
...NIGHTMARE 9...
...The Surprising Incident...
"JIHAN!"
Berbagai macam teriakan yang menyebutkan namanya mulai bergema ke seluruh penjuru hutan dengan serempak di tengah hujan yang belum menunjukkan tanda bahwa ingin mereda sedikit saja.
Rizal–yang memang sedang berada di sebelahnya –dengan cekatan menangkap tubuh Jihan yang kehilangan keseimbangan sebelum ambruk menyentuh tanah yang basah.
Tangannya yang besar dan kokoh berusaha untuk membuat posisi tubuh Jihan senyaman-nyamannya di dalam pelukan kedua lengannya, tubuh Jihan ia sandarkan di dadanya yang bidang. Dalam kondisi berdiri. Sedangkan tangan kanan Jihan ia letakkan dibelakang lehernya.
"Jihan? Kau kenapa?" tanya Kurnia. Nada khawatir menjalar disetiap kata-kata yang ia lontarkan.
"Jihan?" Sandi mendadak panik setengah mati.
Salah satu tangan besar Rizal yang menopang tubuh Jihan bergerak menuju dahi pasien-langganan-dadakan untuk mengecek kondisi tubuh Jihan. "Panas." Tangan Rizal kembali bergerak untuk menggenggam tangan Jihan. "Dingin."
Perkataan Rizal membingungkan Sendi yang juga merasa khawatir dengan keadaan Jihan. "Yang mana yang benar, panas atau dingin? Perkataan seorang dokter memang sulit dimengerti,"
Kepala Rizal menoleh ke arah Sendi dan yang lainnya. "Jihan demam. Ia harus istirahat dan tidak boleh kedinginan akibat dari kehujanan, karena air hujan mengandung bahan kimia yang kuat dan dapat merangsang kulit kepalanya." Jelas Rizal panjang lebar.
Sandi mengernyitkan dahinya. "Apakah kau membawa obat kesini, Zal?"
"Tidak banyak. Hanya membawa yang mungkin sangat diperlukan, sisanya kutinggal didalam kamar villa." Jawab Rizal tanpa memalingkan tatapan matanya dari Jihan yang –bisa dibilang –hampir sekarat.
Tangan kanan Rizal memeriksa denyut nadi Jihan di sekitar daerah pergelangan tangannya dan berpindah ke atas disekitar lehernya.
Temperatur tubuh Jihan kini sama-sama dinginnya dengan suhu tubuh Rizal –yang memang sudah dari dulu sudah dingin, makanya jangan heran kalau perkataannya juga dingin –akibat dari dinginnya udara di pegunungan dan ditambah dengan hujan yang semakin menambah dingin suhu tubuh Jihan.
"Le-lebih baik sekarang kau membawa Jihan kembali ke dalam tenda agar tidak kedinginan." Saran Fitri kepada Rizal.
"Hn. Aku tahu, aku akan memberinya pertolongan pertama untuk sementara," Rizal menggendong Jihan dengan ala bridal style nya. ''Kalau begitu kami pergi dulu."
Sebelum Rizal menghilang dari pandangan mereka, Sendi meneriakkan suatu kalimat. "Kalian hati-hati, ya!"
Teriakan Sendi dari kejauhan dibalas dengan sebuah tolehan kepala kebelakang dan senyuman kecil sebentar, lalu Rizal kembali melihat lurus ke depan.
Sandi bergidik. "Kau lihat tadi? Rizal tersenyum?" bola matanya menatap teman-teman yang lainnya.
"Hah? Iya, ya. Ada apa dengannya? Apa karena kehujanan? Atau karena melihat Jihan pingsan?" Sendi membelalakan matanya sesaat. Perasaan penuh penasaran tentang senyuman Rizal pun menyelimuti dirinya.
Banyaknya pertanyaan yang tidak masuk akal yang dilontarkan oleh kedua teman prianya itu, Kurnia pun angkat bicara. "Baru melihat senyuman Rizal sekilas saja sudah heboh dengan berbagai pertanyaan yang kalian lontarkan, kalau aku sudah sering melihat dia seperti itu." Kurnia sedikit menyombongkan diri.
"Hah? Sering?" tukas mereka bersamaan.
"Iya gitu deh… Rizal memang lebih sering tersenyum kepada aku dan Jihan saja,"
Dapat dilihat sekarang mereka berdua –Sandi dan Sendi –tengah ber-jawdrop saking tidak percayanya dengan apa yang Kurnia omongin.
Fitri yang sedari tadi hanya melihat dan mendengar ketiga temannya yang sedang bercakap-cakap itu, akhirnya membuka mulutnya untuk berbicara. "Ah, semuanya… apakah kita akan melanjutkan pencarian kita?"
