
...NIGHTMARE 18...
...Is This The Last of Death?...
Rintikan hujan terus mengguyuri seluruh daerah villa yang kini hanya tersisa empat anak muda dari tujuh orang yang menginap di sana. Sudah banyak kejadian tidak diinginkan terjadi di villa yang bisa dibilang mengerikan ini—dan siapa pun orangnya pasti tidak akan mau mengalami kejadian yang senasib dengan mereka.
Seorang pemuda yang bernama Rizal tengah merenungi kejadian yang telah terjadi terhadap teman-temannya. Mata onyx-nya yang kelam memandang lurus ke arah wajah berkulit putih milik seorang perempuan bernama Jihan yang tengah beristirahat mengingat tubuhnya kembali tidak sehat. Rizal sedang menduduki sebuah kursi sembari bertopang dagu di atas lutut kakinya yang tampak ia silangkan—membentuk sebuah gaya yang simple jika dilihat secara keseluruhan.
Sesekali mata yang tajam itu berkedip pelan, tetapi mulutnya tetap terkatup dengan sangat rapat. Nafasnya tampak tenang, sama seperti suasana kamarnya sekarang ini. Saat ini.
"Zal! Ada yang ingin kubicarakan denganmu!"
Suara Kurnia dan pintu yang dibuka dengan tiba-tiba sama sekali tidak mengagetkan Rizal yang sedang termenung. Malah, Rizal hanya merespon kedatangan Kurnia dengan menolehkan kepalanya sembilan puluh derajat ke arah kiri. Selebihnya hanya iris matanya saja yang bergerak untuk melihat Kurnia melalui ekor matanya. Dengan tatapan yang mengerikan.
"Ada apa, Kur? Kau tidak lihat Jihan sedang tidur dengan tenang?"
Dengan perlahan, Kurnia kembali menutup pintu kamar yang hampir ia rusakkan itu dan berjalan dengan setengah menjinjitkan kakinya dan sedikit tergesa-gesa mendekati Rizal.
"Zal, banyak kejadian yang ingin aku tanyakan kepadamu." Kurnia mengatur nafasnya yang sedikit terengah-engah akibat menaiki anak tangga dengan terburu-buru. "Apakah kamu tahu siapa yang membunuh teman-teman kita?"
Rizal mengerutkan alisnya dalam. "Apa maksudmu?"
"Tidak, bukan apa-apa, aku hanya bertanya. Apakah kau tahu?" Kurnia kembali menanyakan pertanyaannya yang lalu dengan berbisik.
Rizal mendengus. "Kau pikir aku paranormal? Yah, mana kutahu siapa yang membunuh mereka," jawab Rizal sekenanya juga dengan suara berbisik.
Kurnia terdiam sejenak. Berpikir keras mengenai pertanyaan apa yang ingin ia lontarkan selanjutnya. "Apakah... Tolong jangan anggap serius percakapan ini—"
"Cepatlah selesaikan perkataanmu, aku tak suka bertele-tele."
"OK, OK... Apakah... apakah kau yang membunuh Fitri?"
Suara debrakkan pintu kamar yang dibuka secara paksa berhasil mengagetkan dua insan yang hampir serius dengan percakapan mereka. Membuat kedua pria yang berada di dalam kamar itu menolehkan kepalanya dengan cepat ke arah daun pintu berada.
"Rizal Ardiansyah! Aku akan membongkar seluruh rahasiamu!" teriak Sandi seraya menatap Rizal dengan tatapan ingin membunuh.
Melihat Sandi yang datang dengan sikap seperti itu, membuat Kurnia terkesiap dan membalikkan badannya ke arah Sandi. "San! Jaga mulutmu!" Pandangan mata Kurnia terpaku pada sesuatu yang tengah Sandi genggam di tangannya. "Untuk apa kau membawa tali itu?"
Mendengar kata tali yang mengganjal pikiran Rizal, pemuda berwajah stoic ini ikut berdiri dan menghadap ke arah Sandi. Sama seperti yang dilakukan Kurnia sebelumnya. "Sandi... kau—"
"Kenapa, Zal?" Mata Sandi menatap Rizal dengan tatapan merendahkan sambil tersenyum sinis yang tajam. "Kau tidak perlu takut, aku hanya ingin mengintrogasi mu sesaat. Sebentar saja," ucap Sandi seraya berjalan mendekat ke arah Rizal dan Kurnia berada. Senyumannya semakin menjadi-jadi.
