang dan tidur… Hoaaammm…" kata Sandi dengan nada suara hampir menguap diakhir katanya.
"Iya, Iya." kata Novi dengan nada ketus.
"Hmm... Bagaimana kalau kita menginap di suatu villa atau apa… gitu?" ujar Kurnia.
"Aku juga sudah tahu kita akan menginap. Tapi dimana?" kata Jihan dengan penekanan dibeberapa kalimat.
"Hmm… Gimana kalau didalam hutan. 'Kan seru!" tutur Sendi dengan semangat.
"Ta-tapi, siapa yang tahu lokasinya atau nomor telepon penginapan yang bisa dihubungi?" kata Fitri seraya meletakkan kedua tangannya diatas meja tepat didepannya.
"Kenapa tidak di villa hutan mu saja Fit? 'kan tidak ada yang menempati." tanya Novi kepada Fitri.
"A-ano… Bukannya tidak mau dipinjamkan tapi sepanjang liburan nanti Villa nya akan dipakai oleh keluarga ku yang ingin berlibur kesana." ucap Fitri dengan terus terang dan malu-malu.
"Yah…" ucap Novi dengan putus asa dan tidak ada harapan.
Kurnia menoleh kepada Rizal sambil tersenyum. Merasa diperhatikan, Rizal menolehkan kepalanya kearah sorot mata yang memandangnya dengan tampang tanpa ekspresi seperti biasa. "Hmm… Zal, Kau 'kan terkaya digeng kita… Bagaimana kalau-"
Rizal menggeleng-gelengkan kepalanya sambil sedikit menunduk dan memejamkan matanya.
"Oh… OK. Baiklah." tanpa diperjelas kan Kurnia pun sudah mengerti apa artinya.
Semua pun mulai berisik dengan perdebatan dan pertanyaan tentang tempat penginapan yang akan ditempati nanti.
"Hhh… kapan selesainya?" ujar Sandi pada akhirnya. "Kurasa aku mempunyai seseorang yang dapat dihubungi untuk kebutuhan penginapan kita."
"Kau mempunyai kenalan didalam hutan?" kata Kurnia penasaran.
__ADS_1
"Hmm. Aku dan keluarga ku sering menginap didalam hutan dan kami sudah berhubungan baik dengan penjaga villa nya."
"OK!" ucap Kurnia semangat. "Tapi dimana?"
"Yah… Letaknya lumayan jauh dari sini. Tapi ku jamin kalian takkan menyesal, deh…"
"Jauh? Aku tidak yakin aku bisa ikut." ucap Jihan dengan khawatir.
"Apakah orang tua mu tidak memperbolehkan mu bermain jauh-jauh, Ji?" tanya Novi yang padahal senang jika Jihan tidak ikut. Karena dapat bebas memikat si Rizal.
"A- bukannya begitu. Aku hanya tidak ingin mereka menjadi khawatir terhadap ku." balas Jihan ragu-ragu seraya menundukkan kepalanya kebawah.
"Hello, Jihan! Kita ini sudah besar, kau tahu. Kau berhak untuk pergi untuk kepentinganmu sendiri." ucap Novi dengan PD-nya, "Lagian tidak akan ada hal yang terjadi terhadap kita."
"Ta-" tutur Jihan kembali, tetapi terpotong oleh Novi yang cerewetnya setengah mati.
"Ya 'kan San?" sela Novi dengan menolehkan kepalanya kearah Sandj.
"Iya. Tentu." Kata Sandi meyakinkan dengan menyenderkan badannya disenderan kursi tepat dibelakangnya.
"Lihat. Kita akan bersenang-senang tanpa ada rasa khawatir, Ji." Novi Menoleh kearah Jihan.
"Hhhh… baiklah." ucap Jihan ragu.
"Ok! Masalah terakhir. Menurut kalian… hari apa yang enak untuk pergi?" tanya Kurnia setelah puas mendengar pernyataan terakhir Jihan.
"Besok."
Semua pasang mata menoleh kearah sumber suara itu berasal.
Bingo!
Rizal lah yang mengusulkan nya.
Setelah tersadar karena dipandangi oleh teman-temannya. Rizal langsung menolehkan kepala kepada Kurnia. "Benarkan… Kur?"
"Oh… hahaha… Iya."
"Tadi setelah bubar di Kafe. Kurnia mengusulkan 'besok' karena sudah tidak sabar untuk menginap dengan hari libur yang panjang." ucap Rizal panjang lebar tetap dengan tampang datarnya. Dengan catatan : Ini kali pertama seorang Rizal Ardiansyah berbicara panjang lebar.
"Kau yakin?" Tanya Jihan dengan menautkan salah satu alisnya.
"Hn?" tanpa dijelaskan pun kalian pasti tahu ini suara siapa.
"Besok? Bukankah terlalu cepat?" jelas Jihan kembali akan pertanyaan yang ia lontarkan sebelumnya.