"Hm. Benar juga. Ayo, kita lanjutkan!" Pikiran Sandi kembali terfokus dalam tujuan ia sekarang.
Sendi menautkan salah satu alisnya. "Bukankah lebih baiknya kalau kita kembali ke tenda saja untuk istirahat?" matanya mengedarkan pandangannya ke sekitar hutan di sekelilingnya. "Embun pegunungan sudah mulai menebal dan menutupi jalan setapak yang kita lewati, bisa gawat kalau kita tersesat dan terpisah karena embun yang tebal ini."
Sandi memikirkan kembali apa yang Sendi barusan katakan. "Kita akan kembali ke tanda untuk beristirahat dan meminta bantuan para penjaga villa, tapi setelah kita mencari Novi sebentar lagi, ya?"
"Ya, Sandi. Tentu saja," Fitri menyetujui perkataan Sandi dengan semangat dan tanpa terbelit-belit seperti biasa.
Seulas senyuman terukir di bibirnya yang juga kedinginan dan kembali memberanjakkan kakinya untuk mencari Novi, sedangkan yang lainnya juga mengikuti Sandi dari belakang punggungnya.
Dasar sakti, pikir Kurnia dalam hati sembari menggeleng-gelengkan kepalanya serta tetap melangkahkan kakinya lurus ke depan.
Teriakan untuk memanggil Novi pun bersua kembali.
.......
...+++~Lost~+++...
.......
Rizal terus berjalan dengan membawa beban yang... well, bisa dibilang berat dan juga ringan di kedua tangannya yang besar dan sepertinya kuat. Beberapa menit setelah berjalan memisah dari gerombolan Sandi yang mencari Novi, pada akhirnya ia kembali menjejakkan kaki di daerah perkemahan mereka.
Dapat dilihat oleh mata telanjang –keempat tenda yang masih berdiri kokoh walau telah dihantam angin laut yang bertiup kencang saat hujan hingga detik ini, dan api unggun yang mereka buat terlihat sudah padam dengan meninggalkan seberkas abu hitam tepat di bawah api itu menyala sebelumnya. Entah padam karena diguyur hujan, atau... yah, faktor alam, fisika, atau kimia yang lainnya.
Tanpa mempedulikan suasana dingin dan gelap di sekeliling pertendaannya, Rizal langsung berjalan dengan langkah cepat menuju ke dalam tenda dimana ia dan Jihan tempati sebelum pergi mencari Novi.
__ADS_1
Tidak memerlukan waktu yang lama untuk membuka risleting tenda –karena tidak terlalu ribet juga prosesnya, Rizal memasukkan dan membaringkan Jihan ke dalam tenda terlebih dahulu sebelum akhirnya ia masuk dan menutup kembali menutup tenda serapat-rapatnya.
Ia mengambil posisi duduk di sisi dalam tenda, berlawanan dengan pintu tenda yang berada tepat dihadapannya. Setelah merasa posisi duduknya sudah nyaman, kedua tangannya kembali bekerja untuk mengangkat Jihan dan mendudukannya di atas kakinya yang bersila. Jadi, posisi tubuh Jihan sekarang –punggungnya menyandar pada dada Rizal yang berada tepat di belakang punggungnya. Bukan berhadapan, ya!
Tangan Rizal kembali bergerak menarik tas ransel yang berada tidak jauh di sebelah kanannya, membuka risletingnya, dan mengambil barang-barang yang ia butuhkan: Handuk, jaket, dan beberapa obat. Ia meletakkan seluruh benda yang ia perlukan di sisi kanannya.
Iris onyx nya melihat wajah Jihan dan memegang urat nadi yang berada di sekitar lehernya kembali. "Ji, bangunlah... buka matamu, aku tahu kau masih belum tertidur sepenuhnya."
Mulut Jihan bergerak –membuka, seperti ingin mengucapakan sesuatu tapi tidak bisa ia ungkapkan.
"Ssshhh... kubilang buka matamu walau sedikit, bukan berbicara... tidak perlu dipaksakan jika tidak bisa,"
Rizal menanti dengan sabar saat Jihan berusaha membuka matanya walau hanya sedikit.
Saat kelopak mata Jihan membuka sedikit –setidaknya iris emeraldnya terlihat –Rizal menaruh tangan kanannya di bawah dagu Jihan, mendongakkan kepalanya ke atas sedikit sehingga iris onyx dan emerald mereka bertemu. Dapat dilihat iris mata emerald Jihan meredup dan tatapan matanya kosong.