Kurnia merasa ketegangan menyelimuti dirinya saat melihat Sandi mulai mendekati mereka berdua. "San, berhenti! Apa yang akan kau lakukan pada Rizal?"
"Kontrol lah pikiranmu, San. Jangan sampai hal negatif menguasai dirimu," ucap Rizal dengan sedikit kegeraman yang sangat terlihat di wajah dan sorot matanya. Ia merasa ada yang tidak beres dengan temannya yang satu ini.
Di saat seperti ini, siapakah yang akan menang?
Sandi tertawa tertahan. "Sudah kubilang, aku hanya ingin mengintrogasi mu. Dan hanya sebentar."
"Hentikan langkah kakimu, Sandi! Kelakuanmu yang seperti ini hanya akan menambah kesulitan di antara kita berempat!" seru Kurnia dengan emosi membuncah keluar.
Saat jarak di antara Sandi dan mereka berdua sangat dekat, Kurnia memberanikan diri untuk mencengkram kedua tangan Sandi. Berusaha menghentikannya dengan sekuat tenaga.
Rizal pun berinisiatif untuk tidak tetap diam. Namun sayangnya, cengkraman tangan Kurnia dengan mudahnya dilepaskan begitu saja oleh Sandi dengan cara menepis dan mendorongnya ke belakang.
Kekuatan fisik yang Sandi gunakan untuk menepis cengkraman tangan Kurnia sangat besar sehingga membuat Kurnia jatuh terjerembab ke belakang. Akibatnya, bagian belakang kepala Kurnia yang ditutupi oleh rambut jabrik kuningnya itu membentur sisi ranjang dengan sangat keras.
"Argh!" rintih Kurnia dengan suara yang sangat kecil dan sengaja ia tahan agar tidak terlalu menghebohkan seisi ruangan.
Mata Rizal terbelalak kaget melihat apa yang terjadi pada Kurnia. Darah segar dari kepala Kurnia mulai beranak sungai. Menodai baju, leher bagian belakang, dan juga tangan kanannya yang hendak melihat apa yang telah keluar dari kepalanya itu.
"Kurnia!" seru Rizal sembari hendak mendekati Kurnia yang tengah terduduk di lantai kamar yang dingin.
Belum saja Rizal melangkahkan kakinya yang kedua, Sandi langsung memanfaatkan cela tersebut untuk menangkap Rizal. Sandi menggerakkan kakinya dan langsung menangkap kedua tangan Rizal dan memutarnya hingga tawanannya bertekuk lutut dengan posisi kedua tangan berada di balik punggungnya.
Rizal yang kini sudah tertangkap dan tidak berusaha untuk melawan Sandi hanya bisa menggertakkan giginya dan menggeram, "Apa maumu, San?"
"Apa mauku?" Sandi tersenyum sinis ke arah Rizal yang berhasil ditahannya. "Aku hanya ingin membongkar seluruh rencana rahasia yang telah kau tutupi selama ini." Tiba-tiba Sandi teringat akan suatu hal. "Seharusnya aku yang bertanya kepadamu. Kenapa kau tidak sama sekali melawanku? Bukankah kau pemegang sabuk hitam karate saat kau di senior high school dulu, heh?"
Tatapan mata Rizal menajam dalam waktu singkat. "Itu karena aku tak ingin ada korban di sini."
"Bagus. Dan itu yang kuinginkan agar seluruh rencanamu dapat terbongkar secepatnya."
Dengan sigap, Sandi mendudukkan Rizal di atas kursi yang sempat dipakai oleh Rizal duduk beberapa waktu yang lalu dan segera mengikat badannya di punggung kursi dengan tali tambang yang telah dipersiapkannya entah dari mana. Tidak lupa dengan pergelangan tangannya yang diikat di atas lengan kursi serta kedua pergelangan kakinya yang diikat di kedua kaki kursi bagian depan.
Setelah acara ikat mengikat Rizal sudah selesai, Sandi segera menarik kursi tersebut hingga berada di tengah –tengah kamar yang terbilang luas itu. Tidak 'kah kau merasa berat, San?