"Tenang saja, Ji. Lebih cepat, lebih baik, lebih enjoy! Iya nggak, guys?" tanya Kurnia dengan memandang teman-temannya secara bergantian.
"Yoi, coy!" respon mereka serempak walau beberapa ada yang menjawabnya dengan nada malas-malasan.
"Hhh… aturlah semau kalian." Jihan sudah pasrah melihat yang lain sepertinya juga setuju.
"Asyiiikkkk!" ujar Kurnia bahagia. "Baiklah pulang dan kemasi barang-barang kalian. Ingat kita akan memakai dua buah mobil saja, yaitu mobil Rizal dan Sendi."
"Iya." seru Sendi dengan senyuman andalannya.
"Hn."
"Selanjutnya kita pecah jadi dua bagian. Sandi, Novi, dan Fitri ikut dalam mobil Sendi, sedangkan Aku dan Jihan di mobil Rizal." ujar Kurnia kesenangan.
"Kenapa harus Jihan ikut kalian terus? Aku 'kan juga mau." Novi mengucapkan keluhannya. Dengan sangat jujur.
"Ya… karena kita dari kecil selalu bertiga. Iya 'kan?" kepalanya menoleh ke Rizal dan Jihan. Yang hanya dijawab dengan sebuah anggukan kepala.
"Hanya tempat duduk saja kenapa harus diperebutkan? Yang penting 'kan dapat semua." gumam Sandi seraya membuang muka.
"Baiklah. Kita pulang, mempersiapkan perlengkapan yang akan dibawa nanti, istirahat, dan langsung cabut!" ujar Kurnia yang hampir berteriak itu.
"Ok. Pulang." ucap Sendi.
"Akhirnya selesai juga." kata Sandi.
Semuanya pun bangkit dari tempat duduknya secara bersamaan.
Jihan melirik jam tangannya yang menghiasi pergelangan tangannya yang putih dan mungil tersebut. 'Jam sembilan lewat.'
Rizal yang melihat sahabat dari kecilnya itu gelisah pun menepuk kepala nya. Mungkin berusaha untuk menenangkannya. "Jangan khawatir. Tidak akan ada yang terjadi. Bersenang-senanglah." ucapnya dengan datar dan sama seperti di kafetaria tadi siang.
"Yah… baiklah, Zal." Jihan pun tersenyum melihat sahabatnya yang satu itu mulai berbicara panjang lebar didepan orang kecuali Jihan dan Kurnia.
"OK. Para sahabat kecilku." Kurnia tiba-tiba datang dari belakang dan memeluk mereka berdua di lengan kiri dan kanan nya. "Mari kita siapkan jasmani dan rohani kita untuk besok. Jihan kau jangan lupa membawa barang mu karena kau pelupa level berat." mata Kurnia melirik ke arah Jihan disebelah kanan lengannya.
"OK, bos. Tidak akan." Salah satu tangan Jihan bergerak untuk melakukan pose hormat tepat di pelipisnya.
"Bagus. Dan jangan lupa bantal guling kesayanganmu itu."
"Iya, iya."
"Dan…" mata Kurnia melirik kearah Rizal disebelah kiri lengannya, "Kau Rizal. Jangan lupa untuk mengisi bensin mobilmu itu hingga penuh, agar tidak kekurangan saat diperjalanan nanti."
"Hah? Memangnya mobilku pernah berhenti karena mogok atau kekurangan bensin apa?" tampang Rizal meremehkan Kurnia dan menyombongkan diri sedikit.
"Ok, deh, Tuan Muda. Mobilmu selalu terawat dan selalu dalam keadaan great condition." puji Kurnia kepada Rizal dengan nada suara yang dibuat-buat.
"Yah… tidak seperti mobilmu." Timpal Rizal dengan senyuman liciknya.
"Iya, iya. Puas?" merasa tidak senang Kurnia pun menantang Rizal dari nada bicaranya.
"Hei, sudah jangan beradu mulut disini. Ayolah kita pulang, urusan adu mulut kalian di grup dunia maya saja." cetus Jihan seraya melenggang pergi menuju mobilnya.
"Ok. Sampai jumpa." salam perpisahan dari Kurnia. Salah satu tangannya bergerak keatas dan melambai-lambai kearah kiri dan kanan berulang kali.
"Dah." salam perpisahan dari Jihan seraya mengangkat satu tangannya keatas dan diturunkan kembali.
"Hn." salam perpisahan dari Rizal yang hanya disertai dengan sebuah anggukkan. Tunggu. Itu bukan salam perpisahan, tapi respon dari salam perpisahan Kurnia dan Jihan tadi.
Mereka pun mulai masuk kedalam kendaraan mereka yang tempat parkirnya sudah dipesan beberapa saat yang lalu, sehingga mobil mereka bertiga terparkir ber sejajar. Menyalakan mesin mobil mereka. Dan menginjak gas secara bersamaan dan keluar dari tempat diskusi mereka.
Seperti apa persiapan dan strategi perjalanan mereka nanti?
...~Lost In Nightmare~...
__ADS_1
...To Be Continued…...