"Sudah, kau boleh memejamkan matamu kembali." Perlahan, Rizal menurunkan kembali kepala Jihan sehingga otot lehernya tidak pegal, dan dapat beristirahat sementara waktu.
Tangannya bergerak untuk mengambil handuk yang berada di sebelahnya. Dengan lembut, ia mengelap wajah Jihan yang dingin karena terkena air hujan terlebih dahulu.
Rizal sedikit menegakkan badan Jihan yang lunglai dan menyanggah tubuhnya dengan kaki kanannya yang ia dirikan sementara kakinya yang sebelah kiri tetap dalam posisi bersilanya –berguna sebagai penyanggah di balik punggungnya –lalu mengelap rambut Jihan secara keseluruhan dari atas kepalanya. Hei, Rizal... kau tahu? Kau bukan hanya mengeringkan rambut Jihan, tapi juga mengacak-acak rambutnya secara tidak langsung.
Mengeringkan bagian rambut Jihan yang panjang merupakan tantangan tersendiri bagi seorang Tuan Muda kita ini. Sudah jelas menjadi tantangan secara perbandingan rambutnya dengan Jihan jauh berbeda panjangnya... dan juga jenisnya.
Beberapa saat melaksanakan program 'pengeringan rambut Jihan' yang dimana rambut Jihan sekarang sudah setengah kering dibuatnya. Applause untuk kerja keras Rizal. Tangannya bergerak untuk mengambil jaket yang berada di sisi kanannya setelah meletakkan handuk yang tadi ia pakai di sisi kanannya yang lain.
"Ji, aku akan memakaikan kau jaket agar tubuhmu tidak terlalu menghantam udara dingin untuk sementara waktu," bisik Rizal di telinga Jihan.
Setelah mendapat tanda persetujuan dari Jihan yang berupa sebuah anggukan kecil, Rizal dengan sigap dan perlahan memasukkan lengan Jihan satu-persatu serta mengumamkan kata 'maaf' sekali dari mulutnya. Yang terkakhir, Rizal memakaikan tudung jaket ke kepala Jihan, lalu kembali menyandarkan tubuhnya kedadanya yang bidang senyaman mungkin.
Lengannya yang kekar melingkari tubuh Jihan, memeluknya dengan erat –seerat-eratnya –berusaha untuk menghangatkan tubuh Jihan yang mulai terlihat mengigil karena dingin yang menusuk kulitnya, serta tubuhnya yang rapuh karena penyakit yang dideritanya.
Wajahnya ia benamkan diantara rambut panjang dan leher bagian kanan Jihan. "Kau tidak apa-apa, dan tidak akan terjadi apa-apa." Lengan, -lebih tepatnya, pelukan Rizal semakin mengerat. Seakan tidak ingin melepaskannya. Lagi.
Rizal melihat senyuman kecil di bibir tipisnya –yang sekarang mulai memucat kerena dingin –melalui ekor matanya. "Apa kau sudah merasa sedikit hangat?"
Jihan mengangguk sedikit, hampir tidak terlihat, tapi dapat dirasakan Rizal. "Te-rima... ka –"
Sebelum Jihan menyelesaikan kalimatnya, Rizal memotongnya. "Ssshh... Kau tidak perlu berterima kasih, aku melakukannya karena ini sudah menjadi bagian dari kewajibanku yang akan berstatus sebagai dokter," Rizal berdiam diri sebentar, lalu melanjutkan perkataannya. "Dan juga... orangtuamu yang menyerahkan masalah tubuhmu kepada ku. Sepenuhnya."
Rizal membalas senyuman Jihan dengan lembut, tapi mungkin tidak dapat dilihat oleh Jihan karena kondisinya yang sangat lemah sekarang sehingga membuka kelopak matanya saja ia tak sanggup.
"Tidurlah, sebentar lagi –saat Sandi dan yang lainnya kembali, kita akan meminta bantuan para pelayan di villa kita."
Perintah dari Rizal hanya dijawab dengan erangan kecil dan singkat dari suara Jihan yang berusaha ia keluarkan untuk merespon perintah Rizal sekecil apapun, yang pasti selain sebuah anggukan dan senyuman kecil.
Tidak memakan waktu yang cukup lama untuk menunggu Jihan tertidur pulas. Rizal memastikan bahwa Jihan sudah tertidur dengan posisinya yang nyaman dan tidak mengganggu sama sekali, lalu ia menempatkan kepalanya di atas kelapa Jihan. Jadi, posisi kepala Jihan sekarang lebih rendah dari Rizal, tepat didadanya.
Bau khas air hujan yang masih melekat pada rambut Jihan masuk ke dalam saluran pernafasan Rizal, tunggu. Selain bau air hujan, Rizal juga mencium bau wangi rambut Jihan walau masih lebih dominan bau air hujan yang ia hirup dari rambut Jihan.