Ditatapnya Rizal yang sudah tak berdaya seperti itu dengan sangat bangga. "Tak kusangka membuatmu untuk terikat seperti ini ternyata lebih mudah dibandingkan dengan apa yang kupikirkan."
Telapak tangan Rizal terkepal sesaat, lalu kembali rileks seperti biasa dalam waktu yang singkat. Begitu pula dengan tatapannya yang tadinya tajam kembali menjadi rileks. "Kau sudah gila, San."
Tawa Sandi menggema hingga ke seluruh penjuru ruangan kamar. "Gila? Aku gila?" Ia menatap Rizal dengan tajam. Jari telunjuknya terarah tepat di depan mata Rizal. "Kaulah yang gila karena telah membunuh semua temanmu,Rizal!"
Kurnia yang masih meringis kesakitan di atas lantai membelalakkan matanya karena terkejut akan apa yang telah Sandi ucapkan tadi. "Apa?"
Suara Sandi yang sudah berupa sebuah teriakan telah berhasil mengusik alam mimpi Jihan di dalam tidurnya yang lelap. Secara perlahan, kelopak mata gadis berambut dark brown itu terbuka. Memperlihatkan iris emerald-nya yang masih sayu dan lelah. Kepalanya ia sedikit miringkan ke arah sumber suara yang telah di dengarnya tadi.
"Sandi? Kenapa kau berteriak seperti i—"
Perkataan Jihan yang terdengar sangat lelah sukses terhenti seketika. Matanya sedikit melebar melihat apa yang telah terjadi di depannya. "Kurnia? Rizal? Sandi, sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini?"
Sandi melihat Jihan dengan senyuman aneh di wajahnya. "Selamat pagi, Ji. Apakah kau tahu, kalau sahabat sedari kecilmu yang bernama Rizal adalah seorang pembunuh yang telah membunuh temannya sendiri?"
__ADS_1
Jihan mengernyitkan alisnya. "Apa?"
"Jangan dengarkan dia, Jihan! Dia sudah gila!" perintah Kurnia dengan nada tinggi melebihi nada bicara Sandi tadi, berharap bisa menghalau pendengaran Jihan akan ucapan Sandi yang terkesan asal.
Peraduan argumen antara Sandi dan Kurnia kini sukses membuat Jihan kembali sehat seketika.
Jihan merubah posisinya yang tadi berbaring menjadi duduk. Raut wajahnya memancarkan kebingungan yang berarti. "Sebenarnya apa yang terjadi? Ada yang bisa menjelaskannya padaku?" tanya Jihan dengan nada yang meninggi setengah oktaf.
Mendengar Jihan yang tengah kebingungan dengan situasi sekarang, Kurnia memutuskan untuk bangkit berdiri dari lantai dan duduk di tepi kasur, di sebelah Jihan. Rasa nyeri di kepalanya kembali berdenyut. Akan tetapi, denyutannya kembali menjadi-jadi ketika dirinya tidak sengaja menggerakkan kepalanya berlebihan.
"Argh!" rintih Kurnia kembali. Kali ini dengan suara yang lebih pelan dari sebelumnya.
Jihan beranjak mendekati Kurnia. "Kau tidak apa-apa, Kur?"
Salah satu tangan Kurnia terangkat setengah ke udara. "Tidak apa-apa, Ji. Ini hanya luka ringan," ucap Kurnia berusaha meredakan rasa kekhawatiran Jihan.
"Luka ringan? Kepalamu mengeluarkan darah seperti ini kau sebut luka ringan?" tanya Jihan dengan nada tinggi. "Sini, biar ku obati lukamu sebentar."
Jihan mengambil kotak P3K yang kebetulan berada di atas meja kecil yang berada tepat di sebelah tempat tidur sesudah mengedarkan pandangannya ke segala arah. Mungkin Rizal sengaja meletakkannya di sana agar lebih mudah dijangkau.
Sandi yang sedari tadi berdiam diri menatap Kurnia dan Jihan, kini mengepalkan tangannya dengan sangat erat sembari menggeram kesal. "Kenapa? Kenapa kalian tidak percaya padaku? KENAPA SALAH SATU PUN DARI KALIAN TIDAK ADA YANG PERCAYA DENGANKU?" teriak Sandi frustrasi.
"Tenangkan dirimu, San. Jika kau berteriak-teriak seperti itu., kau akan semakin menjadi tidak normal," tutur Rizal.
Sekarang Rizal terlihat tidak berusaha melawan apa pun juga. Tidak berusaha melepas tali. Tidak juga melawan perkataan Sandi sama seperti apa yang Kurnia lakukan. Tidak sama sekali.
Sandi menggumamkan satu kata yang tidak jelas, lalu membalikkan tubuhnya menghadap Rizal dan berjalan pelan mendekatinya.
"Oh, jadi menurutmu aku sudah gila? Daripada kau sibuk menerka aku ini gila, bagaimana kalau kau mengakui sekarang kalau kau telah membunuh seluruh temanmu?"
Tidak ada jawaban dari mulut Rizal.
"Kenapa tidak jawab? Kau takut mengakuinya di depan kedua sahabat kecilmu kalau kau adalah seorang pembunuh?" tanya Sandi kedua kalinya.
Dan untuk kedua kalinya pula Rizal diam membisu.
Kurnia yang sudah selesai diobati lukanya oleh Jihan membalas pertanyaan Sandi dengan sangat kesal, "Rizal tidak membunuh mereka, makanya ia tidak menjawab."
"Diam! Aku tidak bertanya padamu!" geram Sandi. Lalu ia kembali berbicara kepada Rizal. "Rizal sang pembunuh, bagaimana kalau kau menceritakannya secara detail cara-cara yang telah kau gunakan untuk membunuh teman-temanmu di sini?"
Rizal masih diam membisu.
"Kenapa kau tidak menjawab seluruh pertanyaanku, hah?" teriak Sandi. "Apa kau tiba-tiba menjadi patung karena seluruh kesalahan dan dosamu?"
"Tidak. Aku hanya tidak ingin menghabiskan tenagaku untuk meladeni orang gila yang tengah melemparkan pertanyaan secara bertubi-bertubi kepadaku." Rizal menghela nafas dalam. "Dan mungkin, ini adalah suara terakhirku yang terdengar di telingamu."
Sandi tertawa meremehkan. "Kalau begitu, kita lihat seberapa lama kau bisa tahan untuk tidak mengeluarkan suaramu sedikit pun."
Tinju Sandi terangkat, melayang, dan mendarat tepat di sebelah kanan wajah Rizal. Membuat sudut bibir Rizal berdarah dan sedikit membiru.
Belum merasa puas akan usaha pertamanya, Sandi berkali-kali melepaskan serangan beruntun ke arah Rizal. Tidak hanya kedua pipinya, Sandi juga menyerang bagian perut Rizal sehingga Rizal memuntahkan darah dari mulutnya dan kedua kaki Rizal dimana kedua tulang keringnya diberi sebuah tendangan dengan sangat kejinya.
"Sudah! Tolong hentikan!" teriak Jihan seraya beranjak dari atas kasur menuju ke arah Sandi yang sedang sibuk dengan tindakan kerasnya saat ini.
"Jihan! Argh—" Gerakan Kurnia untuk menahan agar Jihan tidak mendekat ke Sandi terputus karena denyutan luka di kepalanya yang telah diperban kembali hadir mengacaukan segala gerak-geriknya. Seakan-akan luka itu turut membantu Sandi tanpa disadari.
Jihan menahan salah satu tangan Sandi sekuat tenaga dengan kedua tangannya. "Berhenti, San! Rizal kesakitan!"
Rizal yang melihat aksi Jihan yang melebihi batas ini sangat terkejut. Itu semua terlihat dari tatapan matanya.
"Menjauh lah dariku, Ji! Jangan sampai kau terkena serangan ku hanya kerena seorang pembunuh seperti dia," ucap Sandi seraya mengambil ancang-ancang untuk kembali memukuli Rizal.
"Tidak!" Jihan kembali menahan tangan Sandi.
Sandi mendorong Jihan ke belakang dengan sangat kasar hingga Jihan jatuh terduduk di lantai. Rasa sakit dan lantai yang dingin mulai menjalari saraf Jihan.