Perlahan tapi pasti, kelopak mata Rizal mulai menutup –seakan berusaha menyembunyikan iris matanya yang seperti onyx yang kelam. Beberapa menit kemudian Rizal pun ikut tertidur karena rasa lelah telah menyerang tubuh dan otot-ototnya yang ia gunakan untuk menggendong Jihan menuju ke perkemahan. Sangat gentle.
Beban tubuh mereka, mereka satukan satu sama lain, sehingga dapat mempertahankan posisi terlelap mereka tanpa ada penyanggah atau sandaran tembok atau semacamnya dibalik punggung Rizal atau disekitar mereka.
Kisah mereka berdua... baru akan dimulai...
.......
...+++~Lost~+++...
.......
Udara dingin yang terbawa dengan hujan menyapu perlahan permukaan kulit mereka berdua yang sedang tertidur dengan pulasnya. Rintikan hujan terdengar sangat deras di luar tenda mereka. Langkah tapak kaki dan percakapan beberapa orang terdengar sayup-sayup di balik suara hujan yang semakin lama semakin jelas dan mendekat.
"Aku tidak mau tahu! Pokoknya kita harus segera pulang!"
"Hei, coba tenangkan dirimu, mungkin kau hanya salah lihat,"
"Aku beneran melihatnya dengan mata kepalaku sendiri! Tidak mungkin mata ku bisa berbohong, dan mata ku tidak mempunyai kelainan!"
"Jaga emosi mu, sekarang kita sedang berada di dalam hutan."
"Sekarang hari masih pagi buta, bagaimana kalau kita kembali ke Villa saja saat pagi hari tiba? Mungkin yang lainnya juga sudah kelelahan,"
"Aku tidak mau tahu! Pokoknya kita harus pulang se-ka-rang!"
Suara resleting tenda dibuka –secara kasar dan tiba-tiba –pun mengisi ruangan tenda yang sunyi.
__ADS_1
"Zal, Jihan, bangun! Kita pulang sekarang juga!" Suara cempreng khas Kurnia membuat kelopak mata Rizal terbuka sedikit, berusaha untuk menyesuaikan cahaya lampu senter Kurnia yang langsung menyorot ke wajahnya.
Sebuah tangan besar menepuk salah satu pundak Kurnia dari belakang. "Biarkan Jihan istirahat Sebentar, ia sedang sakit," Sendi mencoba untuk menenangkan Kurnia yang sekarang menjadi tidak karuan.
"Berhenti menasehati ku, Sen!" Kurnia menyibak paksa tangan Sendi yang menggelantung di pundak kirinya. "Jika kalian tidak mau pulang," Kurnia menatap seluruh anggota yang berada di hadapan dan belakang punggungnya. "Maka aku saja yang akan pulang!"
Kurnia dengan gerakan cepat berusaha memberanjakkan kakinya dari tempat ia berada. Sebelum Kurnia beranjak lebih jauh lagi, sebuah tangan dengan sigap meraih pergelangan tangan Kurnia, berusaha untuk menahannya.
"OK, OK, Kur... kami akan pulang, sekarang juga dengan mu," ungkap Sandi dengan penekanan kata 'sekarang' di kalimatnya. "Tapi, kita jangan menuruni bukit sendirian. Mintalah bantuan dengan alat yang aku bawa di ransel ku sebelum kita berangkat dari Villa."
"Dengan alat seperti apa?" Kedua alis Kurnia terangkat tinggi.
Sandi menolehkan kepala ke arah Sendi yang berada di sebelahnya. "Sen, tolong ambilkan benda itu di dalam ransel ku,"
Sendi mengangguk sekali dan langsung berlari kecil menuju tendanya untuk melakukan apa yang Sandi perintahkan kepadanya.
Sandi kembali menoleh ke dalam mata sapphire Kurnia. "Dan kau... aku minta dengan sangat untuk kembali bersikap seperti biasa," terdapat jeda sedikit dalam pembicaraannya. "Dan duduk dengan diam!" perintah Sandi dengan oktaf yang semakin meninggi karena tidak dapat menahan amarahnya.
Rizal yang sedari tadi mendengar percakapan mereka tanpa mengetahui apa yang sebelumnya terjadi, mulai merasakan sedikit pergerakan kecil dari Jihan yang berada dalam pelukannya.
Terdengar erangan kecil yang berasal dari Jihan, salah satu tangannya yang mungil bergerak untuk mengucek matanya yang masih lelah. "Zal, apa yang terjadi?" tanya Jihan dengan suara yang lemah, kepalanya terdongak ke atas menatap Rizal yang sudah menatapnya terlebih dulu.