Mata Rizal terbelalak lebar saat melihat Jihan didorong kasar oleh Sandi. Ingin menolong, tapi tak bisa menolong. Alhasil, ia hanya bisa berdoa dalam hati semoga Jihan baik-baik saja setelah melihat Kurnia tengah sibuk dengan lukanya yang terus menyerangnya tanpa ampun.
Kini ia baru merasa seperti seseorang yang tidak berdaya.
Setelah mengenyahkan Jihan dari sisinya, Sandi kembali melayangkan beberapa pukulan ke arah Rizal. Membuat sang korban memejamkan matanya menahan sakit.
Perlakuan Sandi terhadap Rizal berhenti dengan sendirinya dikarenakan keletihan yang dirasakan oleh sang pemuda berambut nanas tersebut. Sandi mundur beberapa langkah untuk melihat kondisi Rizal yang penuh dengan luka buatannya secara keseluruhan.
Perasaan kesal yang masih bersarang di dalam hatinya membuat Sandi berteriak, "Mengapa kau tidak mengerang kesakitan, hah?" Tarikan nafas Sandi masih terdengar tersengal-sengal.
Tidak ada jawaban pasti dari Rizal yang penampilannya sekarang tampak sedikit kacau. Kedua sudut bibirnya membiru. Kedua pipinya terlihat sedikit memar. Sisi bawah bibirnya menampakan aliran darah dari mulutnya yang kini sudah mengering. Masing-masing kedua telapak tangannya terkepal erat, seakan-akan ia menyalurkan seluruh rasa sakit dan kesalnya di satu titik terpusat.
"Rizal..."
"Zal, kau tidak apa-apa?"
Rizal melihat ke arah Jihan dan Kurnia yang khawatir dengan kondisi dirinya sekarang melalui ekor matanya secara bergantian. Ia melihat telapak tangan Kurnia juga terkepal erat di atas pahanya, merasa kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa. Sedangkan Jihan membalas tatapan mata Rizal dengan tatapan kecemasan walau ia masih sakit akan perlakuan Sandi terhadapnya.
Penglihatan Rizal kembali terfokus ke Sandi yang masih berdiam diri di tempatnya. Tatapan mata yang diberikan Rizal kepada Sandi berbeda dengan tatapan mata Rizal ke arah Kurnia dan Jihan yang lembut dan tegas.
Tatapan matanya ke Sandi sangat tajam dan dingin. Jika tatapan mata itu bisa membunuh orang, mungkin sekarang Sandi sudah tidak berbentuk manusia karena serangan tatapan mata dari Rizal.
"Jadi... kau masih memilih berdiam diri memegang teguh apa yang telah kau ucapkan sebelumnya, hm?" Sandi membalas tatapan mata Rizal dengan tatapan santainya seperti biasa.
Tidak terdengar respon apapun dari Rizal yang masih duduk terikat di hadapannya.
Sandi membuang tatapan matanya ke sisi lain, lalu kembali menatap Rizal. "Kalau itu maumu... Baiklah, aku akan mengambil keputusan sendiri—" Tangan kanannya mengeluarkan sebuah pisau lipat dari saku celananya. "—mengenai bagaimana aku menyelesaikan kasus yang menimpa kelompok kita ini!"
__ADS_1
Bukannya membelalak lebar, mata Rizal malah semakin menatap Sandi semakin tajam dan dingin dari sebelumnya. Sepertinya Sandi telah merencanakan ini semua.
Kurnia terkesiap melihat apa yang Sandi keluarkan dari saku celananya. Ketika irisnya menangkap sosok Sandi bergerak mendekat ke arah Rizal dengan tatapan ingin membunuhnya, Kurnia memaksakan dirinya beranjak untuk mencegah Sandi sebisanya walau luka itu terus berdenyut—berupaya menghadang gerak Kurnia dan membuat pandangan matanya sedikit kabur.
Pemuda berambut kuning itu menahan tangan Sandi yang memegang pisau dari belakang dengan segenap tenaga yang ia miliki.
"Sandi, berhenti! Jika kau melakukan ini, maka kaulah yang menjadi pembunuh di sini!"
Sandi melirik Kurnia dengan geram melalui ekor matanya. "Pembunuh? Aku membunuh demi kebaikan 'kita yang tersisa'! Aku hanya membunuh seorang pembunuh!"
"Tapi semua tindakanmu ini salah!"
"Tidak bagiku."
Sandi menyiku dada Kurnia dengan sangat kencang. Saat Kurnia terlihat sedang mengerang kesakitan, ia langsung meluncurkan sebuah tendangan tepat di perut Kurnia sehingga korbannya itu terpental hingga beberapa meter jauhnya. Tampaknya seorang Sandi juga tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
"Ugh!" erang Kurnia kesakitan.
"Kurnia! Kau tak apa-apa?" teriak Jihan khawatir. "Sandi, tolong hentikan ini! Tolong... Bukan 'kah kita ingin pulang ke rumah bersama-sama?"
"Ya, kita akan pulang bersama setelah aku membunuh sang pembunuh terlebih dahulu," jawab Sandi sesuai kehendak hatinya.
"Tapi kau tak mempunyai bukti bahwa Rizal yang membunuh mereka, 'kan?" tanya Jihan tak mau kalah.
"Memang." Sandi berdiam diri sejenak. "Yah, setidaknya setelah aku membunuh Rizal ini kita jadi mempunyai alasan dan jawaban yang tepat akan pertanyaan yang akan di lontarkan para orang tua teman-teman kita yang sudah tidak ada sepulang kita dari sini nanti."
Mata Jihan terbelalak. "Kau—"
Sandi memperlihatkan senyuman tulus ke Jihan. Tidak ada jawaban, hanya sebuah senyuman.
Di waktu yang bersamaan dengan percakapan Jihan dan Sandi, iris Aquamarine Kurnia tidak sengaja melihat sesuatu tengah tergantung dengan sangat rapi di sisi dinding kamar sebelah kiri. Sesekali ia melirik Sandi yang tengah kembali ke dalam aksinya. Sorot mata Kurnia memancarkan perasaan ragu di dalamnya.
Setelah memukul mundur Kurnia dan meladeni percakapan dengan Jihan, yang bisa disebut juga sang pengganggu baginya, Sandi terus berjalan mendekati Rizal yang jaraknya hanya beberapa langkah dari hadapannya dan berhenti ketika ia merasa jarak di antara mereka sudah pas. Mata mereka saling bertatapan satu sama lain.
"Apakah kau memiliki permintaan terakhir, Rizal?"
Tatapan mata Rizal lebih tajam dan dingin seketika dari sebelumnya. Perasaan kesal sedang menggerogoti hatinya sekarang ini. Bahkan sebuah perandaian jika ia berhasil mengelak dari jerat tangan Sandi yang menahannya, dan tidak terlanjur berkata 'tidak bersuara lagi'... mungkin pemuda ini sudah memutilasi sahabat berambut nanas yang tiba-tiba menjadi sesosok yang menyebalkan.
Dengan kata lain, Rizal hanya bisa membalas dengan tatapan tajam.
Sandi memandang rendah Rizal. "Yah, sepertinya kau memang tidak mempunyai permintaan terakhir. Kalau begitu," dengan perlahan Sandi mengangkat tangan yang menggenggam pisaunya tinggi ke atas, "selamat tinggal."
"RIZAL!" teriak Jihan histeris. Ia merasa lemah karena tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya bisa menonton dan menjadi pengganggu, bahkan penghalang.
Tangan Sandi mulai bergerak untuk menghunuskan pisau yang ada di tangannya tepat di depan dada Rizal.
"Sandi! Jangan!"
Bertepatan dengan suara teriakan Jihan yang kedua kalinya, tiba-tiba gerakan hunusan pisau yang dilakukan oleh Sandi berhenti seketika tepat beberapa centimeter di depan dada Rizal yang terdiam beku.
Jihan terbelalak melihat apa yang terjadi dengan Sandi sekarang dan kejadian apa yang telah terjadi di depannya. Otaknya seakan-akan berhenti berfungsi. Jantungnya berhenti berdetak. Iris matanya hanya dapat melihat sesuatu yang tak asing lagi baginya di sekitar tubuh Sandi. Darah.