"Entahlah... aku juga tidak tahu kejadian sebelumnya seperti apa,"
Puas mendengar jawaban dari mulut Rizal, Jihan berusaha untuk menggerakkan badannya untuk mencari tahu alasan 'mengapa mereka berdebat' kepada temannya di luar tenda mereka yang sedang hanyut ke dalam alam pikiran masing-masing.
"Mau kemana?" Terdengar nada tidak suka pada suara Rizal. Pelukannya ia pererat sehingga membuat usaha Jihan untuk menegakkan badannya menjadi sia-sia.
Jihan dapat merasakan dada bidang Rizal di balik punggungnya. "Aku hanya ingin mencari tahu apa yang terjadi saat kita sedang berada di tenda," Suara Jihan bergetar.
"Mencari tahu? Kau masih sakit, lebih baik kau istirahatkan dulu badanmu..." Rizal merapikan jaket yang dipakaikannya di tubuh Jihan dan lebih mempererat pelukannya. "...lagian nanti pasti kita akan tahu kejadian pastinya seperti apa,"
"Tapi–"
"Istirahat." Sela Rizal dengan tiba-tiba dan penuh ketegasan serta penekanan di perkataannya.
Jihan diam seribu bahasa. Tidak berani melawan ucapan sang elang yang sedang serius dengan ucapannya.
Rizal menghela nafas panjang dan menatap Jihan yang sedang terdiam. "Aku tidak bermaksud untuk membentakmu secara kasar, tapi aku hanya ingin kau mengistirahatkan tubuhmu kerena kau sedang sakit, kau mengerti?"
Secara perlahan Jihan mulai merilekskan badannya kembali ke arah badan Rizal yang berada di belakangnya dan kepalanya mengangguk kecil karena masih lemas.
Seulas senyuman kecil nan lembut terukir di wajah dingin Rizal. "Sekarang istirahatlah... pejamkan lah matamu," Rizal mengelus-ngelus kepala Jihan yang tertutupi tudung jaket miliknya itu.
Kebisuan yang terjadi pada setiap pribadi yang berada di luar tenda Rizal dan Jihan tiba-tiba pecah karena munculnya suara seseorang dengan langkah kakinya yang menuju ke arah mereka.
"San, ini alatnya!" Sendi memberikan alat tersebut ke tangan Sandi yang telah menunggu kehadirannya sedari tadi.
"Terima kasih."
"Sama-sama." Sendi tersenyum dengan senyuman andalannya.
"Alat apa itu?" tanya Fitri dengan tatapan bingung melihat benda yang dipegang Sandi.
"Ini adalah sebuah alat yang biasa digunakan oleh para pendaki gunung jika memerlukan bantuan seseorang yang berada di tempat yang jauh atau dekat dengannya saat ia mendapat sebuah masalah." Jelas Sandi menerangkan kepada Fitri.
"Lalu cara pengguanaannya?" tanya Fitri kembali.
"Yah... dengan cara seperti ini,"
Tangan Sandi yang memegang 'benda penolong' terangkat menuju udara yang bebas yang dihiasi dengan derasnya air hujan yang turun dari langit. Tidak lama kemudian muncullah sebuah suara letupan yang disertai dengan cahaya berwarna merah, melesat naik ke atas sebanyak tiga kali yang juga disertai dengan cahaya merah yang terang benderang.
"Wow," ungkap Sendi dengan suara yang kecil atas kekaguman apa yang dilihatnya tadi. "Hebat, bahkan kau masih sempat-sempatnya membuat sebuah pertunjukan di tengah-tengah kekacauan,"
Melihat Sandi yang telah menatapnya dengan geram, ia hanya bisa mengeluarkan senyum andalannya. "Bercanda,"
"Sembari menunggu bantuan pertolongan tiba, kalian dapat mengemasi barang bawaan kalian sekarang... karena bantuan akan datang secepat mungkin," perintah Sandi dengan keras dan lugas. Matanya melirik ke arah tenda dimana Rizal dan Jihan berada. "Kalian mendengarnya, Rizal, Jihan?"
"Hn."
"Kapan bantuan akan datang?" tutur Kurnia dengan nada yang sudah lebih tenang dari sebelumnya. Matanya menatap mata Sandi lekat-lekat. Penuh pengharapan.
Sandi tersenyum puas karena bentakannya kepada Kurnia membuahkan hasil yang mendalam untuknya. "Sebentar lagi... lihat saja nanti."
...~Lost In Nightmare~...
...To be Continued…...
__ADS_1