Tidak hanya Jihan, Rizal yang berada tepat di hadapan Sandi yang sudah terdiam kaku juga membelalak kaget. Dapat dilihatnya dengan jelas aliran darah yang sudah merembes ke sekitar baju Sandi, tepatnya di bagian dada.
Sebilah pedang katana yang runcing dan tajam telah menembus jantung pemuda yang bernama Sandi dari balik punggungnya. Bahkan masih terlihat dengan jelas darah segar tengah mengalir ke ujung pedang yang menembus badannya hingga menetes ke bawah lantai kamar.
Kini otak Rizal sudah bisa mengolah semua situasi yang terjadi di depannya. Nafas Rizal sudah kembali teratur seperti semula.
Dan Sandi sudah meninggal dunia.
Beberapa detik kemudian, tubuh tanpa nyawa Sandi jatuh tergeletak tak berdaya ke samping kiri. Dan terlihatlah Kurnia yang tengah berdiri di balik punggung Sandi. Sebuah senyuman terpampang di wajah Kurnia saat ini.
"Zal, kau tidak apa-apa? Pisau itu belum sedikit pun mengenai dirimu, 'kan?" tanya Kurnia secara beruntun seraya berjalan mendekat ke arah Rizal yang masih terikat dan memperhatikan badan Rizal yang terluka dengan teliti.
Jihan yang sudah sadar dari rasa shock yang menimpanya, menelan air liurnya dan berkata, "Kurnia, mengapa kau—"
Mendengar perkataan Jihan yang belum terselesaikan membuat Kurnia menoleh ke arah Jihan, tetapi tatapan matanya tidak bertumbuk kan dengan tatapan Jihan. Matanya menatap benda lain. Sorot matanya lesu.
"Jihan, aku..."
"Sudah menjelaskannya nanti saja, bantu aku melepaskan ikatan ini dari tubuhku dulu," ucap Rizal mengalihkan suasana yang terjadi dengan nada lemah.
"I-iya. Jihan, kau juga bantu melepaskan ikatan ini, ayo!" ajak Kurnia.
Jihan langsung melesatkan diri dari tempatnya berdiam menuju ke arah Rizal. Membutuhkan waktu lima menit sampai pada akhirnya Rizal terbebas dari ikatan pertama dan terakhir dari Sandi selama ia masih hidup di dunia ini.
Kurnia beserta Jihan bergegas bahu-membahu membopong Rizal agar segera duduk di ranjang agar ia bisa beristirahat sejenak setelah Rizal kehilangan keseimbangan saat mencoba bangkit berdiri dari kursi panasnya. Mungkin karena beberapa pukulan dari Sandi beberapa saat yang lalu.
Rizal duduk di tepi ranjang dengan didampingi Kurnia dan Jihan di sebelah kanan dan kirinya. Terjadi kebisuan yang panjang di antara mereka hingga pada akhirnya Rizal membuka pembicaraan.
"Kur, mengapa kau tiba-tiba menusuk Sandi dari belakang seperti tadi?"
Rasa ingin tahu Jihan kembali hadir ketika mendengar Rizal melontarkan pertanyaan yang sejenis dengan pertanyaan yang tadi ia ingin lontarkan.
Kurnia menengok kan wajah ke arah kiri dimana Rizal dan Jihan sedang melihat ke arahnya dengan tatapan penasaran. Lalu Kurnia mengalihkan pandangannya ke tempat di mana tubuh Sandi masih terbaring kaku di lantai sembari bersimbah darah.
Mayat Sandi masih tergeletak dengan pose dan tatapan mata terbuka yang sama seperti ia tujukan kepada Rizal untuk ke terakhir kalinya. Darahnya telah mengalir ke lantai di sekitar tubuhnya. Bau anyir mulai menguasai aroma ruangan kamar villa itu.
Kurnia meneguk ludahnya sendiri. Menyiapkan diri untuk menjawab pertanyaan Rizal dan segala pertanyaan yang akan dilontarkan oleh kedua sahabat semasa kecilnya itu. Tatapan matanya terfokus dengan sangat tegas ke arah iris onyx dan emerald sahabat dari semasa kecilnya.
"Aku akan menceritakan kepada kalian dengan sangat jujur dan jelas mengapa aku membunuhnya."
...~Lost In Nightmare~...
__ADS_1
...To Be Continued…...